
Kian dan Devan berjalan di sepanjang koridor dengan beriringan namun berjarak. Tak ada ucapan di sana, Devan dengan wajah flatnya, memasukkan kedua tangan di kedua saku sepan dan menatap lurus pandangan yang tersuguh di depan mata. Sedangkan Kian dengan masih tersisa segukan, walaupun air mata sudah mengering dan terus menunduk menatap lantai dan sepatunya, yang juga fokus dengan pikirannya.
Pikiran yang melalang buana ntah kemana, memikirkan cara yang tepat untuk terus melanjutkan mimpinya yang semakin hari semakin memudar. Karena tentu ia tak akan mau berakhir dengan kata menikah. Menurutnya mimpi itu penting untuk dirinya dari pada harus menikah dan menetap bersama satu orang yang jelas tidak pernah mencintai dirinya. 'Hehehe.... miris hidup ini Kian.'
"Kian!!!!" Satu teriakan orang yang membuat Kian berhasil mengangkat wajahnya, mencari dari mana sumber suara itu. Sedangkan Devan hanya meliriknya sebentar lalu fokus kembali dengan pandangannya.
"Gimana?" Ia menghampiri
"Apanya?"
"Lo di panggil ngapain?" Tanya nya yang begitu menggebu.
"Itu... gue....."
"Udah... gak apa-apa Ki. Kita kantin aja yuk. Gue laper nih, gue yang traktir. Nanti lo bisa bilang pas di sana. Oke.... yuk." Ia menarik Kian dan menoleh kembali. "Devan lo mau ikut... Lah mana tuh orang?" Dilihatnya Devan sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan mereka berdua.
"Kebiasaan banget sih tuh bocah. Ya udah Ki, kita berdua aja."
________
"Ya udah Ki gak apa-apa. Kalo gak bisa masuk lewat beasiswa lo bisa masuk lewat jalur mandiri sih. Iya gak? Gak bakal habis juga uang om Bram cuma buat kuliah lo. Lagian agak aneh juga sih kalo lo terus dapet nilai gede alias sempurna. Dengan lo kayak gini artinya lo juga manusia biasa, dan gue gak terlalu jadi manusia yang insecure deh. Udah gak usah terlalu dipikirin, kalo emang gak dapet artinya rezeki lo bukan di sana."
Saat di kantin, Kian menceritakan semua apa yang terjadi padanya di kantor. Isak tangis dan kekecewaan ia tahan sebisa mungkin agar tidak terlihat dan terjatuh. Penyesalan jelas ada di sana, namun semuanya sudah terjadi. Ia harus apa? Haruskah ia meronta? Memaksa? Atau bahkan menyalahkan keadaan dan takdir yang seperti tak berpihak padanya?
"Tapi yang gue heran sih Ki, nilai lo kayak gini bukan karena lo banyak bergaul ama Devan kan?"
Kalimat frontal seperti tudingan itu membuat lamunan Kian terbuyarkan. "Lo ngomong apa sih Feb, ya gak lah."
"Bagus deh kalo gak."
Selesai mereka makan, mereka kembali ke ruangan kelas. Sekedar bersantai ria sebab tak ada lagi yang bisa dikerjakan. Sampai mereka di tengah koridor melihat banyak sekali orang berkerumun di depan papan pengumuman. Membuat keduanya menjadi penasaran dan menghampiri mereka semua.
"Lagi ngapain Ti?" Terlihat Siti baru saja keluar dari kerumunan yang membuat sesak itu.
"Nilai ujian tuh udah di tempelin. Hadeuh gue jauh banget dari ekspektasi. Dan yang paling mencengangkan si Devan noh!"
"Hah Devan?! Kenapa?" Wajah Febbry sudah menampakkan kekhawatiran berlebih.
"Bisa-bisanya dia yang menduduki peringkat pertama. Gilak gak sih?"
Brakh!!!
Febbry menyingkirkan semua orang yang ada di depannya satu per satu, ia benar tak percaya menghadapi semua yang dikatakan oleh Siti padanya. Sudah cukup waktu itu dia begitu mengejutkan, bahkan sekarang juga?
