
Brakh....
Tap.... Tap.....
"Theo kau sudah kembali?" Tanya seorang perempuan yang kini memakai celemek dan sibuk membersihkan meja.
"Hn..." Cuek orang yang di tanya. Membuat orang yang di sana mengangkat alis satu sama lain seperti melihat keanehan.
"Kau baik baik saja Theo? Kau terlihat sedikit tak biasa hari ini?" Tanya lagi satu orang laki laki yang ada diruangan itu.
Theo yang masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah yang sangat kesal, baju sedikit berantakan dan sedikit kotor pula. Menggenteng satu paper bag ditangannya. Berjalan seperti tak ada penyemangat hidup.
Ia mengendorkan dasinya yang begitu mencekik di lehernya, membuka salah satu kancing bajunya. Menarik nafas dalam dan menoleh malas ke arah mereka bertiga yang masih asik di tempat masing masing.
"Arnold, kau sudah cari informasi tentang anak itu?" Tanya nya dengan wajah yang masih saja kusut.
"Hmm... Aku sedang berusaha namun sepertinya aku lupa sesuatu."
"Cepatlah cari info itu, maka kau akan mendapatkan apa yang kau mau." Ucapnya ketus.
"Hey, Theo ada apa ini? Kau ada masalah?" Tanya perempuan itu lagi, yang tidak lain adalah Lusy. Theo memang jarang sekali bersikap seperti itu. Jika pun begitu maka masalahnya pasti serius untuk dirinya, mohon di garis bawahi hanya untuk dia.
"Jika kau punya masalah kau bisa ceritakan. Atau kau langsung saja todongkan revolver itu padanya. Apa susahnya?" Ucap Jeemy dengan seenaknya.
"Jika aku bisa sudah ku lakukan itu. Lagi pula perempuan itu lebih gila dari perempuan yang ada di bar. Seperti macan.... Argghh, menakutkan. Tak kan ku biarkan dia hidup tenang. Lihat saja!" Ucapnya yakin. Bukannya takut, teman temannya malah tertawa puas.
"Hahahaha... Ternyata karna seorang perempuan. Apa kau bertemu drakula perempuan ha? sampai kau seperti ini?"
"Oh Theo jangan seperti itu. Nanti kau bisa jatuh cinta padanya." Kekeh Lusy
"Apa? Cinta? Dengan bocah seperti itu? Tidak!! Dia sudah mengambil kesenangan ku hari ini. Dan tentu saja aku akan membalasnya. Lihat saja tikus kecil." Dengan senyum yang amat menyeramkan. Dia berlalu pergi menuju ruangan nya.
Di bascame itu semuanya punya ruangan pribadi, dan merupakan tempat kedua mereka setelah rumah.
Brakh....
Pintu tertutup dengan kencang.
Ketiga manusia yang masih ada di ruangan utama itu hanya melihat sekilas dan tak terlalu menggubrsinya.
"Sepertinya Theo akan menghadapi api yang begitu besar nantinya."
"Hn... Kau benar Lusy. Usia saja tua, tapi dalam bersikap masih sama."
"Api apa itu?"
"Sudahlah Arnold kau masih kecil. Lakukan saja yang di perintahkan oleh Theo."
"Ehenm..."
Arnold yang saat ini juga sedang memegang laptop kesayangannya mulai mengotak atik benda itu.
Namun terlihat sesuatu di wajahnya.
"Ini aku yang bodoh atau siapa ya?"
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Jeemy yang berada di sampingnya.
"Aku juga sudah mengotak atik laptop ini semalam. Namun seperti ada yang kurang...(tampak berfikir) Ah!!! Iya. Aku tidak tau siapa yang harus ku cari ini. Pantas saja saat membuka laptop aku sedikit bingung." Arnold dengan wajah polosnya
"Arnold ada apa dengan otak mu? Kenapa kau jadi sangat lemot. Lusy jangan beri anak ini biskuit lagi otak nya menjadi lemah seperti biskuit itu."
"Hey!!! Kenapa kau malah memarahi ku. Tapi wajar saja Arnold tidak tau. Kan saat itu dia tidak ada di arena balap."
"Lalu kenapa kau tidak memberitahunya wanita?!" Geram Jeemy
"Mana aku tau. Ku pikir Theo sudah memberitaukannya pada Arnold. KENAPA KAU MENYALAHIKU?!"
"Sudahlah kalian jangan bertengkar (Theo yang berusaha melerai keduanya). Kau benar Noona. Lalu apa kalian tau nama anak itu?"
"Kau bisa tanyakan itu pada Theo."
Gubrak...
Dor..... Dor..... Dor.....
"Paman buka pintunya!!" Teriak Arnold sambil menggedor pintu raunagn Theo.
