Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
Merawatnya


__ADS_3

Malam hari ini kedua insan yang sedang di mabuk cinta pasti membuat iri siapa pun yang mendengarkannya, setelah banyak hal yang mereka lalui banyak air mata yang sudah jatuh namun mereka tetap bertahan pada akhirnya mereka lah pemenangnya.


Brian bermain dengan pelan karena dokter Andin memberitahukan nya bahwa boleh berhubungan suami istri tetapi lebih pelan karena sekarang ini Sheila sendang hamil jadi tidak boleh sembarangan, Brian pun bermain pelan tetapi tetap saja memuaskan entah lah baik Sheila mau pun Brian juga sudah sangat merindukan status Ama lain sehingga sudah beberapa ronde di lewati tanpa terasa, setelah itu mereka pun tumbang dan tertidur dengan saling berpelukan mesra tanpa sehelai benang pun di tubuh mereka dan hanya di tutupi oleh selimut.


Pagi harinya Sheila banyak terlebih dahulu namun tak langsung beranjak dari tidurnya karena dia merasa sangat nyaman saat bisa skin to skin dengan sang suami apa lagi dia bisa merasakan kulit lembut Brian secara jelas dan nyata.


Sheila terus menggerakkan jari telunjuknya ke dada bidang sang suami membuat Brian sedikit terganggu akan gerakan di dadanya, dia pun bangun dan melihat sang istri yang sedang bermain telunjuk nya di dada nya.


"Ada apa hm?" tanya Brian membuat Sheila terkejut dan melihat ke arah suara itu berasal.


"Sudah bangun?" tanya Sheila dan di angguki oleh Brian.


"Kamu udah bangun dari tadi?" tanya Brian balik namun mendapatkan gelengan kepala dari Sheila.


"Baru kok," jawabnya singkat.


Brian pun mengelus rambut lembut sang istri dengan penuh cinta rasanya dia tidak ingin beranjak sama sekali dari tempat tidur ini dan ingin terus berpelukan seperti ini dengan Sheila menyalurkan semua cinta mereka berdua sambil mengeratkan kembali hubungan yang sempat renggang beberapa waktu kemarin.


"Awww!" pekik Sheila membuat Brian terkejut dan kaget.


"Kenapa sayang?" tanya Brian.


"Sayang, baby nya nendang kayaknya dia seneng deh habis ketemu deddy nya," sahut Sheila membuat Brian tertawa bahagia.


Brian pun mengelus perut sang istri penuh cinta sambil mengajak sang baby berbicara mengungkapkan isi hatinya.


"Sayang, kamu yang tenang ya di perut mami jangan sering nendang kasihan tahu mami harus nahan sakitnya, nendang nya kalau ada deddy aja ya!" ucap Brian kemudian di akhiri dengan ciuman di perut Sheila.


"Sayang, kamu sakit ya?" tanya Sheila karena merasa bahwa tubuh sang suami sangat panas sekali padahal kemarin Sheila merasa bahwa sang suami baik baik saja.


"Enggak kok, aku gak papa." sahut Brian mencoba beralasan.

__ADS_1


"Enggak apa-apa bagaimana orang panas banget gini!" sahut Sheila kemudian bangun dari tidurnya namun sebelum itu dia sudah rapi dengan pakaiannya ya.


Sheila pun bergerak ke kamar mandi untuk mandi setelah itu membuatkan bubur untuk sang suami, Sheila tahu Brian pasti sedang sakit sehingga biarkan dia yang merawatnya sekarang karena dari dulu Brian lah yang terus merawat Sheila biarkan Sheila yang akan merawat sang suami sekarang.


Sheila membuat bubur untuk Brian dan membawakannya ke kamar di mana sang suami berada, Brian berbaring sana dengan lemas ingin berpura pura kuat namun karena sudah ketahuan ya sudah lebih baik menurut saja bukan.


Sheila masuk dengan membawa bubur di tangannya dan juga obat untuk demam sang suami, baru akan menyuapi sang suami Sheila tak sengaja melihat punggung sang suami yang sudah di perban membuat Sheila penasaran dan menanyakan bekas tersebut.


"Sayang, itu punggung kamu kenapa?" tanya Sheila melihat punggung sang suami.


Sedangkan Brian mencoba untuk menutupi luka tersebut dengan pakaiannya namun karena sang istri yang sangat penasaran hingga pakaian Brian pun terbuka bagian punggungnya.


"Sayang ini kenapa?" tanya Sheila.


"Bukan apa-apa kok sayang," sahut Brian tidak mau membuat sang istri sedih.


"Jawab gak kenapa?!" sahut Sheila, mau tidak mau Brian pun mengatakan yang sebenarnya.


