
Setelah pulang sekolah mentraktir Febbry, Kian pun langsung pulang. Bisa digaris bawahi sekarang Kian sudah pulang sendiri, bahkan Devan juga sudah jarang terlihat dan bersama dengan dirinya.
"Ki, mau berangkat kerja lagi?"
Kian yang sedang memakai sepatu nya duduk di lantai tengah pintu, langsung menoleh ke arah sumber suara "Iya kak." Ucapnya lalu tersenyum, "Gimana keadaan kakak? Udah lebih baik?"
"Udah kok Ki. Walaupun tadi sempat gak masuk kuliah gara-gara demam ringan."
Seketika Kian langsung menyudahi kegiatannya, berdiri melihat Nari, "Maafin Kian ya kak. Kian gak tau kakak lagi sakit dan dapet musibah, padahal rumah kita bersebelahan. Maafin Kian juga lama tau soal kakak." Kian menatap Nari dengan sendu, merasa bersalah dengan apa yang terjadi.
"Wajar aja sih Ki. Lo tau lah kamar gue kayak apa. Alat peredam suara itu kayak guna banget. Hahaha... Udah Gak usah dibahas lagi."
"Tapi kakak udah ke rumah sakit?" Lanjutnya lagi dengan wajah yang masih bersalah dan cemas.
"Astaga, demam ringan aja Ki. Paling minum obat juga sembuh, dan sekarang gue udah rada enakan, gak usah pake ke rumah sakit segala. Oh ya btw, lo udah lama ini kok pergi sendiri? Kenapa Devan gak sama lo? Lagi berantem ya?" Niat Nari mengalihkan topik agar Kian tak larutkan rasa bersalah.
Kian menggeleng pelan sambil tersenyum, "Kenapa kak? Kangen Devan ya? Hahaha..." Goda Kian sambil tertawa.
"Ngaco aja Ki. Ya cuma aneh aja kalo lo jalan sendiri di sampingnya gak ada Devan, rasa ada yang kurang gitu. Tapi kalian gak lagi berantem kan?"
"Gak kok kak. Kian emang mau berangkat sendiri aja. Ya udah Kian berangkat dulu kak. Nanti kalo ada perlu sesuatu telpon Kian aja ya."
"Iya, hati-hati."
Seperti biasa Kian akan berjalan keluar gang sendiri. Beberapa orang yang ia temui tak lupa ia sapa juga karna sudah merasa sedikit kenal dengan penduduk di sana. Hingga sampailah ia di halte depan gang, menunggu bus yang biasa ia tumpangi untuk pergi kerja.
"Mau kemana lo?" Tanya seseorang.
Kian sedikit kaget ketika melihat seseorang tersebut berdiri tak jauh darinya. "Lo?!! Ngapain lo di sini? Nguntit ya lo?"
Tak terima dengan tuduhan itu, ia pun membantah. "Gue bukan elo ya, yang suka nguntit. Gue cuma lewat aja. Gak usah kegeeran."
"Ya udah." Cuek Kian.
"Lo tinggal disini?" Tanyanya melirik ke arah Kian.
"Gak, gue lagi jenguk temen tadi. Gak nguntit kok tanya-tanya." Kian menatap sinis nya.
"Ouh. Mau kemana lo?"
"Bukan urusan lo!" Ketus Kian.
Tak ada lagi percakapan di sana, tapi Kian tetap berjaga. Sebab orang itu masih juga berada di sampingnya. Yang juga duduk di kursi halte sama sepertinya. Tak beberapa lama bus pun datang, Kian segera naik. Tak terkecuali juga dia.
"Lo ngapain naik?!" Kian melirik ke belakang sebab Refan berada tepat di belakangnya.
"Terserah gue. Disini juga gak ada tulisan bus khusus lo. Bus angkutan umum, jadi siapapun bisa naik!" Refan yang kesal lalu mendahului Kian yang masih berada di tangga bus. Kian hanya diam dan menatap Refan sejenak, nampak berfikir aneh terhadapnya.
