Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#26


__ADS_3

Mereka bertiga berlanjut menuju kelas. Canda tawa itu bahkan pertengkaran kecil diantara mereka selalu ada. Membuat mereka terlihat begitu nyaman dan tak menggubris sekitar. Hingga sampai di depan kelas, Bu Dwi memanggil kian. Tentu kian mendatanginya di depan kelas sebrang. Dan diikuti kedua temannya itu.


"Ibu kan cuma panggil Kian. kok dateng nya bertiga?"


"Best friend bu, kemana mana bertiga. Kecuali mandi gak kalo itu."


"Serahmu Feb."


"Emm...Ki nanti ibu bakal catat materi ujian yang harus dipelajari di papan tulis. Tolong bilangin ke Devan buat catat ya. Ibu minta tolong banget sama kamu. Ibu bawaannya emosi terus kalo ngomong sama dia. Dan dia juga gak bakal denger." Ucap bu dwi memohon. Bu Dwi bukan guru BK, melainkan wali kelas mereka. Selaku wali kelas, dia juga merasa kesulitan mengurusi Devan.


"Iya bu." Ucap Kian, sedangkan kedua temannya menatap malas.


"Ibu juga sudah periksa catatan Devan. Dan Devan selalu nulis. Ibu makasih banget, gara gara kamu Devan bisa nurut juga. Tapi kok tulisannya mirip mirip kamu ya Ki?"


'Ya kan emang kian bu yang tulis.' batin kian.


"Kebetulan aja kali bu."


"Oh iya kali ya. Terus gimana sarah?"


"Hah?" mereka bertiga tercengang. Mereka sempat berpikir ibu dwi tau tentang sarah yang berusaha mendekati Devan.


"Sekolah disini sarah. Nyaman gak kamu? Atau ada yang bikin kamu agak kesusahan?."


"Ouh...heheh. Gak ada kok bu. Sarah malah seneng temenan sama febbry dan kian." ucapnya sambil tersenyum.


'sebenarnya ada bu. Salah satu siswa ibu juga, yang selalu aja bikin saya susah buat deketin dia.'


"Oh... ya sudah kalo gitu syukur dh kalo kamu seneng. Soalnya banyak anak yang kesel sama febbry. Selama di sekolah sih ibu liat emang cumankian yang tahan sama nih anak. Tapi kalo kamu juga bisa bagus dh. Baik baik ya kalian bertiga. Kian jangan lupa pesan ibu tadi ya." Kian menggangguk


"Ibu mau ke kantor dulu buat ambil buku materi. kalian masuk saja langsung ya" lanjutnya lalu berjalan pergi


"Siap bu." serentak mereka bertiga.


"Ki, lo kenapa gak bilang aja lo yang tulisin. Biar tuh anak tau rasa." ucap febbry kesal


"Kalo gw bilang ke ibu Dwi bakal sama aja. Dia aja gak sanggup urus Devan, denger kan lo tadi. Lagian kalo gw harus bilang tu manusia sama aja gw ngajak gelud tuh bocah. Males gw debat ama tuh manusia. Selama masih bisa gw kerjain ya udah. Denger lo tiap hari yang cempreng aja gw udah cukup. Jangan sampai nambah orang lagi."


"Nyenyenye...."


Di kelas mereka semua mulai menulis materi yang tertera di papan tulis kecuali Devan. Yah, dia tertidur dengan tangan kirinya jadi bantal dan menghadap ke arah Kian. Kian tau alasan ia yang selalu tidur itu, namun jika kian memberitahu bu Dwi pun pasti Devan akan sangat marah.


Devan memang selalu menaruh buku dan pulpen di meja walaupun ia tak menulis apapun. Terkadang hanya coret coret sebuah gambar yang ia buat.

__ADS_1


Kian yang melihat buku itu berniat mengambilnya dan dengan catatan jangan sampai ia bangun.


Perlahan ia menggapai buku di meja Devan. Jari jarinya yang mungil itu menari di batas buku Devan, perlahan menarik buku itu. Dengan perlahan lahan, dan terkadang melihat Devan apakah dia bangun atau tidak. Buku itu tertarik sedikit demi sedikit. Sampai sudah benar benar hampir dekat dengan Kian, namun...


Srebb.....


Buku itu tertahan. Kian pun langsung menoleh kenapa buku itu sampai begitu berat, bahkan ketika ditarik seperti tak bergeser sedikit pun.


