
"Arnold dari mana saja kau? Geor sudah menunggu berkas yang kau bawa itu." Ucap seseorang yang menghampirinya.
"Maaf."
Tak lama datang lagi seseorang dengan wajah dinginnya. Melihat kearah Theo sekilas seperti bertanya ada apa, namun Theo hanya menggeleng.
"Ada apa? Apa sesuatu terjadi?" Jeemy memandang Arnold dari atas sampai bawah. Namun Arnold hanya diam dan menggeleng, wajah itu pun tampak seperti benang kusut.
"Sudahlah, Geor tak akan memarahimu anak muda. Angkat wajahmu, semua orang berhak melihatnya, sobat." Theo merangkul bahu itu, menuntunnya berjalan ke tengah aula ruangan. Namun Arnold tak bersemangat sama sekali. Bahkan ia melepaskan rangkulan pamannya yang sedikit berjinjit demi menyamakan tinggi dirinya.
Theo dan Jeemy saling melempar pandang, saling melirik satu sama lain, bergantian melirik Arnold. "Kalian saja. Aku tidak mood untuk bergabung." Ucapnya lemas.
"Hey,, sepertinya jiwa Arnold kita sedang tertukar sekarang. Dimana kau terjatuh tadi? Aku akan kesana mencari serpihan jiwamu itu."
"Berhentilah bercanda paman Theo. Aku benar benar sedang tak ingin bercanda."
"Lalu?" Jeemy memandang lekat Arnold
"Aku bertemu dia." Cicit Arnold
"Dia?" Theo dan Jeemy terheran sebentar lalu, "Oh gadis itu. Kenapa tak kau hampiri dan bawa kehadapan kami. Tenang saja, kami akan melindungimu dari singa betina dan jantan itu. Kami pamanmu yabeberapang sangat peduli." Theo masih merangkul bahu itu, menepuk kali pundak kokohnya namun Arnold yang terlihat muram, "Apa dia kemari bersama seorang laki laki, hingga kau begitu kusut, hahaha.... Lagi pula kau dari keluarga terpandang Arnold, gadis mana yang bisa menolakmu?" Candanya yang ternyata adalah sebuah kenyataan bagi Arnold.
"Yah, dia bersama seorang laki laki."
"Apa?!" Pekik Theo yang tak percaya
"Lalu? Kau mau apa? Haruskah kami menculik gadis kecil itu untuk mu hn? Atau meledakkan kepala laki laki itu? Jangan sia siakan kedua paman mu ini. Katakan saja, apa yang kau mau." Ucap Jeemy santai nan dingin. Bagaimana pun itu, Arnold memegang kasta tertinggi di kelompok itu setelah Lusy. Yah, dia adalah anggota termuda, dan akan menjadi tanggung jawab mereka dalam mengasuh Arnold. Walaupun Jeemy terlihat dingin, bukan berarti ia tak menyayanyi keponakan kecilnya itu. Bahkan bisa dibilang kalau ia akan melakukan segalanya untuk Arnold.
"Itu terlalu keterlaluan paman. Jangan seperti itu."
"Huh!! Aku tau kau sedang dilema sekarang. Kau menyukainya tapi tak bisa berbuat lebih apalagi sampai mengatakan perasaanmu."
"Kenapa?"
"Hey, Jeemy apa kau lupa gadis yang di sukai adik kecil ini berbeda dari nya. Lebih baik ayo kita minum dan nikmati acara ini lalu berpesta. Kau lihat, beberapa sekretaris dari rekan bisnis bos mu terlihat berkilau. Kenapa kau tak mencari selingan saja hm?" Theo mulai berunding seperti ingin meracuni otak Arnold, tak lupa juga senyum simpul itu terlukis di sana.
"Jika kau lakukan itu, maka aku yakin kau akan di ubah Geor menjadi samsak tinju, di gantung terbalik seperti kepompong dan kau akan merasakan mati suri untuk beberapa abad." Ketus Jeemy dengan wajah flat nya. Dan tentu hal itu membuat senyum Theo menjadi memudar. Ia tau jika Geor marah akan terjadi suatu hal yang mengerikan. Dan ia juga belum siap untuk mati suri.