______________
Kian memasuki tempat kerjanya dengan semangat. Walaupun beberapa menit lalu ia sempat kesal karena Refan seolah membuntutinya, walau dia sendiri terus mengelak. Tapi Kian begitu risih dengan keberadaannya. Yang menambah aneh lagi, Refan tidak memperpanjang masalah waktu itu. Hingga Kian berkesimpulan kalau ia hanya ingin memanas manasi Devan saja. Di lain pikiran dia agak lega, hanya saja menurutnya hal itu adalah hal sia-sia, karena nyatanya ia dan Devan tak sedekat itu.
"Oh ya Ki, hari ini kata kak Arya, lo jangan pulang dulu. Lo disuruh ke ruangan dia sebelum pulang."
"Oh gitu Sif, iya deh. Thanks ya."
Hampir seharian Kian bekerja, ia tak melihat batang hidung Devan datang ke Cafe. Ia berfikir kalau Devan mungkin telat, namun sudah selama ini belum juga datang. Tak sampai disitu, Kian mencoba menghubungi dan mengirimkan beberapa pesan. Namun tak ada satu pun jawaban di sana. Ia kembali mengingat hari sebelumnya, apa ia pernah berbuat salah pada Devan? Sampai Devan tak membalas pesan dirinya.
__ADS_1
"Ki, kenapa bengong? Lo lagi ada masalah?" Sifa mendekati Kian yang sedang asik dengan pikirannya.
"Enh, enggak kok Sif. Em si Devan kemana ya? Kok gak keliatan."
"Oh dari tadi mikirin Devan toh. Gue gak tau sih, kan bisanya sama lo Ki."
"Gak tuh. Ya udah kalo gak tau. Hehehe"
Tak terasa sudah delapan jam ia bekerja. Yang artinya jam kerja Kian sudah habis. Ia pun bergegas untuk pulang. Namun sebelum pulang, seperti yang dikatakan Sifa, ia harus menemui Arya terlebih dahulu. Ntah kenapa bos-nya itu sampai memanggil. Jika pun dia bertanya tentang Devan, maka Kian sendiri pun tak tau dia dimana.
Tok
Tok
Tok
"Masuk."
Setelah mengetuk pintu, dan mendapat izin dari dalam ruangan, Kian pun langsung masuk.
"Kata Sifa, kak Arya manggil Kian ya? Kenapa kak?"
"Oh iya Ki, duduk dulu." Titahnya yang yang di turuti oleh Kian. "Ini udah satu bulan lo kerja, dan ini gaji lo. Selamat ya, ini gaji pertama lo." Arya menyerahkan satu amplop coklat panjang kepada Kian sambil tersenyum ramah.
Begitu pun dengan Kian, tak bisa ia pungkiri sekarang kalau ia benar-benar merasa senang. Walaupun hasilnya tak seberapa, ia bersyukur dan bangga atas kerja kerasnya. Ini adalah kali pertamanya ia mendapat uang dari keringatnya sendiri, lelah? Tentu ia rasakan. Tapi saat menerima amplop itu ia sadar, hasil tak akan ada apa-apanya dibandingkan proses. Wajah sumringah terlukis di sana, "Makasih kak." Kian mengambil amplop yang ada di meja.
"Iya sama-sama. Oh ya, hari ini Devan gak masuk. Kemana?" Tanyanya yang membuat senyum Kian memudar. "Em, itu Kian juga gak tau kak. Tadi Kian udah sempet hubungi cuma gak aktif sama sekali." Jelasnya.
"Oh gitu. Ya udah gak apa-apa. Lagian Devan selalu gitu sih. Sering ngilang gak ada kabar. Kalo lo ketemu nanti, lo bisa bilang kalo dia juga punya gaji yang harus diambil."
"Iya. Hati-hati."
"Beres!" Kian mengacungkan jempol kanannya saat hampir tertelan pintu ruangan.
