Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
BAB 41_Malu


__ADS_3

Sedangkan Brian setelah pergi dari kumpulan keluarganya kemudian dia pun mengarah ke arah yoga di meja pojok dekat jendela.


"Bagaimana?" tanya Brian to the point.


"Mr. Kevin terus bertanya soal tuan akan ke negara B." ucap yoga.


"Apa kah Mr. Kevin sudah tidak sabar dengan barangnya?" tanya Brian.


Yap Mr. Kevin juga termasuk anggota mafia elang tetapi beliau sudah lama vakum karena harus mengurus perusahaannya di negara B dan sesekali Mr. Kevin mengambil persenjataan dari klan elang.


"Sepertinya sih begitu bos, dia juga ingin bos segera ke sana mengunjunginya!" sahut yoga.


Brian pun paham karena banyak anggota klan Elang yang ada di sana karena memang di negara B klan elangnya cukup banyak dan bisnis gelapnya sukses besar dan menghasilkan banyak dollar sehingga Brian juga sering ke sana untuk mengawasi.


"Oke, atur jadwalku. aku akan ke sana minggu depan!" ujarnya.


"Baik, tuan." Brian dan yoga pun saling membahas pekerjaannya hingga papi Boni datang menemui mereka.


"Brian," ucap papi Boni duduk di samping Brian.


"Papi," balasnya.


"Tuan besar," hormat yoga dengan membungkukkan tubuhnya.


"Ada apa?" tanya papi Boni.


"Mr. Kevin Pi, ingin Brian ke negara B buat pantau pembuatan resort di sana,"


"Terus kapan kamu aja pergi?"


"Mungkin minggu depan sekalian kasih pesanan dari Mr. Kevin Pi," ucap Brian.


"Ya sudah tapi Ingan bicara dulu sama Sheila, sekarang kamu udah gak sendirian lagi, kamu udah ada orang yang bergantung padamu!" ucap papi Boni menasehati Brian.


"Iya, Pi. Brian tahu," jawabannya.


šŸ„•šŸ„•šŸ„•


Di sisi lain Sheila sedang asyik main dengan Celine dan juga Clara, memang tak banyak keluarga di sini namun bisa membuat Sheila senang.


Berbincang-bincang dengan mereka membuat Sheila bahagia namun sesekali dia juga meringis saat tiba-tiba gerak karena memang tubuhnya belum pulih sepenuhnya dari serangan sang suami malam tadi.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya mami Salma saat melihat wajah Sheila yang sedikit kesakitan.


"Enggak kok, mi." jawabnya mengelak.


"Beneran?" tanya mami khawatir.

__ADS_1


"Iya, mi." Mami pun percaya dan memilih duduk di samping Sheila.


"Mi, aku mau ke toilet sebentar ya." izin Sheila agar terlihat lebih sopan.


"Iya, sayang." balas mami Salma dengan lembut, Sheila berdiri dengan sedikit menahan rasa sakit di area bawahnya Sheila usahakan untuk tetap ke toilet karena sudah tidak bisa di tahan lagi ingin buang air kecil.


"Salma, kayaknya sebentar lagi kamu mau dapet cucu deh," sahut Tante Melinda yang menghampiri mami salma.


"Maksudnya?" tanya mami salam dengan polosnya.


"Lihat tuh Sheila jalannya aja udah pincang pincang gitu, pasti habis di gempur habis habisan sama Brian, mereka tadi kan juga telat buat dateng nya!" ucap tante Melinda memprovokasi mami salma.


Sedangkan mami Salma mendengarkan hal itu pun mengembangkan senyumnya pertanda baik.


"Semoga saja kak," jawabnya.


Sedangkan saat Sheila ke toilet, Brian dan papi Boni sudah datang menghampiri meja keluarga, Brian mencari ke keberadaan Sheila yang tidak ia temukan saat ia datang.


"Sheila kemana mi?" tanya Brian kepada mami Salma.


"Dia ke toilet, kamu susulin gih sana, kayaknya dia habis di gempur semalaman di kamar," goda mami Salma.


Sedangkan Brian hanya mendelikkan matanya mengerti dengan godaan maminya, bagaimana maminya tahu ya di dalam hatinya.


