Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#115


__ADS_3

Bimo mengejar Febbry yang keluar dari tempat itu dengan wajah marahnya. Bimo sendiri bingung pada Febbry kenapa wanita itu marah padanya? Padahal apa yang ia lakukan untuk menghormati dan menghargai Febbry sendiri atas apa yang ia lakukan.


"Feb, tungguin." Teriak Bimo menggelegar sambil mengejarnya.


Saat mereka berdua sudah berada di luar mall Bimo langsung menahan Febbry yang hendak melangkah lebih jauh.


"Feb.. Feb... tungguin." Bimo menarik tangan Febbry.


"Lepasin ogeb!!" Bentaknya.


"Lo mau kemana?"


"Gue mau pulang."


"Ayo gue anter pulang."


"Gak! Gue mau pulang sendiri.... Gue mau pulang naik taksi."


"Tapi kan ini mobil lo."


"Ya percuma kalo gue gak bisa nyetir! Bawa aja sendiri. Gue bisa naik taksi." Ketusnya. Febbry juga tidak bisa pungkiri hal itu, walau marah ia juga tak mau membahayakan nyawanya dengan menyetir mobil sendiri.


"Gak! Lo pergi sama gue ya pulang sama gue juga. Kalo pun lo mau pulang naik taksi berarti gue juga. Itu kan mobil lo, masa gue yang harus pakai."


"Terserah!! Mau lo buang aja gak apa-apa. Gue ikhlas."


Astaga, mudah bener ya kalo orang kaya. Bilang buang mobil aja kayak buang kertas atau sampah. Mending kasih ke gua aja kali Feb, sayang kalo langsung di buang ~author


Febbry kembali melangkah, namun belum beberapa langkah jauh, Bimo langsung menggendong paksa Febbry naik ke dalam mobil.


"Woy!! Dasar lo!! Turunin gue!!" Ronta Febbry.


Bimo tetap diam, langsung memasukkan Febbry ke dalam mobil. Mendudukkannya di jok depan dan memakaikan seltbelt pada Febbry.


Brak!


Bimo masuk ke dalam mobil.


"Ini namanya pemaksaan Bimo!!! Buka gak kuncinya! Gue mau keluar!!"


"Gue gak tau harus gimana lagi buat bujuk cewek macan kayak lo. Jadi maaf tadi gue lakuin itu ke lo." Ucapnya, yang kemudian langsung tancap gas.


Di sepanjang perjalanan Febbry begitu gelisah bahkan seltbelt yang tadi dipakaikan oleh Bimo kini ia lepas.


"Turunin gue!!"


"Gak akan. Gue heran sama lo. Gak angin gak ribut, lo tiba-tiba marah kayak gini ke gue. Lo punya masalah? Jangan gue yang jadi bahan amukan lo dong."


"Gue gak punya masalah, lo tuh yang punya masalah!!"


"Ha, gue? Masalah apa emang?"


"Lo masih nanya lagi. Gue cuma mau turun disini. Tepiin mobilnya sekarang, atau gue loncat hn?!"


"Gue salah apasih Feb? Lo jadi marah kayak gini."


"Pikir sendiri!!"


"Oke gue minta maaf sama lo kalo gue salah. Tapi perlu lo tau gue gak makan semua itu karena gue gak mau sia-siain kerja keras...."


"Kerja keras apa ha?!! Udah lah gue capek ngomong sama lo. Turunin gue sakarang Bimo!!!" Febbry terus memberontak ingin keluar namun tak dihiraukan oleh Bimo.


Mereka berdua terus saja berdebat tanpa ada yang mau mengalah satu sama lain. Hingga...


"Bimo awas!!!!" Teriak Febbry


Ckitt!!!


Bimo segera menginjak pedal rem dengan reflek dan sekuat tenaga. Membuat mobil itu berhenti mendadak. Febbry yang tidak memakai seltbelt pun malah membentur dasbor depannya.

__ADS_1


Kedua jantung manusia yang ada di dalam mobil itu saat ini berpacu begitu kuat dan tak beraturan. Masih sedikit terkejut dan takut karena hal yang baru saja terjadi.


Dengan segera Febbry keluar mobil yang sudah tak terkunci lagi itu. Meskipun kepalanya terasa sedikit pusing karena benturan itu, baginya orang yang hampir ditabrak mereka lebih penting.


