
Saat Sheila selesai menidurkan Tian di kamarnya segera keluar dari sana dan kembali ke ruang tamu di mana masih ada mami Salma dan papi Boni, dan dari tangga Brian pun turun dengan keadaan yang lebih segar dan lebih kasual dengan pakaian rumahan membuat penampilannya semakin menawan saja nih orang.
"Udah selesai, sayang?" tanya mami Salma saat Sheila baru saja duduk di tempatnya semula.
"Iya mi, sudah tadi Bu Natali juga Sheila suruh di sana saja temani Tian," ucap Sheila dan di angguki oleh mami salma.
Tak lama pun Brian bergabung dengan duduk di samping sang istri sehingga posisi sekarang Sheila berada di tengah antara mami Salma dan juga Brian.
"Loh Bu Natali sama Tian kemana?" tanya Brian sambil menelusup kan kepalanya di cekungan leher sang istri yang menurutnya sangat harus sekali.
"Mereka sudah berada di kamar, tadi Tian tidur soalnya," sahut mami Salma menjawab pertanyaan Brian, namun Brian hanya terus menelusup kan wajahnya di leher sang istri.
"Sayang, jangan dini dong malu tahu ada mami sama papi," ucap Sheila sedikit risih dengan Brian yang terus saja menggodanya pasalnya Sheila sangat malu karena ada mami Salma dan juga papi Boni yang menyaksikan kelakuan mereka.
Sedangkan mami salma dan papi Boni hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan Brian yang terus saja manja dengan sang istri, dari luar saja kelihatan garang dan kejam tapi kalau udah urusannya dengan wanitanya maka Brian termasuk pria yang bodoh apa lagi di depan Sheila.
"Dasar anak muda," kritik mami Salma.
"Sudah lah mi, biarin aja sapa tahu nanti bakalan ada Brian junior iya kan," sahut papi Boni menggoda pasangan tersebut.
"Nah papi bener banget tuh mi," sahut Brian yang langsung membuat Sheila membelalakkan matanya tak percaya dengan ucapan sang suami yang sangat terus terang sekali.
"Ihhh," ucap Sheila seraya mendorong tubuh Brian agar menjauh dari nya.
"Ada apa sih sayang?" gerutu Brian saat Sheila mendorongnya.
Sheila tidak menjawab tetapi langsung duduk di samping maminya sehingga sekarang mami Salma berada di Kungkungan anak dan menantunya.
"Sudah sudah, Brian jangan ganggu menantu mami!" sahut mami Salma dengan sedikit nada mengancam namun hanya sebagai bercandaan saja dan benar saja Brian mulai diam dan tidak menggangu Sheila lagi.
"Awas saja nanti di kamar," ancam Brian dengan serius nya sedangkan Sheila sedikit ketar ketir, apa kah dia akan berakhir dengan tidak bisa berjalan lagi besok.
Dan benar saja pada malam harinya Sheila Barus aja keluar dari kamar mandi dengan baju tidurnya, yang sialnya baju tersebut sangat minim dengan kain, sedangkan Brian sudah berada di pintu kamar mandi sambil menatap intens wajah Sheila yang sangat cantik itu dan membuat nya tergoda, gak papa kan suami istri.
Sedangkan Sheila yang di tatap hanya diam dan merasa sangat malu sekali dan juga sedikit takut dengan tatapan Brian.
__ADS_1
"Ada apa an sih sayang?" tanya Sheila sedikit menghindar dari tatapan tersebut.
Namun baru saja melangkah beberapa langkah, tangan Sheila sudah merasakan sebuah tarikan yang membuatnya harus mundur ya Brian menarik tangan Sheila hingga sang empunya bersandar sempurna di dinding dekat dengan pintu kamar mandi.
"Sa... sayang! kamu mau ngapain?" sahut Sheila sedikit terbata-bata.
Namun Brian hanya diam dan terus memandangi Sheila saja dari tadi dengan wajah mereka yang sepertinya akan menempel satu sama lain bahkan Sheila bisa merasakan deru nafas dari Brian dan begitu pun sebaliknya.
"Kenapa pakai baju kayak gitu? jangan salahkan aku jika tidak bisa mengendalikan untuk tidak menerkam mu malam ini," ucap Brian dengan suara berat menahan gejolak yang sedari tadi ia rasakan.
"Emangnya kenapa dengan pakaian ku?" tanya Sheila dengan nada terbata-bata.
