
"Sudah Sheila mending kita pergi aja ya," ajak mami Salma menarik Sheila untuk menjauh dari Maria, sedangkan Maria yang di tinggal pun mendesah kesal ingin marah tapi dia takut jika ada nyonya Salma secara dia adalah istri dari Boni Ardolph dan juga ibu dari Brian Albern Ardolph bisa habis dia jika menyakiti nya.
š„š„š„
"Awas aja elo ya Sheila, ternyata dia juga kenal sama nyonya Salma." sahut Maria dengan nada ketusnya.
Sedangkan Sheila yang ditarik oleh mami Salma pun hanya mengikuti saja langkah kaki mami Salma ke mana hingga mereka sampai di tempat istirahat di sana sudah ada banyak makanan tersedia yang memang mami Salma pesankan untuk menantu kesayangannya tersebut.
"Sayang, itu kakak kamu yang jahat sama kamu?" tanya mami Salma memancing agar Sheila berbicara jujur dan benar saja Sheila hanya menganggukkan kepalanya.
"Astaga, sudah mami tebak emang, tadi aja mami pas lihat dia rasanya gedeg dan enek banget sumpah." sahut mami Salma dengan nada marahnya dan kesalnya.
"Udah mami, Sheila gak apa-apa kok lagian kak Maria kan juga kakak Sheila," sahut Sheila menenangkan hati mami salam yang sudah panas, mami Salma pun mencoba untuk tenang dan sabar.
Maria juga melihat interaksi antara Sheila dan mami salma pun terus saja di buat emosi dan kesal.
"Elo pakek pelet apa sih Sheila, gila bahkan tuan Steven dan Bu Salma sampai care sama elo!" pekik Maria tak terima dengan kejadian yang ia lihat, begitu lah Maria melewati hari ini dengan rasa dengki, benci dan juga cemburu yang tinggi.
"Udah, mar. mending kita segera kembali ke lokasi syuting tuh udah di cariin!" sahut Leni asisten Maria.
Dengan kesal Maria pun kembali ke tempat syuting meski sesekali ia curi pandang di mana Sheila sedang santai dengan Bu Salma, banyak juga orang yang melihat kedekatan dari kedua orang tersebut tapi tidak ada yang berani untuk sekedar bertanya.
"Kayaknya ini waktu yang pas buat gue nyebarin berita soal Sheila yang menikah dengan keluarga Ardolph," gumam maria lirih namun dengan seringai jahatnya, karena dia sangat tidak rela jika Sheila harus bahagia dalam hidupnya padahal dia kan menikah dengan aki aki tua yang sudah menikah pula.
"Eh, eh. mau tahu gak itu yang sama nyonya Salma siapa," sahut Maria mulai melancarkan aksinya.
"Siapa emangnya?" tanya salah satu staf di sana.
"Dia itu istri dari tuan Steven!" sahut Maria memperpanas keadaan.
"Apa! masa sih mar? Bukannya tuan Steven itu kakaknya dari tuan Boni ya, ayah dari tuan muda Brian dan bukannya tuan Steven juga sudah punya istri dan anak ya!" tanya leni asistennya yang juga penasaran dengan Sheila karena bisa berani dekat-dekat dengan seorang Salma Ardolph.
"Iya, dia itu jadi istri ke duanya." sahut Maria cukup senang karena sekarang banyak pasangan mata yang sedang mendengarkan dia cerita soal Sheila yang bisa di pastikan akan sangat membuat media heboh dengan kabar tersebut karena menjadi istri muda dari tuan Steven salah satu pengusaha terkenal di negara X.
__ADS_1
Benar saja semua berita heboh sudah menyebar bahkan ada beberapa foto mami Salma dan Sheila yang sedang bermain golf tersebut di sebar luaskan di media sosial, semua berita tentang Sheila yang menikah dengan Steven Ardolph menyebar kemana mana.
Sedangkan di kediaman keluarga Ardolph semuanya sudah tahu soal berita itu kecuali Sheila dan mami Salma yang memang belum melihat berita sama sekali karena Sheila setelah bermain golf tadi membantu maminya untuk membuat aneka kue karena harus di anter ke panti asuhan seperti sebelumnya.
Sedangkan Brian sudah sampai di negara Y tepatnya di kota tujuannya, dia segera melaju ke mansionnya yang berada di sana, mereka memiliki mansion cukup besar meski tak sebesar di negara X tapi untuk ukuran pulau B mansion tersebut bisa di bilang mewah.
Memang jika Brian atau pun mami Salma dan papi Boni berlibur ke kota B maka mereka akan tinggal di mansionnya karena memang Bali adalah salah satu tempat tinggal maminya dulu sehingga mami salam tidak ingin melepaskan kenangan kenangan nya yang berharga di sana.
"Tuan, kita sudah sampai." sahut yoga yang juga ikut kunjungan tersebut.
Brian segera turun dan masuk ke dalam mansion tersebut, di sana sudah ada beberapa pelayan yang menyambutnya.
"Selamat datang, tuan Brian!" sapa pak Narto salah satu pelayan kepercayaan keluarga Ardolph jika mereka di negara Y, dan juga beliau adalah kepala pelayan di sana dengan pengalamannya yang sudah lama menjadi bagian dari keluarga Ardolph.