"Maaf, ayo saya bantu." Febbry membantu sebuah badut yang sudah terduduk di jalan raya di depan mobil mereka. Badut itu hanya menurut saja. Tak lama Bimo juga ikut turun untuk memastikan keadaan orang yang hampir ia tabrak.


"Apa kau terluka? Atau merasa ada yang sakit? Ayo kami akan mengantarkan mu ke rumah sakit." Ujar Febbry dengan baik, namun badut itu hanya menggeleng tanpa bicara.


"Tapi apa...?" Febbry sedikit bingung harus memanggilnya apa, sebab ia tak tau yang di dalam badut itu laki-laki atau perempuan, tua atau muda. Ia takut nanti malah terkesan kurang ajar memanggil orang yang sudah tua dengan sebutan kau.


Dengan segera badut itu langsung menggangguk cepat, seolah mengiyakan dan meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Febbry yang melihatnya tak kuasa. Ia langsung merogoh kantong sepan Bimo, mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari sana dan langsung memberikannya pada badut.


Dengan cepat pula sang badut menggeleng, mendorong kembali uang yang sudah di depan tangannya. Namun Febbry juga memaksa. Memasukkan uang itu di kantong depan badut.


Saat badut itu hendak mengembalikannya, Febbry juga menggeleng cepat. "Anggap aja kompensasi dari apa yang terjadi barusan. Maaf karena kami tidak memperhatikan jalan dan hampir menabrak bapak. Sekali lagi maafkan kami." Febbry segera menarik Bimo masuk kedalam mobil. Takut kalau si badut akan memberikan uang itu kembali padanya.


Tak lama setelah mereka masuk, sang badut menangkup kedua tangannya. Seolah berterima kasih, dan berlalu pergi dari sana.


Bimo memandang ke samping, memandang Febbry yang masih menatap jauh si badut. "Dari mana lo tau tuh badut dalamnya bapak-bapak?" Bimo membuka suara.


"Lo liat aja tuh kostumnya cowok. Pasti dalamnya juga cowok. Lagian mana ada anak muda yang mau kerja gitu Bim. Kebanyakan anak pasti gengsi. Yang sering gue liat di tv sih isinya bapak atau ibuk. Kasian ya."


Mereka berdua yang sudah berada dalam mobil, membuat Bimo langsung menstater kembali mobil itu. Namun dilihatnya Febbry masih fokus dengan sang badut yang sudah berjalan menjauh.


"Woy udah dong liatnya. Gitu banget sih. Emang lo suka banget ya ama tuh badut?"


"Bukan gitu Bim. Ya cuma, kok gue ngerasa jalan tuh badut kayak gak asing ya?" Febbry terus memicing ke arah badut itu sambil menggaruk-garukan kepalanya.


"Udah ah. Lo kebanyakan halu nya. Kita langsung pulang aja."


_________


"Molyy?"


"Divia?? Kau juga ada di sini? Bagaimana kabar mu?"


"Aku baik. Kau?"


"Sama aku juga. Aku sedikit terkejut melihat mu berada disini? Sudah bosan dengan Jerman?"


"Hahaha... Tidak akan pernah bosan aku dengan negara itu. Hanya saja ada sedikit masalah di sini yang harus aku tuntaskan."


"Loh bukannya masalah kamu sudah selsai? Ku dengar Zanna sudah meninggal. Apalagi yang perlu kau cemaskan?"


"Hubungan persaudaraan. Kau pasti paham. Lalu kau sendiri? Apa anakmu yang hilang itu sudah ketemu?"


"Masih belum. Tapi aku tidak terlalu perduli itu. Lagi pula suamiku akan selalu mencintaiku walaupun tanpa anak dan restu dari orang tuanya."


"Haish! Kenapa kau senang sekali berbuat seperti itu. Apa kau tidak merasa terancam dengan istri muda? Lagi pula kau menikah hanya sah secara agama, tidak dengan hukum."


"Apa peduli ku dengan itu. Lagipula kau tau selama boneka masih ada ditanganku apapun bisa ku dapatkan. Bahkan dia rela mengorbankan permatanya."


"Hahaha... Kau perempuan tergila yang pernah ku temui."


