
Setelah selesai dengan urusan jas, Sheila pun segera merebahkan tubuhnya yang sangat capek sekali.
Dia tidak bisa membayangkan kalau dia harus mengganti jas mahal lelaki tersebut, bahkan untuk gajinya saja tidak akan cukup jika harus menggantikan jas miliknya, karena dari bahan dan juga merek saja sudah menunjukkan betapa mahalnya jas tersebut.
Untungnya saja lelaki tersebut hanya memintanya untuk mencucinya kembali tanpa harus mengganti rugi dengan uang.
Asal kalian tahu saja Sheila bahkan tidak tahu siapa yang telah berurusan dengannya, bahkan kartu nama yang di berikan tadi Sheila tidak tahu di mana tadi ia meletakkannya.
Namun saat sedang berbaring dengan pikirannya yang terus melayang, tiba-tiba suara dobrakan pintu mengejutkan Sheila.
BRAKKKK
Sheila pun terkejut hingga ia harus bangun dari rebahannya yang sangat nyaman tadi.
"Sheila!" Teriak kakaknya.
"Iya, ada apa kak?" tanya Sheila saat mamanya sudah berada ambang pintu kamarnya.
"Minta uang!" sahutnya lagi.
"Aku gak ada uang kak," jawab Sheila dengan wajah lemahnya.
"Bohong, buruan gak. Atau nanti aku aduin ke mama kalau elo gak mau ngasih uang ke gue!" pekiknya.
Dengan berat hati Sheila pun memberikan uang kepada kakaknya, padahal rencananya uang itu di gunakan untuk membayar hutang Sheila kepada mbk Ika.
Sheila pernah meminta uang kepada mbk Ika teman kerjanya untuk keperluan kuliah, karena dia tidak mungkin meminta uang kepada papanya, pasti Sheila akan mendapat amarah dan juga cacian jika Sheila harus meminta uang.
"Ini kak," ucap Sheila dengan memberikan sebagian uangnya, setidaknya dia masih ada beberapa uang di tangannya, begitulah pikir Sheila.
Namun Maria sang kakak langsung menyambar semua uang yang ada di tangan Sheila.
"Kak, jangan di ambil semuanya! Sheila gak ada uang sama sekali kak!" sahut Sheila, namun sang kakak terlihat cuek saja tanpa menghiraukan Sheila kemudian pergi dari kamar Sheila.
Sheila pun hanya bisa menerima nasibnya karena dia sadar tidak akan bisa menang dari keluarga nya ini.
Dengan berat hati Sheila pun mengikhlaskan uangnya yang sudah di rampas oleh kakaknya, dan memilih untuk berbaring kembali ke kasurnya, kemudian memejamkan matanya berharap agar beban hidupnya segera luruh dengan terpejam nya matanya.
š„š„š„
Sedangkan di sisi lain, setelah dari restoran Brian segera menuju ke rumahnya. Saat baru saja masuk maminya sudah berada di ruang tamu seperti sedang menunggunya.
"Mami?" panggil Brian menghampiri sang mami, namun maminya hanya diam tak berniat untuk menjawab pertanyaan dari sang anak.
"Mami, kenapa?" tanya Brian dengan lembutnya.
__ADS_1
Brian memang benar kejam, ganas dan berbahaya tetapi itu jika berada di luar rumah, beda hal nya dengan di dalam rumah, maka Brian akan menjadi sosok yang lembut, perhatian sama seperti sang papi yang juga seorang mafia kejam sama seperti anaknya.
Brian pun memandangi papinya yang baru saja datang dari belakang dengan cangkir kopi di tangannya. Brian memberikan kode kepada sang papi dengan menanyakan kenapa maminya, namun hanya angkatan bahu dari papinya.
"Mami, kenapa sih?" tanya Brian lagi.
Mami pun melihat ke arah sang anak dengan raut wajah yang susah untuk di jelaskan seperti ada sebuah perkataan yang ingin di ucapkan oleh maminya.
"Brian, mami pingin punya mantu!" sahut mami dengan wajah sedihnya, bahkan matanya sudah menggenang dan sebentar lagi pasti akan jatuh air matanya.
"Iya, mi. Brian kan sudah pernah bilang ke mami, kalau Brian pasti bakalan bawa calon Brian ke sini ya!" sahut Brian dengan lembutnya, mami yang mendengarkan ucapan Brian pun sedikit melunak.
"Beneran?" tanya mami Salma.
"Iya, mi."
Setelah mendengar ucapan sang anak, mami Salma pun senang dan menggenggam tangan sang anak kemudian berucap.
"Kalau gitu mami mau satu minggu ini kamu segera kenalkan calon kamu ya sayang, mami sudah enggak sabar pingin punya mantu. Bawa dia jalan jalan terus pamer ke temen-temen mami," sahut mami.
"Masa setiap kali ketemu sama temen-temen mami, mereka selalu saja gosipin mantu mereka kadang ada yang ngejelekin dan ada yang muji. Mami kan juga pingin bicara soal mantu mami!" lanjut mami.
"Jadi mami pingin punya mantu biar bisa di gosipin?" tanya papi sekarang mulai membuka suara.
"Eng, eng, Enggak, dong Pi. Ya mami emang pingin punya mantu biar enggak sepi aja," sahut mami dengan sedikit terbata-bata.
Setelah perdebatan panjang tadi, Brian memilih untuk kembali ke kamarnya dan mandi karena ia merasa tubuhnya sangat lengket sekali.