"Ehh... ano" ucap Kian terkejut ternyata Devan menahannya. Ia memasang wajah dinginnya yang super datar.


"Gw pinjem bukunya."


"Buat?!" sambil mengangkat sebelah alisnya.


Srakhh...


"Buat nulis." setelah mendapat buku itu. Dan tak lagi menghadap Devan.


'Hayeuh... untung aja bukunya gak sobek'


"Hennn.." senyum miringnya.


Kian mulai mencatat kata demi kata di buku itu. Ia sedikit terkejut dengan ada bekas sobekan halaman di buku itu. Dan kembali lagi mencatat. Sampai akhirnya jam istirahat kedua dan teman temannya mengajaknya ke Perpustakaan sebab sebelumnya mereka sudah membuat janji untuk pergi ke Perpustakaan. Karna masih sibuk ia menunda pergi ke Perpustakaan. Sedangakn kedua temannya itu pun langsung melesat pergi.


"Heh! Lo adalah orang terbodoh yang pernah gw temuin. Kenapa lo lakuin ini? Karna di suruh wali kelas? atau demi nilai? hahaha...lucu Ya lo. Emang tanpa itu lo gak bisa raih posisi pertama?"


"Oh ya satu lagi. Kalo gak suka tulis gw bilang, jangan di sobek. Lo bisa kan tulis sendiri, sayang bukunya kalo di sobek. Nih!!! (meletakkan buku itu di meja) Dan gw ngelakuin ini bukan karna nilai. Paham lo!!" kian bangkit dari kursinya setelah menyelesaikan tulisannya dan memberikannya pada Devan.


Sedangkan Devan hanya menatap sinis dan jengkel pada Kian.


"Kian..." Jerry yang berada di pintu kelas


"Lah jer. Ngapain lo disini?"


"Bantu gw pilihin buku di perpus. Gw mau kasih sama anak anak organs."


"Oh oke. Gw juga kebetulan mau kesana, mau ketemu febbry sama Sarah."


Sementara di tempat lain ada Febbry dan Sarah, yang bukannya ke Perpustakaan malah pergi jalan jalan. Melihat lihat kelas lain sambil menyapa mereka.


"Hei kamu! rambut lurus"


Sarah dan Febbry pun menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


"Eh.... Pak samsul. Kenapa pak?" teriak febbry, sarah yang ada di sampingnya hanya bisa menutup telinga.


"Sini!!!"


"Heh! apa lagi mau bapak tua satu ini" gumam febbry lalu menarik tangan sarah.


"Kok gw sih feb. Yang di panggil kan lo, kenapa bawa bawa gw."


"Nyeyenye.. Giliran kian tadi lo mau aja." ucapnya yang tetap menarik sarah.


"Kenapa pak?"


"Ini, kamu tolong bawak barang barang ini ke gudang belakang ya. Dan kamu (Menunjuk sarah) bersihin ruangan ini."


"Yah pak. Ini kotak berat banget lho masa cuma febbry sendiri yang angkat."


"Kan bisa satu satu bawanya febbry. Yah sudah bapak tinggal dulu. Masih ada yang harus di kerjain."


"Tapi pak, emang buat apa ni ruangan?"


"Buat di pake lah febbry."


"Maksud febbry buat apa? emang ada acara?"


"Iya ada acara."


"Acara apa emang pak?"


"Sudah sudah kamu nih banyak tanya banget. Pusing pala bapak jawabnya. Kerjakan aja yang bapak suruh." ucap nya lalu pergi.


Dengan terpaksa febbry langsung mengangkat dua kotak yang berisi buku dan peralatan lain itu.


"Lo beneran mau angkat semuanya feb?"


"Iya emang napa?"


"Gak berat?"


"Gak. Lebih beratan dosa gw dari nih kotak. Ya udah lo bersihin aja nih ruangan."


Febbry berjalan menuju gudang yang lumayan jauh dengan mengangkat dua kotak sekaligus. Baginya tak terlalu berat, hanya saja ketika dua kardus itu di tumpuk ia susah melihat jalan karena kotak itu terlalu tinggi.


Bukkkhhh....

__ADS_1


Febbry tak sengaja menabrak seseorang.


"Ya allah, apaan tadi yang gw tabrak. Gilak gede banget. Mana keras lagi sampai sampai gw mental gini" keluhnya


__ADS_2