
Tanpa Sheila tahu ada karyawan yang sedang panas hatinya melihat dia tidak di pilih untuk melakukan projek besar tersebut, siapa lagi kalau bukan Tiffany. Dia sangat kesal dengan Sheila yang baru kemarin masuk tetapi langsung di pilih untuk melakukan projek besar tersebut yang keuntungannya pasti akan sangat besar bukan apa lagi dia bisa bertemu dengan pak Brian dan juga bisa pergi ke Bali bersama, siapa coba yang tidak ingin melakukan hal itu.
"Awas aja elo Sheila, tunggu pembalasan gue!" gumamnya dengan marah saat dia melihat Sheila dan teman temannya baru saja kembali keruangan.
[Mario, gue butuh bantuan elo] Tiffany menelepon Mario untuk meminta bantuan.
[Ada apa?]
[Bawain gue sesuatu,] Dan Tiffany pun meminta Mario membawakan sesuatu yang pastinya akan ia gunakan nantinya.
Jam makan siang pun tiba, Brian sendiri ada meeting penting di luar kantor padahal dia sedang berada di markas menyiapkan transaksi yang akan ia lakukan malam ini, bukan Brian tetapi tepatnya Aldo dengan salah satu pelanggan setianya.
"Aldo, bagaimana dengan perkembangan informasi tentang kasus dari Mr. Bastian?" tanya Brian saat mereka selesai menyiapkan semua transaksi nya.
"Sampai sekarang kami belum menemukan titik terang juga bos mungkin karena memang ini masalah sudah sangat lama sehingga sulit untuk mengumpulkan bukti bukti." ucap Aldo dan mendapat anggukan dari Brian.
Setelah banyak berbincang Brian pun pergi dari markas elang dan kembali ke kantornya karena ada beberapa pekerjaan yang harus ia kerjakan, atau lebih tepatnya dia ingin segera makan siang dan bertemu dengan Sheila.
Sedangkan di tempat lain, Sheila dan yang lainnya sudah berada di kantin kantor untuk makan siang, namun sebelum itu Tiffany sudah berada di sana terlebih dahulu dan berada di dapur kantin dan memberikan sebuah bubuk obat kepada salah satu staf kantin. Gila memang tapi Tiffany bisa melakukan apapun jika ada sesuatu yang tidak ia senang i dan sekarang Sheila sangat membuatnya sangat marah sehingga Tiffany nekat mencelakai Sheila dengan memberikan racun di makanannya kepada wanita tersebut agar Sheila keracunan.
"Inget, elo kasih ke cewek itu!" perintah Tiffany kepada salah satu staf kantin sambil menunjuk Sheila yang sedang antri mengambil makanan.
"i.. iya," ucap wanita tersebut sedikit gugup karena staf tersebut sedikit takut jika harus berurusan dengan Tiffany.
Setelah itu Tiffany pun pergi meninggalkan area makanan dan berjalan ke meja kantin dengan makanan di tangannya dan juga ada Naumi dan juga Nara di sana yang juga sudah duduk dan siap melihat pertunjukan sebentar lagi.
"Rasain elo," ucap Tiffany dengan nada sinis nya. Sampai detik ini rencana jahatnya berjalan dengan lancar membuat Tiffany mengembangkan senyumannya.
Sedangkan Sheila dan yang lainnya sedang mengantri di area pengambilan makanan, saat Sheila akan mengambil makanannya staf yang di suruh oleh Tiffany tadi pun melancarkan aksinya hingga Sheila mengambil makanan tersebut, setelah itu Sheila dan yang lainnya pun mencari tempat untuk duduk.
"Di sana aja yuk," ajak jovanka saat melihat ada tempat duduk yang kosong.
__ADS_1
"Iya, ayok."
Mereka pun segera duduk di tempat tersebut dan segera memakan makan siangnya karena memang sudah sangat lapar akibat terlalu lama dalam bekerja tadi.
Saat sedang asyik memakan makanannya Sheila pun merasa kalau perutnya sangat sakit sekali, dia memegang perutnya karena sangat sakit.
"Elo kenapa Sheil?" tanya Monica yang melihat gelagat aneh dari rekan kerjanya itu.
"Gak tahu perut aku sakit banget terus kepala ku pusing banget," sahut Sheila dengan tubuhnya yang sudah tertunduk di meja.
