
Saat di perjalanan Brian tak henti hentinya bergumam mencari keberadaan restoran kari, karena sangat kesal bagiamana tidak saat tidak di inginkan Brian terus melihat beberapa restoran kari yang buka tetapi saat dia menginginkan nya sekarang malah banyak restoran kari yang tutup.
"Kok pada tutup semuanya sih!" ucap Brian dengan sebalnya.
Sedangkan Sheila yang berada di sampingnya hanya bisa terkekeh lucu melihat sang suami yang kesal sendirinya.
"Yang sabar dong sayang, kenapa gak suruh ni nana aja sih bikinin." sahut Sheila.
"Gak mau, maunya yang di restoran," ucap Brian tegas namun tak lama dia melihat ada sebuah restoran kari india yang cukup ramai dengan pembeli.
Brian pun menepikan mobilnya di samping jalan sedangkan Sheila hanya mengerenyitkan dahinya saat Brian mulai parkir di pinggiran jalan, Brian bukan lah orang yang mau untuk makan di restoran kecil seperti ini tapi kenapa Brian malah senang sekali saat melihat restoran tersebut.
"Ayok turun sayang!" ajak Brian yang sudah turun duluan dan membukakan pintu untuk Sheila.
"Terima kasih," ucap Sheila yang juga turun dari mobil tersebut.
Mereka pun menuju ke arah restoran ke kecil tersebut dengan yang pasti masker tidak akan pernah lupa dan juga topi untuk menutupi identitas mereka, karena pamor Brian yang melebihi batas membuat Brian pasti akan mudah untuk di kenal makanya mereka memutuskan untuk memakai penutup wajah saat keluar berdua.
Saat sampai di dalam restoran tersebut ada beberapa pembeli yang sedang bercengkrama asyik di sana, Brian dan Sheila pun mencari duduk yang ada penyekat di samping samping nya sehingga tidak membuat siapa pun dapat melihat siapa yang ada di sana.
Brian memesan kari beberapa jenis kari yang pastinya sangat ia inginkan tersebut, setelah memesan tak lama pesanan pun datang, Sheila hanya pesan satu porsi saja sedangkan Brian memesan beberapa jenis porsi entah nanti akan habis atau tidak.
Sheila memakan kari pun tak banyak karena dia tidak terlalu suka dengan bumbu yang terllau kuat seperti kari namun dia tetap memakannya, sedangkan Brian malah sangat lahap bahkan ia sekarang sudah memasuki mangkuk yang ke dua.
"Sayang, kamu pingin atau emang laper sih?" tanya Sheila kepada sang suami.
"Enggak tahu, aku kok kayak gak kenyang kenyang ya makan ini," sahut Brian.
__ADS_1
Setelah itu ia pun kembali menyantap makanannya sedangkan Sheila sudah selesai dan dia saja melihat sang suami makan sudah membuat perutnya sangat kenyang bagaimana dengan Brian sendiri apakah tidak kenyang ya.
Brian sudah menghabiskan seluruh mangkuk di depannya membuat Sheila hanya bisa melongo di buatnya, empat mangkuk kari dengan berbagai jenis telah Brian habiskan salah satu kali makan, sungguh ngidam yang sangat ekstrim menurut Sheila karena ia belum pernah melihat sang suami makan sebegitu banyaknya seperti sekarang ini.
"Akhirnya kenyang juga!!" ucap Brian sambil memegang mengusap usap perutnya yang kenyang.
"Bagaimana gak kenyang kalau porsi makan kamu sebegitu banyaknya!" sahut Sheila.
"Hehe, seberapa banyaknya aku makan tubuhku tidak akan pernah gendut kok sayang," ucap Brian sombongnya, sedangkan Sheila malah serasa jengah dengan kepedean sang suami.
"Ya udah yuk bayar sekarang," ucap Brian.
Setelah selesai bayar membayar mereka pun kembali ke mobil kemudian memutuskan untuk kembali ke mansion karena di rasa hari sudah cukup malam tidak baik untuk Sheila yang sedang hamil.
Setelah sampai di mansion mereka pun segera ke kamar untuk istirahat karena hari sudah malam, Sheila memiliki rutinitas baru yaitu harus minum susu sebelum tidur karena itu adalah perintah dari mami salma, papi Boni dan juga Brian jadi mau tidak mau Sheila pun harus mengikutinya bukan, setelah itu mereka pun menyekap ke alam mimpi dengan sejuta keinginan saat bangun nanti agar selalu bisa bersama.
