
Di samping itu Brian sedang berada di kantornya dengan berkas yang masih menumpuk di mejanya, setelah Sheila tidak bekerja lagi di Ard Company yoga kembali mengurusi semuanya sendirian padahal sebenarnya lebih mudah kalau ada nona mudanya di sana karena pekerjaan menjadi lebih sedikit dan ringan namun yoga juga tahu bagaimana ke khawatiran dari tuannya itu jadi menurutnya juga lebih baik nona mudanya tidak bekerja lagi dan beristirahat di mansion saja lagian juga suaminya sudah kaya masa masih mau kerja terus.
"Yoga, segera ke ruangan saja." panggil Brian dari saluran telepon nya.
Dengan kecepatan kilat yoga pun segera menuju ke ruangan tuan nya itu, karena setelah pesta pembukaan atau peresmian resort tersebut pekerjaan semakin banyak dan sibuk apa lagi Brian tidak bisa langsung meninjau lokasi dan hanya bisa di wakilkan oleh uncle Eric saja.
"Iya, tuan." sahut yoga.
"Bagaimana dengan orang yang saya suruh kamu cari itu?" tanya Brian.
"Untuk itu sedang saya usahakan tuan dan saya sepertinya mencurigai bahwa itu adalah salah satu anak buah dari Jeffry," sahut yoga.
"Apa kamu yakin?!" tanya Brian lagi.
"Saya belum terlalu yakin namun firasat saya bahwa itu pasti berhubungan tuan, saya masih menunggu kabar dari anak buah suruhan saja sebentar lagi mungkin sudah selesai pencarian setelah itu akan saya informasikan kepada tuan." sahut yoga.
"Oke, kalau begitu kamu kembali bekerja. Kalau sudah ada kabar segera kabari saya," sahut Brian.
"Baik, tuan." jawab yoga kemudian kembali ke tempatnya.
Baru saja sampai di tempat duduknya yoga sudah mendapatkan email masuk dari orang suruhannya untuk mencaritahu orang yang beberapa bulan ini terus saja mengintai sang tuan nya dan ternyata setelah melihat informasi tersebut yoga sudah menduga ternyata firasat nya sangat akurat, dia pun memilih untuk menuju ke ruangan tuannya dan memberikan informasi yang sudah dia dapatkan.
TOK TOK TOK
"Masuk!" perintah Brian, yoga pun masuk ke dalam dengan iPad di tangannya.
"Tuan ini saya sudah mendapatkan informasi dari orang suruhan saya," sahut yoga kemudian memberikan iPad nya kepada Brian.
Di sana menampakkan seorang pria muda nan mempesona namun tetap mempesona seorang Brian Albern Ardolph dari pada yang lainnya sih, namun muka nya tak terlalu mengecewakan. Di sana menampakkan bahwa orang tersebut adalah keponakan dari Jeffry yang berada di Jerman namun harus kembali ke new York karena mencari keberadaan pamannya dan ternyata pria tersebut juga termasuk anggota klan Rajawali yang tersisa, Yap siapa lagi kalau bukan Liam di sana.
"Jadi dia berencana untuk membalas dendam kepada ku," sahut Brian dengan anda meremehkan lawannya.
__ADS_1
"Iya, tuan." jawab yoga.
"Hahahaha!!" Brian malah tertawa penuh penghinaan.
"Hahaha, mereka mau balas dendam kepada Brian Albern Ardolph seorang ketua mafia paling kejam di sini jangan harap itu hanya lah mimpi!" sahut Brian dengan keyakinan tinggi.
"Yoga kita sekarang ke markas dan memberitahukan ini kepada Jeffry tentang sang ponakan yang akan balas dendam pada kita pasti akan seru," ucap Brian kemudian mengambil jasnya yang ia gantungkan itu dan pergi keluar menuju ke markas.
Sampai di markas Brian segera masuk ke ruangan di mana Jeffry berada, Brian masuk sendirian karena dia ingin melihat musuhnya itu secara pribadi.
"Hai Jeff," sapa Brian basa basi sambil mendekat ke arah Jeffry.
Jangan tanyakan lagi bagaimana kondisinya sekarang, dengan wajah babak belur seperti sudah tidak tercetak lagi bentuk asli wajahnya bahkan darah sudah menjadi kering di sana karena setiap hari terus saja ada yang menyiksanya tidak membiarkan dia untuk bernafas lega.
"Untuk apa kau ke sini!" teriak Jeffry sudah muak dengan semua ini padahal dia waktu itu dia ke pesta hanya untuk mengucapkan selama terpaksa sekarang dia malah mendekam beberapa bulan di tahanan sialan itu.
"Santai jangan ngegas dong," sahut Brian jongkok menyetarakan tubuh nya dengan Jeffry yang duduk di lantai.