"WHAT THE HELL!!!! APA-APAAN NIH!! WAH... GAK BERES LAGI. PASTI ADA YANG SALAH NIH!!" suara Febbry melengking di tengah kerumunan itu. Membuat semua orang yang ada di sana menjadi tutup telinga dan mulai bergunjing satu sama lain. Tak lama di sana Kian ikut menyusul.
"Feb, suaranya di kontrol dong. Telinga siswi lain jadi ikut sakit." Marahnya pada Febbry.
"Lo liat nih Ki. Bisa-bisa nya Devan di sini (Sambil menunjukkan nama Devan yang terpampang di urutan nomor pertama) Harusnya inikan.... Arghhh!! Ini bener gak sih!" Wajah Febbry terlihat begitu frustasi melihatnya, bahkan hampir ia merobek kertas tersebut, sampai akhirnya Kian lebih dulu menghentikan hal itu.
"Ya udah lah Feb. Kan itu usaha Devan."
"Tapi Ki.... nama lo jauh banget. Jangan-jangan Devan cuma manfaatin lo doang buat ngajar dia belajar. Biar lo tergoyahkan dan gak fokus sama pelajaran. Dan apenih!! Si Jeje cewek cupu ada di peringkat dua. Curiga gue jangan jangan ada apanya nih!!" Ucapan Febbry yang seperti sangat marah melihat hal tersebut.
Kian berusaha menghentikan ucapan Febbry yang semakin tak terkontrol dan menjadi jadi itu. Meskipun di satu sisi ia bersedih, namun setidaknya ia cukup bersyukur karna kenyataan itu.
'Setidaknya Devan selamat dari rencana Andre dan teman temannya' Senyum simpul terlukis di sana sampai pada detik kemudian kekhawatiran kembali menyelimuti....
'Astaga... Devan!!'
Dengan segera Kian melepaskan Febbry dan berlari ke arah gedung sekolahan.
__ADS_1
__________
Di lain sisi ada satu orang yang sedang berjalan santai hendak menuju suatu ruangan. Namun tetiba nya ia di depan pintu gudang ada tiga orang siswa yang mencegatnya.
Dengan wajah santainya Devan berhenti, melihat ketiga orang tersebut yang sudah memasang wajah marah, sombong, dan tengilnya.
"Lo maen licik juga ya Van." Sinis salah satunya.
Mendengar kalimat itu Devan tak bergeming sama sekali. Tak ada niat untuk menyahuti atau membalas omongan tersebut. Ia hanya menautkan kedua alisnya sembari menatap nanar ketiganya.
"Lo maen curang kan? Gak mungkin anak last rank bisa jadi number one di ujian."
"Iya lah gak mungkin banget! Gak nyangka gue, ternyata si last rank selemah ini! Hahahaha...." Satunya lagi menimpali.
"Curang kan lo?! Sesuai aturan berarti lo gagal. Dan lo lema..."
"Yang curang itu gue atau lo? Yang setiap kali ujian semester selalu ambil soal bocoran di meja guru?" Potong Devan dengan menatap tajam salah satu orang yang berada paling depan.
"Jangan asal tuduh kalo gak punya bukti!! Gue bisa aja..." Geramnya,
Lagi-lagi omongannya di potong oleh Devan, "Nih! Kalian bertiga itu punya tugas masing-masing kan? Sampai CCTV kantor aja kalian manipulasi. Ck, pinter sih, tapi gak cekatan dan hati-hati juga." Devan tersenyum miring dengan menunjukkan sebuah rekaman video mereka bertiga saat beraksi.
Ketiga orang tersebut terdiam kaku, tampak guratan takut dan khawatir muncul di sana. Satu sama lain saling memandang gelisah dan satu hal yang Devan tangkap dari sana sebuah kalimat 'Bagaimana bisa?'
"Jadi, gue harap tanggung jawab tetep tanggung jawab. Lo bertiga harus penuhi permintaan gue."
"Sia* lo Devan!!" Sarkas nya.
Tanpa berniat untuk menjawab kalimat sarkas Andre, bahkan ia sendiri tak tersulut emosi sedikit pun, "Gue mau lo bertiga, akuin di depan Kian dan minta maaf juga atas perbuatan gak bermoral kalian sebagai seorang siswa!"