"Sheila elo kenapa? elo sakit? astaga lihat wajah elo pucet!" sahut jovanka.
"Aku gak papa kok," sahut Sheila mencoba mencari keberadaan handphone nya untuk mengabari Laura karena dalam kondisi seperti ini hanya Laura yang bisa Sheila andalkan.
Sedangkan Tiffany yang dari tadi memperhatikan tingkah Sheila pun di buat senang ternyata obat tersebut bekerja.
"Elo cari apa?" tanya jovanka yang mulai khawatir dengan kondisi Sheila.
"Ini," Monica memberikan HP tersebut kepada Sheila.
Sheila segera mengambil hp tersebut dan mencari nomor Laura dan segera meneleponnya, sedangkan Laura yang sedang berada di ruang scurity pun terkejut akan nona mudanya yang menelepon.
[Halo, nona muda.]
[Laura,] sahut Sheila di sebrang sana dengan sedikit ada rintihan kesakitan.
[Nona muda kenapa?] balas Laura di sana, meski pun pegawai kantor tidak tahu akan identitas nona muda tetapi jangan salah kalau scurity tahu karena memang tim scurity yang sebenarnya adalah anak buah dari klan elang sehingga mereka tahu soal keberadaan Sheila atau nona muda mereka di perusahaan.
[Sekarang nona ada di mana?] tanya Laura karena tidak mendapat jawaban tadi.
[Kantin!] hanya itu ucapan dari Sheila kemudian hp pun mati.
__ADS_1
Laura langsung saja panik kemudian berlari kencang menuju ke kantin kantor yang masih banyak karyawan di sana, sedangkan Brian belum juga sampai di kantor setelah meeting di luar.
"Yoga, tidak bisakah cepat sedikit." perintah Brian karena hatinya merasa sangat tidak nyaman dan segera ingin kembali ke kantor.
"Baik, pak." sahut yoga kemudian mengebut menuju ke kantor.
Sedangkan Laura berlari kencang sekali menuju ke kantin, saat di sana dia segera mencari keberadaan nona mudanya. Saat melihatnya segera Laura ke arah Sheila yang sudah sangat lemas di meja dengan jovanka dan juga Monica yang mengkhawatirkan nya dan beberapa karyawan lainnya yang mencoba membantu. Saat Sheila akan di angkat oleh salah seorang karyawan pria di sana Laura segera datang dan melarang pria tersebut mengangkat nona mudanya karena bisa gawat kalau tuan muda melihat hal itu.
"Jangan!" pekik ya keras membuat semua karyawan di sana melihat ke arah Laura, namun ia tak perduli dan berlari ke arah Sheila.
"Nona kenapa?" tanya Laura dengan nada khawatir.
"Laura perut ku sakit sekali," sahut Sheila dengan memegang perutnya yang sepertinya ingin meledak.
"Nona tenang, mari saja bawa ke rumah sakit." sahut Laura dengan mencoba membopong tubuh lemas nona mudanya tersebut.
Di sisi lain setelah Brian sampai di kantor dia akan masuk tetapi anak buahnya memberitahukan hal yang membuat Brian sangat khawatir.
"Tuan, nona muda mengeluh kesakitan di kantin kantor!" ucap anak buah nya tersebut, tanpa menunggu Brian segera berjalan cepat ke arah kantin, saat sampai dia melihat Laura yang seperti akan membawa Sheila pergi.
Tak bisa menahan kekhawatiran nya Brian pun berjalan mendekati Sheila yang seperti sangat kesakitan tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Brian mencoba bersikap tenang meskipun sangat tidak bisa. Sedangkan Laura yang mendengar suara tuan mudanya itu pun berhenti sejenak dengan nona mudanya yang ia tahan dengan lengannya.
"Sakit!" sahut Sheila dengan memegang perutnya yang masih kesakitan dengan dia sudah hampir kehilangan kesadarannya. Brian segera maju ke depan dan mengambil alih Sheila dari Laura dengan gaya bridal style dan membawanya pergi dari kantin tersebut.
"Kamu bertahan sebentar ya sayang," bisik Brian pelan dan tidak ada yang mendengarkannya dan hanya Sheila saja yang mendengarkan nya.
Mendengar suara sang suami Sheila pun semakin merapatkan tubuhnya dalam pelukan sang suami, jangan di tanya lagi bagaimana reaksi para karyawan lainnya.
Bersambung..........
__ADS_1