"Hmm," hanya itu yang keluar dari mulut Brian dan dia berjalan meninggalkan pak Narto yang sedang membungkuk ke arahnya dan menuju ke kamar nya yang berada di lantai dua mansion besar tersebut.
Karena memang mereka sampai pada dini hari dimana hari masih gelap sehingga tidak banyak asisten yang hadir karena memang Brian tidak ingin di sambut dengan meriah saat dia datang tadi, Brian segera merebahkan tubuhnya di kasur king size miliknya.
Kamarnya lebih di dominasi oleh warna gelap yang sangat identik dengan dunia gelapnya yaitu mafia, bahkan dengan mansionnya di negara X pun di sini lebih gelap sehingga siapapun yang masuk ke kamar tersebut langsung di buat merinding oleh nuansa tersebut.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Brian, ternyata yoga yang mengetuk pintu tersebut.
"Masuk!" pintanya, Yoga masuk dengan sedikit tergopoh-gopoh.
"Ada apa?" tanya Brian.
"Tuan," sahut yoga sambil memberikan iPad yang ia pegang.
Brian segera mengambil iPad tersebut dan membaca berita heboh yang sedang hangat di bicarakan di internet, bahkan banyak wajah Sheila yang terekspos ke mana mana membuat Brian sedikit geram tak terima.
"Segera hilangkan semuanya sekarang! dan beri penjagaan ketat di restoran dan juga kemana pun Sheila pergi hingga aku kembali nanti!" perintahnya, yoga pun mengangguk kan kepalanya paham.
Brian pun kembali berbaring, tiba-tiba dia teringat akan sang istri yang sedang berada jauh di sana, dia memikirkan bagaimana keadaan sang istri sekarang, apakah dia akan baik baik saja dengan berita di luaran sana.
__ADS_1
Rasanya dia sangat merindukan pelukan hangat sangat istri saat malam hari tiba, dan rasanya Brian ingin sekali mencumbu sang istri sekarang, tapi dia sadar kalau sekarang dia sedang jauh dengan Sheila.
"Kamu sedang apa ya sayang?" tanya Brian menimbang nimbang sedang apa sekarang sang istri dia sangat khawatir dengan keadaan sang istri sekarang.
Sedangkan Sheila pagi harinya langsung berangkat bekerja seperti biasa, namun saat dia sudah sampai di restoran sudah banyak wartawan yang sepertinya sedang menunggu seseorang entah siapa, Sheila pun cuek dan mencoba untuk berjalan masuk ke dalam restoran namun tiba-tiba salah satu wartawan melihatnya dan segera memberondong Sheila dengan banyak pertanyaan.
"Nona Sheila, apa kah benar anda istri kedua dari tuan Steven?" tanya wartawan tersebut membuat Sheila sedikit terkejut namun segera ia merasakan tarikan dari tangannya membuat Sheila masuk ke dalam restoran, ternyata mbk Ika menariknya hingga ia masuk, sedangkan Laura dan Thomas mencoba untuk menghentikan para wartawan yang terus saja mengambil gambar Sheila.
"Ini ada apa sih?" tanya Sheila yang masih bingung karena semua karyawan sekarang semua nya sedang melihatnya.
"Kamu beneran enggak tahu?" tanya mbk Ika dan di angguki oleh Sheila.
Mbk Ika pun hanya bisa pasrah dan menunjukan artikel yangs senang beredar, Sheila begitu syok saat ia tahu akan hal tersebut.
"Berarti wartawan di luar sana sedang mengejar aku!" sahut Sheila polos dan mendapat anggukan dari mbk Ika dan yang lainnya begitupun pak Bagas yang sudah berada di sana.
Sheila sempat ketakutan karena sepetinya identitas nya akan segera terbongkar.
"Kamu ada utang bicara sama aku," bisik mbk Ika.
Brian di negara lain sana rasanya tidak tega untuk meninggalkan sang istri sendirian apa lagi dalam keadaan seperti ini, sehingga Brian pun meminta kepada yoga agar mempersingkat kunjungannya kali ini.
Brian mencoba menelepon Sheila mencoba menanyakan keadaan sang istri karena dia sangat khawatir sekali.
Sedangkan di restoran setelah ramai dengan wartawan sekarang kondisi mulai sepi lagi karena memang entah dari mana sudah ada beberapa orang yang berjaga di luar sana, Sheila yang sedang bekerja saat mendengar nada dering di teleponnya pun segera melihat siapa yang meneleponnya di pagi hari ini, dan ternyata itu adalah Brian sang suami.
Segera Sheila mengangkat telepon tersebut karena jujur dia sangat kangen dengan sang suami meski pun baru di tinggal satu hari saja dan dia juga rasanya ingin mengadu saja akan kejadian hari ini kepada sang suami, ingin menangis di pelukan Brian, Sheila baru sadar ternyata mengapa papi Boni tadi melarangnya untuk kerja mungkin karena hal tersebut dan mami Salma yang ternyata sudah tahu akan berita itu dari papi Boni.
Namun yang anehnya, beberapa saat kemudian berita yang tersebar tersebut hilang seketika entah kemana hilangnya namun banyak yang tidak percaya akan berita yang tiba-tiba hilang tersebut.
.
.
__ADS_1
TBC