"Maksud lo!!"
"Minta maaf sama Kian dan kembalikan uang yang kalian curi malam itu!!"
"Jalan Licaria Anderson, km 78 tepat pukul sepuluh lewat lima belas menit. Dan ini!" Devan memberi foto pada mereka bertiga. "Gue gak ada niat buat bongkar ini semua. Tapi gue rasa kalo kalian bertiga cukup minta maaf dan kembalikan uang itu ke Kian, urusan beres. Tapi kalo gak...."
"Lo bilang apa Van?!" Seorang perempuan datang dari balik dinding di belakang mereka bertiga.
"Ki...Kian..."
"Lo gak salah ngomong kan Van?"
"Gak. Kalo lo mau lo bisa bilang ke semua orang kalo mereka bertiga pencuri, atau lo bisa laporin ke pihak berwajib. Soalnya gue udah punya bukti." Devan menatap santai kedatangan Kian di sana.
"Ki maafin kita. Terlebih lagi gue. Harusnya gue gak lakuin itu. Tapi gue terpaksa Ki nurutin permintaan orang tua lo. Gue bener-bener terpaksa, itu semua karena gue di bayar sama orang tua lo. Dan gue lagi butuh banget uang buat pengobatan nyokap gue. Kalo lo minta uang yang gue ambil waktu itu, gue bakal bilang uang itu udah diambil sama orang tua lo."
Lama Kian termenung menatap ketiga orang itu, yang bahkan salah satunya menatap pilu Kian. Membuatnya sebagai manusia yang masih memiliki hati menjadi tak tega. "Maafin orang tua gue juga. Harusnya dia gak bujuk kalian dengan uang itu. Dan gue udah maafin kalian kok."
"Ck, lo hebat. Segampang itu maafin mereka bertiga. It's oke. Tapi habis ini gue gak mau liat kelakuan kalian kayak gitu! Atau gue bakal laporin hal ini ke pihak berwajib." Ancam Devan dengan rahang yang sudah mengeras dan tatapan yang menyalang.
"Woy, Van. Lo gak bisa sejahat itu ke Andre. Lagian Andre udah bilang kalo dia lakuin itu karena orang tuanya yang lagi sakit." Ucap salah satu temannya.
"Kalo gak karena terpaksa, dia juga ogah lakuin itu Ki, Van." Bela teman satu nya lagi.
Mendengar itu, membuat Devan menatap Andre lamat, "Lo bukan satu-satunya, tapi lo salah satunya yang ngalamin hal ini Ndre." Devan menatap geram Andre, "Dan lo tau apa yang udah lo lakuin? Tanpa lo sadari lo udah musnahin salah satu jalan seseorang buat raih mimpi dia! Gue harap abis ini lo berhenti buat gangguin Kian!" Tatapan dingin dengan ekspresi yang begitu membenci menbuat orang-orang yang ada di sana merasakan atmosfer yang begitu beda.
Setelah selesai Devan langsung berjalan begitu saja meninggalkan mereka yang masih berdiri mematung tanpa bergeming, dengan wajah datarnya. Tanpa di sengaja, yang di alami Andre kembali mengingatkan Devan pada masanya. Rasa bersalah itu kembali muncul ke permukaan karena hal itu. Sungguh hal miris nan sakit ketika diingat. Namun Devan sendiri merasa kalau ini bukanlah salah mereka, ia tau jika dirinya memang tak di kenali oleh banyak orang. Bahkan lebih terbilang menutup diri dari lingkungan. Luka dan sakit bahkan penyesalan itu pun belum sembuh total terobati, namun ia tau kehilangan apapun yang terjadi, dunia masih berputar dan masih ada malaikat kecil yang harus ia jaga.
Sesakit apapun itu, dia harus menanggung itu sendiri. Tanpa seorang pun yang harus tau. Mungkin di saat yang sama akan lebih baik ia yang pergi dari pada orang yang begitu ama ia sayangi itu. Tapi ternyata takdir lebih menyayangi malaikat tak bersayapnya itu. Satu-satu nya jalan adalah ikhlaskan dan tetap jalani.
