
Sheila Putri angkasa seorang gadis cantik dengan paras yang menawan tubuh yang tidak terlalu pendek dan tidak terlalu tinggi dengan kulit kuning putih dan bulu mata tebal tak kalah dari itu juga pintar tak membuat dia tinggi hati.
Dia dibesarkan oleh kedua orang tuanya ibunya bernama Ketty angkasa dan papanya Aris angkasa dia juga memiliki kakak yang bernama Maria angkasa.
Namun sayangnya dia dibesarkan dari keluarga yang tidak pernah menyayanginya.
Selalu diperlakukan seperti pembantu dirumahnya sendiri oleh orangtuanya
Entah apa salah Sheila selama ini hingga orangtuanya selalu membencinya dan lebih menyayangi kakak perempuannya.
Dari kecil mulai SD, SMP, dan SMA Sheila tidak pernah merasakan saat orang tuanya menjadi wali murid di sekolahan.
Orang tuanya hanya menghadiri wali murid sekolah kakaknya padahal mereka satu sekolahan.
Dan saat sekolah kakak dan temannya sering sekali membully Sheila.
Sheila disekolah cukup terkenal karena wajahnya yang cantik dan pintar sehingga banyak orang yang iri padanya termasuk juga kakaknya.
Karena memang dia dengan kakaknya sangat berbeda sekali wajahnya entah Sheila menuruni gen siapa karena sangat berbeda dengan orangtuanya.
Itulah salah satunya kenapa orang tua dan kakaknya tidak suka dengannya.
Namun Sheila tidak pernah pantang menyerah dia akan tetap berusaha hingga nanti orang tuanya bangga memilikinya.
š„š„š„
Pagi menjelang Sheila yang masih bergelut dengan selimut dan bantalnya pun mau tak mau harus segera beranjak dari kasurnya karena dia harus segera memasak sarapan untuk keluarga angkasa.
Sebenarnya ada asisten rumah tangga yang dipekerjakan namun Sheila yang disuruh oleh keluarganya sendiri untuk memasak mencuci dan bersih bersih dari kecil sehingga Sheila sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini.
Sheila sekarang berada di dapur karena waktu yang cukup mepet dan dia harus segera ke kampus.
"Non Sheila sudah bangun?" tanya mbok Ijah pada Sheila yang baru saja turun ke dapur.
"Udah mbok," jawabnya.
"Oh ya mbok Habis ini Sheila mau ke kampus ya."
"Iya, Non. Emang rencananya mau masak apa sini biar mbok bantu." ujar mbok Ijah.
"Sheila mau masak yang biasa aja mbok kayak omlet sama nasi goreng aja."
__ADS_1
"Ya udah sini mbok bantu," mbok Ijah pun membantu Sheila memasak.
"Mbok, Tolong upas aja bumbunya ini biar Sheila yang goreng." ucap Sheila membagi tugas dengan mbok Ijah biar cepat selesai.
"Oke, Non."
Mereka pun memasak masakan yang sudah disebutkan oleh Sheila, rencananya dia akan membuat omlet, Nasi goreng dan juga ayam goreng.
Dia dibantu oleh mbok Ijah yang sudah bekerja lama sekali di keluarga ini dan mbok Ijah juga yang selalu ada untuk Sheila dan sudah Sheila anggap sebagai keluarga sendiri.
Setelah beberapa saat masakan mereka pun sudah jadi, Sheila pun membersihkan sisa bahan makanan di meja.
"Mbok ini masakannya udah selesai Sheila ke atas duluan ya mbok mau siap siap untuk ke kampus," ucap Sheila setelah makanannya habis dan beranjak menuju ke kamarnya.
"Iya, Non." ucap mbok Ijah.
Kemudian Sheila mengganti pakaiannya dan menyiapkan buku untuk dibawa ke kampus dan dia pun selesai dengan dandanan tipisnya.
Sheila juga membawa pakaian ganti karena dia akan bekerja paruh waktu di restoran.
Setelah selesai Sheila langsung keluar dari kamar dan dia pun keluar rumah menuju ke kampus menggunakan bus umum.
Orang tua Sheila dan juga kakaknya setelah bangun langsung memakan makanan dari Sheila. Saat di meja makan tiba tiba nyonya besar bertanya.
"Non Sheila sudah berangkat ke kampus Bu tadi pagi,"
Kemudian mereka pun menyantap makanannya hingga ludes. (Dasar emangnya)
Mbok Ijah sebenarnya sangat kasihan dengan Sheila karena dia selalu ditindas dan diperlakukan buruk oleh keluarganya sendiri.
