Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
Kehancuran


__ADS_3

Sedangkan Sheila yang masih berada di rumah sakit tidak tahu akan soal Tiffany yang di pecat dari pekerjaannya. Dia sedang bersandar di sandaran ranjang rumah sakit dengan di temani mami salma karena Brian harus pergi ke kantor karena hari ini dia ada meeting penting, sedangkan papi Boni sedang ada pekerjaan juga sehingga sekarang hanya mami Salma saja yang menemani Sheila.


"Sayang, kamu butuh apa lagi?" tanya mami Salma.


"Enggak butuh apa-apa kok mi, tapi Sheila pingin satu aja mi," sahut Sheila dengan pelan.


"Apa sayang?"


"Sheila pingin hirup udara segar mi," sahut Sheila karena dia sangat merasa pengap di kamar terus tidak menerima udara segar sama sekali.


"Mau ke taman," ajak mami Salma yang langsung di angguki oleh Sheila.


"Okey, kita ke taman!" pekik mami Salma dengan gembiranya kemudian menyiapkan kursi roda untuk Sheila karena tubuhnya yang belum terlalu fit.


Mami Salma pun membawa Sheila ke taman, sangat sejuk sekali karena taman rumah sakit di buat seperti taman indah dengan banyak bunga dan beberapa tanaman membuat siapa pun yang berada atau pun santai di sana akan terasa nyaman. Saat Sheila dan mami Salma berada di taman tersebut banyak juga pasien lainnya yang juga sedang bersantai di taman tersebut.


"Bagus banget ya mi," sahut Sheila tak henti hentinya kagum dengan taman tersebut.


"Iya, sayang cantik banget tapi lebih cantikan kamu sih." ucap mami Salma membuat Sheila tertawa renyah akan godaan sang mami mertua itu.


"Oh, mami jangan ngomong gitu kenapa sih kan Sheila jadi malu," sahut Sheila.


Mereka pun menikmati pemandangan di taman rumah sakit tersebut dengan hati yang terasa nyaman dan juga mata yang tak henti hentinya melihat ke penjuru taman tersebut.


Sedangkan di tempat lainnya, Tiffany berjalan dengan tergontai gontai di depan rumah nya.


"Bentar lagi elo bakalan ngerasain seperti yang gue rasain Sheila!" gumamnya pelan saat memasuki gerbang rumahnya.


Saat sampai di ruang tamu Tiffany tiba-tiba melihat mama dan papanya dan ada juga adik perempuannya yang berusia 20 an dan kalian tahu dia juga bekerja seperti kakaknya, yaitu bekerja menjajakan tubuhnya yang sedang melihatnya dengan intens dan ada sedikit wajah kemarahan.


"Kalian kenapa?" tanya Tiffany.


"Kamu di keluarin dari Ard Company?" tanya papanya.

__ADS_1


"Iya," hanya itu jawaban Tiffany karena memang benar bukan ia di keluarkan.


"Astaga Tiffany sekarang kita harus bagaimana lagi, kita udah gak punya apa-apa kalau begitu." ucap mamanya dengan nada mulia menangis.


"Udah gak usah nangis, nanti Tiffany cari solusinya lebih baik sekarang Tiffany ke kamar capek," sahutnya pun berlalu ke kamarnya. Namun belum sempat Tiffany ke dalam kamarnya di lantai dua, dari bawah dia mendengar namanya berteriak ketakutan dan tak malam kemudian ada suara tembakan menggelegar, otomatis membuat Tiffany kembali ke bawah di sana sudah ada beberapa orang dengan topeng membuat ke gaduhan dengan membawa pistol dan menembakkan di sembarang tempat.


"Kalian mau apa?" pekik Tiffany tak terima barang-barang di hancurkan meskipun ada sedikit ketakutan.


"Mau kita?" ucap pria tersebut kemudian sepersekian detik tembakan beruntun dia layangkan ke tubuh papanya Tiffany membuat Tiffany membulatkan matanya tak percaya, orang yang tidak ia kenal tiba-tiba saja membunuh papanya. Melihat suaminya tergeletak bersimbah darah membuat mama Tiffany tambah histeris, dia pun berjalan ke arah sang suami dan mencoba membangunkannya.


"Pa, bangun pa! mama mohon," ucapnya dengan tangisan yang membuncah.


"Papa!" pekik Tiffany dan juga adiknya yang juga berada di samping mayat tubuh ayahnya.


DOR DOR DOR


Sebuah suara tembakan pun terdengar lagi, saat di lihat ternyata mamanya juga sudah tertembak dan jatuh di atas tubuh sang suami membuat kakak beradik itu semakin histeris.


"Kalian siapa? beraninya kalian bunuh orang tuaku!" pekiknya lantang karena tak terima orang tuanya di bunuh apa lagi mereka di bunuh tepat di hadapan Tiffany membuat hatinya sakit saat melihat orang tuanya meregang nyawa di depannya langsung.


DOR DOR DOR


Setelah itu adiknya pun tergeletak tak jauh dari mayat orang tuanya membuat Tiffany semakin histeris, dia sudah tidak ada keluarga lagi kalau mereka meninggal.


