
Setelah mendengar Tiffany yang keluar Sheila sedikit merasa bersalah karena dia Tiffany harus di pecat dan juga merasakan kehilangan keluarganya di hari di mana ia di pecat.
Setalah itu Sheila pun bekerja seperti biasanya dan brian juga yang harus meninjau beberapa proyek sehingga dia tidak langsung ke kantor namun harus langsung ke lapangan.
Saat jam makan siang pun tiba dan Brian masih saja belum balik ke kantor dan memilih untuk makan di luar saja dengan yoga.
"Sheila, makan siang yuk!" ajak jovanka dan di angguki oleh Sheila.
Mereka bertiga pun segera menuju ke kantin dengan Sheila yang membawa bekal makanan sendiri karena tidak ingin hal kemarin kembali terjadi.
"Kalau gitu aku cari meja dulu ya, kalian ngantri ambil makannya." sahut Sheila.
"Okey, Sheila." jawab Monica.
Kemudian Sheila pun pergi meninggalkan Monica dan juga jovanka yang sedang mengantri untuk mengambil makanan mereka. Banyak karyawan kantor yang melihat ke arah Sheila, ada yang merasa kasihan karena kejadian kemarin, ada pula yang merasa heran dengan lunch box milik Sheila yang harganya sangat fantastis namun Sheila tidak menanggapi hal itu dan memilih untuk duduk saja setelah ia menemukan meja yang kosong.
Tak lama Monica dan jovanka datang dengan nampan makanannya kemudian duduk di samping Sheila yang juga sudah siap dengan makanannya. Mereka pun makan dengan tenang dan sesekali berbincang-bincang, entah mata Monica yah terlalu tajam atau bagaimana dia tak sengaja melihat cincin di jari manis Sheila.
"Sheila, ini apaan?" tanya Monica saat melihat Kilauan cantik dari cincin tersebut di sambut jovanka yang juga melihat ke cincin tersebut.
"I... ini cincin yang aku beli, iya aku beli!" sahut Sheila mencoba mengarang cerita, padahal itu adalah cincin pemberian dari Brian.
"Kok elo taruh di jari manis sih?" tanya Monica lagi.
"Ya gak papa kan, kan juga gak harus udah nikah aja kan yang pakek!" ujar Sheila dan di angguki oleh Monica dan jovanka, mereka berdua pun tidak curiga lagi sama sekali dan melanjutkan makan siangnya. Saat awal kerja Sheila memang melepas cincin tersebut, tetapi Brian malah menyuruh Sheila untuk memakainya akhirnya sekarang dia pun memakainya.
Setelah makan siang mereka pun bekerja seperti biasanya hingga sore hari pun datang dan mereka kembali ke rumah masing masing, sedangkan Brian baru selesai meninjau lokasi proyek sampai sore hari sehingga dia lebih memilih untuk kembali ke mansion saja karena pasti sang istri juga akan segera pulang.
__ADS_1
Benar saja saat Brian masuk di sana sudah ada Sheila yang berada di dapur bersama dengan bi nana tanpa di temani mami. Brian berjalan mendekati dapur di mana di sana Sheila sedang bergulat dengan beberapa bumbu dapur. Saat Brian mendekati Sheila bi Nana tak sengaja melihat hal itu namun langsung di tahan oleh Brian agar bi nana tidak bicara sedikit pun dengan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri, bi Nana pun akhirnya diam dan memilih untuk beranjak dari dapur memberikan ruang untuk tuan muda dan nona mudanya bermesraan.
"Bi Nana, ini adonannya aku diemin sebentar ya." sahut Sheila tak melihat ke arah bi Nana dan membelakangi nya sehingga dia tidak tahu kalau Brian berada di belakangnya.
Dengan cepat Brian pun memeluk erat tubuh sang istri dari belakang membuat Sheila terkejut bukan main atas perbuatan jahil sang suami.
"Aaaa!" pekiknya keras kemudian menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat Brian yang hanya cengar-cengir tanpa dosa.
