Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
Pelaku


__ADS_3

Sheila sampai sekarang belum bangun juga dan Brian juga terus berada di samping Sheila, bahkan Brian mengabaikan kerja kantornya yang di urus oleh yoga karena dia terus saja menemani Sheila di rumah sakit.


"Sayang," panggil mami Salma yang baru saja sampai di sana.


"Mami, papi." sapa Brian saat melihat orang tuanya datang.


"Ada apa dengan Sheila sayang?" tanya mami Salma yang menghampiri Sheila di ranjang rumah sakit.


"Dia keracunan mi, kayaknya ada yang sengaja kasih racun di makanan Sheila," sahut Brian sedikit marah kalau dia menginat kejadian tadi.


"Apa! bagaimana bisa bri?" sekarang papi Boni yang mulai penasaran.


"Brian juga kurang tahu Pi, ini Brian sudah suruh yoga untuk menyelidiki semuanya," sahut Brian.


"Segera selidiki nak, kalau kamu butuh bantuan bisa kasih tahu papi," sahut papi Boni dan Brian pun menganggukkan kepalanya mengerti.


Mami Salma menghampiri ranjang Sheila dan mengelus lembut tangan sang menantu yang sedikit panas dan juga pucat. Tak lama ada pergerakan dari tangan Sheila.


"Sayang, sayang kamu udah bangun?" tanya mami Salma yang melihat adanya pergerakan, sontak saja membuat Brian dna papi Boni mendekat ke arah maminya.


Sheila sedikit demi sedikit pun membuka matanya dengan pelan karena dia merasakan sakit di tubuhnya. Brian segera maju ke depan menggenggam erat tangan Sheila, Sheila pun pertama kali membuka mata langsung melihat wajah sang suami yang terlihat khawatir.


"Sayang," panggilnya pelan.


"Iya, aku di sini." sahut Brian kemudian membawa Sheila ke dalam pelukannya.


Setalah itu dokter pun datang dan memeriksa keadaan Sheila dengan hati-hati karena jika tidak maka bisa jadi nyawanya yang melayang bukan, karena dokter Oliv sudah tahu seluk beluk keluarga Ardolph yang sangat menakutkan itu.


"Bagaimana dok?" tanya mami salma.


"Keadaan nona Sheila sudah membaik nyonya, tapi mungkin harus istirahat total mungkin perutnya sedikit ada nyeri akibat racun tadi." sahut dokter Oliv kemudian pamit pergi.


"Sayang, kamu udah enakkan?" tanya mami Salma setelah berbincang dengan dokter Oliv.


"Iya, mi. Sheila udah baikan kok," ucap Sheila.

__ADS_1


"Syukur kalau begitu."


Setelah itu mami Salma dan papi Boni pun pamit pergi karena hari sudah malam dan Sheila butuh istirahat sedangkan Brian sekarang sedang berada di markas dan dengan yoga dan Aldo di sana.


"Bagiamana apakah sudah ada perkembangan siapa yang sudah mencelakai Sheila?" tanya Brian dengan tegas.


"Sudah bos, ini orangnya," ucap yoga sambil memberikan selembar kertas berisi siapa pelaku sebenarnya.


"Dia adalah salah satu karyawan di Ard Company divisi pemasaran sama seperti nona muda, setelah di selidiki ternyata dia juga pernah membunuh karyawan Ard Company karena mereka tersaingi, dia tidak ingin orang lain mengambil alih popularitas di kantor bos, demi melancarkan aksinya dia bahkan menyuap salah satu petugas cctv dan juga karyawan lainnya agar tutup mulut dengan menjajakan tubuhnya. Dan sepertinya nona muda adalah saingannya sehingga dia berbuat seperti itu, dan saya mendapatkan informasi bahwa sebelum adanya hal ini nona muda ternyata pernah di labrak juga dengan wanita tersebut." sahut yoga saat Brian sedang fokus membaca informasi dari wanita tersebut.


"Wanita seperti ini mau mencelakai istri seorang Brian Albern Ardolph seorang mafia kejam, hahaha!" seringan Brian merasa lucu, bahkan wanita tersebut membunuh karyawan Brian.


"Yoga segera pecat orang tersebut dan juga blacklist dia dari semua perusahaan, dan aldo buat semuanya hancur bunuh semua orang dekatnya dan juga buat dia tidak memiliki apapun." sahut Brian dengan tegas.