Setelah dengan ritual mandinya, Brian segera berbaring di kasurnya dan memejamkan kepalanya karena dia merasa hari ini sangat lelah, dengan jadwal yang sangat padat.
Dia juga sedang memikirkan bagai mana dia akan membawa calonnya kepada sang mami dan satu minggu ini, bahkan cewek saja Brian tidak punya, karena dia sangat tidak percaya dengan yang namanya cinta selain cinta mami dan papinya.
Dia pernah di sakiti sehingga dia tidak percaya akan cinta seperti ini, yang dia tahu hanyalah one night stand saja dengan para ****** di club milik temannya.
Karena merasa matanya sudah sangat berat karena memikirkan hal-hal yang membuat kepalanya pusing, Brian pun memejamkan matanya dan tertidur pulas tanpa tahu bagaimana dia akan mendapat calonnya.
š„š„š„
Pagi harinya Sheila bangun seperti biasa dengan menyiapkan sarapan untuk keluarganya yang pasti sekarang mereka sedang tertidur pulas di kasurnya.
Setelah selesai Sheila kembali ke kamarnya, kebetulan hari ini dia tidak ada jadwal ke kampus sehingga dia pun memiliki waktu sebentar sebelum kembali bekerja di restoran.
Dia pun berniat untuk mengembalikan jas milik pria kemarin yang ia tabrak, Sheila segera mencari kartu nama yang di berikan kepadanya kemarin.
Setelah mendapatkannya Sheila segera bersiap dan pergi ke tempat tujuannya yaitu Ard Company, Sheila segera membelalakkan matanya dan juga tak percaya bahwa pria yang berurusan dengannya adalah Presdir dari Ard Company, siapa sih yang tidak tahu dengan Ard Company. Memang tidak banyak yang tahu siapa sosok Presdir tersebut karena memang perusahaan tersebut merahasiakannya, karena itu memang keinginan dari Presdirnya sendiri.
__ADS_1
Setelah mengetahui hal itu Sheila pun segera berangkat menuju ke Ard Company, saat sampai Sheila hanya bisa terbengong dengan bangunan yang menjulang tinggi, semua karyawan berlalu lalang dengan kesibukan mereka masing masing.
Sheila pun menuju ke resepsionis dan segera meminta izin untuk bertemu dengan Brian Albern Ardolph, awalnya resepsionis sedikit terkejut tetapi langsung merubah mimik wajahnya.
"Apakah sudah membuat janji?" tanyanya pada Sheila, Sheila hanya diam saja namun setelah di fikir dia sudah buat janji kemarin karena pria tersebut malah yang memintanya datang ke sini.
"Sudah, ini dia memberikan kartu namanya!" sahut Sheila.
Setelah itu resepsionis pun menghubungi seseorang yang Sheila yakin adalah sekertaris dari Brian, karena dia sering sekali melihat drama-drama seperti itu pasti akan menghubungi sekretarisnya.
"Mbk langsung saja menuju ke lantai 35, di sana pak Brian sudah menunggu!" sahut wanita tersebut setelah selesai menelepon seseorang.
Sheila pun berlalu dan menuju ke lantai yang sudah di tunjukkan tadi, sampai di lantai tersebut Sheila di buat kagum dengan desain dan juga interior dari lantai tersebut.
"Permisi, pak. Saya Sheila ini bertemu dengan pak Brian." sheila meminta izin kepada lelaki yang ia terawang kalau itu adalah sekertaris Brian.
"Panggil yoga saja, baik mari!" ucap yoga, Sheila hanya tersenyum manis kemudian mengikuti langkah sekertaris Brian tersebut.
Sedangkan Brian saat sedang menganalisis berkas untuk rapat, tiba-tiba kedatangan tamu yang entah dia lupa siapa.
"Maaf, pak. Ada seseorang yang mencari bapak!" ucap yoga. Brian pun hanya mengangkat alisnya bingung tak lama seorang wanita cantik masuk membuat Brian baru ingat tentang jas mahalnya, padahal Brian sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu.
"Masuk!" tita Brian.
Sheila pun masuk dan yoga pun meninggalkan Sheila sendirian dengan bosnya tersebut.
"Ada apa?" tanya Brian saat yoga sudah meninggalkan mereka berdua saja.
"Ini," sahut Sheila dengan memberikan sebuah paper bag berisi jas Brian kemarin.
"Apa ini?" tanya Brian, padahal dia sudah tahu apa isi dari paper bag tersebut.
"Ini jas yang kemarin saja tidak sengaja tumpahin sama jus," sahut Sheila dengan tetap menundukkan kepalanya takut.
"Oke, saya ambil." ucap Brian singkat kemudian kembali fokus dengan berkasnya.
Sedangkan Sheila tetap berdiri diam di tempatnya dan tidak bergerak sama sekali, membuat Brian kembali memandang Sheila.
"Ada apa masih di sini? Sana pergi!" sahut Brian dengan ketusnya.
Sheila yang mendapat ucapan itu pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan Brian, setelah itu pamit kepada yoga karena dia memang harus segera pergi ke restoran untuk bekerja.
Setidaknya dia tidak harus menggantikan jas mahal dari pria tersebut, karena uangnya tinggal sedikit saja di bank dan harus ia ambil juga untuk menggantikan utangnya kepada mbk Ika karena kemarin uangnya sudah di ambil oleh kakaknya.
.
__ADS_1
.
TBC