
Brian sudah berangkat ke markas setelah sarapan tadi karena Aldo meneleponnya tadi, sedangkan Sheila sudah berada di ruang tamu dengan mami Salma karena papi Boni ikut dengan Brian ke markas yang sayangnya Sheila tidak tahu akan hal itu.
"Sayang, temen kamu jadi dateng?" tanya mami Salma dan mendapat anggukan dari Sheila.
"Jadi, mi." balasnya.
Mami Salma memang tadi sudah menyisakan makanan yang ia buat banyak untuk Maya, sedangkan di sisi lain Maya bersiap-siap untuk menjenguk sahabatnya itu dan juga sebagai temu kangen karena setelah wisuda kemarin mereka tidak bertemu lagi dna jarang sekali kontak an karena kesibukan masing-masing.
"Cantik, oke Sheila aku datang!" ucapnya dengan lantang karena sudah sangat kangen dengan sahabatnya itu dan juga dia sangat penasaran pria dan keluarga seperti apa sih yang menjadi suaminya apa kah benar tuan Steven pengusaha terkenal itu, tapi Maya mencoba berpikir positif saja meski pun ia Sheila menikah dengan tuan Steven karena pernikahan mereka juga karena Maria dan juga keluarga aneh itu.
Segera Maya menepis pikiran buruknya dan berjalan menuju ke tempat yang sudah Sheila share kemarin malam sebelum tidur, Maya belum tersadar akan alamat tersebut karena ia terburu-buru.
Sampai di sebuah perumahan elit Maya tak henti-hentinya berdecak kagum dengan desain interior Yanga ada, bagaimana bisa ada rumah semewah ini namun ia sadar bahwa ia akan ke rumah Sheila, dia pun mengecek kembali alamat yang di berikan Sheila kepadanya dan ternyata benar tidak ada yang salah.
"Mbk rumahnya bener di sini." tanya ojek online yang Maya pesan tadi.
"Iya, pak. nih lihat aja di alamat yang di kirim," ucap Maya sambil memperlihatkan alamat yang di kirim oleh Sheila. pak ojek pun melihat dengan seksama alamat yang di kirimkan tersebut.
"Bener juga ya, ini pertama kalinya saya masuk loh mbk jadi deg degan nih. Kalau nganter nya ke sini gak usah di bayar juga gak papa mbk," sahut pak ojek tersebut karena seperti mendapatkan hadiah besar.
Setelah mendapat izin untuk masuk ke dalam perumahan dengan berani Maya pun melangkah masuk lebih ke perumahan tersebut dengan pak ojek tersebut, siapa sih yang tidak tahu dengan perumahan elit yang hanya di huni oleh orang orang berduit dan setahu Maya kebanyakan yang tinggal di sini adalah keluarga Ardolph yaitu keluarga yang sangat berpengaruh di negara ini.
"Apakah benar ini ya perumahan rumah Sheila?" gumam Maya dalam hati bertanya kepada dirinya sendiri karena seperti tidak percaya namun saat ia mengingat tuan Steven dia pun berfikir kalau berita di luaran sana memang benar adanya.
Maya mencari nomor rumah yang di berikan oleh Sheila dan mereka sampai di salah satu atau satu satunya rumah paling mewah dan besar dan itu sesuai dengan alamat yang di kirimkan oleh Sheila.
"Mbk beneran ini?" tanya ojeknya lagi dengan takut dan tidak percaya.
Iya, tadi kan udah saya kasih lihat alamatnya." sahut Maya, kemudian dia pun turun dari motor tersebut dan memberikan uang kepada pak ojek tersebut.
"Terima kasih mbk, kalau begitu saya permisi." ucap pak ojek tersebut kemudian meninggalkan Maya.
__ADS_1
Maya pun berjalan menuju ke gerbang besar nan tinggi itu, gerbang termegah dari yang lainnya, dengan takut Maya pun memencet bel yang terpasang di sana dan tak lama ada scurity yang membukakan pintu besar tersebut, Maya melihat sekilas di dalam sangat luas megah dan juga mewah siapa pun pasti akan betah tinggal di sini apa lagi Maya.