"Mama, papa, dek bangun! Jangan buat aku takut," ucapnya sambil menggoyangkan tubuh seluruh keluarganya.


"Hey kau, tenang saja kau tidak akan aku bunuh." sahut pria tersebut.


"Bunuh saja aku!" pekiknya.


"Oh tidak semudah itu, aku akan menyisakan mu untuk tidak ku bunuh, agar kau bisa merasakan kehancuran yang sesungguhnya wanita murahan!" sahut pria tersebut kemudian pergi meninggalkan rumah Tiffany. Sedangkan Tiffany berusaha mencerna ucapan pria misterius tersebut tetapi karena dia sedang menangis sehingga ia belum mengerti betul maksudnya, dia hanya bisa menangisi jasad dari keluarganya tersebut dengan darah yang sudah berceceran membuat Tiffany sedih bukan main.


"Kenapa kalian semua tinggalin aku!" pekiknya tak terima dia akan hidup sendirian.

__ADS_1


"Aku mohon bangun!" sahut Tiffany lagi, sekarang pembantu juga sudah tidak ada entah ke mana tapi seperti di bawa oleh pria misterius tadi.


Sedangkan di sisi lain pria itu keluar dari rumah Tiffany kemudian kembali ke mobil dan melajukan mobilnya hingga ia di sebuah gang kecil, kemudian dia pun menelepon seseorang.


[Halo, bos.]


[Bagiamana?] tanya orang di sebrang.


[Semua lancar bos, semua keluarganya sudah saya bu*uh dan sebentar lagi pihak bank akan menyita rumah tersebut sehingga wanita tersebut tidak akan punya apa-apa lagi bos,] ucap pria tersebut.


[Bagus, do. Sekarang kamu bisa kembali.]


[Siap, bos.] Kemudian sambungan telepon pun terputus dan pria itu pun menuruti perintah bosnya kembali ke markas. Yap pria yang membu*uh keluarga Tiffany adalah Aldo atas perintah bosnya siapa lagi kalau bukan Brian.


Soal balas dendam Brian memang sangat keji, bisa-bisanya membu*uh orang tidak bersalah demi membuat pelaku menderita tetapi itu memang sebuah kehancuran yang sesungguhnya, tidak ada keluarga yang menemani dan sebentar lagi tidak ada tempat tinggal juga, entah lah bagaimana lagi kondisinya.


Dengan seringai tajam Brian membayangkan wanita murahan itu hidup terluntang kantung tidak ada keluarga yang menemaninya, siapa suruh untuk menyakiti sang istri itu lah balasannya. Brian tidak membalasnya dengan membu*uhnya karena akan sangat mudah sekali dan tidak ada tontonan gratis saat ia mati.


Dan benar saja saat Tiffany sedang berduka dengan kepergian orang tuanya tiba-tiba ada pihak bank yang menyita rumahnya.


"Kalian mau apa!" pekiknya tak terima barang-barangnya di ambil.


"Jangan!" sahutnya namun pihak bank malah mendorong tubuh Tiffany secara tragis. Orang orang yang datang melayat pun tak tega sebenarnya tapi mereka juga tahu bagaimana pekerjaan dan juga sikap arogan wanita tersebut sehingga hanya diam saja tak membantu, mereka datang pun hanya sebagai pemanis agar tidak dipandang sombong saja.


Awalnya warga syok saat melihat ada mobil polisi datang ternyata Tiffany yang menghubungi mereka, Tiffany melaporkan ad pembunuhan setelah itu polisi pun datang, saat datang polisi tak habis fikir karena banyaknya korban yang di bunuh dan hanya menyisakan satu orang saja. Saat sedang melihat jasad di tempat kejadian ternyata ada hal aneh di sana yaitu sebuah tanda yaitu lambang elang di lengan semua jasad tersebut, melihat hal itu itu membuat para polisi dan juga penyidik pun mengurungkan niatnya untuk berlama lama memeriksa jasad tersebut karena tidak akan ada hasilnya.


Mereka semuanya tahu siapa yang sudah membu*uh keluarga itu dan tidak berani untuk ikut campur karena jika mereka kit campur maka korban selanjutnya adalah keluarga mereka.


Tiffany sudah di usir dari rumahnya sendiri hanya membawa satu koper bajunya saja, dia sudah tidak tahu harus kemana bahkan untuk makan pun dia tak tahu. Hari ini adalah hari yang sangat jahat untuknya menyaksikan keluarga tersayangnya pergi untuk selama lamanya dan juga rumah yang di bangun oleh jerih payah papanya hilang begitu saja.


Sedih rasanya sekarang Tiffany sudah tidak punya keluarga, tidak punya rumah sekarang dia sudah menjadi gembel tidak memiliki apa pun bahkan uang untuk makan pun dia tak punya.


"Apakah semua ini karena Sheila?" gumam Tiffany sedirian. Mengingat hal itu Tiffany kembali merasa sangat benci dengan Sheila rasanya ia ingin juga segera mene*bak nya sama persis dengan bagaimana pria misterius tersebut menembak keluarganya. Ini adalah kehancuran yang nyata untuk Tiffany.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2