Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
BAB 48_Dimanfaatkan


__ADS_3

"Sheila!" panggil seseorang membuat Sheila menolehkan kepalanya dan ternyata itu adalah Maria.


"Kak Maria," sahut Sheila sedikit terkejut dengan adanya Maria di sana.


"Gue mau bicara sama elo," sahut Maria seketika duduk di kursi depan Sheila dan di sebelah Maya.


"Ada apa kak?" tanya Sheila dengan wajah bingung, pasalnya kakaknya tidak pernah menghampiri nya sama sekali dari dulu.


Sedangkan Maya yang melihat adanya Maria sudah sangat enek hanya melihatnya saja, pasti wanita ini memiliki rencana yang tidak baik dengan Sheila begitulah perasaan Maya, dengan berat hati Maya hanya diam karena mendapat tatapan tajam dari Sheila saat Maya akan mencela ucapan mereka.


"Papa sakit, sekarang masuk rumah sakit!" sahut Maria.


Maria memang tahu apa kelemahan dari Sheila, yaitu soal orang tuanya sehingga Maria memanfaatkan kelemahan Sheila tersebut untuk menarik banyak uang darinya padahal papa sama sekali enggak sakit dan itu hanya akal akalan dari keluarga mereka saja.


"Apa! sakit apa kak?" tanya Sheila dengan khawatir karena memang dulu sebelum Sheila menikah papa memang sering sakit-sakitan kata dokter papa memiliki riwayat asma sehingga sekarang Sheila dengan mudahnya percaya saja.


"Asma papa kambuh," jawab Maria, tapi dia masih saja sangat santai padahal orang tua mereka sedang terbaring di rumah sakit.


Maya pun menaruh curiga dengan Maria karena gelagatnya yang sangat santai padahal.


"Katanya papanya sedang berada di rumah sakit, tapi dia bela-belain datang jauh-jauh ke sini hanya ingin memberitahukan hal itu kepada Sheila kenapa enggak di telepon aja sih!" gumam Maya dalam hatinya.


"Apakah parah kak?" tanya Sheila khawatir karena bagaimana pun sikap mereka, mereka tetap saja menjadi orang tuanya yang sudah mengurus Sheila dari kecil.


"Mending kamu ikut aja buruan!" ucap Maria dengan berdiri dan menarik tangan Sheila hingga Sheila merasa selidiki sakit pada pergelangan tangannya.


"Maria, jangan asal tarik tarik dong." pekik Maya melihat Sheila kesakitan.


"Maya, aku gak papa kok." jawabnya.


"Enggak, Sheila. gue ikut dan elo Maria sana berangkat sendiri aja!" ucap Maya kemudian mengambil alih tangan Sheila dengan lembut di ikuti oleh Laura menuju ke mobilnya.


Sedangkan Maria di buat kesal pasalnya dia emang sengaja tidak bawa mobil agar bisa duduk di mobil mewah Sheila tapi ternyata sekarang malah dia harus mengeluarkan uang buat bayar taksi.


"Gila tuh anak, beraninya sama gue. padahal gue kan lebih dua darinya, awas aja elo Sheila dan semua yang ada di dekat elo bakalan hancur!" ucap Maria dengan kesal kemudian pergi menuju ke rumah sakit.

__ADS_1


"Nona, tuan muda menelepon saya katanya nona tidak mengangkat telepon dari beliau," ucap Laura membuat Sheila menepuk keningnya karena telepon nya dia mode diam sehingga tidak mendengarkan ada telepon masuk.


Benar saja saat Sheila lihat ternyata Brian sudah meneleponnya banyak sekali hampir sepuluh kali tetapi Sheila abaikan, dengan tidak enak hati Sheila pun menelepon balik ke not tersebut namun belum juga menekan tombol telepon ternyata Brian lebih cepat meneleponnya terlebih dahulu.


[Halo,] ucap Sheila saat sudah menerima teleponnya.


[Dari mana saja? kenapa dari tadi aku telepon tidak di angkat?] Brian terus membombardir Sheila dengan pertanyaan.


[Maaf, tadi aku mode diam jadi tidak kedengaran. Ada apa?] ucap Sheila.


[Sekarang di mana?] tanya Brian dia sebrang sana padahal ia tahu sekarang Sheila mau kemana dan kenapa itu karena Laura terus saja memberikan kabar Sheila sehingga Brian tahu semua kejadian di cafe tadi.


