
Malam harinya Sheila sudah berada di kamarnya bersama Brian yang sudah pulang tadi dari markas klan elang, sekarang mereka sedang berada di kasur dengan Brian yang masih fokus dengan iPad di tangannya karena besok dia ada meeting penting dengan alah satu klien nya.
Sedangkan Sheila sedang berbaring sambil melamun dan melihat ke arah sang suami yang sedang fokus.
'Sungguh tampan sekali ternyata suamiku ya,' gumamnya dalam hati mengakui bahwa sang suami memanglah sangat tampan sehingga banyak wanita yang tergoda dengannya.
"Udah puas ngelihatnya?" sahut Brian membuat Sheila terkejut, bagaimana Brian bisa tahu kalau dia sedang melihatnya.
"Ehh.... si.. siapa yang ngelihat ih," bantah Sheila kemudian membalikkan badannya membelakangi Brian.
Brian yang melihat itu pun segera menaruh iPad nya dan menuju ke sang istri sambil memeluk erat Sheila dari belakang.
"Kenapa hem?" tanya Brian.
"Apanya?" tanya Sheila balik.
"Kenapa kamu selalu lihat aku hem, selalu saja curi curi pandang." sahut Brian sangat ke PD an tapi emang kenyataannya seperti itu bukan.
"Ih gr banget sih, siapa juga yang ngelihat situ." shut Sheila tidak terima.
Brian pun hanya mengiyakan saja karena akan panjang ceritanya kalau tetap membantah sang istri.
"Ehhh sayang!" panggil Sheila dengan posisi yang masih sama yaitu membelakangi Brian.
"Ada apa sayang?" ucapnya dengan lembut.
"Sayang, apakah berita di luaran sana sudah mulai reda?" tanya Sheila dengan hati-hati, sedangkan Brian yang mendengarkan hal itu pun mengerenyitkan dahinya.
"Ada apa memangnya?" tanyanya.
Sheila pun membalikkan tubuhnya sehingga sekarang dia berhadapan dengan Brian.
"Aku bosan di rumah terus, aku mau kembali bekerja." sahut Sheila.
__ADS_1
Dia sudah memikirkan hal ini secara matang matang sehingga Sheila berani untuk meminta izin kepada Brian apa lagi setelah ia lihat di media sudah mulai reda bahkan sudah hilang sebagian besar artikel nya dan hanya tinggal beberapa saja.
"Apa?!! enggak!" pekik Brian tidak terima dengan permintaan sang istri.
"Kenapa?" tanya Sheila saat mendapat penolakan dari Brian.
"Asal kamu tahu sayang sekarang kehidupan kamu sudah tidak seperti dulu sayang, banyak wartawan dan paparazi yang mencoba mengulik kehidupan kamu apa lagi soal kamu dengan uncle Steven, mereka belum tahu siapa sebenarnya suami kamu bukan, jika kamu tetap akan bekerja di restoran maka secepatnya identitas suami asli kamu akan terbongkar dan bisa jadi akan ada berita heboh itu lagi." sahut Brian memberikan alasan kepada Sheila agar mengerti dan sedangkan Sheila yang mendengarkan hal itu pun di buat sedih dan kecewa.
"Yah, padahal aku pingin banget kerja lagi." ucapnya kecewa.
"Kenapa kamu ingin kerja lagi sayang?" tanya Brian yang tak tega melihat wajah Sheila yang sedih seperti itu.
"Aku hanya ingin kerja keras ku bisa menghasilkan uang ku sendiri." sahut Sheila.
"Kenapa kamu harus bekerja, kan aku juga sudah memberikan black card kepada kamu sayang, masa kamu gak pernah belanja karena aku tidak pernah mendapatkan notifikasi dari kartu tersebut," sahut Brian panjang lebar karena di awal pernikahan mereka Brian memberikan black card limited edition, namun Brian tidak pernah mendapatkan notifikasi dari kartu tersebut sehingga membuat Brian sedikit marah, padahal dia bekerja salah satunya ialah karena sang istri.