"Ihh, Brian. Kamu ngagetin aja sih!" sahut Sheila dengan sedikit kesal.
"Hey, panggil apa?" ulang Brian tak terima dia di panggil seperti itu padahal posisi mereka ini sedang mesra mesranya.
"Biarin," ucap Sheila kemudian kembali melakukan kegiatannya kembali dan Brian masih saja memeluk erat tubuh sang suami.
"Sayang, lepasin ih aku mau masak lagi tau!" ujar Sheila sedikit jengah dengan tingkah sang suami.
"Gak mau," akhirnya Sheila pun menyelesaikan masaknya dengan Brian yang terus saja memeluknya dan juga menciumi lehernya dengan lembut.
Saat sedang frustasi Tiffany pun memilih untuk minum minum sambil menghilangkan stres, tadi malam Tiffany harus bermalam di rumah Mario karena dia memang tidak ada tempat tetapi Mario menyuruh Tiffany untuk pergi paginya karena ia takut jika terus membawa Tiffany di rumahnya bisa menghancurkan karirnya yang sudah ia bangun selama ini.
"Aaaa!" pekik Tiffany setelah menghabiskan semua minumannya.
Ternyata di waktu itu pula Maria sedang berada di bar tersebut dan melihat tingkah Tiffany yang sepertinya sedang frustasi, dia tidak tahu apa permasalah dari Tiffany tetapi Maria merasa bahwa wanita tersebut memiliki masalah yang rumit sama sepertinya.
"Hai, boleh gabung?" tanyanya meminta izin, sedangkan Tiffany yang tidak kenal dengan Maria pun hanya cuek bebek saja dan kembali fokus dengan minuman yang baru saja ia pesan lagi tadi.
"Kenalin gue Maria, elo?" tanya Maria.
__ADS_1
"Tiffany," jawab Tiffany singkat.
"Sedang ada masalah?" tanya Maria memberanikan diri, entah keberanian dari mana tetapi dia merasa bahwa masalahnya dengan wanita tersebut hampir sama.
"Apa hubungannya dengan elo!" sahut Tiffany dengan nada tak suka.
"Tidaka ada sih, tapi dari raut wajah elo menjelaskan bahwa eli banyak masalah." sahut Maria.
"Gue baru saja di pecat!' sahut Tiffany entah mengapa dia berani mengutarakan isi hatinya.
"Apa! ya tinggal cari kerjaan lagi aja," sahut Maria dengan entengnya.
"Asal elo tahu, gue kerja di Ard Company. elo tahu bukan apa akibatnya jika gue di keluar kan dari perusahan itu!' ujar Tiffany sedikit kesal.
"Oh, itu masalah berat kalau elo sudah berurusan dengan Ard Company," sahut Maria yang tahu konsekuensi nya.
"Kenapa elo di keluarin?" tanya Maria yang cukup penasaran.
"Semua itu gara-gara karyawan baru yang sok cantik dan juga sok kaya itu," sahut Tiffany marah saat mengingat wajah Sheila.
"Ada apa emangnya?' tanya Maria memancing Tiffany.
"Dia ngedeketin pak Brian, padahal gue udah jauh jauh hari ngincar pak Brian!" sahut Tiffany dengan emosi.
"Elo mau bikin kesepakatan gak sama gue," tawar Maria.
"Maksud elo?" tanya Tiffany tak mengerti dengan ucapan Maria.
__ADS_1
"Gue juga memiliki masalah yang rumit, bahkan rasanya gue ingin membu*nuh orang tersebut!" sahut Maria, dia merasa bahwa wanita tersebut sepetinya bisa di ajak kompromi bukan, Maria bisa membantunya mengatasi masalah nya dan wanita tersebut bisa membantu mengatasi masalahnya, bukan kah itu hubungan timbal balik yang bagus.
"Bagaimana kalau kita berdua kerja sama, elo bantu gue membalas dendam dan gue akan bantu membalas elo balas dendam." tawar Maria lagi membuat Tiffany memicingkan mata nya mendengar tawaran dari Maria.