"Maaf mbk, ada keperluan apa ya?" tanya scurity tersebut.
"Maaf pak, saya mencari orang yang bernama Sheila, apakah ada? Saya di kasih alamatnya di sini," sahut Maya dengan ragu.
"Oh, pasti mbk nya mbk Maya ya?" tanya scurity tersebut.
"I... Iya, pak." sahut Maya dengan gugup karena scurity tersebut mengenalinya.
"Mari mbk, mbk nya sudah di tunggu oleh dalam," sahut scurity tersebut.
Maya pun mengikuti langkah scurity tersebut menuju ke pintu rumah mewah yang bahkan harganya jika di jual bisa seharga mobil mewah, dasar orang kayak hanya berupa pintu saja sampai mahal sekali.
Scurity tersebut pun sampai di pintu mewah tersebut kemudian mengetuknya dan menampakkan bi Nana yang membukakan pintu tersebut.
"Bi, ini tamu nona muda." sahut scurity tersebut membuat Maya membulatkan matanya karena mendengar kata nona muda.
"Mbk, silahkan duduk. Saya panggilkan nona muda sebentar," sahut bi Nana kemudian meninggalkan Maya yang sudah duduk di sana.
Sedangkan Sheila dan mami salam yang tadi di ruang tamu sudah berada di ruang keluarga sambil nyemil kue kering yang sudah mami Salma buat kemarin untuk nya karena tahu Sheila keluar dari rumah sakit.
"Permisi nyonya, nona muda." panggil bi Nana.
"Iya, bi. Ada apa?" tanya mami Salma.
"Ini ada tamu nona muda sudah datang, sekarang ada di ruang tamu," ucap bi Nana memberitahukan kepada nona mudanya.
"Sudah datang? Maya datang! Mi Sheila ke ruang tamu dulu ya," pamit Sheila dan mendapat anggukan dari mami Salma.
Segera Sheila menuju ke ruang tamu yang jaraknya memang tidak terlalu jauh, dia sangat senang akhirnya Maya bisa berkunjung ke rumahnya.
__ADS_1
"Sayang, jangan lari!" pekik mami Salma melihat sang menantu yang berlari menuju ke ruang tamu, sedangkan Sheila yang mendapat perlakuan teguran dari mami Salma pun memperlambat larinya menjadi jalan.
"Maya!" pekik Sheila antusias saat melihat tubuh sahabatnya itu.
"Sheila!" balas Maya tak kalah antusias nya dengan Sheila, Maya pun berdiri dan menyambut uluran tangan Sheila untuk memeluknya.
"Astaga Maya, aku kangen banget sama alami." sahut Sheila.
"Aku juga, Sheila. Kamu gak pernah kabarin aku," sahut Maya sedikit merajuk kepada Sheila.
"Maaf, ya may. Aku sedang kerja dan kamu sendiri kalau aku ini udah nikah kan," sahut Sheila merasa tidak enak hati.
"Iya, gak papa kok. Kamu tenang aja Sheila," balas Maya kembali memeluk erat sahabatnya itu.
Setelah melepas rasa kangen kangenan nya mereka pun duduk di sofa yang ada sambil bertanya keadaan masing-masing.
"Kamu gimana may keadaannya?" tanya Sheila melihat sahabatnya itu sepertinya baik baik saja.
"Bisa kamu lihat aku baik baik aja kok, seharusnya yang tanya kayak gitu itu aku ke kamu, katanya kamu habis sakit ya?" tanya Maya.
"Iya, aku habis keracunan may. Tapi untungnya gak parah dan sekarang sudah mendingan," sahut Sheila.
"Syukur kalau begitu." jawab Maya merasa lega.
"Rumah kamu besar banget Sheil," sahut Maya melihat desain interior dari rumah megah Sheila.
"Ini bukan rumah aku, ini rumah mertua dan juga suami aku Maya!" sahut Sheila karena memang ini bukan rumahnya melainkan rumah mami Salma, papi Boni dan juga Brian bukan.
"Iya, sama aja kali Sheil." sahut Maya sedangkan Sheila hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sahabatnya itu.
Bersambung..........
__ADS_1