
"Pa....Sarah laper." rengeknya pada seseorang yang ia sebut papa itu. Orang itu sibuk dengan laptop yang ada di meja kerjanya. Jari jemarinya yang lentik menari di batas keyboard itu. Begitu serius bahkan tak teralihkan.
Sarah yang kesal pun langsung menghampiri orang itu. Membuka kasar pintu dan berjalan Ke arahnya.
"Papa..... Sarah laper. Pengen makan." teriaknya.
"Sarah....Papa kan lagi kerja sayang. Kamu bisa suruh bibi dibelakang buat masak makanan kesukaan kamu." masih fokus pada laptop sedangkan sarah berada di depannya.
"Gak mau. Tadi udah makan masakan bibi. Mau yang lain."
"Ya udah pesen gofood aja sana. Terserah mau apa nanti papa yang bayar."
"Ihh.... Gak mau paaaaaaa" teriaknya.
"Sarah, kamu tuh dah gede loh jangan gini terus ah. Papa lagi sibuk sama tugas kantor nih." kesalnya yang melihat tingkah sarah begitu kekanak kanakan.
"Huwaaa..... Papa gak sayang sarah lagi." tangisnya seperti anak kecil.
"Ya allah. Sarah..... Ya udah iya. Terus mau apa? mau papa masakin?"
"Gak mau. Kita makan di luar aja. Sarah pengen makan masakan china sama papa di luar."
"Tapi sayang, sekarang lagi hujan deras."
"Yah gunanya mobil apa papa? kalo gak ada gunanya ngapain di beli juga."
__ADS_1
Perdebatan demi perdebatan terjadi antara anak dan papa malam itu. Sampai akhirnya papanya mengalah dan mengantarkan Sarah pergi ke restoran china. Sebenarnya memang belum terlalu malam untuk keluar. Namun karna pekerjaan, papanya itu menjadi malas untuk pergi ke luar. Tapi tidak ketika sang anak memaksanya.
Mereka sampai di Restoran China yang terkenal dan mewah dan merupakan restoran kesukaan Sarah.
"Pa, papa pesen apa?"
"Samain aja sama kamu."
"Oke."
Sarah yang sudah memanggil pelayan dan memesan semua makanan yang ia suka. Bahkan orang yang dipanggil papanya itu hanya bisa melihat dan tertenggu dengan apa yang di pesan putrinya itu.
Sekelebat hujan yang semakin deras membuat orang orang lebih senang berada di rumah, memakan mie dengan kuah yang panas dan pedas, menyalakan pemanas ruangan atau tungku api pada cerobong, menonton tv sambil menikmati secangkir teh atau kopi hangat, berkumpul dengan keluarga atau memilih untuk menggulung diri dalam badcover yang lembut dan hangat di kamar.
Namun tidak untuk satu orang yang saat ini sedang berjuang untuk orang yang di sayanginya.
"Gw yakin. Gw juga harusnya berterima kasih sama lo karna bisa masukin gw ke arena balap ini."
"Itu sih gampang. Lo tau kan temen lo nih berandalan banget. Jadi kalo hal kayak gini sih gw tau. Cuma lo gak mau pertimbangin lagi? Kalah taruhannya bukan cuma motor lo. Tapi lo juga."
"Kalo gw udah bertindak sejauh ini. Berarti gw serius Mikko."
"Tapi van. Nih balapan semuanya orang elite, kalo gak pinter pinter bakal ditelen ama mereka. Lagian dari bebrapa gw denger disini juga kadang mereka suka curang. Apalagi sama orang baru."
"Kalo sampe hal itu terjadi, maka seperti rencana kita tadi."
__ADS_1
"Ya udah iya, hati hati. Sekarang lagi hujan jadi jalan bakalan licin. Gw bakal dukung lo sepenuhnya."
"Oke thanks sob."
