
Sedangkan Brian setelah dari kantin kantor pun segera kembali ke ruangannya, sepanjang perjalan menuju ke ruangannya senyum terus terukir indah di bibirnya, bahkan yoga yang melihat itu pun di buat bingung karena senyum aneh dari bosnya.
Yoga tahu pasti itu karena non bos di kantin tadi, saat di sana bos Brian sangat cuek sekali kepada nona bos.
Namun siapa sangka kalau Brian ternyata curi-curi pandang sedikit dengan Sheila meskipun tidak ada yang menyadarinya namun Brian sangat senang bisa melihat wajah sang Istri, apa lagi saat ia melihat wajah Sheila yang kaku karena dia berada di kantin membuat Brian ingin sekali tertawa keras.
Sampai di ruangannya pun Brian tak henti-hentinya mengulum senyum nya saat mengingat waktu ia di kantin tadi, seketika itu ia pun melihat ke arah kamera pengawas di mana menampakkan Sheila yang sudah berada di ruangannya karena memang ini sudah waktunya untuk bekerja lagi bukan.
Brian pun segera mengirimkan pesan singkat untuk Sheila dan melihat bagaimana reaksinya nanti pasalnya sekarang di lihat dari kamera pengawas Sheila sangat senang.
[Udah selesai makannya?] begitu lah pesan singkat yang dikirim oleh Brian kepada sang istri padahal dia sudah tahu kalau Sheila sudah berada di ruangannya.
Sheila yang melihat handphone nya getar pun segera melihat pesan siapa yang masuk, saat ia melihat nama orang tersebut ternyata itu adalah pesan dari sang suami. Membaca pesan tersebut membuat Sheila senyum-senyum sendiri karena rasa senang akan perhatian kecil dari sang suami.
[Sudah,] sangat singkat sekali balasan yang di berikan oleh Sheila. Brian yang mendapat pesan pun hanya tersenyum ceria, kemudian dia pamit untuk kembali bekerja.
[Kalau gitu kamu lanjutin aja kerjanya, aku juga sebentar lagi ada meeting dengan klien di luar mungkin nanti kamu bisa pulang bareng Thomas karena tadi aku udah kabarin Thomas untuk menjemputmu sayang,] balas Brian dan mendapat anggukan dari Sheila yang mengerti bagaimana kesibukan sang suami.
[Iya, kamu tenang aja.]
Setelah itu mereka pun lanjut dengan urusan masing-masing, Sheila dengan kerjaan barunya Brian keluar kantor untuk melakukan meeting penting.
Waktu sudah menjelang sore hari, yang bertanda bahwa waktu untuk pulang kantor semakin dekat, Sheila juga sudah selsai dengan tugas yang telah di berikan tadi, asal kalian tahu Tiffany menyuruh Sheila untuk menyalin semua berkas yang seharusnya ia kerjakan, dan Sheila hanya menurutinya karena tidak ingin berdebat dengan Tiffany lebih panjang.
"Yuk Sheil," ajak jovanka dan Monica saat mereka sudah berada di meja Sheila yang sedang siap-siap untuk pulang.
__ADS_1
"Iya, ayo." balas Sheila kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan berbarengan dengan Monica dan juga jovanka.
Sampai di lobi Sheila dan teman-temannya tiba-tiba di tenggor oleh Tiffany and the gang nya.
"Eh, elo sering banget sih nenggor nenggor!" pekik Monica yang tak terima di tenggor oleh Fita and the geng pasalnya tadi di kantin kantor mereka juga melakukan hal yang sama.
"Ya sorry, salah sendiri jalan di sini." ucap Tiffany dengan songong nya kemudian meninggalkan Monica dan jovanka dengan raut wajah kesalnya sedang kan Sheila memilih untuk menenangkan teman temannya itu.
"Udah yang sabar, mending kita sekarang pulang aja." sahut Sheila, mereka bertiga pun keluar dari kantor dan saat akan menuju ke halte bis di tempat yang tak jauh dari area mereka berdiri, jovanka tiba-tiba bertanya perihal pulang nya Sheila nanti.
