
Devan baru masuk ruangan itu, tapi malah dihidangkan dengan pemandangan dimana semuanya tertidur pulas. Ia merasa sedikit kesal namun juga kasihan melihat Kian yang tidur dalam keadaan terduduk sambil memangku Gio yang dirasanya sudah cukup berat. Anak usia segitu jika dipangku terus, mungkin akan terasa keram. Tapi ia melihat dari wajah kian yang merasa tak terbebani sama sekali.
Karna sudah malam dan waktunya untuk makan malam, Devan ingin membangunkan semuanya. Namun ia sedikit gengsi membangunkan kian dengan nada yang lemah lembut tapi jika dengan nada kasar pun tentu yang lain akan terlonjak kaget. Devan berjalan kesana kemari memikirkan cara bagaimana membangunkan kian sedangkan yang lain tak ikut bangun. Ditambah lagi ia tau kian lelah terlalu kejam jika membangunkannya dengan kasar namun ia juga tak mau berbaik hati dengan Kian.
Akhirnya setelah meletakkan semua makanan itu di meja, Devan mendekat kearah kian dan menendang kaki kian beberapa kali namun tidak kuat.
"woy... woy...bangun. shut...shut...heh" ucap Devan dengan suara yang berbisik. Devan berencana ingin menyuruh kian pulang sebelum gio dan mamanya bangun.
Merasa ada yang mengganggu kakinya, kian pun terganggu dan membuatnya membuka mata.
"Engmmhh.... udah siang ya?" ucapnya khas orang bangun tidur. Melihat sekelilingnya berwarna putih membuatnya sedikit terlonjak kaget. "Lah ini gw lagi di mana?" tanya nya bagai orang yang tak sadarkan diri.
"Lo lagi di alam baka. Dan gw adalah orang yang nyabut nyawa lo"
"Hah?!" Kian terlonjak kaget dan itu sukses membuat Gio bangun.
"Kakak cantik kenapa sih? Berisik." racau Gio.
"Eh...maaf maaf sayang. Kakak gak tau. Ya udah sekarang tidur lagi aja." ucap Kian yang nyawanya baru terkumpul dan kesadarannya pun telah kembali. Sedangkan Devan menatap malas drama itu.
"Gak mau... Gio mau makan aja. Gio laper."
"Pulang sana lo. Udah malem juga" ketusnya
"Lah emang sekarang jam berapa?"
"Jam tujuh malem. Napa baru syok, mending gak usah ntar lo malah bangunin mama gw lagi. Udah pulang sana!" titah Devan
"Eh...i...Iya." Kian yang tadinya memangku Gio, kini memisahkan Gio duduk di sofa dan hendak pergi dari ruangan itu.
'Haduh...kok Gw bisa ketiduran sampe malem gini sih.'
Karena mendengar suara yang agak berisik Zanna pun terbangun dari tidurnya. Dan melihat anak anaknya sedang berkumpul.
"Kavin... " panggil Zanna
"Hah, gara gara lo kan mama gw sama gio jadi bangun." ucapnya dingin pada Kian.
__ADS_1
"Ya maaf. Salah lu juga nakut nakutin gw." roceh kian tak terima.
"Vin..." panggil Zanna lagi.
Kavin pun langsung menghampiri mamanya yang berbaring itu.
"Iya ma" ucapnya lembut. Seraya melihat mamanya.
"Lho ma, wajah sama mata mama kenapa? kok keliatan abis nangis. Mama ngerasa sakit ya. Kavin panggil dokter dulu." ucapnya yang hendak berjalan namun tangannya ditahan Zanna.
"Mama gpp Kavin."
"Gpp gimana nih?! mata mama merah gitu. Oh jangan jangan nih orang ya yang bikin mama nangis." Melihat ke arah Kian. Karna geram kavin langsung berjalan ke arah kian dan mencengkeram kuat kedua bahu kian.
"Lo apain mama gw heh? jangan lo pikir mama gw kenal dan baik sama lo, terus lo bakal aman dan seenaknya perlakuin mama. Jawab gw Kian, lo apain mama heh!!?" suaranya meninggi.
Kian yang merasa sakit pun hanya bisa menahannya.
"Gw gak apa apain mama Zanna Devan." ucap Kian yang sedikit merintih.
"Kavin cukup!! Kian gak salah apa apa nak. Mama yang sengaja cerita ke dia."
