Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
BAB 56_Pemilik Restoran


__ADS_3

Sekarang ini Sheila sudah berada di restoran, sebenarnya Brian meminta sang istri agar tidak kerja terlebih dahulu namun Sheila menolak dan kekeh mau bekerja, sehingga Brian pun hanya menuruti saja, memang wanita itu sudah di perhatikan tetapi malah keras kepala.


"Sheila, denger denger ya kalau restoran ini ternyata sudah di jual kepada seseorang yang sangat berpengaruh di negara ini," sahut mbk Ika dengan seriusnya.


"Siapa mbk?" tanya Sheila yang juga penasaran pasalnya siapa orang itu hingga mau membeli restoran tempatnya bekerja padahal ini hanya lah restoran kecil saja tanpa ada yang istimewa.


"Denger denger sih itu loh pewaris Ard Company, Brian Albern Ardolph Presdir tampan itu loh!" sahut mbk Ika antusias seperti lupa kalau dia adalah seorang ibu dan juga istri.


Namun beda halnya dengan Sheila yang mematung di tempat, bagaimana bisa Brian membeli restoran ini, apa kah Brian berhubungan dengan seringnya Sheila absen namun tidak pernah mendapatkan teguran dari pak Bagas.


"Apa! mbk Ika beneran?" tanya Sheila memastikan lagi.


"Iya, tadi Justin tidak sengaja mendengar ucapan pak Bagas di telepon," sahut mbk Ika dengan serius.


Justin adalah salah satu karyawan di restoran juga yang sudah lama bekerja di sini dan juga pangkatnya lebih tinggi dari Sheila yang hanya sebagai pelayan.


Sheila hanya diam saja, namun dari wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu entah apa yang di pikirannya tapi yang pasti Sheila sedang tidak nyaman sekarang.


"Apakah karyawan lainnya tahu kalau aku sudah menikah sama Brian? dan mengapa Brian tidak memberikannya tentang hal itu?" gumam Sheila di dalam hatinya.


"Hey, Sheil. kok malah bengong sih," ucap mbk Ika membuyarkan lamunan Sheila.


"Hehe iya mbk," sahut Sheila hanya dengan cengengesan saja.


"Aduh kapan ya pemilik baru kita akan datang? aku udah gak sabar buat ketemu sama tuan Brian, karena aku hanya pernah bertemu di televisi bahkan secara langsung pun tidak pernah," sahut mbk Ika dengan penuh harapan.


"Astaga mbk Ika, aku malah setiap hari bertemu dengan dia," gumam Sheila lagi dalam hatinya entah dia harus senang atau malah sebaliknya.


"Ya doakan saja mbk, udah ah mending kita kembali bekerja!" sahut Sheila dan di angguki oleh mbk Ika.


Mereka pun kembali bekerja dengan hati yang berbeda, mbk Ika dengan semangatnya sedangkan Sheila dengan kegelisahannya setelah mengetahui bahwa Brian sudah membeli restoran nya.


Sedangkan Brian setelah sampai kantor di sibukkan dengan banyaknya berkas dan juga proposal yang masuk ke Ard Company untuk bekerja sama, karena memang sekarang ini Brian ingin membuka banyak relasi dengan perusahaan perusahaan kecil yang nantinya agar bisa berkembang lebih baik lagi.

__ADS_1


Namun kenyataannya salah, perusahaan perusahaan kecil tersebut sama sekali belum layak di ajak untuk bekerja sama dengan Ard Company mulai dari produknya yang sangat tidak layak hingga struktur organisasi di dalam yang sangat tidak memenuhi syarat hingga Brian bingung harus tetap melanjutkan rencananya atau tidak.


TOK TOK TOK


"Masuk!" tita Brian saat ada yang mengetuk pintunya.


"Ada apa?" sahut Brian saat melihat yoga yang masuk ke dalam ruangannya.


"Begini tuan, Mr. Kevin menanyakan kapan anda akan berangkat ke negara Y?" sahut yoga, sedangkan Brian baru ingat bahwa dia sudah janji akan datang ke sana dalam minggu minggu ini.