--------
Kian menyusuri jalanan, halte yang agak jauh dari Cafe membuatnya harus berjalan terlebih dahulu. Senyum mengembang itu tak luntur sama sekali dari kedua bibirnya. Perasaan senang itu tak ada habis habisnya. Ya, disela berjalan pikirannya melalang buana. Walaupun kenyataanya waktu yang ia punya hanya sekitar empat bulan itu pun tak sampai, tapi Kian terus berusaha untuk mencari uang dan uang. Memutar otaknya, bagaimana uang yang ia dapat hari ini bisa berguna lebih panjang dan memberikan hasil yang cukup untuk melunasi hutang-hutangnya.
Menghitung hitung biaya yang ia rencanakan menggunakan kalkulator ponsel. Begitu fokus dan tak teralihkan, hingga tak sadar....
Bukh!
Dia terjatuh, dan tas yang sandang itu diambil orang lain. Yah, pencopet siapa lagi kalau bukan dia. Kian yang mulanya terduduk karena di dorong oleh salah satu dari pencopet, mendadak langsung bangkit dan berusaha mengejarnya.
"Copet!!" Teriak Kian sambil berlari.
Jalanan yang dalam keadaan sepi, membuatnya tak tau harus meminta tolong kepada siapa. Ditambah lagi kedua pencopet itu mengendarai motor, membuat Kian harus lari mengejar. Walau sangat mustahil untuk menyusul mereka, meski secepat apapun ia berlari. Bahkan untuk menyetarakan jalannya pun itu sungguh tak mungkin. Jarak mereka sangatlah jauh, Kian yang sudah lelah memilih berhenti dan langsung saja terduduk di tanah.
Kini Kian hanya bisa menangis tersedu, sebab uang yang baru saja ia terima sudah ludes diambil pencuri. Uang yang ia usahakan, bahkan dambakan selama satu bulan ini. Dadanya terasa sesak memikirkan hal itu, seolah perjuangannya selama satu bulan ini sangatlah sia-sia. Jangankan untuk membuka usaha atau melunasi hutang, untuk makan besok saja ia tak tau harus dengan apa.
"Ya allah, cobaan apalagi yang kau berikan. Kian capek, tapi Kian juga gak mau pulang. Hiks...hiks... Astagfirullah hal'adzim."
Ia duduk di trotoar, menekuk kedua kakinya, lalu menunduk menyembunyikan wajah itu di kedua lututnya. Ia benar-benar merasa kacau, keteledoran membuatnya kini harus gigit jari dan tak tau harus berbuat apa lagi. Ia terus menangis sambil merenung kesalahannya.
Tak ada yang berlalu lalang, hanya sepi menyapa dengan gelap nya malam dan dinginnya udara saat ini terus memeluk Kian yang kacau. Kian meringkuk, memberikan kehangatan untuk dirinya sendiri. Mata yang sedari tadi mengeluarkan air itu kini sudah sembab dan merah. Begitu juga dengan wajah Kian.
Hingga ia memutuskan untuk berjalan, tapi tidak untuk pulang. Terus berjalan menembus gelapnya malam yang begitu sunyi, namun sisi lain otaknya tetap merasa tak tenang. Ia tak tau harus menjelaskan apa pada Devan tentang uang dan pelunasan hutang itu, yang kini ia sama sekali tak memegang uang sepeser pun.
__ADS_1
Ia hanya masih memiliki ponsel, tapi apa cukup melunasi hutang dengan uang penjualan ponsel jadul yang ada di genggamannya saat ini? Memang tidak sejadul itu sebenarnya, bahkan ponsel itu terbilang ponsel layar sentuh. Namun itu sudah lama sekali. Bahkan tak ada lagi keluaran dari ponsel yang ia miliki sekarang ini.
Ingin di jual? Berapa harganya? Pikir Kian memandang ponsel yang ada di tangannya, memandang layar hitam itu penuh dengan goresan. Ia terus bergumam dan merutuki dirinya. Kecewa, sedih, merasa putus asa jadi satu. Tapi ia berusaha untuk tidak membebankan dirinya sendiri. Kenapa? Karena beberapa pil yang harusnya ia minum di saat seperti ini malah ikut terbawa oleh mereka. Ia tak mau dirinya sampai pingsan di tengah jalan. Ntah apa yang akan terjadi kalau ia sampai hal itu terjadi? Mungkin bagi orang jahat dia akan digulingkan ke semak-semak saat itu juga.
