Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#82


__ADS_3

Cuaca yang begitu mendung seakan sebentar lagi akan menangis menumpahkan luapan kesedihannya, di tambah angin begitu kencang, suhu pun mulai menurun drastis, begitu dingin meremas kulit orang-orang yang berlalu lalang.


Namun itu tidaklah seburuk suasana di hati Kian saat ini. Mungkin saja siapa pun yang masuk dalam suasana hatinya akan langsung mati membeku. Begitu dingin melebihi suhu yang ada di luar tubuhnya.


Terlihat orang-orang di sepanjang jalan mulai memakai syal, jaket, sweater, untuk menghangatkan tubuh mereka yang merasa atmosfer yang sudah berubah. Tak lupa dengan payung dan jas hujan, sebab tetesan tetesan itu mulai sedikit berjatuhan bebas ke tanah.


Kian berjalan lurus tanpa memperdulikan sekitarnya, tatapan kosong dengan tubuh hanya terbungkus kulit dan baju. Tanpa pakaian penghangat, tanpa payung ataupun jas hujan untuk melindunginya dari tetesan air hujan.


Dres selutut lengan pendek berwarna biru muda, sepatu putih yang biasa ia kenakan, tas hitam selempang dan rambut yang di kuncir. Penampilan yang mengantarkannya hari ini ke rumah sakit, dan pulang dengan suasana hati yang buruk.


Terus berjalan tanpa tujuan, jika pun dengan berjalan kaki bisa sampai rumah mungkin itu bisa saja terjadi. Disaat seperti ini Kian lebih suka menyendiri, menikmati terpaan dari dinginnya udara yang ada, yang bahkan hal itu lebih mendukung suasana hatinya saat ini.


Berbeda dari orang lain, jika mereka sedang merasakan suasana hati yang dingin tentu akan mencari kehangatan untuk menyeimbangkan suasana tubuhnya. Namun Kian? Kian akan lebih memilih untuk menghantam dirinya sendiri dengan suasana yang juga sama dengan hatinya.


Seperti sekarang, dengan suasana yang dingin menyelimuti. Seakan jika dengan begitu, ia tak akan menghindari dari rasa itu selain menikmatinya dan menaklukkan kedinginan. Memilih untuk bertarung bukan menghindari ataupun bersahabat dengan rasa itu.


Kini tetesan itu sudah berubah menjadi hujaman air yang tentu nya terasa sedikit pedas saat terkena kulit.


Kian duduk di bangku panjang halte, seorang diri. Melihat ramainya jalanan oleh kendaraan roda empat dan roda dua yang berlalu lalang. Tak ada niat untuk menaiki salah satu kendaraan itu. Yang ia mau hanya duduk dan menikmati suasana saat ini.


Angin yang kencang, membuat rok nya sedikit bergoyang, dan tetesan air itu kini sudah memasuki pembatas halte. Membuat kaki Kian yang berselonjor itu basah karena terpaan air yang sesekali masuk ke halte.


Walaupun begitu ia masih tetap fokus dengan pandangannya, tak perduli dingin yang semakin menusuk kulit, dan sepatu yang kini sudah basah ulah air hujan. Ia menangkap momen setiap kendaraan yang berlalu lalang, sampai ia terfokus dengan kendaraan roda dua yang ditunggangi oleh seorang laki-laki, anak kecil dan seorang perempuan di belakang. Memeluk erat si anak yang berada ditengah dan berpegangan dengan suaminya.


Memakai jas hujan, saling berbagi, walaupun perempuan yang diterka Kian adalah ibu dari sang anak itu tak tertutupi penuh oleh jas hujan yang mereka kenakan demi melindungi anak kecil itu. Sepeda motor yang sudah usang namun masih layak pakai, menembus derasnya hujan saat ini. Sederhana namun penuh kasih sayang, itulah yang saat ini ia tangkap dari momen satu keluarga kecil itu.