__________
__ADS_1
"Van?" Panggil seseorang membuatnya berhenti melamun, dengan angin yang menerpa surai hitam yang menutup dahi itu, " Gue udah cari lo kemana-mana, eh tau nya lo di sini." Ucapnya tak ada balasan sama sekali dari Devan.
"Van, gue mau tanya. Kenapa lo tau kalo itu..."
"Gue dapet info dari orang lain." Dinginnya lalu beranjak lagi berjalan hendak meninggalkan roof top.
"Lo mau kemana? Gue belum selesai ngomong! Jadi lo tau ada yang buntutin gue malam itu? Dan lo juga tau..."
"Ck, Iya gue tau. Gue cuma mau bilang, stop buat kerja lebih keras. Tugas lo sekarang belajar dan raih mimpi lo. Kerjaan gak perlu terlalu di porsir!"
"Lo sengaja suruh orang lain...." Tanya Kian lagi,
"Cowok mana yang mau ninggalin perempuan pulang sendiri waktu malam ha?"
"Tapi hari itu.. "
"Gue gak ada, bukan berarti lo tanpa pengawasan Kian!"
"Kenapa?!"
"Maksud lo?" Pertanyaan yang berhasil membuat Devan mendelik heran.
"Iya Kenapa lo lakuin itu? Gue udah terlalu banyak susahin lo, dan gue bukan siapa-siapa lo. Kenapa lo baik banget hn?!" 'Gue gak terlalu berharap banyak, tapi plis jujur Van! Gue bingung dengan semua ini. Harusnya lo.....'
Lama Devan tak bergeming setelah kalimat yang dilontarkan oleh Kian, seolah membuatnya berpikir keras untuk melontarkan kembali jawaban yang pas dengan pertanyaan itu, "Karena lo sahabat mama gue. Lo sendiri yang bilang kalo lo sama mama gue udah kenal lama. Mama gue baik, dan gue yakin orang yang kenal dia apalagi udah dianggap anak sama dia pasti juga baik. Dan lo jangan lupa sama amanah mama sebelum pergi."
Wush!! Dunia Kian serasa hancur, ntahlah. Mungkin tidak hancur namun sedikit berantakan. Perasaannya jadi tak karuan setelah mendengar kalimat itu. Ntah harapan apa yang ia inginkan dari Devan, tapi nyatanya tak terwujud. Dan percayalah kalimat itu seolah membuatnya sakit.
"Hanya itu?"
"Hn."
"Setelah semua perlakuan baik yang lo kasih?"
Devan menatap Kian dari atas hingga bawah, menatap seolah ada sesuatu yang ia selidiki, "Kenapa? Jangan bilang lo suka sama gue? Dunia gue terlalu gelap buat lo Kian. Jadi jangan pernah buat berpikir masuk ke sana!"
"Hahaha.... Lo lucu Van, gue bahkan gak berpikir sampai kesana. Gue cuma takut semakin lo baik semakin banyak hutang gue ke lo, dan semakin pula gue susah buat lunasinnya. Lo tau kan..."
"Bagus kalo gitu. Dan gue minta lupain masalah hutang! Gue di sini mau bantu lo. Setidaknya kalo cita-cita lo tercapai, lo bisa pulang dan gak bakal ngalamin hal yang susah kayak gini lagi. Dan lo juga bisa pikirin masalah hutang dengan pelunasan kalo udah pulang nanti."
"Gue beban banget ya sampe lo mau gue cepet pulang?!" Kian menatap punggung yang sudah berbalik itu namun masih belum melangkah. Kedua tangannya sudah gemetar menahan sesuatu yang mengganjal di matanya.
"Huh... Gue udah bilang. Gue cuma mau lo gak kesusahan lagi. Lo harus, tau hidup sendiri itu gak enak. Lo masih punya keluarga, dan gue rasa keluarga lo juga pasti rindu sama lo sekarang."
Tak ada jawaban dari sana, seolah perdebatan yang ada di roof top siang ini sudah selesai. Kian hanya menunduk tanpa berniat berkata satu patah kata pun, membuat Devan kembali menoleh ke belakang.
"Gak bakal selesai masalah, kalo lo cuma liat itu sepatu. Mau ikut gue gak? Kalo gak gue tinggal!"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
### Maaf ya baru up lagiππππ