"Dan kau adalah saudara teraneh yang ku temui."


Obrolan itu terus berlanjut dengan sesekali tawa terhias di sana. Berbahagia dengan apa yang mereka buat tanpa mereka sadari, bahwa daun pun punya telinga yang bisa mendengar.


__________


"Kian!!!!" Si mpu yang dipanggil pun menoleh dengan segera.


"Loh Feb, kenapa? Tumben pake lari segala. Ini sekolah tau, bukan taman."


"Hehe, maaf. Abisnya ini penting banget. Baru aja diangkat jadi masih panas banget." Ucapnya.


Pagi ini Kian berangkat seperti biasa dengan jam yang sama namun tanpa Devan. Ntah kemana anak itu Kian pun tak tau. Setelah beberapa hari free akhirnya mereka kembali masuk dengan detik-detik nilai ujian keluar, yang tentu menjadi penentu mereka bisa masuk atau tidak ke universitas favorit mereka.


Kian begitu memaksa untuk mengerti apa yang diucapkan oleh Febbry, namun hasilnya nol. Bahkan ia tak bisa mengerti satu kata saja apa yang terlontar oleh temannya itu.

__ADS_1


"Lo ngomong apa sih Feb. Mana ngerti gue kalo lo pakai bahasa planet gitu."


"Haduh, intinya lo di panggil ke kantor. Wali kelas manggil lo."


"Oh bilang dong. Ya udah gue kesana dulu." Pamit Kian yang kemudian berjalan lawan arah karena harus menuju kantor.


"Oke. Nanti kalo dapet duit traktir gue ya, hehehe. Biasanya lo kalo di panggil ke kantor pasti dapet beasiswa. Oh ya sekalian ada yang pengen gue ceritain juga."


"Iya, tenang aja. Doain aja kalo emang kabar baik yang di kasih ke gue." Febbry mengangkat satu jempol nya dengan tinggi seolah mengartikan iya.


Kian berjalan ke arah ruangan kantor dengan wajah yang sedikit pucat. Pagi ini ia belum makan sedikit pun, tau lah kenapa. Bahkan kejadian hari itu pun masih belum ia beritahukan pada Devan. Tak mau dan tak ingin merepotkan Devan yang selalu berada di depannya ketika ia mendapatkan masalah. Baginya Devan sudah cukup membantu selama ini.


"Assalamualaikum bu." Setelah mengetuk pintu Kian langsung masuk ke ruangan itu dengan sedikit khawatir.


"Waalaikumsalam Kian. Kemari nak." Sang wali kelas langsung mengulurkan tangan seolah mengisyaratkan Kian untuk datang ke mejanya.


"Kenapa ya bu?"


"Maafkan ibu ya. Tapi ini menyangkut sama prestasi kamu. Ibu mau tanya kenapa akhir-akhir ini prestasi kamu kurang hm? Memang nilai yang kurang tidak banyak, cuma ini berakibat fatal buat beasiswa kamu. Tau kan konsekuensi dari masuknya kalian ke universitas ternama dan favorit itu dari nilai kalian yang gak boleh turun sedikit pun?"


"Iya bu, Kian paham."


"Terus ini ibu udah dapet nilai ujian kalian. Cuma belum ibu kasih tau sama yang lain. Ibu liat di sana nama kamu gak jadi yang nomor pertama Ki. Nama kamu jauh banget loncatnya jadi nomor sembilan. Dan maaf kalo ibu bilang ini, tapi nilai kamu gak bisa masuk di universitas favorit kamu."


Setelah kalimat itu terlontar, percayalah Kian nampak lemas dan tidak bisa berkata apapun. Yang ia tau hanya air mata yang akan jatuh sebentar lagi. Namun ia berusaha untuk menahannya. Sulit? tentu. Air mata sulit untuk di kendalikan, jika ia ingin keluar ya dia akan keluar. Hal itulah yang membuat air mata terlihat begitu tulus.