Tentu saja, ia bisa berpendapat jika anak itu saat ini tak akan kedinginan. Berpelukan dengan punggung laki-laki di depannya dan didekap lagi oleh sang perempuan. Terlihat sungguh beruntung anak itu dengan kesederhanaan yang ia miliki sekarang.


"Tekuk kaki lo! Nanti malah berenang tuh kaki dalam sepatu."


Ucap seseorang yang berhasil membuat kefokusan Kian buyar dan beralih padanya. Suara berat itu sukses membuat Kian sedikitnya terkejut namun tak membuatnya menekuk kaki itu.


"Kenapa lo disini?" Tanya Kian penuh selidik.

__ADS_1


Gaya yang seperti biasa, levis melekat di kakinya, sepatu konvers hitam putih, kaos oblong, hoodie abu-abu, headset yang setia di telinga, dan kepala yang ditutup topi hoodie serta kedua tangan yang ia masukkan ke dalam kantong hoodie. Tak menoleh ke arah Kian, hanya memandang lurus ke depan.


Walaupun dengan kepala yang tertutup topi hoodie tak membuat Kian tak mengenalinya sama sekali. Lama tak ada jawaban, Kian pikir ia tak mendengarkan dirinya karena haedset yang melekat, hingga Kian melambaikan tangan di depannya, untuk menyadarkannya. Namun tangan itu malah di pegang oleh si mpu. Membuat Kian terkesiap dan langsung menarik tangannya. Tapi Devan tak membiarkan hal itu. Hingga ia menahan tangan mungil itu di genggamannya.


Barulah dia menoleh pada Kian, "Lo sendiri ngapain di sini? Tangan lo aja udah dingin kayak gini." Nada suara yang begitu dingin dengan tatapan sendu.


Kian menarik kuat tangannya dan dengan bantuan si mpu, genggaman itu terlepas. Membuat Kian memegang erat bangku halte, dan kembali melempar pandangan ke arah jalan yang masih ramai. Walaupun ia juga sudah merasakan kedinginan yang menusuk di sekujur tubuhnya, tak membuatnya merubah posisi sedikit pun.


"Kalo orang tanya tuh dijawab bukan ditanya balik. Karena orang butuh jawaban bukan pertanyaan." Ucap Kian santai.


"Gue juga butuh jawaban dari pertanyaan gue tadi. Silahkan dijawab. Kenapa lo biarin sepatu lo basah dan kedinginan? Hujan-hujanan bisa bikin lo sakit nantinya!"


"Lo kok jadi cerewet sih Van! Gue suka hujan." Ucapnya tersenyum sambil memandang ke atas langit yang begitu pekat, "Dengan lo berada di bawah hujan lo bakal ngerasa waktu berputar dan kenangan itu akan kembali. Suasana hujan tuh beda, bikin adem dan tenang. Suara hujan juga merdu tau."


"Justru hujan yang bisa bawa penyakit. Selain bisa demam, lo juga di bawa ke masa lalu yang menyebalkan. Mereka hanya di masa lalu, dan lo gak akan temuin mereka di masa sekarang atau masa depan. Masa lalu selalu merenggut kesenangan yang berubah jadi kenangan!"


"Lo salah Van. Ntah kenapa kenangan dan hujan tuh gak bisa dipisahkan. Kenangan itu gak menyebalkan sama sekali. Lo aja yang gak bisa berbaikan dengan masa lalu. Lo terlalu takut buat terima itu semua. Kadang kenangan itu menyakitkan tapi bisa juga menyenangkan. Menyakitkan bukan berarti dia jahat Van, cuma lo yang harus belajar dari hal menyakitkan itu." Lanjutnya.


"Kenangan gak salah, takdir pun gak salah. Tapi semua itu terjadi karena takdir. Lo tau kan kehidupan itu gak ada yang kekal. Jadi kehilangan itu udah biasa, di setiap perjumpaan pasti ada perpisahan." Ucap Kian yang terjeda, "So, lo gak harus benci masa lalu Van. Buat hal itu berarti bukan malah lo buang." Kata kita Kian yang seolah tau apa yang sedang di pikirkan oleh Devan saat ini. Yang sedikit banyaknya ia tau bagaimana kenangan itu, ia juga merasa kenangan yang Devan punya juga sangat menyakitkan walaupun tak semenyakitkan dirinya. Namun bukan itu pointnya, bukan untuk adu nasib melainkan cara mereka dalam berbaikan dengan kenangan yang cukup memilukan.