"Baiklah Arnold, kau mau aku antar pulang? Atau ku pesankan satu kamar untuk kau beristirahat."
"Hn, lebih baik seperti itu. Aku pergi dulu." Arnold pamit dan melangkah pergi dari sana setelah berkas yang ada di tangannya ia serahkan kepada Theo.
"Jeem, apa kita berdua terlahir tanpa punya perasaan?" Ucap Theo sembari melihat punggung itu melangkah pergi.
"Maksudmu?"
"Aku sudah melihat beberapa orang terlihat begitu tak bersemangat hidup saat pujaan hati mereka pergi atau tak didapat oleh mereka. Bahkan Arnold pun begitu. Jika dibanding kita, umur Arnold lebih muda tapi ia sudah merasakan hal itu. Lalu apa kabarnya dengan kita berdua yang sudah berumur kepala tiga ini?"
"Itu karna mereka terlalu banyak mendengarkan hati dan mengabaikan otak mereka." Jeemy berbalik dan melangkah meninggalkan Theo setelah berucap seperti itu.
____________
"Kian, Devan... Kalian dah balik?"
"Hehehe... Iya kak." Ucap Kian yang dihampiri oleh Arya, sedangkan Devan berlalu pergi begitu saja. Tanpa mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
"Loh, si Devan kenapa Ki?"
"Gak tau kak. Pms kali."
"Hahaha... Ada ada aja lo Ki. Ya udah lanjut kerja ya." Kian mengangguk.
Di saat ia sibuk keluar masuk dapur, tiba tiba telpon di meja kasir berbunyi, sedangkan sang kasir ntah tak tau keberadaannya dimana. Tak mau penelpon sebrang menunggu, Kian pun menjawabnya.
Terdengar suara nenek dari sebrang yang memesan beberapa menu mereka dan meminta untuk di antar kan ke rumah. Setelah menanyakan alamat rumah, Kian langsung mencatatnya.
Kian berjalan kembali ke dapur, menyiapkan beberapa pesanan yang diminta. Dan keluar membawa paper bag di tangannya. Terlihat beberapa karyawan sedang sibuk. Termasuk Devan yang kini sedang melayani beberapa konsumen yang notobane-nya perempuan. Membuat Kian mengurungkan niat bahkan hanya untuk memanggil dirinya. Namun dilain sisi juga ia bingung harus menyuruh siapa untuk mengantarnya. Batang hidung Agha saja tak keliatan, biasanya yang menghandle urusan deliver adalah dia.
"Sif, gue keluar dulu ya. Mau anter pesenan."
"Loh kenapa gak suruh Agha aja Ki? Atau cowok yang laen."
"Mereka sibuk semua Sif. Si Agha juga gak tau kemana. Gue izin sebentar ya, nanti kan pasti ada Devan juga yang bantuin lo."
"Oh ya udah sih. Tiati Ki."
Kian mengangguk dan mengangkat jempol kanan nya. Berlalu keluar cafe, memberhentikan salah satu angkutan umum yang berlalu lalang dan langsung menuju alamat yang di tujunya.
Jika ditanya kenapa Kian tak mengantarkannya dengan motor yang disediakan, maka jawabannya Kian tak bisa mengendarai kendaraan apapun. Hanya bisa menumpang tanpa bisa menyetir.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya ia sampai di sebuah komplek perumahan yang begitu indah dan luas. Kian turun dan menyusuri jalan yang ada mencari rumah sang pemesan.
Berjalan menenteng satu paper bag dan satu note kuning di tangan kanannya. Sesekali memeriksa nomor yang ada di pintu rumah yang ada di sana.