"Beda sayang, aku bekerja itu karena hobi aku dan juga sensasi bekerja itu lebih dapet aja." sahutnya panjang lebar sambil membujuk Brian dengan panggilan sayangnya.
"Aku hanya ingin saja," sahut Sheila.
Setelah cukup lama diam karena sehingga menundukkan kepalanya saja dari tadi tidak berani melihat Brian yang sedang marah kepadanya itu.
Sedangkan Brian hanya diam saja setelah Sheila meminta izin untuk bekerja kembali karena dia sangat khawatir akan sheila nantinya apa lagi dia bekerja di restoran yang notabennya akan banyak sekali pembeli bukan.
"Oke, kamu boleh bekerja tadi bukan di restoran," sahut Brian membuat Sheila mengangkat kepalanya dan menatap sang suami bingung karena bukan kah dia bekerja di restoran kalau tidak di restoran terus ke mana lagi.
"Lah kalau aku tidak bekerja di restoran terus aku harus ke mana coba?" tanya Sheila dengan nada bingungnya.
"Mulai sekarang kamu akan aku pindah kerja ke perusahaan aku sayang," sahut Brian dengan santainya.
Yap lebih baik membawa Sheila ke kantornya dari pada harus di restoran bukan dan kalau di kantor Brian lebih bisa mengawasi dan mengontrol kegiatan Sheila.
"Maksudnya?" Sheila masih belum mengerti maksud dari ucapan Brian. (Dasar Sheila loading nih,)
__ADS_1
"Mulai besok kamu bekerja di Ard Company di perusahan aku suami kamu," sahut Brian sambil memegang pipi sang istri.
"Apa kenapa ke sana?" sahut Sheila tak terima.
"Memangnya kenapa?"
"Aku gak mau sayang!" serunya.
"Iya atau tidak, kau tidak maka tidak usah bekerja " perintah Brian dengan cukup tegas membuat Sheila langsung menundukkan kepalanya karena takut akan bentakan sang suami.
Brian yang mengetahui bahwa ucapannya tadi membuat sang istri takut pun segera memeluk erat tubuh mungil Sheila.
"Maafin aku ya, aku itu gak mau kamu kenapa napa sayang." sahut Brian yang masih setia memeluk erat tubuh Sheila.
"Iya, aku tahu kok. Aku juga minta maaf karena gak mau nurut sama kamu," sahut Sheila membalas pelukan sang suami, dia mencoba untuk menahan air matanya agar tidak turun dan tidak menjadi wanita cengeng.
"Terus bagaimana, apa kamu mau menuruti ucapanku?" tanya brian lagi sekarang dengan melepaskan pelukannya dan melihat sang istri. Sheila pun menganggukkan kepalanya setuju dengan keinginan sang suami tersebut bagaimana pun di sana dia akan lebih aman bukan.
"Tapi aku tidak mau semua orang tahu soal kita dulu ya, dan aku mau untuk tempat kerjanya tidak dekat-dekat dengan sama kamu agar semua orang tidak curiga." pinta Sheila membuat Brian diam lagi dasar wanita wanita.
"Oke, akan aku suruh yoga untuk atur yang penting kamu sudah mantap bukan bekerja di Ard Company?" tanyanya lagi memastikan bahwa sang istri sudah mantap.
"Iya." balas singkat Sheila.
"Bagus, kalau begitu lebih baik kita tidur aja ya," ajak Brian dan di angguki oleh Sheila.
Mereka pun mulai memejamkan matanya sambil memeluk satu sama lain, Sheila bersandar di tubuh kekar sang suami yang sangat membuatnya nyaman dan juga sebaliknya dengan Brian yang memeluk erat tubuh mungil sang istri yang juga membuatnya nyaman tersebut.
Sheila tidak menyangka bahwa dia akan bekerja dia Ard Company di mana perusahaan yang di impikan banyak orang dan sebentar lagi dia akan bekerja di sana.
Jika seseorang bisa bekerja di perusahaan besar maka di jamin hidupnya akan baik dan juga akan terpandang di depan teman-teman sekolah atau pun kampusnya.
Bersambung..........
__ADS_1