Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#57


__ADS_3

🌹HAPPY READING GUYS🌹


_______*_______*_______*_______*_______*______


Brumm... Brumm....


"Kak Kavin......" Teriak seseorang dari dalam dan langsung menghamburkan pelukan pada Devan yang baru saja datang.


Huph....


"Kenapa Gio? Jangan lari lari seperti tadi nanti kamu bisa terjatuh." Ucap Devan sambil mencubit kecil hidung Gio.


"Maaf. Salah kakak sendiri kenapa pergi tanpa pamit membuat Gio khawatir saja. Kakak dari mana? Sekarang sudah begitu sore baru pulang. Kasihan kak Arya bekerja sendiri." Gio yang memarahi Devan dengan wajah yang begitu merah, namun Devan menganggapnya lucu bukannya takut.


"Ouh... Benarkah? Tak apa sesekali bos juga perlu bekerja."


Devan yang masuk ke Cafe itu sambil menggendong Gio dengan santainya.


"Ternyata kau adalah karyawan yang paling tak tau diri yang pernah ku temui Devan." Ucap seseorang yang begitu dramatis. Sebab mendengar kalimat yang di lontarkan Devan barusan.


"Maaf bos Arya (sambil menempelkan kedua telapak tangannya seperti memohon di depan Arya). Btw, makasih udah jagain Gio."


"Udah lah gw juga tau urusan lo tuh. Terus nih udah sore lo sama Gio pulang aja sana. Kasihan tuh Gio dari tadi nungguin lo. Dia juga bilang kalo hari ini lo ada janji sama dia buat jalan jalan sore."


"Beruntung banget gw dapet bos kayak gini, yang super pengertian ama karyawannya, ha... ha... Thanks Ar." Devan berucap sambil menepuk pundak Arya.


"Gw kayak gini demi Gio bukan karna lo. Lo sih kalo diberi hati malah makan jantung."


"Gak kok. Gw makan nasi."


"Hmm... Serah lu bocah. Eh... Itu juga, celemek gw jangan lupa buat balikin. Pergi ke luar masih pake gituan."


"Hehehe... Untung lo bilang bos. Kalo gak dah lupa lagi gw."


"Berat banget beban hidup lo ya Van. Sampe hal kecil aja lo sering lupa. Miris gw liatnya." Arya dengan mode julidnya. Namun hanya di balas silipan mata oleh Devan.


Keluar dari cafe itu, Gio dan Devan menaiki angkutan umum menuju sebuah taman yang berada di kaki bukit. Karna memang Devan sudah berjanji pada Gio untuk berjalan di Minggu sore ini. Menikmati senja di sana dengan minuman dan siomay di tangan. Duduk di bangku berdua menatap lurus ke arah langit senja. Bagai anak dan ayah, ditambah lagi hari ini mereka memakai kemeja couple yang pernah di belikan oleh mamanya saat ulang tahun Devan yang ke tujuh belas tahun.


"Kak..."

__ADS_1


"Hn..."


"Kenapa senja itu cuma sebentar?"


"Emang kamu mau senja terus apa? Ntar gak ada siang sama malam. Gio gak bisa sekolah sama tidur."


"Kenapa yang indah itu selalu sebentar ya kak? sama kayak mama yang cuma sebentar. Gio aja belum tumbuh gede kayak Kak Kavin mama udah main pergi aja. Tapi ada bedanya juga mama sama senja."


"Bedanya?" Devan yang terus menyimak adik kecilnya itu yang meroceh.


"Bedanya, kalo senja bakal datang lagi besok, sedangkan mama? Mama gak bakal dateng lagi. Huh..." Gio memasang jeda karena lelah berbicara.


"Jadi sekarang mama udah ketemu sama papa ya kak? Berarti papa sekarang udah gak sendirian lagi dong? Mereka kangen kita gak ya, kak?" Lanjutnya dengan pertanyaan bertubi tubi itu di lontarkan pada Devan.


Devan menoleh ke arah Gio yang berada di sampingnya. Melihat anak itu tetap fokus dengan pandangan ke depan sambil melahap makanan yang ada di tangannya. Devan sedikit tertenggu dengan pertanyaan dari Gio. Membuatnya ingin menangis namun tak bisa ia lakukan. Jika ia menangis ia akan terlihat begitu lemah, sedangkan sekarang ia adalah satu satunya orang yang menjadi sandaran bagi Gio untuk berteduh. Bagaimana bisa tempat berteduh malaikat kecilnya itu, rapuh? pikirnya.