Tak terasa kehamilan Sheila sudah memasuki bulan ke empat, mual yang di alami Sheila juga sudah berkurang dan dia juga tetap bekerja di Ard Company sebagai asisten pribadi dari Brian meski pun Brian lebih sering menyuruh untuk beristirahat dari pada bekerja.
"Sheila, gimana sama kehamilan elo?" tanya jovanka saat mereka bertiga sedang makan siang di kantin, karena Sheila sendiri yang meminta kepada Brian agar dia bisa makan dengan teman teman kantornya karena sudah lama Sheila tidak makan siang dengan mereka.
"Baik baik aja kok," ucap Sheila, dia tahu bahwa teman temannya itu pasti penasaran akan sosok sang suami karena banyak beredar kalau Sheila adalah istri dari tuan Steven yang tak lain adalah paman dari bos mereka Brian makanya Sheila bisa menjadi sekertaris Presdir mereka namun Sheila tak ambil pusing dan memilih untuk tidak bicara karena dia masih harus bekerja kalau memang sudah waktunya dia pasti akan mengungkapkan pernikahannya kok, tapi Sheila butuh waktu karena Sheila merasa bahwa Brian memiliki sebuah rahasia yang sepertinya Sheila tidak tahu.
"Oh syukur deh kalau begitu," ucap jovanka setelah itu mereka pun membahas hal yang lainnya.
Jangan lupa akan Tiffany yang juga ternyata tahu akan kehamilan Sheila membuat dia sedikit terkejut pasalnya dia juga tidak tahu kalau ternyata Sheila sudah menikah dan sedang hamil, dari kabar yang ia dengar bahwa Sheila adalah istri dari tuan Steven paman dari mantan Presdirnya.
"Ada apaan?" tanya Maria yang baru saja sampai karena yang memiliki janji temu dengan Tiffany di salah satu cafe.
__ADS_1
"Ini gue dapet kabar kalau orang yang pingin gue balas dendam sekarang dia ternyata sudah bersuami dan juga hamil tapi dengan beraninya deketin Brian!" ucap Tiffany menggebu gebu.
"Apa beraninya tuh orang, emang siapa sih orangnya?" tanya Maria karena memang dia belum tahu siapa orang yang ingin Tiffany balas.
"Wanita itu namanya Sheila, dia orang yang pingin banget gue balas karena gara-gara dia gue kehilangan pekerjaan gue dan semua keluarga gue dan juga sekarang gue gak punya pekerjaan kecuali jadi ja*ang!" ucap Tiffany ketika mengingat nasibnya yang sekarang.
"Apa Sheila?!" ucap Maria sedikit terkejut saat mengetahui nama Sheila.
"Iya, ini fotonya." sahut Tiffany dengan memberikan foto Sheila yang ingin sekali ia balas dendam.
Sedangkan Maria yang melihat foto Sheila sang adik pun hanya bisa terkejut tak percaya ternyata orang yang juga ingin Maria balas dendam adalah orang yang sama dengannya yaitu Sheila.
"Astaga, Tiffany ini beneran orangnya?" tanya Maria dan di angguki oleh Tiffany.
"Ada apa emangnya?" tanya Tiffany gantian.
"Asal elo tahu orang ini juga yang ingin gue balas perbuatannya," ucap Maria.
"Apa ternyata ini orangnya, ini juga orang yang ingin elo balas?!" ucap Tiffany.
"Iya, dia itu adik gue, gue dan keluarga gue gak suka sama dia. dia emang udah nikah sama tuan Steven dan gue gak tahu kalau ternyata dia itu kerja di Ard Company," sahut Maria.
"Gue baru tahu ternyata orang yang ingin kita balas adalah satu orang," ucap Tiffany.
"Gue juga baru tahu, kalau begitu bukankah pekerjaan kita akan semakin muda karena kita memiliki dendam yang sama dengan orang yang sama pula," lanjut Tiffany.
"Bener banget, ternyata gue gak salah pilih partner." ucap Maria.
__ADS_1
Mereka pun merasa lebih senang karena bisa memiliki tujuan yang sama yaitu membalas dendam ke Sheila yang sudah membuat mereka hidup seperti ini, karena adanya kebencian di hati mereka sekeras apa pun mereka di sadarkan tetap saja tidak akan pernah hilang dendam di hati mereka.
Bersambung..........