Hingga sampai di sebuah pemandangan yang berada di sebrang jalan, membuat ia tiba tiba berhenti melangkah. Rasa tak percaya menyeruak dalam hatinya, namun itu begitu nyata. Ingin sekali ia memanggilnya namun bibirnya seolah terkunci hingga tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
Walau dengan hati hancur dan tak percaya, Kian tetap menyaksikan hal itu. Bersembunyi di balik tanaman yang ada di depan rumah orang yang tak jauh dari pemandangan itu. Berusaha mencari kebenaran dan pembuktian apakah itu benar benar ayahnya???
"Itu ayah kenapa bisa bersama wanita itu? Wanita itu.... persis seperti yang dikatakan oleh Devan. Jadi apakah benar kalau Devan bertemu ayah di rumah sakit? Tapi kenapa?" Pertanyaan itu berputar putar di otak Kian. Melihat penggambaran dari punggung wanita itu sama seperti yang digambarkan oleh Devan. Dan apa yang dilihat Kian? Ia menyaksikan ayahnya sedang merangkul seorang perempuan masuk ke dalam sebuah rumah.
Namun saat mereka menaiki anak tangga yang hanya terdiri dari empat buah itu, sang perempuan terpeleset dan membuat Kian melihat jelas wajah wanita itu.
"I...i...itukan wanita maung itu?! Jadi selama ini bunda benar kalau ayah berselingkuh dengan sekretarisnya? Lalu kenapa bunda masih mempertahankannya? Apa bunda baik baik saja? Apa bunda punya satu alasan yang buat dia bertahan?"
Saat ia masih sibuk dengan penglihatan dan pemikirannya, tiba tiba ada seseorang yang menepuk bahunya. Awalnya ia tak terlalu memperdulikan itu, karna terlalu fokus dengan apa yang ia lihat. Namun orang tersebut terus menepuk bahunya.
"Lagi ngapain mbak?"
"Ish!! Bisa gak sih gak usah ganggu orang lain?!" Kesal Kian dengan suara yang tak terlalu keras namun penuh penekanan. Kian berbalik, menggenggam tangan sang mpu yang menepuk bahunya itu.
Dan betapa terkejutnya Kian, saat ia berbalik orang tersebut adalah, "Refan? Ngapain lo di sini?" Kian segera melepaskan tangan itu dan memandang gugup dirinya.
"Yang harus nanya itu gue, ngapain lo di sini? Pake acara ngumpet segala. Lo mau maling ya?"
"Enak aja lo. Gue... Gue ke sini karna mau cari nih alamat. Cuma gak nemu nemu dari tadi. Terus istirahat bentar di sini."
Refan melihat note kuning kecil itu, membacanya sekilas, "Oh ini rumah nenek Zuya. Empat rumah lagi dari sini, baru rumah dia. Lo ngapain cari rumah dia?" Refan menatap Kian jengah, menatap dari atas sampai bawah, "Lo? Lo jadi kurir coffe di cafe?" Tanya nya seolah mengejek
"Iya. Kenapa? Aneh? Gue rasa gak ya. Lagian kok lo tau rumahnya?" Ketus Kian, namun Refan terus saja tertawa dengan puasnya.
Hingga beberapa menit kemudian tawa itu berhenti dan malah menatap Kian, "Lo tau, tanaman yang lo rusakin terus jadi tepat persembunyian lo penguntit, itu rumah gue. Noh!!" Refan menunjuk rumahnya yang berada di belakang mereka saat ini.
__ADS_1
Diam sejenak untuk memikirkan kalimat yang bagus agar Refan tidak membuat heboh komplek atau meminta ganti rugi atas perbuatannya yang sudah merasakan tanaman di depan rumah Refan.
"Hehehe... Maafin gue Fan. Gue gak sengaja, lagian gue gak tau kalo ini rumah lo." Kian berusaha merapikan kembali tanaman yang sempat ia rusak itu.
"Hn! Karna gue lagi baik, oke gue maafin." Ucapnya enteng dengan senyuman misteri. Kembali Kian teringat kejadian di sekolahnya tadi siang. Ia takut Refan akan menagih jawabannya, dan kalau dirinya menolak apakah ia akan dimutilasi saat ini juga?