Brian segera pergi dan menuju ke toilet di mana Sheila berada, tak lama dia sampai dan masuk ke dalam padahal itu toilet khusus cewek namun Brian tak menghiraukannya dan memilih masuk ke dalam dimana ada Sheila yang baru saja keluar dari dalam bilik.


"Brian, kamu kenapa masuk!" pekik Sheila yang terkejut ada adanya Brian di pintu.


"Aku gak papa kok." balasnya dengan senyuman.


Brian pun mulai lega dan berdiri di belakang Sheila saat wanita itu sedang mencuci tangannya.


Brian pun memeluk tubuh sang istri dari belakang dengan erat dan penuh cinta seperti tidak ingin melepaskan pelukannya kepada Sheila.


"Brian, aduh jangan gini dong." ucap Sheila dengan malu takut ada yang melihat mereka.


"Bentar aja sayang," balas Brian tidak melepaskan pelukannya tetapi malah mengeratkan pelukannya.


"Apakah masih sakit?" tanya Brian dengan khawatir.


"Maksudnya?"


"Tadi mami bilang kalau kamu ke toilet dengan jalan pincang pincang," ucap Brian dengan santainya.


Sedangkan Sheila mendekat hal itu pun di buat malu karena pasti mami tahu apa sebabnya dia jalan seperti itu.


"Kenapa?" tanya Brian yang melihat Sheila malah menutup wajahnya dengan tangannya yang sudah bersih.

__ADS_1


"Aku malu," ucapnya berbalik dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Kenapa malu, hem?" ucap Brian dengan lembut sambil mengelus punggung Sheila.


"Mami pasti tahu kalau kita habis gituan," ucap Sheila dengan wajah polos.


"Gituan apaan?" goda Brian.


"Hihh, kamu mah!"


"Hehe maaf, kayaknya sih iya. Udah gak papa kan kita juga sudah menikah sayang jadi wajah dong," ujar Brian menenangkan sang istri.


Sheila pun sedikit tenang dan berfikir positif karena ucapan sang suami ada benarnya juga, kenapa dia harus malu kan dia melakukannya dengan suaminya sendiri.


"Udah sekarang kita kembali ke sana yuk," ajak Brian dan mendapat anggukan dari Sheila.


Mereka keluar dengan bergandengan tangan, awalnya Brian ingin menggendong Sheila namun Sheila menolaknya dengan keras akhirnya mereka pun berakhir dengan bergandengan tangan.


Sedangkan diluar semua keluarga memilih untuk duduk santai di gazebo tepi kolam renang dan beberapa orang juga memilih untuk berenang di cuaca yang sangat terik ini.


"Ke kamar mandi lama banget nih pengantin baru," goda Tante Jihan istri dari uncle Eric.


Emang ya istri dari uncle sangat cerewet dan suka menggodanya, sebenarnya Brian biasa saja tapi Sheila sudah salah tingkah dan malu.


"Udah sayang, gak usah di goda pengantin baru itu." sahut uncle Eric yang datang dengan Celine di gendongannya dengan tenang.


"Ante," pekik Celine ingin turun dari gendongan papinya dan menuju ke arah Sheila.


"Hai, sayang. Celine mau berenang ya?" tanya Sheila dan mendapat anggukan dari Celine dengan gemasnya.


"Aduh gemesnya."


"Celine ayo," ajak Clara yang sudah siap juga dengan pakaian renangnya.


Celine berlari kecil dengan kaki terbata-bata menuju ke arah Clara.


"Ayo, ante!" ucapnya dengan suara cadelnya.


"Kak Sheila, ayo berenang sama kita." ajak Clara.


"Enggak deh Clara, kak enggak bisa berenang," ucap Sheila takut karena dia memiliki trauma dengan air, dia takut tenggelam karena dia dulu pernah tenggelam di usianya sekitar dua tahunan, begitu lah cerita dari Aris papanya meski dia tidak ingat kenapa di bisa tenggelam namun trauma waktu ia sudah berada di dalam air terus saja teringat.


Mengingat hal itu Sheila ketakutan dan gemetar, itu adalah salah satu atau kejadian yang ingin Sheila lupakan.


Dia sangat ingin bisa berenang seperti yang lainnya, namun apalah daya dia takut untuk memulainya karena trauma yang dia alami.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2