
Pagi harinya Sheila dan Brian sudah siap dengan setelan kantornya, Brian juga sudah menghubungi yoga untuk mencarikan satu posisi untuk Sheila di Ard Company, awalnya yoga ingin bertanya tetapi ia urungkan karena paham mengapa bosnya seperti itu.
"Sudah siap?" tanya Brian saat sudah siap dengan stelan jasnya dan melihat Sheila yang juga siap dengan setelan kantor nya.
"Sudah," balas Sheila dengan senyum manisnya.
"Cantik." ucap Brian mendekati sang istri dan menarik pinggang Sheila hingga dia pun menabrak tubuh atletis sang suami.
"Ihh, kamu mah jangan gitu, buruan yuk turun," ajak Sheila melepaskan pelukan dari Brian. Brian hanya tersenyum simpul saat melihat wajah sang istri yang malu malu kucing tersebut.
Mereka sudah sampai di bawah tepatnya di meja makan, di sana juga ada mami salma dan juga papi Boni yang juga sudah siap di tempat duduk masing masing.
"Loh sayang, kamu mau ke mana?" tanya mami Salma pasalnya beliau tahu kalau Sheila sudah tidak di perbolehkan oleh Brian untuk kerja di restoran lagi.
"Sheila mau kerja mi," jawabnya dengan duduk di kursinya.
"Bukannya kamu sudah enggak kerja di restoran lagi," sahut mami dan mendapatkan anggukan dari Sheila.
"Iya, mi."
"Lah terus kamu mau kerja di mana sayang?" tanya mami Salma yang tambah penasaran saja.
"Sheila mau kerja di perusahaan aku mi," jawab Brian dengan santainya.
Sedangkan mami Salma yang mendengarkan pun hanya bisa bengong namun beliau langsung mengubah ekspresi kagetnya.
"Beneran sayang?" tanya mami salma lagi memastikan kepada Sheila.
"Iya, mi." balasnya dan mami Salma pun lebih tenang kalau Sheila bekerja di sana pasalnya Brian bisa lebih memantau keadaan sang istri dari pada harus bekerja di restoran.
"Semoga kamu betah ya sayang," sekarang papi Boni yang mendoakan agar Sheila bisa betah di perusahaan dan Sheila pun hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah sarapan pagi Brian dan Sheila pun melajukan mobilnya menuju ke arah kantor Brian.
Awalnya Sheila tidak ingin satu mobil dengan Brian karena takut jika para karyawan melihatnya, namun Brian tetap lah Brian dengan segala perintahnya sehingga mau tidak mau Sheila pun menurut saja.
Dan untuk Laura bodyguard Sheila tetap di tugas kan oleh Brian tetapi Sheila meminta agar Laura lebih baik di tempatkan jauh saja darinya sehingga Laura di tempatkan di ruang scurity yang kebetulan juga biasanya sopir Brian berada di sana.
"Berhenti!" pekiknya tajam saat mobil akan sampai di depan kantor.
__ADS_1
Sampai di dekat kantor Sheila ngotot ingin turun terlebih dahulu sehingga yoga yang membawa mobil tersebut pun berhenti.
"Ada apa sayang?" tanya Brian.
"Aku turun sini aja," sahut Sheila.
"Kenapa di sini?"
"Aku gak mau nanti karyawan lainnya tahu sayang, aku mohon ya!" mohon Sheila dengan wajah imutnya sehingga mau tidak mau Brian pun menuruti saja karena tidak tega melihat wajah Sheila yang sangat gemas menurutnya.
"Oke, tapi di temani sama Laura ya," sahut Brian dan mendapat anggukan dari Sheila.
Akhirnya Sheila dan Laura pun keluar dari mobil mewah Brian saat di rasa situasi sudah aman untuknya keluar, memang Laura tadi duduk di samping kemudi sedangkan yang mengemudikan mobil adalah yoga, untuk Brian dan juga Sheila berada di belakang berduaan sedangkan Thomas supir Sheila berada di mansion karena memang Sheila berangkat dengan Brian.
Setelah keluar dari mobil Sheila dan Laura pun berjalan menuju ke kantor, sedangkan yoga pun melajukan mobilnya pelan sampai di depan lobi dan melewati Sheila dan Laura yang memang berjalan pelan.
Sampai di lobi Brian sesekali melirik Sheila yang juga sudah sampai di depan scurity, kemudian Brian pun berjalan menuju ke dalam dan di sambut oleh beberapa karyawan yang langsung menyambutnya dengan tatapan memuja dan juga terpanah dengan Presdirnya itu karena tidak pernah terlihat jelek sama sekali.
Sheila juga sudah sampai di lobi dan melihat Brian yang terus di lihat oleh karyawan lainnya dengan tatapan memuja sungguh membuat hati Sheila sedikit cemburu.