Brakh...
"Akhhhh.... Ada apa lagi!! Tak bisakah kalian membiarkan aku istirahat!" Dengusnya
"Tapi harusnya kau memberitahukan aku dulu siapa nama anak itu. Aku seperti buta arah kalau begini."
"Kau!! Aih.. Benar juga kau tidak ada waktu itu. Lalu kenapa kau tidak bertanya dari kemarin."
"Biasanya pasien akan bilang sendiri apa yang ia rasakan dan keluhkan pada dokter bukan? baru Lah dokter tau dia sakit apa. Lalu dimana salahku?"
"Ya... ya.... Aku selalu salah. Kalian selalu saja menganak tirikanku. Sebentar aku akan mengingat nama anak itu."
A few minutes later.....
"Paman? Apa kau sudah ingat?"
"De... Devin? ah tidak tidak..... Devan, Devan apa ya? Oh iya Devan Kavindra Bagaskhara, Yah!! itu namanya."
Brakh...
Dengan mandiri Arnold menutup pintu itu, sebab lelah menunggu pamannya yang terbilang lemot mengingat.
__________
Di lain ruangan namun masih di belahan bumi yang sama. Ruangan yang begitu megah, pernak pernik yang berkilau menghiasi ruangan itu, dan tentu saja ada beberapa penjaga di sana.
Krak...
"Maaf mengganggu nyonya."
"Ada apa?"
"Ada tamu di bawah, dia...."
__ADS_1
"Dia siapa?"
"Dia adalah tuan muda nyonya."
Mata yang awalnya sibuk memandang ke luar jendela itu langsung menoleh pada seseorang yang bicara di belakangnya.
"Sammmmmm!!!" Teriaknya.
Tap... tap... gubrak.
"Huh... huh... Ada apa sayang? Kau butuh sesuatu? Kenapa berteriak? Hey Petter apa yang kau lakukan, bukannya menolong istriku." Roceh seseorang yang datang dengan terengah engah karena harus berlari untuk sampai tepat waktu.
"Berhentilah mengoceh. Antar aku ke lantai bawah. Kau hanya menghabiskan waktu bersama pengawal pengawalmu itu untuk bermain. Sampai tak tau siapa yang datang." Roceh perempuan yang di panggil nyonya oleh Petter itu.
Laki laki yang di panggil Sam itu menoleh pada Petter, seperti meminta penjelasan tanpa berucap. Sudut mata yang seperti menajam dan kepala yang sedikit ia miringkan. Tapi Petter tak berucap apapun, hanya memandang nyonya dan tuannya itu secara bergantian.
"Sudah cepat ayo dorong kursi roda jelek ini." Titah wanita itu.
Dengan cepat ia mendorong kursi roda itu, agar wanita yang ada di sana tak marah marah.
"Tunggu!" Titah wanita yang ada di kursi roda, ia mengambil rotan yang ada di samping nakasnya dan barulah menyuruh Sam untuk mendorong kursi roda itu.
"Sayang... Untuk apa rotan ini? Apa kau... Kau hendak memukul seseorang?" Tanya Sam dengan sedikit berhati hati dan bergidik ngeri.
"Kau akan tau setelah ini Sam." Dinginnya. Membuat Petter dan Sam saling lempar pandangan merasakan akan ada sesuatu yang terjadi.
Tink....
Suara lift itu berbunyi, dan pintu pun terbuka. Sam mendorong kursi roda itu menuju aula ruangan utama dengan Petter yang masih mengikuti mereka di belakang.
Mereka melihat seseorang yang berdiri disana dengan tegap, memunggungi mereka. Pakaian yang serba hitam, dan rambut yang tertata rapi serta klinis dari belakang. Membuat ekor mata wanita itu mengeluarkan sesuatu.
"Son..." Panggilnya lirih.
"Sayang apa kau bercanda? Siapa dia?" Tanya Sam yang tak percaya.
'Siapa pria ini? Anakku yang mana ini? Ku rasa anakku tidak memiliki postur tubuh yang bagus seperti ini. Atau istriku sudah menikah lagi? Tapi bagaimana bisa aku tak tau? Lalu apa alasannya?'
Sam menatap wanita yang ada di kursi roda dengan penuh selidik, bahkan ia tak percaya dengan apa yang ia pikirkan terhadap istrinya itu.
"Son!" Panggil Wanita itu lagi.
Setelah panggilan kedua itu, membuat orang yang berdiri tegap di depan mereka berbalik dan menghadap mereka semua.
"Mom... Dad..." Panggilnya balik dengan senyum sumringah.
"Apa yang terjadi dengan mu mom?"
.
.
.
.
__ADS_1
.
π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€