Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#81


__ADS_3

Diary Kian📒


Apakah takdir seorang anak perempuan hanya berada di rumah?? Apakah salah jika seorang anak perempuan memiliki cita-cita dan ingin sekali mewujudkannya? Setidaknya walaupun beberapa masalah ini, aku masih ingin melanjutkan hidup sesuai dengan keinginanku.


Bahkan aku berharap dengan apa yang aku gapai bisa membuat pandangan orang tuaku berubah.


Walau di samping itu mereka tak terlalu terlihat seperti selalu ada untukku, tapi percayalah bunda, ayah, Kian sayang kalian.


Apakah Kian boleh egois sekali ini saja? Biarkan Kian habiskan waktu ini untuk mewujudkannya. Jujur sakit ini terus menggerogoti Kian, dan itu benar-benar sakit.


Kian berusaha bertahan untuk mencari moment dimana kita bisa duduk bersama menghabiskan waktu bersama bercerita banyak hal tentang kehidupan kita.


Kurangi sedikit kesibukan kalian dan perhatikan Kian sesaat saja. Kian ingin merasakan cinta dan kasih sayang itu, bukan keegoisan, keterpaksaan, dan rasa kasihan.


Percayalah bund, yah, Kian masih menunggu hari itu, dengan senyum yang selalu mengembang^^


__________


"Jadi dok, kenapa dengan jantung saya yang akhir-akhir ini sering terasa sakit?" Tanya Kian dengan tatapan cemas dan takut. Berkebalikan dengan si dokter dengan tatapan sendu seperti menyimpan hal besar yang membuat dirinya bisa tambah frustasi.


Dokter itu menjelaskan kepada Kian secara rinci apa yang terjadi, dan benar saja hal itu membuat Kian sedikit tercekat, "Apa dari keluargamu ada yang menderita penyakit jantung?"


"Ntahlah dok. Saya tidak tau dengan itu." Jawab Kian yang begitu cemas.


"Hmm.. Baiklah. Dari hasil pemeriksaan ini, keadaan mu tidak terlalu baik. Kau harusnya tidak terlalu stres. Jangan menyimpan masalah sendiri, jika kau bisa ceritakan pada orang lain itu akan lebih baik. Dimana ayah dan ibumu? Harusnya mereka tau dengan keadaan kamu sekarang. Jika keadaan ini terus berlanjut maka bisa saja penyakit aritmia ini bertambah parah. Kamu tau penyakit ini bisa terjadi karena kau terlalu banyak tekanan, pola hidup tak teratur, dan bisa jadi karena ada keturunan juga. Jadi jaga pola makan mu dengan baik jangan sampai stres dan apakah kau mengonsumsi obat obatan tertentu?" Tanya dokter itu penuh selidik.


"Ya.. ya dok. Beberapa obat pereda pusing dan stres."


"Sudah lama?"


"Ya, lumayan dok."


"Apa dengan resep dokter?" Tanya dokter itu lagi, Kian menjelaskan bahwa ia memang meminum beberapa macam obat ketika pusing dan stresnya kambuh. Dan setelah rasa itu hilang dia akan berhenti. Saat hal itu tak menyerangnya, maka ia pun tak akan meminum obat tersebut.


"Baiklah. Lebih baik kau berhenti mengkonsumsi obat-obatan itu. Dan kau bisa periksa lebih lanjut dengan keadaan mu ini. Apa kamu mau di periksa sekarang?"


"Emm... Aku akan memberitahu orang tuaku dulu dok."


"Baiklah jika begitu. Kamu bisa datang lagi nanti bersama dengan orang tuamu itu lebih baik."


"Baik dok. Tapi apakah penyakit ini serius?"


"Tidak terlalu. Namun jika kau tidak menjaga pola makan dan stresmu mungkin bisa saja gejala ini membuatmu bisa mengalami stroke atau penyakit jantung lainnya, dan tentu nya akan menjadi penyakit serius."


"Baiklah dok. Terima kasih."


Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Kian beranjak keluar ruangan. Merenungi semua yang dikatakannya. Ntah apakah ia bisa katakan atau tidak pada kedua orang tuanya. Mengingat ayah dan bundanya yang selalu sibuk sendiri itu.


Hari ini juga kedua orang tuanya tak ada. Ntah pergi kemana lagi. Hari ini merupakan hari kamis, namun sekolah mereka libur karena para guru harus rapat, persiapan untuk detik-detik menjelang ujian mereka.


