Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
Membuat Marah


__ADS_3

Sedangkan suasana di villa Brian dan Sheila dan juga yang lainnya baru saja tiba segera masuk ke dalam untuk menaruh barang-barangnya setelah itu Clara pun mengajak Sheila dan juga Celine untuk melihat lihat sekitaran villa yang menurutnya pemandangannya sangat bagus sekali.


Sedangkan yang lainnya sedang bersantai di taman depan di mana mereka bisa melihat bangunan perkotaan dari sana, uncle Steven pun memberitahukan perihal Aris yang meneleponnya tadi kepada yang lainnya karena memang semua orang di sana sudah tahu kejadiannya bahkan papa Bastian dan mama Daniar pun juga sudah tahu.


"Tadi Aris telepon aku," ucap uncle Steven membuat yang lainnya melihat ke arahnya.


"Terus, apa yang kakak katakan sama dia?" tanya uncle Eric penasaran.


"Ya kakak jawab sejujurnya," sahut uncle Steven kemudian mulailah menceritakan apa saja yang mereka bicarakan di telepon tadi.


"Dan sepertinya mereka tampak sedikit terkejut akan berita Sheila istri kamu bri," sahut uncle Steven setelah bercerita tadi, namun Brian hanya diam saja karena malas untuk membahas hal seperti itu apa lagi menyangkut orang yang telah menyakiti sang istri sebelumnya.


"Dasar tuh orang ya, salah sendiri tamak tapi untung saja yang jadi istri kamu itu Sheila bri bukan anaknya yang kayak ondel ondel itu!" ucap uncle Eric mengolok olok Maria yang memang dengan dandanan menor bukan seperti manusia malah kayak ondel ondel saja.


"Iya, kamu bener banget ric. Aku juga gak suka sama itu keluarga, untung saja yang menjadi menantu keluarga Ardolph Sheila kalau sampai tuh anak satunya aku tidak akan tenang memikirkan Brian!" sahut Tante Melinda setuju dengan ucapan uncle Eric tadi.


Saat sedang membicarakan hal itu Sheila dan yang lainnya pun datang menghampiri yang lainnya dengan senang sekali karena bisa merasakan liburan keluarga bersama karena Sheila belum pernah merasakan hal tersebut dari dulu karena memang keluarganya tidak pernah berniat untuk mengajaknya dan hanya keluar bertigaan saja tanpanya.


Brian yang melihat sang istri tersenyum pun membuat hatinya lega karena istrinya sudah tidak bersih lagi padahal tadi Sheila sangat gugup sekali.


"Gimana villa nya?" tanya Brian saat Sheila baru saja duduk di samping sang suami.


"Bagus banget," ucap Sheila dengan antusias nya.


"Kamu suka?" tanya Brian.


"Suka banget, udara nya adem banget terus masih asri gitu suasananya dan juga tentram banget!" ucap Sheila dengan serunya menceritakan suasana yang belum pernah ia rasa sebelumnya.

__ADS_1


"Baby El seneng gak?!" tanya Brian sambil mengelus perut Sheila yang sudah menonjol itu.


"Seneng dong pastinya," sahut Sheila.


Sedangkan yang lainnya hanya diam saja sambil melihat pemandangan yang membuat mata mereka sejuk, jarang sekali mereka melihat sikap Brian yang seperti itu bahkan sebelum adanya Sheila di kehidupan Brian, dia lebih sering pulang malam karena terus saja bekerja namun sekarang berbeda sekali hampir setiap hari Brian akan pulang tepat waktu dan jarang sekali mengambil lembur.


Sedangkan di markas klan Elang sedang menampilkan berita soal Brian dan Sheila yang mengumumkan pernikahannya, yah markas memang sengaja di sediakan alat elektronik namun hanya bisa di operasikan oleh anggota saja dan juga di jauhkan dari para tahanan di sana.


Saat berita itu di tayangkan Jeffry mendengar semuanya tentang konferensi pers tersebut membuat hatinya sakit dan kesal karena Boni, dan Brian terus saja mengurungnya padahal dia sudah ingin segera keluar dari sana dan juga segera membalas dendam kepada klan elang sial*n tersebut.


"Akan ku pastikan kalian akan menerima pembalasan yang setimpa Brian!" gumam Jeffry dalam hatinya karena tidak terima jika ada berita baik dari keluarga Ardolph karena di sangat suka kalau berita tersebut adalah berita buruk.


