
Brian yang melihat gerak gerik sang istri pun segera menggenggam erat tangan Sheila, dia merasa sepertinya ada sesuatu yang tidak Brian tahu tentang sang istri.
"Ya udah, kalau gitu Clara sama Celine pergi dulu ya kak," pamit Clara dan mendapat anggukan dari Sheila.
"Kenapa?" tanya Brian dengan lembut, lebih tepatnya berbisik di telinga Sheila.
"Enggak, papa kok." jawab Sheila menetralkan ketakutannya.
"Beneran?" tanya Brian lagi.
"Iya."
Kemudian mereka pun kembali duduk di gazebo tempat keluarga lainnya duduk sambil Brian terus menggenggam tangan Sheila seperti tidak ingin berjauhan dengan Sheila.
"Kamu kenapa sayang kok pucat banget?" tanya mami Salma saat melihat Sheila yang duduk di sampingnya dengan wajah pucat.
"Sheila gak papa kok mi," balasnya dengan senyuman.
Sheila mencoba untuk menghilangkan rasa ketakutannya yang berlebih akan kolam renang namun dia masih saja gemetar, Brian sebenarnya tidak tega akan kondisi Sheila yang sepertinya sangat syok tadi tapi brian tidak tahu Sheila syok karena apa, Brian pun memilih untuk menyuruh yoga mencari tahu yang sebenarnya.
Setelah beberapa saat Brian pun izin untuk menelepon seseorang dan menjauh dari kerumunan.
[Halo, tuan. ada apa?] sambung seseorang dari sebrang.
[Yoga, cari tahu soal kehidupan Sheila sebelumnya. Aku rasa dia memiliki ketakutan yang sangat besar kepada kolam renang,] ujarnya, Yap dia menelepon yoga untuk mencari tahu soal ketakutan sang istri.
[baik, tuan. akan segera saya cari.]
Setelah itu Brian pun memutuskan teleponnya sepihak dan berjalan menuju kembali ke arah kerumunan.
"Kenapa?" tanya Sheila saat melihat Brian kembali.
"Enggak ada apa-apa kok," jawabnya lembut.
Entah mengapa sekarang sikap Brian sangat berbeda jauh dari Brian sebelumnya apa lagi jika bersama dengan Sheila, dia akan merasa sangat menyayangi nya.
__ADS_1
Namun jika dia sedang berada di dunia gelapnya dia masih tetap seperti Brian yang dulu, yang tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa seseorang yang sudah berani mengganggunya.
"Ante chela," sahut Celine yang berjalan tergopoh-gopoh menuju ke Sheila setelah ia selesai berenang dengan Clara dan juga sudah rapi dengan baju gantinya.
"Eh, udah selesai berenangnya nih sayang!" ucap Sheila sambil memangku Celine di pangkuannya.
Brian yang melihat tingkah Celine rasanya sangat gemas, karena mungkin pipi cabi nya dan juga badannya yang bisa di bilang gembul membuat siapapun pasti gemas dengan bocah kecil tersebut.
"Aduh, ponakan uncle udah besar aja nih." sahut Brian sambil mencubit pipi Celine.
"Atuh uncle, angan itu dong," ucapnya dengan raut wajah cemberut dan dengan bahasa yang masih cadel dan tidak sempurna pengucapannya membuat gelak tawa semua orang.
"Eric, kamu sampek kapan di sini?" tanya uncle Steven.
"Rencananya sih tiga hari lagi kak, karena kan di sana juga masih banyak kerjaan untung saja kemarin bisa ambil libur jadi bisa lihat istri Brian deh," jawab uncle Eric.
"Yah, bentar lagi gak sama Celine lagi dong." ucap Clara dengan sedih.
"Aduh, makanya kamu aja yang ikut tante ke sana Clara," ajak Tante Jihan.
"Iya, Gabriel itu kapan pulangnya kak. udah lama banget gak pernah denger kabar dari anak satu itu," ucap uncle Eric menanyakan keadaan Gabriel anak pertama dari uncle Steven dan juga Tante Melinda, usianya juga terpaut lima tahun dengan Brian.
"Dia sedang sibuk mengurusi pekerjaan di sana, terus dia kan juga memegang klan mafianya di sana." sahutnya.
