
Sedangkan Sheila setelah berbaikan dengan Maya pun kembali ke mansion besar di mana di sana ternyata sudah ada mami Salma yang baru saja pulang dari arisan sosialita nya.
"Sheila pulang," ucap Sheila ke arah maminya yang sedang duduk santai di ruang keluarga dengan secangkir teh dan juga cemilan di meja.
"Hai, sayang. Akhirnya pulang juga," ucap mami sambil mengelus rambut panjang Sheila saat dia duduk di samping maminya.
"Iya, mi. Oh ya mi papi mana?" tanya Sheila karena tidak melihat adanya tanda tanda papi Boni di sana padahal biasanya pasangan mesra tersebut selalu saja berduaan.
"Oh, papi mu lagi ketemu sama temannya yang udah lama gak ketemu," ucap mami Salma padahal sang suami sekarang sebenarnya berada di markas klan Elang, dia di sana sedang ingin mengecek keadaan markas karena akibat adanya beberapa masalah kemarin dan papi Boni baru bisa mengeceknya sekarang karena kemarin kemarin kesehatan papi Boni sedikit kurang baik.
"Oh, mami kalau gitu Sheila mau ke atas dulu ya ganti pakaian baru itu turun lagi," pamit Sheila dan mendapat anggukan kecil dari mami Salma.
"Iya."
Setelah itu Sheila pun pergi meninggalkan mami Salma dan segera masuk ke dalam kamar nya untuk membersikan tubuhnya dan juga mukanya yang pasti sudah bengkak matanya.
"Aku harus bagaimana ini soal papa," ucap Sheila kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Sungguh segar sekali saat tubuh Sheila terkenal air yang segar, karena jujur dia sangat lelah hari ini. terlalu banyak drama di hidupnya membuat Sheila harus melewati itu semuanya.
Setengah jam dia berendam akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan acara ritual mandinya padahal Sheila masih betah di dalam bathub nya yang nyaman.
Namun baru saja ia melangkahkan kakinya keluar kamar mandi dan hendak ke arah walk in closet tiba-tiba teleponnya berdering menandakan ada panggilan masuk.
Drreettt drreett drreettt drreett
Segera Sheila mengambil hpnya dan menampakkan nama Maria dia sana, namun Sheila memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut dan menaruh hpnya di atas kasur dan dia memilih berjalan menuju ke walk in closet nya terlebih dahulu.
Tak lama Sheila selesai dengan pakaian yang cukup simpel ala wanita rumahan namun tetap saja berkelas karena yang memakai Sheila dan juga karena brand terkenal.
Saat akan melangkahkan kakinya ke luar kamar tiba-tiba telepon Sheila berbunyi kembali membuat Sheila mengurungkan niatnya untuk keluar dan menghampiri bunyi tersebut, ternyata Maria meneleponnya lagi entah sudah berapa kali dia menelepon sehingga banyak sekali notifikasi yang masuk dia sana, dengan berat hati Sheila pun mengangkat telepon tersebut.
[Halo,] ucap Sheila masih dengan nada lembut.
[Eh, elo ya. gue udah telepon dari tadi jawab dong!] pekiknya di sebrang sana membuat Sheila menjauhkan telepon tersebut dari telinga nya untuk keamanan telinga juga pastinya.
[Ada apa?] tanya Sheila.
[Masih tanya ada apa! heh mana uangnya nih papa udah sakit sakitan terus tahu!] bentaknya lagi.
[Kak, uang segitu gak kecil, kakak kan yang lebih tua seharusnya kakak lah yang ngebiayain papa kok malah semuanya di serahkan ke Sheila sih, kita bisa patungan buat kesembuhan papa,] ucap Sheila sedikit geram karena kakaknya lepas tangan soal pembiayaan papanya tanpa membantu sedikit pun tapi malah membentaknya seperti tadi.
[Banyak omong banget sih, buruan! mau papa mati elo!]
__ADS_1
[Iya, aku usahain.]
Kemudian Sheila pun mematikan teleponnya sepihak dan memilih untuk berbaring di kasur padahal niat awalnya dia ingin membantu mami salma memasak di dapur karena mami Salma bilang akan memasak masakan kesukaan Brian namun karena moodnya sekarang benar benar hancur membuat Sheila memutuskan untuk tiduran saja sebentar.
Sedangkan Brian saat sudah sampai di mansionnya tidak melihat keberadaan Sheila di dapur karena biasanya kalau jam segini Sheila sering menemani maminya di dapur setelah bekerja.
"Mi, Sheila mana?" tanya Brian saat masuk ke dapur.
"Tadi katanya bi Nana dia sedang tidur, mungkin aja capek sayang." sahut mami, karena tadi mami menyuruh untuk mengecek Sheila yang tidak juga turun ke bawah ternyata dia sedang tidur.
Setelah mengerti Brian pun pergi meninggalkan area dapur dan menuju ke kamarnya di lantai dua, dan benar saja saat ia membuka pintu kamar mewahnya dia langsung melihat ranjang yang terisi dengan wanita cantik yang sedang memunggungi nya.
Brian pun memilih untuk tidak mengganggu dan pergi mandi untuk menyegarkan dirinya yangs sudah sangat capek karena urusan kantor, apa lagi klan mafia yang sebenarnya sebelum pulang tadi Brian ke markas karena ada masalah penting soal klien nya yang membohongi bisnis gelap klan mafia elang sehingga pasukan Elang harus melenyapkan orang tersebut tetapi tidak berhasil karena orang tersebut melarikan diri dan sekarang dalam pengejaran, Brian sebenarnya tidak akan pulang malam ini tetapi dia ingat soal Sheila sehingga dia mau tidak mau harus pulang untuk melepas rindu dengan pujaan hatinya itu.