Mendengar hal itu pun Kavin melepaskan cengkeraman itu dan beralih pada mamanya.
"Maksud mama apasih. Kan kavin udah sering bilang lupain manusia itu. Bahkan dia gak pantas disebut manusia. Buat apa juga mama cerita ke dia. Gak ada gunanya. hish..." kesal Kavin sambil memijit kepalanya.
Mendengar kavin yang marah malah membuat Zanna menangis. Kavin merasa bersalah akan hal itu. Ia pun meminta maaf dengan memegang tangan mamanya.
"Maafin kavin ma. Kavin cuma gak mau aja kalo mama inget dia, kesehatan mama nanti menurun." mohonnya
"Emm... Tapi kamu jangan marah. Sekarang Kian udah jadi anggota keluarga kita juga Vin. Mama udah anggap kian kayak anak sendiri, dan mama pikir dia juga harus tau."
"Huh (Kavin menarik napas dalam dan membuangnya pelan agar emosinya tak memuncak). iya udah terserah mama aja. Sekarang kavin mohon, jangan lagi ingat dia Ya. Kavin cuma pengen mama bahagia. Dan oh ya sekarang mama harus makan. Ayo" kavin mengalihkan pembicaraan agar topik pembicaraan tak berlangsung itu terus.
"Tapi mama mau kamu anter kian pulang nak. Ini udah malem"
"Gak bisa ma. Devan mau nemenin mama makan. Ini udah waktunya makan, terus minum obat. Biar cepet sembuh."
__ADS_1
"Mama bisa makan nanti nak. Anterin kian pulang dulu."
"Eh...ma Kian gpp pulang sendiri. Ini juga salah kian ketiduran. hehe. Ya udah kian pamm...." belum selesai Ia berbicara alah di potong oleh Zanna.
"Kian gak boleh pulang sendiri. Pokoknya harus sama Kavin." ucap Zanna yang tak mau dibantah.
"Ya udah mama makan aja dulu sama gio. Nanti abis ini kavin baru anter dia (melirik Kian tajam) pulang." dengan senyum
"Ya udah iya. Tapi kamu udah makan belum?"
"Kavin udah makan ma. Jadi mama makan aja."
"Kian?"
"eehhh...kian bisa makan pas pulang nanti aja kok ma. Yang penting mama makan aja dulu. hehe...."
"Gak bisa lah sayang. Dari siang tadi kamu gak makan apa apa lho kian."
"Itu...."
"Nanti Devan yang bakal anter dia sekalian beli makanan buat kian" ucap Devan yang ingin menyudahi drama sebelum makan ini.
"Ya udah awas aja kalo gak."
"Hn... Ayo makan dulu ma."
"Kak, suapin Gio" rengek gio sambil menarik tangan kian.
"I...i...iya yo."
Kian pun menyuapi gio dengan makanan yang sudah di bawa oleh kavin. Sebenarnya Kavin pikir kian sudah pulang sehingga ia tak membelikkan makan malam untuk kian. Namun ternyata ia salah, kian benar benar menjaga mamanya sampai malam dan lagi Menidurkan Gio dengan baik.
Kini mereka berdua hanya fokus pada manusia yang ada di depan mereka. Kian fokus menyuapi Gio dan Devan menyuapi mamanya.
Hening melanda kamar yang bersisi empat orang itu. Mereka yang terlihat baik sebenarnya sibuk dengan pikiran masing masing, termasuk Devan. Ia merasa sudah keterlaluan melakukan itu pada Kian. Dan kian pun tak seketus dan secuek tadi siang. Yang tentu biasanya ia akan membalas apapun yang diperbuat Devan pada dirinya namun bebrapa saat lalu ia hanya diam bahkan tak memberontak. Bicara pun tak sekasar biasanya. Devan merasa benar benar ada yang aneh.
Sedangkan Kian, ia merasa sedikit takut dengan yang terjadi sebelumnya. Terlihat sekali kalau Devan benar benar menyayangi mamanya itu. Kekhawatiran dan amarah terlihat dari wajahnya. Kian tak tau apa yang akan terjadi pada dirinya jika Zanna tak menghentikan Devan. Mungkin saja tangannya sekarang sudah lebam dan hampir patah. Namun di samping itu Kian juga paham karna mamanya udah bercerita tentang keadaan keluarga mereka yang sampai membuat Devan menjadi seperti sekarang.
__ADS_1