Hanya mbok Ijah lah yang sangat menyayangi Sheila seperti anaknya sendiri, meski pun diperlakukan tidak adil di keluarganya namun Sheila termasuk murid yang pintar, karena kepintarannya dia diterima di salah satu universitas ternama di kota X dan untung saja orang tuanya mengizinkan Sheila untuk masuk ke universitas sehingga dia bisa mempelajari ilmu lagi namun tetap begitu semua biaya Sheila yang menanggungnya.
Sheila sekarang sudah sampai di kampusnya, dia datang ke kampus karena harus bimbingan skripsi sama dosennya.
Saat bimbingan tadi untuknya Sheila tidak terlalu banyak revisi sehingga bisa langsung melanjutkan bab nya. Saat ini Sheila sedang melakukan penelitian akhir untuk skripsinya, jadi sebentar lagi dia akan lulus dan bekerja seperti yang dia impikan selama ini.
Setelah selesai dengan urusannya di kampus Sheila pun beristirahat di kantin kampus, Sheila sekarang sedang berada di kantin kampus dan tiba tiba ada seseorang yang mengagetkannya dari belakang.
"Haah," teriak Maya dia adalah salah satu sahabat yang selalu ada buat Sheila dan begitu pun sebaliknya.
"Astaga Maya," kaget Sheila.
__ADS_1
"Sheil ngelamun aja lo," ucap sahabatnya yaitu Maya.
"Eh May," ucap Sheila.
"Gimana tadi bimbingannya?"
"Lancar May, elo sendiri gimana?"
"Pusing gue Sheil Bu Lika nyuruh gue ganti data lagi," omel Maya yang sama sama seperjuangan sama Sheila.
"Yang Sabar May." ucap Sheila menenangkan Maya.
"Oh ya May udah jam segini aku harus kerja dulu ya," pamit Sheila.
"Iya, Sheil elo hati hati ya." ucap Maya di angguki oleh Sheila. Padahal mereka baru saja bertemu namun karena memang Sheila harus bekerja mau tidak mau Maya juga mengerti keadaan sahabatnya itu.
Sheila sekarang bekerja di restoran yang cukup terkenal di ibu kota di negara X, dia memang kuliah sambil bekerja karena jika tidak bekerja dia tidak akan ada uang untuk kuliahnya. Orangtuanya memang memperbolehkan Sheila untuk kuliah makin dengan uangnya sendiri, orang tuanya tidak ingin mengeluarkan sepeser pun untuk biaya kuliah Sheila padahal kakaknya saja kuliah dan itu dengan biaya dari orangtuanya.
Sheila sebenarnya sangat iri kepada sang kakak namun dia berfikir mungkin orangtuanya tidak ada uang saat akan menyekolahkannya, dia akan bekerja kapanpun yang terpenting dibayar.
Sheila sendiri sudah hampir 2 tahun dia bekerja di sini the restoran namanya, Berhubung hari ini hari Senin jadi restoran tidak terlalu rame, karena biasanya waktu hari libur bisa sampai 3 kali lipatnya ramai nya. Sheila tetap bertahan di sini adalah karena gajinya yang cukup tinggi dan juga karena fasilitasnya bagus sehingga Sheila sangat betah berada di sini.
Setelah berpamitan kepada Maya Sheila langsung pergi ke restoran untuk bekerja. Setelah beberapa saat Sheila pun sampai di restoran tempat dia bekerja.
"Selamat siang, mbk Ika." sapa Sheila kepada salah satu pegawai di sana.
"Siang, Sheil. Buruan ganti baju itu ada pengunjung."
"Siap, Mbk."
Sheila pun masuk dan berganti pakaian setelah itu dia pun bekerja sebagai pelayan. Di hari lain pun saat senggang dia bekerja sebagai petugas catering makanan, pokoknya apapun pekerjaannya Sheila akan lakukan.
"Sheil meja nomor 17 ya," ucap mbk Ika menyerahkan makanan kepada Sheila.
.
.
TBC
Haiii readers!! gimana ceritanya seru gak???
__ADS_1
Dukung terus ceritaku ya biar aku juga tambah semangat buat nulis lagi, kalau rame bakal aku update lagi cerita Sheila dan Brian ini mungkin masih banyak typo nya tapi akan author berbaik lagi di lain waktu jadi mohon di maklumi ya šš