Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
Satu Syarat


__ADS_3

Setelah pak Chris pergi pun Sheila memulai makan siang ronde ke dua nya dengan senang tanpa ia tahu bahwa semua gerak geriknya dari tadi sudah di awasi oleh Brian di ruang sebelahnya.


Sheila tadi sudah melihat kamar nya tapi ada salah satu ruangan yang terkunci sehingga Sheila tidak bisa masuk dan itu adalah ruangan kerja Brian yang bisa terhubung langsung ke kamarnya, Brian memang sengaja menguncinya dari agar sang istri tidak bisa masuk dan melihatnya di sana.


Sheila makan dengan lahap bahkan ronde ke dua pun selesai dengan cepat, dia rasanya sangat kenyang sekali setelah melakukan dua ronde makan siangnya dan juga sang baby di dalam juga seperti nya sangat merasa senang karena maminya lahap sekali dalam makan.


"Kamu seneng banget ya lihat mami makan tadi?" daya Sheila dan mendapatkan tendangan kecil dari sang janin membuat Sheila sedikit meringis karena tendangan tak terduga dari sang baby.


"Aww! Sayang kamu nendang mami!" ucap Sheila senang bukan main.


Sedangkan Brian yang mendengar bahwa sang baby di dalam menendang perut sang istri merasa ikut senang namun dia rasanya ingin menemani sang istri dalam kondisi seperti ini.


Setelah menyelesaikan acara makan siangnya Sheila menuju ke arah balkon lagi dan pikirannya kembali berkecamuk di dalam hatinya, mengingat sang suami juga belum menemuinya sama sekali dari tadi, Sheila tidak bisa langsung memaafkan Brian karena kebohongan besar ini dan juga Sheila takut jika berhubungan dengan dunia mafia yang terkenal sangat lah kejam sehingga Sheila takut bertemu Brian.


Melihat dia se sebuah hutan belantara membuat nyali Sheila untuk kabur sangat kecil karena bagaimana pun jika dia kabur dan tertangkap maka Sheila yang akan menjadi korbannya dan juga anak yang sedang ia kandung sekarang.


"Sayang, mami takut." gumam Sheila sambil mengelus perut nya saat duduk di balkon kamarnya yang cukup luas.


Ucapan Sheila tadi juga tak luput dari pendengaran Brian yang merasa bersalah karena membuat sang istri menjadi takut, tetapi itu semua ia lakukan agar istrinya tidak gegabah dalam mengambil tindakan seperti tadi yang ingin langsung pergi tanpa memikirkan janin yang sedang ia kandung dan juga sang suami.


"Enggak Sheila, Kamu gak boleh takut kamu harus kuat untuk anak kamu!" semangat Sheila kepada dirinya sendiri.


Sheila pun terus duduk di balkon kamarnya melihat pemandangan hutan sekitar meski pun dia lebih banyak melamun dari pada menikmati pemandangan tersebut.


Tiba tiba pintu nya di ketuk lagi membuat Sheila terkejut karena dai dari tadi asyik melamun, dia pun segera menuju ke dalam dan melihat pak Chris yang kembali lagi ke kamarnya entah untuk apa.


"Nona, ini ada buah buahan untuk menemani sore anda sebelum tuan muda kembali." sahut pak Chris kemudian pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Sheila.


Di sana pak Chris tadi membawakan buah anggur kesukaannya dan juga apel, pak Chris memang tahu saja kalau Sheila pecinta anggur dan apel sehingga buah buahan tersebut tak di sia-sia kan oleh Sheila dan segera memakannya, rasanya tenggorokannya segar sekali.

__ADS_1


Tanpa Sheila tahu bahwa yang menyuruh pak Chris untuk membawakannya adalah Brian yang terus saja bekerja di ruangan kerjanya dan juga mengamati tingkah sang istri.


"Awww! Sayang kamu sekarang kok seneng banget sih nendang nendang mami hm?" sahut Sheila karena sekarang baby nya sangat aktif di dalam perut.


Sheila rasanya bersyukur karena setelah kejadian kemarin baby-nya masih kuat dan bisa bertahan di sana, awalnya Sheila sudah merasa pesimis dengan kandungan nya namun ternyata baby-nya malah lebih kuat dari dugaannya.


Sore hari menjelang Sheila sudah mandi dan juga sudah cantik dengan baju casual nya, Brian pun masuk ke dalam kamar dengan kemeja yang menggantung di tangannya.


