
Sheila sangat merasa tidak enak hati dengan Maya karena sudah membentaknya tadi, padahal niatnya bukan begitu, Sheila hanya kasihan dengan orang tuanya yang sakit tapi Maya malah bilang kalau mereka hanya pura-pura sakit saja.
Sedangkan Maya setelah meninggalkan Sheila segera pulang ke rumahnya, dia sangat sedih saat Sheila membentaknya tadi tapi dia juga paham bagaimana Sheila.
Dia juga melihat Sheila yang terus saja meneleponnya tetapi selalu di abaikan oleh Maya, dia hanya ingin memberitahukan Sheila bahwa dia perduli dengan sahabatnya itu.
"Maya, dari tadi hp kamu bunyi tuh." ucap mama Jesi mamanya Maya.
"Biarin, ma." ucap Maya dengan cueknya.
"Kok biarin sih, itu lihat Sheila loh dari tadi nelepon kamu." sahut mama Jesi karena kasihan pasti Sheila ada perlu.
Maya mengambil hpnya kemudian mematikan teleponnya agar tidak ada lagi yang meneleponnya membuat Maya tambah uring-uringan aja.
"Kenapa?" tanya mama Jesi menghampiri Maya yang sedang duduk di ruang tamu dan sedang melihat televisi.
"Apanya?" tanya balik Maya dengan sewot.
"Masih ada masalah sama Sheila?" tanya mama Jesi tetap lembut pada anaknya.
"Maya kesel sama Sheila ma, dia itu udah di manfaatin sama orang tuanya malah dia terus saja ngebela mereka! mama udah pernah Maya kasih tahukan kalau Sheila sudah menikah," ucap Maya dan mendapat anggukan dari mama Jesi.
"Terus ya bisa-bisanya mereka minta uang ke Sheila dengan alasan papanya sedang sakit, padahal Maya tahu sendiri kalau papanya itu baik-baik aja, mentang mentang suami Sheila kaya jadi mereka manfaatin, kasihan kan ma!" ucap Maya mengeluarkan semua unek-unek nya.
"Mama tahu kekesalan kamu, tapi kamu juga gak boleh gitu sama Sheila, dia cuma butuh di temani agar dia tidak tersesat lebih dalam lagi sayang, nanti kalau dia malah jauh di manfaatin ya gimana?" sahut mama Jesi, mendengarkan hal itu Maya pun sedikit tidak tega tetapi dia juga ingin agar Sheila merasakan apa yang ia rasakan.
"Biar Maya pikir dulu ma, Maya terlalu capek." sahutnya dan di angguki oleh mamanya.
Sedangkan Sheila yang sudah dari tadi sampai mansion, terus saja menghubungi Maya dan meminta agar Maya tidak marah lagi dengannya tetapi sudah berkali-kali Sheila menghubungi Maya dan tidak ada jawaban, terakhir dia menghubunginya tetapi nada terputus langsung dia dapatkan saat menghubungi lagi ternyata hpnya sudah tidak aktif lagi.
"Aku harus nemuin Maya!" ucap Sheila dengan semangat.
Dia pun beranjak dari kamar dan pergi menuju ke rumah Maya dengan tetap di temani oleh Laura dan di supir oleh Thomas, Sheila tidak bisa lama-lama untuk marahan dengan Maya, apa lagi Maya adalah sahabat satu-satu nya yang ia punya.
__ADS_1
Sampai di rumah Maya, Sheila segera turun dari mobil dan memencet pintu rumah tersebut, saat pintu terbuka menampilkan wanita paruh baya yang tetap saja cantik meski di usianya yang sudah menginjak usia 50 tahunan.
"Eh, Sheila. masuk sayang," ucap mama Jesi mempersilahkan Sheila masuk dan juga Laura juga yang ikut masuk.
"Tante, maya nya ada?" tanya Sheila to the point karena dia tidak melihat sedikit pun wajah Maya di sana.
"Oh, dia sedang ada di kamar sayang, kamu samperin aja gak papa kok," ucap mama Jesi membuat Sheila menganggukkan kepalanya.
Segera Sheila naik ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Maya yang sudah sangat ia hafal di mana letak kamarnya.
TOK TOK TOK
"Maya, ini aku Sheila. Aku buka ya!' pekik Sheila agar Maya mendengarkan nya.