"Tapi sayangnya gue gak bisa berbaikan dengan hal itu sampai saat ini."


"Lo bisa kok, gue yakin." Ucap Kian penuh dengan keyakinan dan senyuman, melihat kearah Devan yang masih fokus dengan tatapan lurusnya.


"Bantu gue kalo gitu." Ucapnya menoleh ke arah Kian dengan mata yang sulit diartikan. Kian tersentak mendengarnya, seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar. Kedua manik mata itu kini saling bertemu, seolah menggambarkan apa yang mereka rasakan saat ini.


Ya, bagaimana bisa hal itu terjadi sedangkan Devan adalah anak yang terkenal dengan kemisteriusannya, yang tak mau hal pribadinya diikut campuri. Kini meminta dirinya untuk menghubungkannya dengan masa lalu. Berusaha untuk membantunya agar bisa menjabat tangan masa lalu itu.


Seulas senyuman tergambar di bibir Kian, ia mengangguk, dengan artian menyetujui dan bersedia membantu Devan untuk hal itu.


Ia pun tak tau kenapa ia mau melakukannya, jika dikenang lagi bagaimana sifat Devan terhadapnya yang selalu membuat dirinya kesal setengah mati. Namun dengan mudahnya, hari ini, saat ini, dia mengangguk, mengiyakan apa yang diminta Devan.


Zhup

__ADS_1


"Pake itu. Besok-besok kalo gue ketemu lo, emang harus bawa jaket double deh." Ucap Devan melemparkan hoodie pada Kian dengan senyum remeh, dan menyuruh Kian memakainya.


Kian menatap Devan sebentar lalu memakai hoodie kebesaran itu di tubuhnya. Ntahlah ini sudah yang keberapa kalinya Devan meminjamkan hoodie yang ia pakai untuk dirinya. Mulai ia jadi tukang ojek sampai sekarang. Bahkan tak pernah terbesit jika kisahnya akan seperti ini dengan Devan, membuatnya sedikit menyunggingkan senyum.


Tanpa basa-basi Devan langsung memakaikan sebelah headsetnya ke telinga Kian, setelah ia memakai hoodie itu. Lagu berjudul Best friend by Jason Chen itu kini berputar dengan merdunya di telinga mereka berdua.


Karna keterbatasan panjang dari headset itu tidak memadai membuat mereka berdua duduk bersebelahan tanpa ada jarak. Bahu bertemu dengan bahu, lutut bersebelahan, dan saling memeluk tangan masing masing karena dingin.


"Ki." Panggilnya dengan nada lembut, membuat Kian menoleh, "Kalo lo ada masalah jangan sungkan buat bilang gue."


"Kenapa?" Tanya Kian mengerinyitkan dahi


"Karena sekarang kita partner."


"Hmm.. ya." Kian sedikit geli mendengar kalimat itu dari Devan. Bagaimana tidak, kalimat itu biasa dilontarkan pada perempuan ke perempuan saat mereka pertama kali berteman, namun sekarang? Hal itu malah diucapkan oleh Devan. Yang notobane-nya laki-laki dingin dan bermata tajam.


"Eh.. Van, lo belum jawab pertanyaan gue."


"Yang mana?"


"Yang tadi... Kenapa lo bisa disini?" Kian sedikit kesal, karena harus mengulang kalimatnya.


"Oh, sengaja aja. Biar lo gak sendirian." Membuat Kian merona, namun sedetik kemudian... "Kasian gue liatnya kayak orang gila. Duduk sendirian disini." Ejeknya, yang tentu merubah rona itu menjadi benar-benar kesal di buatnya.


"Hahaha..." Tawanya pecah


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2