
Setelah beberapa waktu Sheila pun sampai di kediaman keluarga Ardolph, capek rasanya padahal baru satu hari masuk kerja sudah membuat badan Sheila serasa remuk. Bagaimana tidak, karena dia harus mengerjakan tugas yang sebenarnya bukan tugasnya.
Sheila segera masuk ke dalam mansion dan di sana sudah ada mami Salma dan juga papi Boni yang sedang bercengkrama asyik di ruang keluarga dan di sana juga ada Tian cucu dari Bu Natali.
"Sheila pulang," ucapnya sambil berjalan ke arah mertuanya itu.
"Eh, sayang. udah pulang, gak sama Brian sayang?" tanya mami salma.
"Enggak, mi. Brian sedang ada meeting di luar sama klien." jawab Sheila dan mendapat anggukan dari mami Salma.
"Kalau gitu Sheila ke atas dulu ya mi, Pi buat bersih-bersih," pamit Sheila.
"Iya, sayang." jawab mami Salma dan juga papi Boni berbarengan.
Setelah itu Sheila pun segera naik ke atas untuk bersih-bersih diri, setelah selesai dengan ritual mandinya dia pun memutuskan untuk ke bawah membantu mami Salma yang kebetulan juga baru masuk ke dalam dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Mami," ucap Sheila saat sudah sampai di dapur.
"Sayang, udah selesai mandinya?" tanya mami Salma.
"Iya, mi. sini Sheila bantu," sahut Sheila mencoba membantu mami Salma.
"Kamu jaga Tian aja biar yang masih di sini mami, bi Nana sama Natali." ucap mami salma.
"Iya, mi."
Setelah itu Sheila pun berjalan ke arah ruang keluarga di mana di sana sudah ada Bu Natali yang sedang bermain dengan Tian.
"Eh, non Sheila." sapa bu Natali.
"Bu, biar Sheila aja yang jagain Tian." ucap Sheila.
"Beneran non?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Iya, Bu."
"Panggil bi aja non," sahut Bu Natali yang tidak enak juga di panggil Bu.
"Iya, bu.. eh, iya bibi" sahut Sheila.
"Kalau gitu bibi ke dapur dulu bantu-bantu nyonya ya non," ucap bi Natali.
"Iya, bi."
Setelah itu bi Natali pun beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Sheila dan Tian berduaan, rasanya Sheila sangat senang karena adanya Tian di mansion ini, setidaknya tidak terllau sepi dan terkadang Sheila juga merasa bersalah karena belum bisa memberikan keturunan untuk keluarga Ardolph padahal dia sudah berusaha semaksimal mungkin agar memiliki keturunan.
Memikirkan hal itu membuat hati Sheila sedikit sakit dan memikirkan hal yang tidak tidak saja. Dia takut jika dia tidak bisa memberikan keturunan untuk Brian, apakah dia akan menceritakannya atau bahkan menikah lagi jika Sheila tidak bisa hamil. Sheila terus memikirkan hal itu membuat adanya genangan air mata di matanya, dan menghiraukan Tian yang sedang bermain dengannya.
"Astaga, apakah salah jika aku berharap ingin memiliki anak!" gumam Sheila di dalam hatinya dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.
Sedangkan tanpa Sheila sadar Brian juga sudah sampai di mansion, dia memang tidak memberitahukan Sheila kalau dia akan pulang. Dia berjalan menuju ke ruang keluarga yang di mana di sana ada sang istri dan juga Tian sedang bermain. Namun belum sempat ia sampai sana, Brian malah melihat sang istri meneteskan air matanya saat melihat Tian yang sedang bermain membuat Brian kalang kabut di buatnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Brian saat sudah sampai di depan Sheila dengan berjongkok.
Sedangkan Sheila saat melihat sang suami sudah berada di depannya segera menghapus air mata yang keluar agar Brian tidak tahu, tapi sayang Brian sudah melihatnya bukan.
"Ada apa?" tanya nya lagi karena tidak mendapat jawaban dari sang istri.
"Eng.... enggak kenapa-kenapa kok, cuma kemasukan debu, iya cuma kemasukan debu aja kok!" sahutnya mencari alasan.
"Enggak mungkin, kenapa nangis gitu!" sahut Brian tidak percaya.
"Sayang," sahut Sheila mengelus lengan kekar sang suami agar tidak marah marah dan benar saja cari itu sangat ampuh menurunkan emosi di hati Brian.
"Kamu beneran enggak apa-apa?" tanya Brian lagi namun dengan nada yang lebih lembut lagi. mendengar hal itu Sheila pun tersenyum sambil menggalakkan kepalanya.
"Iya, aku gak papa kok." jawab Sheila. Brian pun menghapus air mata Sheila yang tersisa tadi setelah itu dia pun mengecup sekilas kening sang istri.
__ADS_1
"Kalau gitu aku ke kamar dulu bersih bersih setelah itu ke sini lagi ya," pamitnya dan mendapat anggukan dari Sheila.
"Iya."
Setelah itu Brian pun pergi naik ke atas dan bersih-bersih diri kemudian turun ke bawah lagi menuju ke meja makan saat dia sudah siap dengan pakaian santainya dan di sana sudah ada mami Salma dan papi Boni dan sang istri yang sudah duduk manis di sana dan hanya menunggu Brian saja.
"Lama banget sih," ucap mami salma dengan sewotnya.
"Maaf ya mami sayang," ucap Brian sambil duduk di tempatnya di samping Sheila.
"Untung anak," balas mami Salma. sedangkan papi Boni dan Sheila hanya melihat tingkah laku anak dan ibu ini sangat unik sekali.
Mereka pun makan malam dengan tenang dan sesekali Brian melihat ke arah Sheila memastikan kalau sang istri memang tidak ada apa-apa, untung saja Sheila sudah tidak murung seperti tadi.
Setelah makan malam keluarga Ardolph selalu saja meluangkan waktu untuk sekedar bertanya atau pun memberikan kabar, si sana juga ada Tian yang di gendong sama mami Salma sedangkan bi Natali sedang di dapur membereskan peralatan makan malam tadi dengan bi Nana.
Sheila yang melihat mami Salma papinya sepertinya sangat menyayangi Tian, membuat Sheila tidak tega melihatnya. Dia takut mertuanya nanti bertanya soal buah hati yang masih belum di turunkan tuhan kepada sepasang suami istri ini.
Setelah di rasa waktu sudah mulai malam Brian pun mengajak Sheila ke kamarnya untuk istirahat karena dia tahu pasti Sheila merasa capek karena ini adalah hari pertama kerja untuknya.
"Bagiamana sama kerjanya tadi?" tanya Brian saat mereka berdua berbaring di atas ranjang dengan Sheila yang bersandar di dada bidang sang suami.
"Enak kok, karyawan nya ramah ramah semuanya!" ucap Sheila sambil tersenyum dan tidak membicarakan soal Tiffany tadi yang seperti ingin bermusuhan dengannya.
"Syukur kalau begitu," ucap Brian dengan membelai rambut panjang dan lembut sang istri.
"Sayang," panggil Sheila dengan sedikit pelan. Sheila memang sudah mulai memanggil Brian dengan sebutan tersebut karena mau tidak mau dia juga ingin membuat Brian senang dengan mengabulkan permohonan nya waktu itu bukan.
"Ada apa hm?" jawab Brian dengan lembutnya.
"Apakah kamu suka dengan bayi?" tanya Sheila dengan sedikit takut menyinggung perasaan sang suami.
Bersambung..........
__ADS_1