Namun saat akan membuka pintu ternyata pintu tersebut terkunci dan tidak bisa di buka, Maya pasti sangat marah dengannya hingga Maya tak menjawab ucapannya tadi dan juga mengunci pintu kamarnya seperti ini.
"Maya, aku mohon buka ya," sahut Sheila dengan raut wajah sedih dan mencoba menahan air matanya yang sudah jatuh.
"Nona!" ucap Laura saat melihat Sheila yang sudah menangis.
"May, aku minta maaf kalau aku nyakitin hati kamu, aku bukan ada niatan seperti itu tadi, asal kamu tahu saat kamu keluar dari mobil tadi aku langsung takut, takut jika kamu tidak mau temenan lagi sama aku!" ucap Sheila dengan air mata yang sudah tumpah ruah.
Tak lama pintu pun terbuka dan menampakkan Maya yang juga sudah sembab matanya karena menangis.
Sheila segera berhamburan ke pelukan Maya, Maya pun membalas pelukan hangat dari sahabatnya itu, mereka pun saling berpelukan dan menangis bersamaan, Laura yang melihat hal itu juga sangat terharu pasalnya dia pernah memiliki sahabat atau pun teman sejati karena sejak kecil dia sudah berada di keluarga Ardolph sebagai pegawai di sana.
"Maaf!" hanya itu kata yang terucap dari mulut Sheila membuat Maya semakin mengencangkan tangisannya dan pelukannya.
"Maaf, may!" ucap Sheila lagi.
"Seharusnya aku yang minta maaf Sheila," ucap Maya melonggarkan pelukannya dan menatap manik-manik mata Sheila.
Mereka saling menatap satu sama lagi dengan sesenggukan yang di alami karena terus saja menangis.
__ADS_1
"Jangan nangis nanti cantiknya luntur," ucap maya tetap saja sering bercanda di situasi seperti ini.
"Ih, kamu mah." balas Sheila sedikit kesal.
"Maafin aku ya, pasti kamu sakit hati karena tadi," ucap Sheila dengan nada bersalah.
"Enggak kok, kamu gak salah mungkin tadi aku aja yang terlalu ikut campur hingga kayak gitu tadi," ucap Maya mengerti posisinya di mana sekarang.
"Enggak kok, aku yang salah may," ucap Sheila.
"Enggak, aku bisa ngerti kamu kok jadi jangan salahin kamu oke," ucap maya.
Akhirnya mereka bisa saling memaafkan lagi dan berteman lagi karena memang jujur Sheila sangat sayang dengan Maya seperti keluarganya sendiri begitu pun sebaliknya.
"Ya udah, yuk makan siang, kamu dari tadi pasti belum makan siang bukan!" ucap Maya yang memang benar.
Mereka pun sudah ada di meja makan dengan masakan mama Jesi sebagai hidangannya, dan jangan lupa Laura yang juga ikut makan siang karena tadi Laura ingin menunggu saja di luar tetapi sudah di tarik oleh mama Jesi di suruh untuk makan bersama. Sedangkan untuk pak Thomas ternyata berada di tempat scurity depan yang sudah akrab saja dengan penjaga rumah Maya.
Sedangkan Brian di kantor juga tahu kabar Sheila dan Maya sedang ada percekcokan sedikit karena Maya tidak senang dengan Sheila yang terus saja membela keluarganya.
"Astaga, sayang. padahal temen kamu udah bilang ke kamu loh tapi kamu masih aja gak peka," ucap Brian sedikit frustasi dengan sikap sang istri yang terlalu baik.
Brian juga tahu pasal Sheila yang pergi ke rumah temannya Maya untuk minta maaf, itu semua karena Laura yang melaporkan kepada Brian sehingga Brian tahu semuanya kegiatan sang istri padahal dia sendiri juga sibuk dengan mengurus perusahaan dan juga klan mafianya.
.
.
TBC
š„š„š„
Halo readers makasih buat dukungannya ya biar cerita ini semakin berkembang dan baik lagi,, mohon maaf mungkin masih banyak kekurangan dalam penulisan cerita karena memang ini adalah cerita pertama author jadi masih dalam tahap belajar ya, mohon di maklumi.
__ADS_1
Jangan lupa follow akun aku ini setelah itu favoritkan, klik tombol ā¤ļø, vote, like, share dan jangan lupa hadiahnya, aku tunggu ya