Hingga langkah Kian berhenti saat melihat badut yang berjoget di lampu merah. Ya, kini Kian sudah berjalan lebih jauh dari tempat tadi, yang mengantarkannya ke tempat yang lebih ramai dan berjumpa dengan segerombolan orang.
Setelah lampu merah itu berganti menjadi lampu hijau, badut itu pun pergi. Tanpa pikir panjang ia langsung mengikuti badut itu. Tubuhnya bergerak begitu saja mengikuti jalan sang badut.
Badut itu terus berjalan ke suatu tempat, yang notobane-nya jalan yang gelap dan sepi. Kian sedikit ragu untuk terus mengikutinya takut ntah apa yang akan ditemukannya di penghujung jalan ini, hanya saja ia benar-benar membutuhkan itu kalau bisa ia dapatkan.
Kian merasa seperti pengungtit saat ini, seperti yang dikatakan oleh Refan. Namun itu semua ia tepis dan tetap fokus dengan badut yang berjalan dengan gemoynya.
_____________
"Nih bos."
Ia diam setelah menerima tas hitam kecil itu. Memadangi tas itu dari luar, memutar dan membolak balik nya.
"Kenapa dia bodoh sekali? Disajikan kehidupan yang enak memilih susah!! Dasar perempuan bodoh!! Apa dia berpikir bisa hidup bersama anak laki-laki yang dibuang dari keluarga besarnya sendiri? Cih!" Geramnya, mencengkeram kuat tas kecil itu dalam tangan yang begitu besar.
"Em, bos kan sudah memiliki uang banyak dan cukup. Lebih baik uang itu untuk kami saja, lagi pula nominal nya juga lumayan, hehehe. Iya gak?" Ucap salah satunya pada temannya yang lain.
Setelah anak buahnya mengatakan hal itu, mata grey itu memandang tajam ke arah mereka. "Kalian mau uang ini?" Tanyanya.
Mereka pun menagguk cepat, ia bangkit dari jok motor punya salah satu dari mereka.
Plak
Plak
Tamparan yang begitu kuat mendarat di salah satu pipi kedua orang itu. Membuat wajah mereka sedikit terhuyung karena kuatnya tamparan yang didapat.
"Ck!!" Seringai tertampak di sana. "Ini akan jadi milik kalian kalau tugas kalian sudah selsai. Terus ganggu dia sampai dia menyerah, jangan sampai dia bisa bangkit dari keterpurukan ini. Dia harus membayar mahal atas apa yang dia lakukan. Buat dia sengsara sampai memohon untuk kembali pulang! Mengerti!!"
Kedua orang yang tadinya di tampar itu, melempar pandang satu sama lain setelah mendengar kalimat yang dilontarkan laki-laki itu.
Ia berbalik menatap kedua orang yang kini berdiri tegap dengan pipi yang sudah merah akibat ulahnya, berjalan mendekati mereka. Menunjuk satu per satu dari mereka berdua. "Jika kalian tidak bisa mengurus satu bocah perempuan ini saja, maka bersiaplah untuk merasakan sakit melihat keluarga kalian!"
Mereka berdua kembali meneguk saliva dengan susahnya, mengangguk cepat mengiyakan perkataan yang mengandung ancaman itu. Lalu berlalu pergi menggunakan mobilnya.
Kedua orang itu hanya menatap plat mobil yang semakin menjauh. Pandangan heran dan aneh mereka lempar pada mobil hitam yang sedang melaju dengan kencangnya.
"Kok ada ya orang kayak gitu? Sedangkan lo tau gue ngelakuin ini buat keluarga gue. Tapi dia....?"
"Biasa orang kaya lebih sayang harta dari pada keluarga. Gue juga gak ngerti sama pemikiran orang kayak gitu."
.
.
.
.
.
tbc
__ADS_1