Mendengar bahwa Liam sang ponakan sudah berada di New York entah mengapa rasa senang dan khawatir tercampur aduk, senang karena ponakannya mencarinya dan ingin membalaskan dendam nya atas perbuatan Brian kepadanya namun juga khawatir karena Brian sudah tahu motif awal Liam datang ke New York untuk balas dendam apa lagi Brian sudah tahu kalau kiamat salah ponakannya.
"Sepetinya akan seru kalau ponakan mu itu dulu yang ku habisi habis itu dirimu!" ucap Brian kemudian pergi meniggalkan Jeffry.
"Brian, awas saja kau, ku pastikan sebelum kau membu*uh Liam ponakan ku, kau duluan yang akan mati di tangan ponakan ku itu!" pekik Jeffry berharap agar Brian masih mengerikan.
Sedangkan brian yang berada di balik pintu hanya tertawa sinis tak menghiraukan ucapan dari Jeffry di dalam sana, dia segera menuju ke ruangannya di mana papi Boni dan uncle Steven sudah berada di sana.
"Bri, apa kah yang kamu katakan kepada kami di telepon tadi bear adanya?!" tanya papi Boni dan di angguki oleh Brian.
"Iya, Brian sebenarnya juga tidak tahu tetapi telah Brian menyuruh yoga untuk menyelidiki akan hal tersebut ternyata memang benar Pi, uncle." sahut Brian.
"Terus apa langkah selanjutnya Yanga kan kamu lakukan Bri?" tanya papi Boni.
__ADS_1
"Kita pantau saja terus Pi, kalau mereka berulah baru kita lanjutkan langkah selanjutnya," sahut Brian.
"Ya sudah terserah kamu bri, tapi kita tidak bisa terus terusan membuat Jeffry hidup karena dia akan terus mencoba berbagai cara untuk kabari dari sini," tutur uncle Steven dan di angguki oleh yang lainnya.
"Uncle tenang saja, Brian juga sudah merencanakan cara yang bagus untung melenyapkan sampah yang sudah tidak berguna itu." ucap Brian.
Setelah beberapa saat Brian pun pergi dan di ikuti yang lainnya karena memang waktu sudah menunjukkan sore hari, Brian melajukan mobilnya ke mansion keluarga Kiel di mana sang istri berada.
Saat masuk dia melihat Sheila yang sedang duduk santai di sofa dengan kaki di silang sambil tetap fokus ke arah televisi membuat dia tidak sadar bahwa Brian sudah sampai.
"Serius sekali lihatnya sampek suami sendiri dateng gak di sambut," tutur Brian membuat Sheila kaget dan melihat Brian beristri di sampingnya.
"Eh sayang, udah dateng. Maaf ya tadi drama nya terlalu seru sih," sahut Sheila dengan menunjukkan cengir kudanya.
"Ya sudah kalau gitu aku bersih berita dulu ya kotor nih baru dari luar setelah itu nanti aku ke sini," sahut Brian dan di angguki oleh Sheila.
Briand segera menuju ke kamar mereka di mansion tersebut kemudian membersihkan dirinya, mereka memang memutuskan untuk menginap satu hari di sana karena mama Daniar yang memintanya, Sheila yang tidak tega pun meminta izin kepada Brian dan ternyata di perbolehkan karena Brian berfikir kalau mama Daniar dan papa Bastian juga tidak tentu setiap hari berada di New York karena mereka kan tinggal di Austria.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya dan sudah siap dengan pakaian casual nya Brian pun turun mendekati Sheila yang masih asyik dengan drama Korea yang sedang ia tonton, Sheila memang sedang gemar sekali melihat drama Korea karena menurutnya sangat bagus dan juga chemistry yang di bangun oleh aktris dan aktor nya sangat menjiwai membuat Sheila merasa terbawa ke dalam nya, namun Brian tetap meminta agar Sheila membatasi dalam menonton tayangan seperti itu karena bukan kah ada yang lebih tampan di sini kenapa harus melihat drama Korea.
.
.
Bersambung..........
HAI READERS SEMUANYA 👋👋👋
BAGAIMANA KONDISI YA? SEMOGA SAJA SELALU SEHAT KARENA CUACA TIDAK MENENTU JADI AUTHOR HARAP BERHATI-HATI TERUS YA😊
JANGAN LUPA TERUS DUKUNG AUTHOR YA READERS SEMUANYA KARENA TANPA DUKUNGAN KALIAN SEMUANYA KARYA INGIN TIDAK AKAN BISA BERKEMBANG, JADI AUTHOR SANGAT MENGHARAPKAN DUKUNGAN DAN CINTA DARI READERS SEMUANYA DENGAN CARA FOLLOW, LIKE, VOTE, FAVORIT KAN DAN JUGA JANGAN PULA HADIAHNYA YA AGAR AUTHOR LEBIH SEMANGAT LAGI DALAM MENULIS CERITA YANG MENARIK LAGI 😊😊
__ADS_1
SALAM HANGAT DARI AUTHOR UNTUK READERS SEMUANYA 🙏🙏😊😊🥰🥰♥️♥️