Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
Pertemuan


__ADS_3

Pagi harinya Sheila sudah terbangun padahal kemarin dia tidur larut malam sekali, Sheila tidak bisa tidur nyenyak sama sekali mungkin karena berita yang sangat membuatnya syok sehingga dia hampir tidur beberapa jam saja, sedangkan Brian masih tertidur dengan santainya, awalnya dia menemani Sheila dan menenangkan sang istri namun karena Brian sudah sangat mengantuk jadi dia tanpa terasa tertidur terlebih dahulu.


"Sayang," panggil Brian dengan suara parau nya saat melihat sang istri ternyata sudah bangun.


"Sayang," balas Sheila.


"Udah bangun?" tanya Brian dan hanya di angguki oleh Sheila.


Sheila sudah rapi dengan pakaiannya, karena hari ini adalah weekend jadi Sheila hanya menggunakan pakaian santai saja namun tetap cantik, karena dia hari ini akan bertemu dengan orang tua kandungnya.


Sheila tidak menyangka ternyata papa dan mamanya yang sebenarnya bukan lah papa dan mama Sheila yang ia kenal selama ini, Sheila hanya bisa menyimpan tanya mengapa orang tuanya tidak memberitahukan bahwa mereka bukan lah orang tua aslinya.


"Sayang, buruan bangun! katanya mau temenin aku ketemu sama..." ucap Sheila terpotong karena dia belum terbiasa dengan sebutan mama dan papa jadi dia bingung harus memanggil mereka apa.


"Kenapa kok berhenti?!" goda Brian melihat sang istri sepetinya sedikit canggung.


"Udah ih, buruan sana mandi terus siap siap!" ucap Sheila.


Setelah itu Brian pun mulai bersiap-siap dengan Sheila yang menunggunya di kamar sambil menyiapkan pakaian untuk Brian. Setelah selesai mandi dan bersiap siap mereka berdua pun turun ke bawah dan di sambut oleh mami Salma dan juga papi Boni yang akan ikut dengan Brian dan juga Sheila menemui orang tua aslinya.


"Sayang, kalian sudah siap?" tanya mami Salma menuju ke mobil.


Dalam perjalanan Sheila tak henti hentinya di buat gelisah, apakah orang tuanya akan mengenalinya tau tidak, apakah orang tuanya akan menerimanya atau tidak, hanya itu lah yang ia pikirkan sekarang ini.


Sedangkan di sisi lain Bastian, Daniar dan juga Leon sang kakak sudah berada di new York dan lebih tepatnya berada di tempat yang telah di janjikan.


Hampir setengah jam mereka menunggu Brian dan yang lainnya namun tak kunjung datang membuat mama daniar sedikit gelisah takut jika informasi tersebut hanyalah informasi bohong saja.


"Pa, lama banget sih. Mama udah gak sabar nih!" sahut daniar sudah tidak tahan lagi menunggu terlalu lama.


"Mama yang sabar dong, Brian kan kemarin sudah bilang kalau mungkin dia agak telat karena memang ada satu dengan hal dari Marsha sehingga dia tidak bisa terburu-buru," ucap Bastian menenangkan sang istri.


"Iya, mama tenang aja, kalau Brian berbohong dan berbuat yang macam macam leon akan turun tangan!" ucap Leon sang anak membaut mamanya sedikit tenang.


Tak lama kemudian Brian dan Sheila pun sudah sampai di depan restoran yang menjadi tempat pertemuan Sheila dan juga orang tuanya, Sheila sangat gugup sekali sekarang hingga ia tak tahu apakah yang ia lakukan sekarang benar atau tidak.

__ADS_1


"Ayo, sayang!" ajak Brian.


"Sayang, beneran kan ini aku gak mimpikan?!" sahut Sheila sedikit tidak percaya.


"Iya, sayang. Ini beneran," ucap Brian.


Mereka pun masuk ke dalam dengan Brian dan Sheila di depan dan mami Salma dan papi Boni di belakang mereka, di dalam di mana Bastian dan Daniar sudah menunggu di sana.


Sampai di depan pintu mereka pun masuk, sedangkan di dalam ruangan yang melihat pintu terbuka pun berdiri dan juga ingin menyambut kedatangan seseorang yang mereka nanti nanti kan selama ini.


"Selamat pagi, uncle Tante Leon." sapa Brian.


"Selamat pagi, nak." sahut Bastian dan Daniar sedangkan leon hanya mengisyaratkan dengan kepalanya saja.


Sedangkan Sheila malah bersembunyi di belakang sang istri dan terus menundukkan kepalanya takut untuk berharap banyak karena dia tidak pernah sama sekali bertema dengan orang tua kandungnya.


"Sayang," panggil Daniar menuju ke arah Sheila yang terus aja menunduk.