"Sheila, elo pulangnya gimana? bawa mobil apa naik bis kayak kita," tanya jovanka.
"A... aku di," belum sempat Sheila berbicara tiba-tiba Laura muncul di hadapannya.
"Nona, apakah sudah menunggu saya lama?" tanya Laura dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal karena berlari. Mendengar Laura yang memanggilnya nona membuat Sheila sedikit membelalakkan matanya untuk menyuruh Laura diam.
"Nona?" ucap jovanka kepada Sheila mencoba mencari jawaban.
"Eeee, perkenalkan ini Laura dia... dia sahabat aku. Dia emang orangnya suka gitu akali ketemu!" sahut Sheila mencari alasan agar teman temannya tidak curiga. Sedangkan Laura yang mendengar ucapan Sheila pun sontak kaget dengan kebohongan dari sang majikannya itu.
"Oh, sahabat toh." sahut Monica yang sudah mulai paham.
"Hampir saja, Maaf Monica, jovanka aku harus berbohong," gumam Sheila dalam hatinya, sebenarnya dia tak tega membohongi teman temannya namun ia belum siap jika nanti mereka tahu yang sebenarnya.
"Hai, Laura. Kenalin aku jovanka, temen barunya Sheila." sapa jovanka.
__ADS_1
"Ee, haii jovanka aku Laura sahabatnya Sheila." ucap Laura dengan sedikit gugup karena dia ahrus memanggil nona muda dengan sebutan nama saja.
"Hai Laura aku Monica temen barunya Sheila juga," sapa Monica bergantian.
"Haii, aku Laura." bas Laura dengan tetap saja gugup apa lagi nona mudanya terus saja melihatnya dengan tatapan tajam hingga membuat Laura sedikit bergidik ngeri, ternyata tuan muda dan nona muda sama sama garang juga ya, begitu lah batin Laura.
"Oh, ya udah kalau gitu kita pergi dulu ya. Bentar lagi bis nya juga akan dateng," pamit jovanka dan di angguki oleh Sheila.
"Hati hati ya, bye." balas Sheila dengan senyuman manisnya. Setelah jovanka dan Monica menghilang dengan menaiki bis, Laura pun mengajak Sheila untuk kembali ke mobil karena Thomas sudah siap di parkiran.
"Mari Bona, pak Thomas sudah siap." sahut Laura.
"Iya, ayo." ajak Sheila kemudian berjalan terlebih dahulu menuju ke arah mobil terparkir atau lebih tepatnya sedikit jauh dari area kantor karena Sheila yang menyuruhnya sehingga tadi Laura sedikit berlari bukan menghampiri Sheila, setelah sampai Sheila segera masuk ke dalam mobil dan Thomas segera melajukan mobilnya menuju ke mansion besar keluarga Ardolph.
Sedangkan tanpa Sheila ketahui ternyata dari tadi gerak geriknya di lihat oleh Tiffany, yang kebetulan sedang menunggu Mario yang memintanya untuk menunggunya karena mereka akan menghabiskan waktu malam mereka berduaan di salah satu hotel grand Ard, hotel mahal milik keluarga Ardolph.
"Gila, mobilnya bagus juga." sahut Tiffany saat melihat Sheila masuk ke dalam mobil mewah dan juga saat Laura membukakan pintu untuk Sheila di tempat dudukan belakang.
"Kayaknya tuh wanita bukan dari kalangan biasa deh, tapi dari penampilannya sih cantik tapi tidak seperti orang kaya, bahkan bajunya aja gak terlalu mewah." gumam Tiffany bimbang dengan apa yang ia lihat tadi.
TIT TIT TIT
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Tiffany dari pikirannya tadi sejenak, dan ternyata itu adalah Mario yang sudah siap dengan mobil sport nya.
"Yukk," ajaknya sehingga mau tidak mau Tiffany pun masuk ke dalam mobil dan mengikuti kemauan Mario.
__ADS_1
Bersambung..........