Ketika memikirkan orang tuanya, sekelebat ingatan tentang ucapan ayahnya beberapa waktu lalu kembali berputar di otaknya. Ia sangat takut dengan ancaman itu. Rasanya sangat tidak mungkin namun itu kenyataanya, apapun yang dikatakan oleh ayahnya pasti akan terlaksana.


Ia ingin sekali pergi dari kehidupannya sekarang ini, namun itu tidaklah benar. Ia takut jika ayahnya akan menjodohkan dirinya dengan seseorang yang kasar bahkan sangat tentramen seperti ayahnya yang sering memukul itu.


Sejak kejadian beberapa belas tahun lalu mengubah ayahnya menjadi seseorang yang bukan lagi seperti seorang ayah baginya. Kebiasaan buruknya yang selalu memukuli orang lain itu membuat Kian begitu sakit, apalagi terkadang itu adalah bundanya sendiri yang menjadi korban. Bagaimana pahlawan bertamengnya malah terlihat bagai seseorang yang tak punya cinta sama sekali itu.


Kian ingin sekali marah, namun pada siapa? Dimana ia akan meluapkannya? Tak mungkin dengan meminum minuman seperti temannya. Tentu saja itu akan memperburuk kondisi serta fisiknya dan hal itu akan membuatnya jauh dari angan-angan membanggakan orang tuanya.


Tidak!! Ia tidak mau hal itu terjadi. Bagaimana pun ia harus tetap bertahan apapun yang terjadi. Dan tekadnya bulat untuk memberitahukan hal ini pada orang tuanya. Walaupun ia tak tau akan seperti apa jadinya hari itu dan kapan hal itu akan terjadi. Mungkinkah mereka hanya ber-oh atau sangat tak perduli. Ntahlah, Kian pun tak tau.

__ADS_1


Tiba-tiba air matanya meluncur begitu saja, sesekali ia menghapus air mata yang tumpah ke pipinya. Membuatnya merasakan kembali tamparan ayahnya di pipi kanan itu. Sudah jadi kebiasaan jika selesai tamparan, pipinya akan memerah dan akan terasa sangat perih.


Ia berjalan dengan langkah yang biasa, sesekali menyeka air mata itu agar tak dilihat aneh oleh orang-orang di rumah sakit. Ia berjalan ke Depo Farmasi untuk mengambil beberapa vitamin dan salep yang biasa digunakannya untuk luka dan lebam, sebab persediaan salep di rumahnya sudah habis.


"Loh Ki, lo ngapain di sini?" Tanya seseorang yang tentu saja membuat Kian tersentak kaget, bagaimana bisa temannya juga ada di sini?


"Eh Febbry, gue abis jenguk tetangga. Iya tetangga gue lagi kena musibah, jadi gue jengukin sambil ambil obatnya ke sini." Ucapnya asal saat berada di tempat pengambilan obat, dengan gugup yang sudah pasti menyelimuti dirinya. Ya, walaupun kenyataan itu memang benar, hanya saja Kian sedikit berbohong soal tempat rumah sakitnya.


"Oh.. Tetangga lo yang mana Ki? Gue juga mau jenguk dong." Pinta Febbry yang membuat Kian gelagapan mencari alasan lain.


'Haduh, Febbry ngapain lo kepo banget sih!! Lagian tetangga gue bukan dirawat di sini Feb. Pake alasan apalagi ya!!'


"Ki..." Buyar Febbry agar Kian yang melamun sadar.


"Eh... Iya kenapa?"


"Haduh malah bengong lagi. Gue tanya dimana kamar inap tetangga lo?" Tanyanya menatap Kian dengan memaksa


"Oy Febbry! Lo udah ambil resepnya belom sih!! Lama banget!" Teriak seseorang yang membuat Kian dan Febbry berhenti mengobrol.


Pandangan Kian beralih kepada Febbry dengan tatapan bertanya, seolah meminta penjelasan dengan serinci-rincinya. Memandang seseorang itu dan Febbry bergantian, dengan wajah yang mengintimidasi.


"Feb... ini kenapa?"


"Hai Ki. Lo ngapain di sini?" Tanyanya.


"Yang harus nanya gitu tuh gue. Kalian ngapain ke rumah sakit berdua? Maksudnya apa nih?" Keadaan sekarang berbalik, malah Kian yang penasaran dengan mereka dan menginterogasi keduanya, seperti berbuat salah sebelumnya.


"Eh... itu Ki. Gue kan sama Bimo lagi rencanain program..." Ucap Febbry yang belum selesai, namun ekspresi Kian sudah kaget dan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Febbry. Berpikiran over sebab ada kata program di sana. Mata Kian melotot tak percaya dan mulut yang tengah menganga.