"Tuan, bagaimana ini selanjutnya?!" tanya anak buah Jeffry yang juga menjadi tahanan di sana.


"Aku seorang Jeffry tidak akan pernah lupa akan balas dendam ku!" ucap Jeffry dengan sangat tajam sambil melihat layar tersebut.


Aldo dan yoga memang sengaja menyalakan layar tadi di mana di sana ada berita tentang tuannya dan juga sang istri itu pun atas perintah Brian karena dia ingin membuat Jeffry marah dan benar saja tebakan Brian kalau Jeffry pasti akan sangat marah melihat hal tersebut.


Brian pun menelepon Aldo yang berada di markas memantau para sandra terutama Jeffry yang melihat layar berita dengan tatapan tajam sekali.


[Bagaimana?]


[Sesuai dugaan tuan, sepertinya Jeffry sudah sangat marah sekali.]


[Hahaha, bagus. Pantau terus dia karena aku ingin dia marah dan di situlah waktu ajalnya melayang.] sahut Brian dari sebrang.


Dia ingin segera menghabisi Jeffry namun dia tidak langsung menghabisinya karena menurut Brian itu terlalu mudah bagi Jeffry kalau langsung mati jadi lebih baik bermain sebentar bukan pasti lebih seru.

__ADS_1


Sedangkan di villa semua orang baru saja melakukan makan malam, Sheila sekarang berbaring di pangkuan sang mama Daniar dengan penuh manjanya membuat mama Daniar sangat senang sekali akhirnya mereka bisa merasakan bagaimana saat anak perempuan berbaring di pangkuannya seperti sekarang.


"Mama nangis?!" ucap Sheila saat melihat sang mama yang sedang menyeka air matanya.


"Enggak sayang, mama cuma seneng aja karena akhirnya anak mama yang cantik ini sudah kembali." ucap mama Daniar dengan mengelus rambut Sheila kemudian mengecup singkat kening sang anak.


"Mama, Sheila juga sangat senang sekali akhirnya Sheila bisa merasakan kehangatan tangan seorang ibu yang selama ini belum pernah dapatkan dari dulu sebelum adanya mama dan juga mami Salma," sahut Sheila kemudian bangkit dari tidurnya dan menggenggam tangan sang mama.


Kejadian tersebut juga di saksikan oleh papa Bastian dari jauh merasa tak enak kalau mengganggu perbincangan anak dan ibu itu karena papa Bastian tahu pasti istrinya sangat tersiksa saat kehilangan sang putri dulu sama sepertinya yang juga sangat tersiksa, kemudian beliau pun meninggalkan mereka berdua sedang berduaan.


"Kenapa ini kok pada nangis-nangis sih?!" tanya mami Salma yang baru saja masuk ke dalam kamar Sheila, karena Brian sedang asyik mengobrol dengan papi Boni dan juga yang lainnya sehingga tadi mama Daniar masuk ke dalam sana.


"Enggak jeng, aku cuma seneng aja akhirnya putri yang selama bertahun tahun aku nantikan kedatangannya lagi akhirnya datang juga." sahut mama Daniar.


"Udah jeng, gak usah nangis lagi dong. Aku tahu kamu pasti bahagia banget kan!" ucap mami Salma dan di angguki oleh mama Daniar.


"Sekarang dia sudah kembali dan akan memberikan kita cucu, bukan kah ini sangat bagus!" lanjut mami Salma sambil mengelus perut sang menantu dengan lembut.


"Sehat sehat di perut mami kamu ya sayang, sebentar lagi kita akan ketemu sama kamu di dunia ini!" ucap mami Salma mengelus perut Sheila.


Sedangkan Sheila hanya bisa tersenyum mendapat perlakuan seperti itu karena baginya orang orang di keluarga ini sangat lah baik dan juga memperlakukan Sheila dengan lembut.


"Makasih ya ma, mi." sahut Sheila karena dia merasakan keluarga yang sangat utuh meski dulunya dia tidak merasakannya.


"Iya, sayang." sahut mama Daniar dan jga mami Salma sambil memeluk Sheila bersamaan membuat siapapun yang melihat kejadian itu pasti akan terharu karena kekompakan anak, ibu dan mertua itu.


.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2