"Astaga saya lupa, nanti akan saya kabari karena saya tidak bisa meninggalkan Sheila begitu saja sendirian." sahut Brian yang langsung terpikirkan tentang Sheila.


Sedangkan yoga hanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian dia pun pergi dari ruangan tersebut untuk melanjutkan kerjaannya, sungguh menjadi asisten pribadi dari Brian seorang Presdir di perusahaan terkenal memang menyita waktu luang dari yoga hingga dia sendiri tidak bisa menikmati hidupnya seratus persen.


Namun dia juga senang karena bisa membantu Brian yang juga termasuk sahabatnya karena dari kecil mereka selalu bersama dan dengan Aldo juga dan juga gaji yang cukup tinggi sehingga membuat yoga bertahan.


Sedangkan Brian yang melihat jam sudah menunjukkan jam makan siang pun segera menelepon sang istri untuk mengingatkan agar tidak lupa makan siangnya.


Hp Sheila bergetar saat dia sedang istirahat di ruang karyawan yang menurutnya sangat nyaman ini, ternyata Sheila paham kenapa ruangan ini sangat nyaman hingga ada AC juga di sana, ternyata itu semua sudah di rencanakan oleh Brian agar membuat Sheila nyaman.


[Halo,]


[Halo, sayang. kamu jangan lupa makan siang!]


[Iya, aku ini lagi makan siang kok.] sahut Sheila yang memang sedang makan siang dengan mbk Ika.


[Bagus, kalau nanti butuh apa apa kamu telepon aku aja, oke.]


[Iya, ya udah kalau gitu aku matiin dulu ya.] sahutnya.


[Iya.]


Setelah itu Sheila pun mematikan teleponnya, sedangkan mbk Ika yang melihat gerak gerik mencurigakan dari Sheila pun menatap sinis ke arah Sheila dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Sheila yang melihat tatapan aneh dari mbk Ika.


"Kayaknya ada sesuatu yang enggak beres deh sheil," sahut mbk Ika.


"A...Apaan?" tanya Sheila dengan gugup.


"Kamu udah ada pacar ya?" sahut mbk Ika dengan terus menelisik.


"Ih, apaan sih mbk Ika ini." sahut Sheila mencoba mengelak, kan memang benar dia tidak punya pacar yang ada kan suami, hehehe.


"Ya kirain Sheil," sahut mbk Ika.


"Lagian ya, kamu itu cantik, pinter dan baik lagi. Kurang apa lagi coba!"lanjut mbk Ika.


"mbk Ika bisa aja sih," ujar Sheila sedikit malu dengan ucapan rekan kerjanya itu.


"hehe, btw ya sheil kenapa kamu gak kerja di perusahan besar aja sih, kamu kan sudah lulus dengan lulusan terbaik lagi, kan pasti banyak perusahaan besar yang ingin menerima lamaran kerja kamu, coba ke Ard Company aja di sana kan banyak lulusan terbaik semua universitas pasti kamu juga akan di terima deh, kalau kalau kamu bisa ketemu sama presdir nya bahkan nikah pasti akan heboh deh!" sahut mbk Ika dengan nada bercandanya, namun lain halnya dengan Sheila yang menganggap hal itu adalah sebagai sesuatu yang benar adanya.


"Eng.... enggak ah mbk, aku mau kerja di sini aja," sahut Sheila.


"Udah mbk, mending kita makan lagi aja," sahut Sheila mengalihkan pembicaraan mereka dan melanjutkan makan siang yang bentar lagi akan habis waktunya.


Sheila sebenarnya tadi ingin sekali bertanya soal Brian yang membeli restoran tempatnya bekerja, namun ia urungkan karena ada mbk Ika di sampingnya membuat Sheila tidak enak karena mbk Ika tidak tahu akan pernikahan nya dengan brian.


Jika mbk Ika tahu maka akan heboh sekali bukan, belum tahu aja udah di jodoh jodohin apa lagi kalau udah tahu pasti mulut lemesnya tidak akan berhenti berucap atau pun menggodanya dan Sheila juga belum siap akan hal itu.


"Mending nanti aja di rumah lah tanyanya," gumam Sheila di dalam hatinya.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2