"Ehhhhhhh... tunggu dulu Ki. Lo jangan berpikiran yang macem-macem. Gue sama Bimo abis dari ruang gizi. Mau tau tata cara diet sehat aja kok. Jangan sampai gue suruh olahraga nih bocah malah pingsan lagi nantinya, kayak waktu itu."


Setelah menjelaskan apa yang pernah mereka lakukan, ada tatapan lega disana oleh Kian sendiri. Sempat beberapa menit lalu ia sudah berfikir yang tak karuan terhadap sahabat dan temannya ini. Namun rupanya semua baik-baik saja.


_________


Beberapa waktu lalu.....


"Dimana Geor?" Tanya seseorang yang tergesa-gesa masuk ke dalam sebuah gedung yang begitu besar.


"Maaf tuan Theo, sekarang tuan George sedang rapat dengan rekan bisnis pentingnya." Ucap resepsionis dengan sopan, ia tau sedang bicara dengan siapa sekarang. Salah sedikit saja mungkin ia akan mengobrak abrik meja itu sekarang.


"Apa kau tau ha!!! Aku sudah menunggu dari semalam bahkan beberapa hari lalu saat ia pergi Jerman, untuk hari ini. Jadi pertemukan aku dengannya secepatnya!!" Suara itu kian meninggi, membuat si resepsionis sedikit ketakutan


"Maafkan saya, maaf sekali tuan Theo. Tapi untuk saat ini tuan George tak bisa diganggu." Sedikit menunduk agar Theo mengerti posisinya sekarang.


"Arggh!! Informasi yang aku bawa ini bahkan lebih penting dari segala aset yang ia punya bahkan seorang rekan bisnis sekalipun!! Kau beritahu dia sekarang atau aku akan membelah meja ini jadi dua! Cepat!!"


"Ba.. baik tuan." Resepsionis itu sudah ketakutan melihat Theo dengan wajah sangarnya.


Tut...


Kini telpon tersambung, terdengar suara yang lebih penuh penekanan dari sebrang. Yang lagi-lagi membuat si resepsionis menjadi tambah tertekan sebab sana sini menekannya.


"Berikan padaku!"


Zep


Telpon itu kini sudah ada ditangan Theo, "Aku sudah katakan aku sedang sibuk Linda!!" Teriak dari sebrang.

__ADS_1


"Kau bertemu aku sekarang atau tidak sama sekali Geor? Kau tau berapa lama aku harus menunggumu hm? Dan aku sudah benar-benar penasaran dengan ini! Biarkan aku masuk!" Tegasnya.


Tut


Tak lama dari telpon itu berlangsung, Theo langsung di temui oleh asisten Geor dan menyuruhnya untuk langsung ke ruangan Geor.


"Apa yang kau temukan sampai memaksa seperti ini?" Tanyanya santai.


"Hah! Jika kau melihat ini apakah kau akan tetap percaya dengan yang namanya hanya kebetulan? Aku yakin kau tau tentang ini. Hanya kau Geor! Kau kunci satu-satunya untuk mengetahui siapa anak itu, dari keluarga mana dia."


Tutur kata itu seketika membuat Geor merubah raut wajah yang semulanya kesal terhadap Theo kini penasaran setengah mati. Ya, seperti yang ia tau, jika Theo hanya banyak bermain dan sering salah informasi tentang suatu hal. Lagi pula ia tak terlalu menekankan masalah anak itu sebenarnya pada Theo.


Ia hanya suka melihat satu temannya itu sedikit kesusahan dan selalu suka ketika temannya itu mendadak merasa terancam saat dirinya bicara. Ia tak menyangka jika Theo akan benar-benar melakukan hal itu. Ditambah lagi dengan setiap kalimat yang ia ucapkan seperti sangat berarti dan kunci informasi yang tak main-main tentunya.


Clap


Theo melempar satu map coklat ke meja Geor dengan sombongnya, membuat si mpu mengerinyitkan dahi dan langsung membuka amplop coklat besar itu. Theo sendiri padahal terasa sedikit geram pada Geor, bagaimana tidak. Setelah ia mendapatkan informasi malam itu, tiba-tiba Geor hilang begitu saja. Membuatnya bertanya-tanya, hingga Jeemy mengatakan bahwa Geor berangkat ke Jerman untuk suatu hal. Ntah apa itu ia tak tau.