"Santai aja kali Ki, gak usah tegang. Lo mau mampir dulu gak? Lagian lo baru tau kan ini rumah gue. Di rumah gue juga gak ada siapa siapa, jadi lo tenang aja."
Jantung Kian berdegup lebih kencang dari sebelumnya ntah apa maksud Refan dengan di rumahnya tak ada siapa siapa itu. "Lo mikir gak Fan, dengan lo ngomong gitu tambah gue gak mau dateng ke rumah lo."
"Lain kali aja Fan. Gue lagi ada kerjaan harus nganterin pesanan neneknya." Kian berucap setengah mungkin, agar Refan tak menyinggung masalah tadi siang dan memaksanya masuk ke dalam rumah.
"Mau gue anter?"
"Eh.. Gak usah Fan. Gak usah, gue bisa sendiri kok. Kan lo bilang empat rumah lagi. Ya udah gue pergi dulu. Sekali lagi maaf buat tanaman lo. Gue gak sengaja Fan. Assalamulaikum" Ucap Kian berlari kecil menjauhi Refan yang masih terdiam memandangi dirinya dengan ekspresi aneh.
Setelah mengantarkan makanan dan mendapat bayaran, Kian berjalan pulang. Memandangi sejenak rumah yang tadinya ia lewati dan melihat ayahnya bersama seorang wanita. Kini rumah itu sudah tertutup rapat bagai tak ada orang di sana.
Tak mungkin setelah melihat hal itu pikiran Kian tetap positif, bahkan kini otaknya berisi overthingking tentang ayahnya dan wanita itu. Kecewa? Jelas. Bingung? Tentu. Tapi siapa yang akan menjawab semua pertanyaan yang akan ia lontarkan ini. Kembali ke rumah dan bertanya pada bundanya? Apakah akan di jawab, atau bahkan ia akan lari dari pertanyaan dirinya.
Bertanya langsung pada ayahnya, mungkin ia langsung dimarah bahkan dipukuli lagi oleh ayahnya. Maka jalan satu satunya adalah ia harus mengetahui hal itu sendiri.
______________
"Ki, Sifa bilang lo anter pesenan konsumen ya? Maaf ya Ki, harusnya itu jadi tugas gue malah lo yang kerjain. Terus lo naik apa? Gue liat kendaraan di depan masih lengkap aja." Agha yang sudah menunggu Kian di dalam Cafe.
"Santai aja kali Gha. Gue gak bisa naik motor jadi gue tadi naik angkot. Hehe.. biar lebih hemat."
"Astaga, maafin gue ya."
"Iya." Kian tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam dapur untuk melanjutkan kerjaannya.
Sibuk dengan alat pemanggang dan roti. Tanpa memperdulikan sekitar. Namun tak lama suara dingin menyapanya, tidak lebih tepat mengintimidasi Kian saat ini. "Dari mana?"
"Anter pesanan konsumen." Cuek Kian yang terus menyibukkan dirinya, tanpa melihat kearah Devan.
"Kenapa..."
"Semua orang lain sibuk, Agha gue gak tau tadi kemana, mau minta tolong lo juga, lo nya sibuk sama tuh cewek cewek. Gak mau ganggu guenya. Lagian gue juga gak buta buta amat soal alamat. Gue bisa lah kalo cuma cari itu." Kian langsung memotong ucapan Devan yang belum selesai. Seolah memang tau apa yang akan dikatakan oleh Devan.
Devan nampak diam sebentar memandangi Kian, "Gak usah liat gue gitu juga. Lagian kan tadi lo marah sama gue. Gue gak mau ngerepotin lo. Dan yah ini, pesenan cewek cewek lo tadi." Kian memberikan beberapa piring pada Devan Dan lanjut mengerjakan hal lain.
Devan keluar meninggalkan Kian sendiri di dapur, mengantarkan piring piring yang berisi makanan itu pada pelanggan yang memesan, tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi pada Kian. Yang membuat Kian merasa kesal. Jika ditanya kenapa, maka Kian pun tak tau. Hanya rasa kesal ketika Devan tak berusaha membujuknya.
.
.
.
.
.
tbc
__ADS_1