"Baik, bos." sahut mereka berdua berbarengan kemudian pergi meninggalkan Brian sendirian.


Kalau kalian bertanya mengapa Brian tidak membunuhnya langsung, maka salah Brian ingin Tiffany merasakan kehidupan yang sangat sengsara terlebih dahulu, soal mati Brian bisa saja membunuh Tiffany sekarang tapi lebih baik melihat orang tersebut sengsara di tinggal orang-orang terkasih ya terlebih dahulu, hingga dia sendiri yang sudah tidak kuat dan meminta untuk mati saja dari pada hidup. Itu adalah penyiksaan yang sesungguhnya dari pada harus langsung mati bukan.


Setelah itu Brian pun kembali ke rumah sakit dengan bodyguard yang mengawasi ruangan VVIP Sheila sehingga Brian lebih tenang saat meninggalkan sang istri sendirian. Saat masuk Brian melihat di dalam ada Laura yang sedang membantu Sheila berdiri dari ranjang.


"Sayang kenapa?" tanya Brian mendekati sang istri.


"Oke, sini sama aku aja." ucap Brian mengambil alih tubuh mungil sang istri dari Laura, kemudian Laura pun izin pamit dan di angguki oleh Sheila. Sheila pun masuk ke dalam di bantu oleh Brian tenang saja Brian tidak akan macam-macam saat sang istri sedang kesakitan seperti ini.


Setelah itu Sheila pun berbaring di ranjang di bantu dengan Brian dengan hati-hati takut jika menyakiti Sheila, sedangkan Sheila yang melihat wajah sang suami yang sepertinya khawatir pun merasakan gemas hingga ia berinisiatif mencium lembut pipi sang suami.


CUP


Kecilnya singkat di pipi Brian membuat sang empunya mendelik kaget karena sang istri.


"Hey, kau nakal ya," sahutnya kemudian membalas kecupan singkat bertubi-tubi di pipi sang istri.


"Udah sayang aku geli!" pekik Sheila karena perbuatan sang suami. Brian pun menghentikan kegiatannya dan menyuruh Sheila untuk tidur karena waktu sudah malam.


"Udah kamu tidur ya, sekarang udah malam." sahut Brian dengan lembut.

__ADS_1


"Sayang," panggil Sheila menahan tangan Brian yang akan beranjak.


"Ada apa?" tanyanya.


"Aku besok boleh kerjakan?" tanya Sheila dengan pelan.


"No!" sahutnya tegas.


"Why?" tanya Sheila saat mendapat penolakan dari sang suami.


"Kamu masih sakit, dokter juga menyuruh kamu untuk istirahat total." ucapnya membuat Sheila mengerutkan bibirnya.


"Hey, aku begini itu karena aku khawatir sama kamu sayang," sahutnya dengan mengusap lembut Surai sang istri.


"Iya," jawab Sheila singkat. Sheila tadi sudah tahu sebab dia bisa sampai di sini dari percakapan Brian dan yoga yang tidak sengaja dia dengar tadi, awalnya Sheila sangat terkejut tapi dia mencoba berfikir jernih dan tidak menuduh orang, memang Sheila belum tahu siapa sebenarnya yang sudah meracuni nya.


"Sayang," panggilnya lagi.


"Ada apa lagi sayang?"


"Siapa pelakunya?" tanya Sheila to the point karena dia sangat penasaran.


"Maksudnya?" tanya Brian tidak mengerti.


"Yang sudah ngeracunin aku," sahut Sheila membuat Brian kaget pasalnya Brian mengira kau Sheila tidak tahu akan hal itu.


"Dari mana kamu tahu?" sekarang Brian sedikit kepo.


"Ih, buruan jawab kok malah balik tanya sih." ucap Sheila sedikit sebal karena Brian malah balik bertanya.


"Tapi kamu jangan kaget ya," ucap Brian memastikan terlebih dahulu.


"Iya," balas Sheila dengan menganggukkan kepalanya.


"Tiffany salah satu karyawan divisi pemasaran," sahut Brian dengan santainya sedangkan Sheila sudah terkejut bukan main.

__ADS_1


"Apa! Tiffany," sahut Sheila tidak percaya dengan apa yang ia dengar tadi.


Bersambung..........


__ADS_2