Kian hanya menangguk dalam diam. Usahanya selama ini benar-benar hancur. Perjuangan untuk mendapatkan hal itu kini tak membuahkan hasil. Ia sibuk dalam pikirannya. Hatinya kini mulai bimbang lagi. Apakah dia harus pulang karena kegagalan ini? Pulang dan menikah dengan seseorang yang begitu ia benci. Lalu apakah ia tidak bisa memperjuangkan rasa yang ia punya? mungkin untuk yang terakhir itu hal yang sulit. Tapi bagimana dengan beasiswa yang ia kejar selama ini? Pupus sudah harapannya.


"Iya bu. Gak apa-apa. Ini semua juga karna kesalahan Kian." Ia berusaha untuk tersenyum dalam hancurnya hati dan harapannya.


"Tapi ibu masih bingung. Kenapa bisa nilai kamu sampai jatuh begini? Dan juga masalah pembayaran kemarin, apa terjadi sesuatu Kian?"


"Ha? Enggak kok bu. Kemarin keterlambatan Kian bayar uang karena Kian lupa. Terus kalo masalah ini, Kian bener-bener gak nyangka sih bu. Tapi tetap Kian yang salah karena udah teledor dan menyepelekan ujian."


"Kamu baik-baik aja kan?"


"Tenang aja bu. Beres, Kian baik-baik kok. Lagian jalan Kian gak harus mati karena satu hal ini kan?" Kian tersenyum dan sedikit menyengir.


Sang wali kelas mengerti perasaan dari Kian, ia juga paham betul bagimana Kian berusaha dalam belajarnya dam menjaga keseimbangan nilai agar tak jatuh seperti sekarang. Namun kenyataan berkata lain, malah sebaliknya yang terjadi. Guru itu pun hanya mengangguk dan mempersilahkan Kian untuk keluar ruangan.


Kian berjalan keluar ruangan, namun tidak mengikuti instruksi dari Febbry. Ia tak menuju kelas, melainkan taman belakang sekolah. Jika harus ke toilet itu terlalu lama dan jauh dari posisinya sekarang. Sedangkan air matanya sudah tak tahan lagi ingin keluar.


Ia berlari, menerobos riuhnya sepanjang koridor karena siswa dan siswi yang tak memiliki jadwal. Hingga ia tiba di halaman belakang sekolah yang cukup luas namun tak seorang pun disana. Ntahlah mungkin karena orang lain terlalu sibuk dengan urusan mereka, yang berada di ruangan lain.


Kian langsung membungkukkan badan menahan lututnya agar tak jatuh sekarang. Air mata itu sudah tak dapat lagi ia bendung sampai mengalir begitu derasnya. Kian sudah terbiasa menangis tanpa suara, hingga air mata sebanyak apapun ia tak akan mengeluarkan suara.


Sampai ada seseorang datang dan menepuk bahunya tanpa berucap. Membuat Kian gelagapan dibuatnya, dengan segera mungkin ia mengelap bekas air mata itu dengan begitu kasar. Lalu barulah ia menoleh pada orang tersebut.


Kian sedikit mendongak melihatnya karena tinggi yang tak imbang. Dan tanpa di sangka, orang tersebut langsung meraih pipi Kian yang masih basah karena air mata.


"Kenapa hm?" Tanya nya ketika melihat kedua mata Kian yang masih saja merah dengan sisa air mata yang belum kering.


Ntah angin dari mana, Kian pun tak tau. Satu kata dan deheman yang dilontarkan oleh nya berhasil membuat Kian tak bisa berkata-kata namun malah nangis menjadi jadi. Orang tersebut langsung merengkuh Kian untuk masuk dalam pelukannya.


Membenamkan wajah Kian di sana dengan tubuh yang begitu bergetar. Orang tersebut mengelus lembut punggung Kian dan pucuk kepalanya. Agar Kian bisa tenang dan mereda dalam tangisnya.


"Syut... Gak semua orang berhasil dari nilai ujian Ki. Jangan pesimis, kita bisa coba cara lain buat ke sana ya." Ucapnya dengan lembut.


.


.


.


.


.


#Maksih yang masih setia di cerita ini. Maaf ya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ udah lama gak up, eh pas up cuma sedikit. Maaf banget, tugas numpuk guys. Jadi gak sempet buat ketik walaupun punya ide. Eh taunya pas udah sempet malah gak ada ide. Maaf ya, humanie guys, emang serba salah๐Ÿ˜ญ๐Ÿคฃ๐Ÿ˜‚

__ADS_1


__ADS_2