Mikko Gabinno adalah adalah sahabat Devan dalam hal balap membalap. Umur Mikko memang lebih tua dari Devan bahkan tiga tahun lebih tua. Gayanya yang urakan khas seorang pembalap. Ia merupakan yatim piatu yang harus menghidupi diri sendiri. Hingga ia memilih menjadi pembalap liar dan berhenti sekolah. Ia berteman dengan Devan sudah lama sekali sejak Devan kelas dua SMP. Dari dia lah Devan banyak tau dengan balapan liar. Ia juga punya koneksi dalam balapan besar orang elite namun tetap saja liar. Seperti yang terjadi sekarang.
Mereka berdua dalam sebuah arena balap yang diciptakan oleh para orang elite. Bahkan tak satu pun dari mereka yang tidak memiliki black card. Dari berita yang beredar dalam komunitas balapan ini yang lemah akan selalu ditindas bahkan sering terjadi kecurangan antar mereka. Apalagi dengan pembalap baru. Namun hadiah yang di dapat bukan lah dengan jumlah sedikit namun sangat besar bahkan ratusan juta. Untuk itulah Devan nekat mengikuti balapan ini.
Devan mulai mendorong motornya ke tempat posisi startnya. Dalam balapan ini hanya terdapat sepuluh orang dan salah satunya adalah Devan. Balapan ini juga memiliki harga yang tak murah. Sehingga kadang banyak orang yang tak sanggup. Sedangkan Devan yang mendaftar dengan menggadaikan motor kesayangannya itu di tambah lagi dengan dengan dirinya sendiri. Mikko berusaha mencegahnya sebab itu bukanlah putusan yang baik, namun Devan tetaplah Devan yang pers kepala. Dan tak akan mau mendengarkan siapa pun.
Devan yang sudah berada di posisinya dengan Mikko berada di sampingnya.
"Hahaha.... bocah ingusan gaya gaya mau balap." ucap pembalap satu
"Jika kau kalah maka jangan menangis. Lagipula jika masih ingin berubah pikiran maka kau bisa langsung pulang dan berlindung di bawah selimut bulu hangatmu. Hahaha"
Ejekan demi ejekan menerpa Devan. Namun ia tetap tenang dan santai. Bahkan ia tak berucap sama sekali. Berbeda dengan Mikko yang sudah panas mendengarnya.
Setekah berbaris sesuai nomor dan posisi MC pun menyambut dan mulai berbicara.
"Wah.... suasana malam yang begitu dingin bukan? Sepertinya akan ada korban malam ini jika tak bisa menyeimbangkan diri. Hahaha..." dan diikuti oleh seluruh penonton disana.
"Malam hari ini kita memiliki para jagoan yang luar biasa. Untuk memenangkan uang tunai lima ratus juta. Orang beruntung mana lagi yang akan mendapatkan itu? Apakah Naeil juara bertahan kita, atau Roy atau bahkan yang lainnya. Hmm kalau dilihat penantang dari Naeil masih sama ya seperti sebelumnya. Tapi oh tidak, siapa itu? bahkan baru pertama kali aku melihat." dengan suara yang khas dan sengaja dihebohkan membuat penonton juga memandang kearah pandangannya.
"Oh ternyata teman teman, kita memiliki penantang baru malam ini. Anak Remaja yang berani sekali menantang juara bertahan kita. Mampukah dia mengalahkan juara bertahan kita Naeil??? maka mari kita langsung saksikan saja balapan ini."
__ADS_1
"Balapan ini akan di mulai dari hitungan..... tiga (Semua motor mulai di gas oleh pengemudi yang artinya bersiap.) Dua... (ruangan motor yang lain gemerisik satu persatu dan saling sahut menyahut bahkan mereka saling menatap sini satu sama lain. Dan tak lupa juga dengan ejekan yang mereka lempar pada Devan. Motor motor itu sudah sedikit sedikit maju). Dan......" ucapan MC itu menggantung
Dorrr....... pistol ditembakkan ke udara. Yang artinya balap sudah di mulai. Mereka langsung melajukan motor sekencang mungkin dan tak lupa juga saling potong memotong bahkan saat baru sampai si tikungan pertama. Sedangkan Devan berada di urutan terakhir begitu santai membuat mereka yang melihat menatap heran pada Devan seolah sudah tau dengan nasibnya. Bahkan ada yang menyorakinya namun ia tak pernah peduli.