"Dasar anak sok sibuk," ucap uncle Eric dengan tertawa.
Semua orang merasa gembira karena jarang jarang sekali bisa berkumpul bersama dengan keluarga seperti ini karena kesibukan masing-masing, apa lagi dunia mafia yang setiap harinya di lingkupi oleh hal hal bahaya.
Malam harinya Sheila sudah berada di kamarnya sedangkan Brian tadi ada keperluan dengan yoga sehingga dia meminta agar Sheila ke kamar terlebih dahulu, padahal seharian mereka berbincang-bincang dengan keluarga tetapi Brian lebih tepatnya berbicara soal pekerjaan sedangkan para wanita yang tidak mengerti pun memilih untuk bergosip dan memasak makanan kesukaan semua orang.
"Bagaimana?" tanya Brian kepada yoga yang baru saja sampai juga di taman belakang.
Saat sudah berada di taman belakang menjauh dari orang-orang takutnya ada yang mendengarkan perbincangan mereka.
"Setelah saya selidiki ternyata nona muda memang pernah tenggelam di pantai, namun itu sudah beberapa tahun yang lalu, dari penemuan yang saya dapatkan ternyata nona muda tidak ingat kejadian sebelum peristiwa tenggelam tersebut tetapi hanya ingat saat tenggelamnya saja sehingga membuat trauma yang sangat dalam, bahkan nona muda ternyata pernah mencoba ke ahli terapi untuk menghilangkan ketakutannya akan berenang tuan." ucap yoga panjang lebar.
__ADS_1
"Jadi Sheila memang benar memiliki trauma akan berenang?" tanya Brian memastikan kembali dan mendapat anggukan dari yoga.
"Benar tuan," jawabnya.
"Terus apa kah orang tuanya tahu kalau anaknya trauma seperti itu?" tanya Brian penasaran, pasalnya dia belum pernah bertemu langsung dengan mertuanya.
"Mereka tahu tapi seperti tidak pernah menganggap itu hal serius karena memang dari kecil mereka tidak pernah menggarap nyonya Sheila ada tuan," sahut yoga.
Brian tahu soal perbuatan mertuanya kepada Sheila dulu-dulu nya tapi apakah mereka tidak kasihan jika Sheila harus terus menanggung kebencian mereka, entah karena apa.
"Dari yang saya dapatkan tuan, ternyata setelah melahirkan Maria kakak dari nona muda ternyata istri dari tuan Aris yaitu Ketty tidak pernah hamil lagi karena sesuatu hal makanya rahimnya di ambil, tapi entah kenapa tiba-tiba mereka memiliki anak lagi." jawab yoga.
"Apa! Jadi maksud mu bisa jadi Sheila bukan anak kandung mereka?" ucap Brian dan mendapat anggukan dari yoga.
"Iya, tuan."
"Oke, yoga. Kamu rahasiakan dulu soal ini, jangan sampai semua orang tahu nanti akan kita lanjutkan lagi karena sepetinya ini adalah hal yang serius, tapi kamu juga terus cari informasi tersebut." perintah Brian.
"Siap, tuan." ucap yoga kemudian pergi dari sana meninggalkan Brian sendirian dengan wine di tangannya.
"Jadi Sheila bukan anak dari orang tuanya, apakah karena itu mereka sampai membenci Sheila?" itu lah pertanyaan yang terus terbayang di pikiran Brian, hingga ia pun memilih beranjak dari duduknya dan pergi ke dalam karena hari semakin malam dan cuaca semakin dingin.
Sampai kamar pun dia langsung melihat Sheila dengan baju tidurnya sedang bersandar di kepala ranjang dan juga sambil menonton televisi dan jangan lupa camilan yang berada di pangkuannya.
"Lagi ngapain?" tanya Brian membuyarkan ke fokusan dari Sheila.
"Lagi nonton televisi, kamu dari mana?" tanya Sheila membenarkan duduknya.
"Habis ngobrol sama yoga tadi sebentar soal pekerjaan," balasnya dengan duduk di tepi ranjang di samping Sheila dengan mengelus rambut lurus dan wangi Sheila.
.
.
TBC
__ADS_1