Sheila pun menegakkan kepalanya dan melihat ke arah Daniar dengan tatapan tak percaya karena ternyata wajah mereka jika di perhatikan memang sedikit mirip dari alis, mata hingga bibir hanya hidung Sheila saja yang lebih mirip ke Bastian membuat Daniar merasa lega karena kemiripan mereka bisa meyakinkan kalau Sheila memang anak kandung mereka.


"Tante," ucap Sheila dengan terbatas bata karena gugup.


"Sayang, panggil mama ya. Ini saya mama kamu," ucap daniar menuntun Sheila untuk memanggilnya mama.


"Mama!" sahut Sheila.


"Iya, sayang. Ini mama!" ucap mama daniar sudah menumpahkan air matanya sambil terus memeluk Sheila dan Sheila juga memeluk erat sang mama, ia merasakan mendapatkan hadiah bertubi tubi mulai dari dia mendapat suami yang menyayangi nya dan mertua yang baik hati sekarang dia juga bisa bertemu dengan orang tuanya, bukan kah itu adalah salah satu hadiah yang tak ternilai harganya.


"Mama!" ucap Sheila di dalam tangisannya.


Setelah selesai pelukan tersebut Sheila melihat ke arah belakang di mana ada papa Bastian dan juga Leon yang juga terharu melihat ke arah Sheila dan juga mama Daniar.


"Sayang, ini papa Bastian suami mama jadi beliau adalah papa kamu, dia Leon anak pertama mama sama papa yang berarti adalah kakak kamu." Mama Daniar menjelaskan kepada Sheila.


"Papa," sapa Sheila, papa Bastian yang mendengar kan hal itu pun langsung memeluk erat sang anak yang selama ini ia cari dengan menyalurkan semua rasa rindunya kepada anak perempuan nya.

__ADS_1


"Terima kasih, sayang. Sudah kembali ke sisi kami," ucap papa Bastian yang sudah menangis, ia sejenak melupakan statusnya sebagai mafia yang ia lakukan sekarang adalah menyambut kedatangan Marsha kecilnya.


"Hai, Marsha." sapa Leon setelah Sheila melepas pelukannya dengan papa Bastian.


"Marsha?!" tanya Sheila karena tak mengerti ucapan dari Leon sang kakak tersebut.


"Astaga, Sheila maksud ku. Hehe maklum lah nama kecil kamu dulu kan Marsha," sahut Leon.


"Sini peluk," ucap Leon sambil merentangkan tangannya menyambut sang adik kecilnya.


Brian, mami Salma dan juga papi Boni hanya bisa melihat keluarga tersebut yang melepas rindunya kepada anak perempuan nya itu dengan terharu tak menyangka bahwa Sheila akan mendapatkan kabar gembira tersebut.


Setelah memeluk keluarganya Sheila pun sudah sangat bengkak wajahnya karena harus menangis terus menerus.


"Udah ya sayang gak usah nangis," ucap mama daniar terus saja menggandeng tangan sang anak di tempat duduk.


"Brian, Boni, Salma terima kasih sudah menemukan anak kami!" ucap papa Bastian memberikan ucapan terima kasih karena sudah menemukan sang anak.


"Iya, terima kasih melakukan pertemuan berharga ini." lanjut mama Daniar.


"Iya, Bastian. kamu tenang saja, asal kamu dan keluarga bisa kembali lagi dengan anak kamu maka kami sekeluarga juga ikut senang." ucap Boni dan di angguki oleh yang lainnya.


Mereka pun sangat senang dengan adanya pertemuan ini karena mereka bisa berjumpa lagi dengan anak mereka yang selama ini mereka rindukan, tak henti hentinya meneteskan air mata bahagia.


"Sayang, perut kamu kok gini?" tanya mama Daniar saat dia baru sadar bahwa saat ia melihat sang anak, ia merasakan perut Sheila yang terasa lebih besar.


"Sebenarnya selain ingin mempertemukan uncle Bastian, Tante Daniar dan juga Leon di sini dengan Sheila, sebenarnya Brian di sini juga ingin menyampaikan hal lainnya," sahut Brian menjeda ucapannya menenangkan hatinya dahulu takut jika membuat keluarga uncle Bastian kaget jika mendengar kan kabar ini.


Bersambung..........


HAI READERS SEMUANYA πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


JANGAN LUPA JAGA KESEHATAN KALIAN YA, DI DAERAH AUTHOR SEKARANG SERING BANGET HUJAN APA LAGI KALAU SORE KAYAK GINI JADI MENGHAMBAT AUTHOR UNTUK MENULIS KARENA SERING SEKALI WIFI GAK BERFUNGSI, KARENA HUJAN TIDAK MENENTU JADI JAGA KESEHATAN BUAT READERS SEMUANYA YA JANGANπŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ₯°πŸ₯°


SALAM HANGAT DARI AUTHOR πŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ₯°πŸ₯°β™₯️β™₯️

__ADS_1


__ADS_2