"Hmmm.... Mereka pasti kangen kita. Walaupun mereka gak bakal kembali lagi, tapi mama sama papa selalu liat kita Gio. Liat kita dari atas sana."


"Emang di sana tempat tinggalnya enak ya? Sampe mama sama papa cuma bisa liat doang, kenapa gak langsung ke sini?"


"Tempat tinggal disana enak kok. Apalagi disana semuanya di sediakan."


"Kenapa kita gak susul mereka aja, mama udah susul papa loh kak. Kita kapan?"


Devan menelan saliva dengan susah payah.


"Eh.. Gak bisa Gio. Kalo Allah bilang kita belum waktunya ke sana, ya kita gak bakal ke sana."


"Tapi Gio kangen mama." Keluh anak kecil itu.


"Kalo kangen, Gio sholat terus kirim doa buat mama."


"Hmm.... Iya deh."


'Maafin kakak ya Gio. Bukannya kakak mau pisahin kamu dari papa, hanya saja kakak takut kalo kamu bakal disia-siakan pak tua itu. Kenapa dia tak membenci kakak aja ya Gi. Kenapa harus kamu?!'


_______________


Malam menjelang, Devan dan Gio sudah selesai makan malam. Biasanya pada saat sekarang ini Gio lebih memilih untuk menonton TV. Namun tidak untuk sekarang. Ia pergi ke ruang tamu sambil membawa tas-nya.

__ADS_1


"Loh dek. Kok tumben mau belajar. Biasanya kalo kakak ajak juga gak mau?"


"Kak Kian bilang kalo mau pinter ya harus belajar. Mama juga pesen ke Gio supaya sekolah biar pinter. Oh ya kak, Gio tadi udah sholat sama kirim doa juga buat mama papa." Ucapnya yang sibuk mengeluarkan alat tulis dari dalam tas.


Devan yang melihat adiknya itu begitu bersemangat, kembali ke dapur dan membuatkan susu hangat serta mengambil cemilan. Agar Gio merasa tak bosan dan lebih bersemangat lagi.


Devan yang asik melihat adiknya itu, tiba tiba di buat gelagapan oleh Gio.


"Kak, yang ini tuh gimana caranya?"


Devan melihat soalnya, lalu menjelaskan cara menyeslesaikan soal itu. Yah, walaupun di kelas ia merupakan siswa dengan peringkat terakhir namun untuk mengajarkan anak kelas tiga SD masih bisalah untuk dirinya.


"Gimana Gio? Udah ngerti kan? Pasti dong ya. Kak Devan gitu loh." Narsis nya.


"Hah.... Gio gak ngerti sama penjelasan kakak. Haduh pusing Gio nih. Cari cara laen dong kak biar Gio lebih paham." Kesal Gio yang sudah hampir marah itu.


"Yang belajar kamu dek. Ngapain marahnya sama kakak. Kakak juga udah berusaha buat ajarin kamu dengan bahasa dan cara yang mudah di mengerti. Tapi kamu masih aja..."


"Kalo Gio gak ngerti, itu bukan sepenuhnya salah Gio kak. Kakak sebagai yang menjelaskan dong harusnya lebih kreatif buat kasih pengertian sama Gio."


"Tapi itu udah cara yang simple dengan pengertian plus... plus... salah kakak dimana?"


"Ah... Capek ngomong sama kakak. Mending telpon kak Kian aja lah. Dari pada Gio gak selesai urusin nih PR."


Devan melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Ternyata waktu yang mereka habiskan sudah satu jam. Namun Gio tak kunjung juga mengerti. Devan ingin menuruti permintaan Gio, tapi ia juga takut akan mengganggu Kian yang sedang istirahat.


Bagaimana bisa menelpon seseorang hanya dengan alasan ingin minta di ajari? pikirnya.


"Kak Kavin!!!! Ayo cepat telpon kak Kian. Kalo gak jangan salahkan Gio besok bakal dapet telur ayam lagi.!!!" Titah Gio.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡


__ADS_2