"Ketembak," sahut Brian dengan canggung.


"Kapan?" tanya Sheila lagi.


"Waktu kamu di culik," ucap Brian lagi.


"Apa!" pekik Sheila terkejut akan hal tersebut.


"Bagaimana bisa?" tanya Sheila terus menerus karena dia penasaran bagaimana sang suami bisa tertembak saat dia di culik.


"Saat kamu pingsan Liam tiba-tiba menembak aku jadi ya seperti ini deh," sahut Brian.


Sheila sangat merasa bersalah gara-gara dia sang suami harus merasakan hal menyakitkan ini di tubuhnya, luka tembak yang cukup besar membuat Sheila bertekad akan merawat sang suami hingga sembuh.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu kamu makan buburnya dulu baru setelah itu aku akan ganti perbannya," sahut Sheila dan di angguki oleh Brian.


Setelah makan buburnya Sheila pun mengganti perban sang suami yang sudah seharian kemarin tidak Brian ganti sehingga ada bekas darah di sana membuat Sheila tidak tega pasti rasanya sangat sakit sekali namun dia salut sama sang suami yang menyembunyikan hal tersebut, kalau Sheila tidak tahu tadi maka Sheila pastikan bahwa sang suami akan terus menyembunyikan hal tersebut kepadanya.


Di badan Brian juga banyak sekali luka jahitan dan juga luka sayatan di punggung dan juga dadanya membuat Sheila tidak tega, dia baru sadar akan hal tersebut karena dulu setiap Sheila bertanya Brian selalu saja bilang bahwa Sheila nanti akan tahu juga bekas tersebut, saat sudah tahu Sheila malah merasa kasih karena luka yang cukup banyak dan pasti akan sakit di tubuhnya.


Dengan telaten Sheila merawat luka Brian, Brian hanya bisa tersenyum dengan perlakuan sang istri yang menurutnya sangat perhatian kepadanya. Sheila meniup niupkan di luka Brian agar sang suami tidak kesakitan padahal sebenarnya luka seperti ini sudah sangat sering di alami oleh Brian tapi entah kenapa dia harus demam segala sehingga Sheila mengetahui akan luka tembak di punggungnya.


Setelah merawat luka sang suami Sheila pun segera menyuruh Brian untuk istirahat karena dia sudah minum obatnya tadi dan waktunya untuk istirahat.


Saat Brian sudah istirahat Sheila pun keluar dari kamar dan berjalan menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuknya, sebenarnya pak Chris sudah menyiapkannya di bantu oleh BI Nana yang memang Brian panggil untuk tinggal di villa saja karena mansion keluarga Ardolph masih di perbaiki dan juga tidak ada orang di sana sehingga bi Nana di panggil lah ke villa.


Sheila makan hanya dengan nasi goreng buatan bi Nana yang memang terkenal memiliki cita rasa yang enak bahkan saat Sheila pertama kali mencoba rasa nasi goreng tersebut dia sudah sangat jatuh cinta dengan nasi goreng tersebut karena baginya itu adalah bahan yang simpel namun sangat enak.


Setelah selesai sarapan tak lama mama Daniar dan mami Boni datang, sedangkan papa Bastian dan papi Boni berada di markas untuk mengurus sesuatu karena dia mendengar bahwa Brian sakit sehingga mereka menjadi tidak tega kalau Brian sedang sakit.


"Sayang," panggil mama Daniar dan juga mami Salma.


"Mama, mami!" pekik Sheila merasa sudah sangat kangen dengan dua ibu nya itu.


Setelah itu mereka pun menikmati suasana villa dengan berjalan jalan di taman dan berbincang bincang banyak hal, Sheila sudah mencoba untuk mengikhlaskan semuanya karena baginya sekarang ini kebahagian keluarganya adalah nomor satu dan juga keluarganya pasti punya alasan tersendiri tidak memberitahukan kepadanya.


.


.


Bersambung..........


HAI READERS SEMUANYA πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


GIMANA NIH SAMA CERITANYA SERU GAK YA???

__ADS_1


AUTHOR CUMA MAU NGASIH TAHU AJA UNTUK CERITA SHEILA DAN BRIAN AKAN SEMAKIN SERU LOH KARENA SUDAH AKAN MENDEKATI ENDING, DAN JUGA AUTHOR JUGA SUDAH MENYIAPKAN CERITA BARU YANG AKAN SEGERA TAYANG JADI TERUS PANTENGIN TERUS YA CERITA AUTHOR INI😊


SALAM HANGAT DARI AUTHOR UNTUK READERS SEMUANYA πŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ₯°β™₯️β™₯️


__ADS_2