Hingga dengan sabar Theo pun harus menunggu kepulangan Geor. Pertanyaan pertama kenapa Theo tak mengirimkan file via ponsel saja? Itu sebabnya ia ingin langsung tau secara live mengenai penjelasan Geor terhadap apa yang ia temukan. Kedua, ia ingin menunjukkan betapa terkejutnya Geor saat melihat berkas itu dan mengakui kepintarannya mengenai hal itu.


"Apa ini Theo?!"


"Yang harusnya bertanya itu aku Geor. Kau mengenal wanita itu? Dia adalah ibu dari anak itu. Dan ternyata wanita cantik itu pernah terjerat kasus, yang kemudian dengan bantuan seseorang kasus itu di tutup dan namanya kembali bersih. Kau mengingat sesuatu?" Tanya Theo dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Wa.. wanita ini...." Geor sedikit tercekak tak bisa meneruskan kalimat selanjutnya.


"Ada apa Geor? Kau sudah mengetahui sesuatu? Tolong jelaskan padaku apa semua ini? Bahkan aku tak tau siapa kau Geor. Aku hanya mengenal mu sebagai George Giovanni, tak ada yang lain. Kau mengetahui semua...." Belum selesai Theo bicara, Geor bangkit dari kursi kebesarannya.


"Theo, aku ingin kau cari lebih dalam mengenai hal ini!! Aku ingin tau siapa yang berani melakukan semua hal ini!!" Ucapnya sekilas lalu pergi begitu saja dari ruangan besar itu.


Meninggalkan Theo seorang diri dengan wajah yang cengok nan bodoh. Theo hanya bisa membulatkan mata dengan mulut setengah terbuka, melihat kepergian Geor begitu saja tanpa ada sepatah katapun mengenai hal yang sedang di usutnya ini.


'Aku datang dengan tampang yang begitu meyakinkan dan keren. Berharap dia akan memuji kepintaran yang aku punya dan mengakuinya. Dan disamping itu ia akan menceritakan semua hal tentang masa lalunya sampai tuntas. Bahkan aku saja tak mengetahui dia ini dari keluarga mana! Aku sudah menyiapkan diri untuk mendengarkan semuanya, tapi dia! Dia pergi begitu saja dengan wajah tanpa dosa. Tanpa berterima kasih bahkan ia memerintahkan aku lagi! Theo!! Kenapa hidupmu selalu saja disepelekan oleh orang lain. Aku selalu merasa paling sengsara dalam kelompok ini. hiks...hiks....' Jerit Theo dalam hatinya. Bahkan ia benar-benar merasa kesal pada Geor saat ini dengan raut wajah yang disedih sedihkan.


Kini wajahnya sudah merah menahan sesuatu yang jika pun ia lampiaskan pada si mpu, dia tak akan bisa apa-apa. Tak kan bisa melawan, dan hanya bisa menangis dalam hati.


"Apakah ini keadilan bagi pria tampan seperti aku, hah!!! Awas saja kau Geor, aku akan menemukan hal lebih lainnya dan kau akan tau seberapa pintarnya seorang Theo yang digilai oleh para wanita ini. Argghhh!!!" Teriak Theo menggelegar di ruangan itu, membuat para karyawan Geor yang melihatnya hanya berbisik dan memadang aneh pada Theo.


"Ada apa dengan tuan Theo? Apa mungkin ia ditinggal oleh kekasihnya lagi?"


"Mungkin saja, dan malah merengek pada bos kita."


"Tapi yang ku tau, tuan Theo tak memiliki kekasih."


"Lagipula siapa wanita yang kurang beruntung ingin dengannya yang seperti itu."


"Hey!! Kau salah. Tuan Theo sangat tampan di tambah lagi dengan kesuksesannya."


"Bagaimana bisa kalian menilainya sangat tampan, bahkan wajahnya bagai cetakan telur dadar yang gosong."


Itulah beberapa kalimat yang di lontarkan dari para karyawan Geor ada yang setuju dan ada juga yang kontra dengan Theo. Bahkan hanya ia satu satunya orang yang tidak mendukung atau menyukai Theo dan bukan merupakan bagian dari karyawan, hanya ikut menimbrung dikala mereka sedang asik bergosip. Dan tentu kalimat cibiran terakhir itu membuat para karyawan perempuan menatap tak percaya padanya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Maaf akhir akhir ini up nya cuma bisa satu eps, soalnya lagi banyak kerjaan. Terima kasih yang sudah mau stay di cerita Kian dan Devan, yang ntah bisa bersatu atau tidak ini.... tetap semangat semua🤗😚


__ADS_2