"Kau sangat menggoda iman ku Sheila," ucap Brian kemudian segera menyambar bibir tipis nan menggoda milik Sheila, sedangkan Sheila yang awalnya menolak lama kelamaan pun luluh dan membalas ciuman dari Brian.
Hingga malam yang di janjikan pun terlaksana, bahkan bukan Brian namanya kalau tidak melakukannya beberapa kali hingga membuat Sheila kelelahan karena hasrat dari Brian yang terus saja menghujaninya dengan cinta, Sheila sudah tidak bisa apa-apa lagi hingga Brian melepaskan hasrat terakhirnya dan ambruk di samping Sheila yang juga sudah sangat lelah dengan nafas yang tersengal-sengal.
Semua benihnya dia keluarkan di dalam dan berharap akan segera hadirnya Brian junior di sana.
"Terima kasih, sayang." sahut Brian sambil mencium kening Sheila yang sudah tertidur pulas di dalam pelukannya.
Pagi harinya Sheila bangun karena merasakan tubuhnya berat, dia pun segera membuka matanya dan melihat ada tangan kekar yang melingkar di tubuhnya dengan dia membelakangi tubuh tersebut.
Sheila pun segera membalikkan badannya dan melihat wajah sang suami yang sangat tampan bahkan dengan masih menutup matanya.
"Sudah puas menatap suami mu yang tampan ini?" tanya Brian dengan suara seraknya dan juga dengan mata yang masih saja tertutup mendengarkan hal itu Sheila pun hanya bisa terkekeh.
"Iya, suami ku ini sangat tampan sekali," ujar Sheila sambil mengelus pipi Brian membuat Brian pun membuka matanya dan melihat Sheila dengan tatapan tajamnya.
"Udah bangun?" tanya Brian dan mendapatkan anggukan dari Sheila.
"Mau kemana?" tanya Brian lagi saat melihat Sheila akan beranjak dari tempat tidurnya.
"Mau mandi," sahut Sheila.
Namun saat akan berdiri lagi lagi dia merasakan sakit di area bawahnya padahal ini sudah ke sekian kalinya dia berhubungan dengan sang suami tapi tetap saja sakit di area bawah.
__ADS_1
"Aww." jeritnya saat mencoba untuk berdiri.
"Kan udah aku bilang mending aku gendong aja," sahut Brian kemudian bangkit dari tidurnya dan berjalan menghampiri Sheila dengan Brian yang sudah tertutup bathrobe nya.
Sheila hanya pasrah saja dan melingkarkan tangannya saat Brian sudah mengangkatnya dengan gaya bridal style.
"Kamu udah sering aku gauli tapi tetap saja masih sempit sayang, aku suka rasanya kayak berhubungan sama perawan," bisik Brian saat mengendong sang istri yang tak tertutupi apapun di tubuhnya sehingga dia sana tercetak jelas maha karya dari Brian.
"Ih kamu apa apaan sih," seru Sheila malu dengan ucapan sang suami.
Sedangkan Brian hanya tersenyum simpul sambil berkata kembali tentang maha karya nya.
"Dan juga ini sayang bagus bukan maha karya ku?" ucap Brian.
"Bagus apanya yang ada nanti aku malu ketemu mami sama papi," protes Sheila dan mendapatkan tawa dari Brian.
Sampai di kamar mandi Sheila segera duduk namun Brian tak lekas keluar dari kamar mandi membuat Sheila curiga bukan main.
"Udah sana keluar kok malah di sini sih," sahut Sheila.
"Mandi bareng aja ya," pinta Brian.
"Enggak!" pekik Sheila menolak untuk mandi bersama karena akan membuat dia semakin lama dalam kamar mandi.
Namun Brian tetap lah Brian yang tidak bisa terkalahkan, dengan terpaksa Sheila pun menuruti saja keinginan dari Brian untuk mandi bersama, tapi untungnya itu hanya mandi bersama tanpa ada kegiatan kegiatan yang lainnya yang akan menguras tenaganya setelah di gempur satu malam kemarin.
.
.
TBC
Hai readers sekalian maaf untuk telat upload nya karena kesibukan author yang sedang berjuang dalam tugas akhir, tolong doakan ya semoga segera selesai dan segera mendapatkan gelar sarjananya😊😊🥰🥰
Salam author 🥰🥰
__ADS_1