Brian sudah selesai mandi dan sudah memakai pakaian rumahan, dia duduk di tepi ranjang dan mencoba membangunkan sang istri karena sekarang sudah waktunya jam makan malam
"Sayang... sayang," panggil Brian membuat Sheila terganggu dalam tidurnya.
"Ehhhgggg," erang Sheila sambil membuka matanya menetralkan pengelihatannya, sepersekian detik dia melihat sang suami yang sudah menatapnya lembut sambil mengelus Surai Sheila dengan penuh perhatian.
"Brian, kamu udah pulang?" tanya Sheila sambil berusaha untuk duduk.
"Yuk, makan." ajak Brian tidak menanggapi pertanyaan Sheila.
"Sayang, pelan-pelan!" ucap Brian melihat istrinya yang terburu-buru sambil mengikuti langkah kaki Sheila.
Dan benar saja saat Sheila sudah berada di meja makan di sana ternyata sudah ada mami Salma dan papi Boni dengan hidangan lengkap yang sudah tersaji lengkap.
Sheila pun merasa tidak enak dan hanya berdiri tanpa sadar, sedangkan Brian datang dan langsung menyambar tempat duduknya.
"Sayang, kenapa berdiri aja. duduk dong," ucap mami Salma yang tetap menunjukkan sikap lembutnya.
"Mami, maaf. Sheila tadi gak bantu mami sama sekali," ucap Sheila penuh penekanan.
"Gak apa-apa kok sayang, mending sekarang kita makan aja keburu dingin nanti makanannya," sahut mami.
Mereka pun kembali makan dengan tenang sesekali mami Salma bercerita karena kebanyakan para pria hanya diam dan mendengarkan saja, Sheila juga sesekali tertawa menyeimbangi ucapan maminya.
Setelah selesai dengan makan malamnya Brian pun mengajak Sheila untuk ke atas karena waktu sudah malam. (Malam apanya, baru saja jam tujuh malam, bilang aja kalau mau berduaan dengan Sheila).
Mereka pun masuk kedalam kamar dan anehnya brian mengajak Sheila ke kamar namun Sheila malah di anggurin dan hanya melihat Brian yang fokus di sofa sampingnya dengan laptop di meja, Sheila bahkan merasa bosan karena dia tidak melakukan apa-apa.
Tak lama hp nya berbunyi menandakan ada pesan masuk, karena merasa bosan Sheila pun berinisiatif untuk membuka pesan tersebut dan ternyata itu adalah pesan dari Maria kakaknya.
__ADS_1
[Gimana uangnya? jangan lupa besok harus ada!] tulisnya dalam chat tersebut.
Sheila pun menghela nafas nya kasar, bagaimana dia akan mendapatkan uang sebanyak itu? apakah dia harus meminjam uang tersebut dari Brian tapi bagaimana jika Brian tidak memberikannya, dengan berat hati Sheila pun memberanikan diri untuk meminjam uang tersebut ke Biran dan dia juga akan berjanji untuk melunasinya bahkan akan memberikan bunga juga dalam pinjamannya, begitu lah fikir Sheila.
"Brian," panggil Sheila membuat Brian mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah Sheila yang sedikit gugup.
"Ada apa?" tanya Brian.
"Aku boleh pinjam uang kamu?" tanya Sheila dengan terus menundukkan kepalanya merasa malu karena harus meminjam uang dari sang suami.
"Buat apa?" tanya Brian sok tidak tahu, padahal dia sudah tahu semua hal yang terjadi tetapi Brian mencoba untuk menahannya terlebih dahulu.
"Papa butuh operasi secepatnya," ucapnya dengan air mata yang sudah turun tanpa izin.
"Kamu butuh berapa?" tanya Brian sambil mengelus puncak kepala Sheila ambil mendongakkan kepala Sheila agar tidak menunduk lagi.
"500 juta," ucap Sheila sepekan mungkin.
"Baik, akan aku transfer tapi jangan menangis lagi ya." sahut Brian, Sheila pun sedikit tersenyum dan merasa lega karena Brian tidak marah-marah dengannya.
"Terima kasih, sayang." gumam Sheila dengan memeluk tubuh atletis sang suami namun masih bisa di dengar oleh Brian.
"Kamu tadi bilang apa?" tanya Brian sambil melonggarkan pelukannya.
"Aku bilang apa?" tanya Sheila mencoba menggoda sang suami.
"Tadi, kamu bilang apa?"
"Terima kasih," balas Sheila.
"Bukan! Tapi setelah nya," sahut Brian.
"Sayang," bisik Sheila di telinga Brian membuat Brian tersenyum simpu kemudian memeluk erat tubuh sang istri sambil mencium bibir tipis sang istri menyalurkan kehangatan satu sama lain.
Dan malam ini pun menjadi saksi ke sekian kalinya dalam penyatuan mereka untuk menghadirkan Brian junior, Brian bermain dengan lembut membuat Sheila terbuai dengan perlakukan sang suami.
Entah sudah berapa ronde namun Brian tetap Brian tidak ada kata puas jika sudah bersatu dengan sang istri, sedangkan Sheila sudah sangat lelah dan capek meski pun dia sangat menikmati kegiatan tersebut.
.
.
TBC
__ADS_1