'Gini nih kalau punya suami tampan,' gerutu Sheila pelan.
"Yoga selalu pantau Sheila, dan kalau bisa tempatkan dia di divisi yang tidak terlalu memberatkannya," sahut Brian.
"Siap, bos." sahut yoga.
Sedangkan Sheila setelah melihat lift di mana Brian berada dia pun berjalan lebih dekat menuju ke arah meja resepsionis karena dia ingin menanyakan soal ruang HRD.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" sapa pegawai resepsionis dengan ramahnya.
"Permisi, saya karyawan baru di sini saya sedang mencari ruangan HRD, kalau tahu di mana ya?" tanya Sheila dengan sopan nya.
Setelah mengucapkan hal itu sang resepsionis pun menunjukkan arah jalan menuju ke ruangan tersebut dan Sheila segera menuju ke tempat yang telah di arahkan oleh resepsionis tersebut.
Sampai lah Sheila di salah satu ruangan di mana pintu yang membatasi ruangan tersebut dan tertera ruangan HRD di depannya, segera Sheila mengetuk pintu tersebut.
TOK TOK TOK
"Masuk!" ucap seseorang dari dalam, Sheila segera masuk ke dalam dengan hati-hati dan menampakkan wanita dewasa berumur sekitar 40 tahunan.
__ADS_1
"Permisi, Bu. saya Sheila pegawai baru di sini," sahut Sheila dengan sopan.
"Oh, iya. silahkan duduk," sambutnya Rama dan berdiri dari duduknya dan berganti duduk di sofa di mana Sheila di persilahkan duduk.
"Terima kasih, Bu." ucap Sheila sambil duduk di tempat yang dipersilahkan.
"Perkenalkan nama saya Ella," perkenalan Ella manajer HDR di sana.
"Selamat pagi, Bu Ella," sapa Sheila.
"Pagi, okey. Kemarin pak yoga sudah memberitahukan kepada saya soal kamu yang akan bekerja di sini, saya tidak tahu hubungan kamu dengannya tapi saya melihat dari lamaran kamu cukup mengesankan sehingga saya setuju kalau kamu bekerja di sini, dan saya percaya pak yoga tidak akan salah memilih karyawan. Saya adalah salah satu orang yang tidak suka akan hal-hal aneh dan saya tidak akan membandingkan kamu karena kamu langsung di rekomendasikan oleh atasan saya, saya akan tetap memperlakukan kamu seperti karyawan lainnya." sahut Bu ella dengan tegas.
"Baik, Bu." jawab Sheila merasa sedikit tenang karena Bu ella sepertinya tidak tahu soal Sheila adalah suami sang Presdir.
"Kalau begitu saya akan memberitahukan pekerjaan kamu dan juga posisi kamu," sahutnya.
"Baik, Bu." balasnya.
"Kamu akan menjadi salah satu bagian dari divisi pemasaran," sahut Bu ella.
"Baik, Bu." sahut Sheila bagaimana pun dia harus menerimanya bukan karena dia di sini hanya lah seorang pegawai bukan istri dari pemilik perusahaan.
TOK TOK TOK
Tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan seorang pria yang tidak terlalu tuan mungkin sekitar 35 tahunan yang ternyata sudah di panggil oleh Bu Ella tadi.
"Edwin, ini adalah Sheila staf dari divisi pemasaran, dan Sheila ini adalah Edwin manajer pemasaran dan juga atasan kamu langsung di divisi." ucap Bu Ella menjelaskan kepada Sheila dan Sheila hanya menganggukkan kepalanya paham.
"Kalau begitu kamu sekarang ikut dengan pak Edwin saja ya, Edwin kamu tolong ajarkan Sheila soal pekerjaan di divisi pemasaran karena saya sendiri yang akan mengawasi Sheila," sahut Bu ella karena bagaimana pun Bu Ella memiliki perasaan kalau Sheila bukan lah orang sembarangan karena sampai di rekomendasikan sendiri oleh pak yoga bukan dan juga berita yang menyebar, jangan kira Bu Ella tidak tahu soal berita heboh tersebut, semua orang juga tahu berita yang sempat heboh itu.
"Baik, Bu. mari Sheila," ajak pak Edwin.
"Kalau begitu saya permisi dulu Bu," pamit Sheila beranjak dari tempat duduknya.
"Iya, semoga saja kamu betah ya kerja di sini dan selamat masuk kerja untuk hari pertama ya," sahut Bu Ella.
"Iya, Bu. Terima kasih," ucap Sheila.
Setelah mengucapkan itu Sheila pun pergi dengan pak Edwin menuju ke ruangan tempat divisi pemasaran berada tepat nya di lantai 3 gedung tinggi tersebut.
__ADS_1
Bersambung..........