Melihat Brian masuk Sheila tiba-tiba terkejut hingga dia memundurkan langkahnya seperti menjaga jarak dengan Brian, Brian tahu kalau istrinya itu menjaga jarak dengannya namun Brian harus tetap mendekati Sheila dan menjelaskan semuanya kepada sang istri agar dia tidak terus terusan merasa canggung seperti ini dengan sang istri.


"Sayang," panggil Brian mendekat ke arah Sheila.


Sheila tak mendengar kan Brian memanggilnya karena dia di kabuti rasa takut dalam hatinya, entah mengapa sekarang ini setiap Sheila melihat Brian rasanya dia seperti melihat seseorang dengan perawakan tajam, tegas dan dingin yang bisa meremukkan tulang tulangnya.


"Sayang!" panggil Brian lagi sedikit keras membuat Sheila tersentak kaget.


Sheila dengan patuh menuruti ucapan sang suami, Brian awalnya sedikit terkejut karena ia mengira kalau sang istri akan menolaknya namun anehnya Sheila malah menuruti ucapannya dan duduk di sampingnya dengan sedikit jauh.


"Sayang, lihat aku. Aku di sini mau ngomong sama kamu," jeda Brian memegang tangan sang istri dengan lembut.


"Sayang, aku mau mengaku sama kamu. Sebenarnya aku adalah seorang mafia, aku bukan berniat untuk membohongi kamu hanya saja aku merasa bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan yang berbahaya jadi aku tidak bisa memberitahukannya kepada kamu, aku memang sering membunuh orang tetapi itu hanya kepada orang yang memang bersalah." sahut Brian.


"Kalau orang bersalah tinggal kamu laporin aja ke polisi kenapa harus membunuh Brian," ucap Sheila dengan air mata yang turun membasahi pipinya lagi.


"Sayang, semuanya gak segampang yang kamu pikirkan banyak hal yang harus dipertimbangkan," ucap Brian.


"Aku ingin bertemu sama mama sama papa," ucap Sheila seperti tidak ingin mendengarkan ucapan sang suami, sekarang ini lebih baik dia menenangkan hatinya dengan berada di dekat orang tuanya.


"Iya, besok biar aku suruh mereka datang ya." sahut Brian.

__ADS_1


Sheila mencoba untuk menerima sang suami apa adanya karena sekarang ini dia tidak sendirian ada buah hati dalam perutnya yang juga pasti menginginkan seorang ayah, Sheila tidak boleh egois dengan memikirkan perasaannya meski pun perasaannya sendiri tersakiti dengan kebohongan besar yang di lakukan oleh sang suami.


"Sekarang kami sudah maafin aku?" tanya Brian lagi.


"Aku akan maafin kamu tapi dengan satu syarat," jeda Sheila.


"Apa?"


"Kamu berhenti nya dari pekerjaan kamu," tutur Sheila membuat Brian membulatkan matanya karena dia tidak bisa untuk mewujudkan keinginan sang istri kali ini karena banyak orang bergantung padahal dan juga dia sudah lama mengelola dunia mafia tersebut.


"Sayang, aku rasa itu akan sulit!" sahut Brian mencoba untuk mencari cara agar sang istri memaafkannya tetapi tidak menyuruhnya untuk berhenti.


"Kenapa?" sekarang Sheila yang bertanya.


"Ini adalah klan yang sudah papi turun temurun kan kepada aku sayang dan juga di sana banyak orang yang bergantung kepada keluarga Ardolph," sahut Brian.


"Tapi aku tidak mau kamu membunuh lagi," ucap Sheila mengingat bagaimana keberingasan Brian saat memegang pistol membuat Sheila ngeri.


"Sayang, aku akan membunuh jika itu dalam kondisi berbahaya saya dan tidak akan pernah membunuh orang yang tidak bersalah," sahut Brian.


Sheila pun pasrah karena sekeras apa pun dia mencoba untuk menyadarkan sang suami, pada akhirnya dia akan kalah juga dan sang suami akan menang jika adu argumen seperti ini dan juga Sheila tidak pada kondisi untuk berdebat.


Sekarang ini menerima nasib dan keputusan adalah jalan yang terbaik dari pada harus debat dan juga menyesalinya karena bagaimana pun sekarang Brian adalah suaminya bukan jadi bagaimana pun kondisinya Sheila harus menerimanya dengan lapang dada.


.


.


Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2