[Aku mau ke rumah sakit,]


[Mengapa? Apakah kamu sakit?] tanya Brian.


[Papa aku masuk rumah sakit karena asmanya, boleh kan aku ke sana?] tanya Sheila.


[Oke, tapi tetap di dekat hp jangan tinggalkan hpnya. oke!] sahut Brian.


Kemudian telepon pun tertutup dengan Sheila yang merasa sangat senang karena Brian mengizinkannya untuk bertemu dengan papanya.


"*Cuiihhh, licik sekali kalian bisa-bisanya mengelabuhi istri cantik ku, kita tunggu saja nanti aku pastikan kalian semuanya akan hancur!" gumam Brian penuh penekanan.


Dia tahu semuanya soal keluarga angkasa yang berpura-pura sakit karena ingin memanfaatkan Sheila yang begitu polos sehingga gampang untuk di kelabui*, karena uang persediaan mereka sudah habis padahal dulu Brian memberikan banyak sekali mahar pernikahan, dasar kalau memang dasarnya tamak ya seperti itu.


Sampai di rumah sakit Sheila segera mencari kamar tempat papanya di rawat di sana sudah ada Maria yang juga baru sampai dan ada Ketty yang sok sok an memasang wajah sedihnya.


"Astaga drama sekali," gumam Maya dalam hatinya.


"Papa! papa gak apa apa kan? papa kenapa?" tanya Sheila menghampiri papanya.


"Papa kamu sakit dia butuh banyak biaya, kita sudah tidak sanggup untuk membiayai papa kamu." ucap Ketty to the point tanpa adanya basa basi sekedar menanyakan keadaan Sheila.


"Terus bagaimana ma? Sheila juga gak ada yang buat pengobatan papa," ucap Sheila cukup sedih karena tidak bisa membantu.

__ADS_1


Mendengarkan hal itu membuat Ketty marah karena dia memanggil Sheila itu untuk memanfaatkannya bukan malah kembali bertanya bagiamana.


"Ya kamu minta suami kamu lah, kan dia kaya!" ucap Ketty dengan pekikan tajam.


"Tapi, ma. Sheila memang menikah dengan dia tetapi Sheila tidak berhak atas uangnya ma," sahut Sheila.


"Bagaimana pun caranya, besok siang kamu harus dapat uangnya kalau enggak papamu gak akan selamat, mau kamu kehilangan papa," ucap Ketty lagi menakuti Sheila.


"Sheila akan usahain ma, kalau gitu Sheila keluar dulu nanti Sheila balik lagi." ucapnya.


"Kamu ke sini kalau udah bawa uang aja, mama gak mau lihat kamu dengan tangan kosong saat ke sini!" ujar Ketty dengan sinis nya dan juga Maria yang merasa puas melihat Sheila sangat sedih seperti itu.


Sedangkan Maya dan Laura melihat semua kejadian tersebut, rasanya kasihan sekali jadi Sheila harus bekerja keras padahal dia sering sekali di perlakuan seperti itu.


"Nona, sekarang kita ke mana?" tanya Thomas saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Kita pulang aja," sahutnya.


"Sheila, aku mohon jangan mudah percaya sama mereka, kamu cuma dimanfaatkan saja sama mereka," sahut Maya yang memang ikut masuk ke dalam.


"Kamu kenapa sih may? mereka itu keluarga aku, apa lagi sekarang papa lagi sakit tapi kamu malah bilang kayak gitu." bentak Sheila.


Maya yang merasa mendapat bentakan pun terdiam dan tak lagi berbicara, dia tidak marah dengan Sheila karena mungkin pikirannya kalut tetapi dia marah dengan dirinya sendiri yang berbicara tanpa lihat situasi tetapi Maya melakukan itu karena dia sangat kesal dengan Sheila yang tidak sadar terus sudah di perlakukan seperti itu.


"Pak, berhenti di depan ya!" ucap Maya, dia hanya ingin Sheila agar sadar saja.


"Maya, maaf, may." ucap Sheila meminta maaf karena dia tahu pasti perkataannya tadi menyakiti hati sahabatnya itu.


Tanpa membalas perkataan Sheila, Maya langsung turun saat mobil sudah berhenti, Sheila juga ikut turun tapi Maya sudah melaju dengan taksi yang ia tumpangi, Sheila pun masuk lagi ke mobil dan melanjutkan perjalannya ke mansion besarnya dengan raut wajah sedih dan pusing menjadi satu pokoknya.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2