Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
Semoga Segera


__ADS_3

"Apakah kamu suka dengan bayi?" tanya Sheila dengan sedikit takut menyinggung perasaan sang suami.


Sedangkan Brian yang mendengarkan Sheila bertanya seperti itu pun mengerutkan alisnya karena bingung dengan pertanyaan sang istri secara tiba-tiba.


"Ada apa bertanya seperti itu?" tanya Brian.


"Tidak ada, aku hanya ingin bertanya saja," sahut Sheila dengan lemas.


"Hey hey, kenapa begitu? apakah ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Brian dan mendapat gelengan dari Sheila.


"Terus kenapa?" tanya Brian.


"Aku hanya bertanya sayang," sahut Sheila dengan air mata yang sudah menggenang dan tinggal jatuh saja.


"Hey, berkata yang jujur karena aku tidak suka ada sesuatu yang di sembunyikan!" ucap Brian dengan sedikit penekanan membuat Sheila sedikit ketar ketir takut.


Akhirnya Sheila sudah tidak bisa lagi menahan air matanya sehingga ia pun menumpahkan Emha tangisannya di dalam pelukan sang suami, sedangkan Brian yang mendapatkan serangan tangisan dadakan itu pun di buat bingung karena Sheila memeluknya erat sekali dan menangis sesenggukan.


"Kenapa hm?" tanya Brian berbalas pelukan dari sang istri.


"Ma... ma... maaf, a.. ku belum bisa ngasih kamu keturunan," begitulah Sheila mencurahkan isi hatinya yang galau dari beberapa hari lalu.


"Hey, hey. kenapa ngomong gitu sih, asal kamu tahu aku menikah bukan untuk mencari keturunan tetapi untuk mencari istri." sahut Brian menenangkan sang istri. Sebenarnya Brian sangat ingin memiliki anak tapi memang belum di kasih mah bagaimana lagi dan juga mungkin mereka di suruh untuk berpacaran aja lagi karena pertemuan mereka juga sangat singkat bukan.


"Beneran? tapi kamu pasti ingin punya anak kan," sahut Sheila dengan sesenggukan.

__ADS_1


"Aku memang mau banget punya anak, tapi asal kamu tahu semuanya aku serahkan ke kamu sayang. yang mengandung kamu, yang melahirkan kamu dan yang menyusui nanti juga kamu. Aku hanya mengikuti arus saja, jadi jangan pernah berfikir yang tidak tidak!" ucap Brian mencoba menjelaskan semuanya kepada sang istri.


Sedangkan Sheila mendengarkan hal itu pun di buat terharu dan segera memeluk erat tubuh sang suami, dia tidak pernah menyangka bahwa Brian akan mengatakan hal itu. Sheila mengira kalau Brian akan berkata bahwa dia sangat kecewa padanya namun semuanya ternyata salah, Brian malah membelanya.


"Semoga segera ia mendapatkan momongan sehingga dapat meramaikan mansion ini," gumam Sheila dalam hatinya.


Akhirnya Sheila bisa tertidur dengan lelap di pelukan sang suami karena mungkin cukup lelah menangis dari tadi, Brian pun merasa kasihan dengan sang istri pasti dia sangat memikirkan hal itu sehingga membuat dia beberapa hari ini sangat terlihat murung meskipun tidak ia tampaknya tetapi Brian bisa merasakan kalau Sheila sedang tidak baik baik saja, pasti setelah Danya Tian sehingga Sheila sedikit merasakan ingin memiliki anak dari keturunan Ardolph.


Pagi harinya Sheila bangun terlebih dahulu dan bersiap setelah selesai dia pun turun ke bawah berniat untuk membantu mami Salma memasak, namun belum sempat ia masuk ke dapur mami salma sudah keluar a


dari sana dan menyuruh Sheila untuk membangunkan Brian saja karena masakan sebentar lagi sudah selesai.


"Kamu bangunkan Brian aja ya sayang, masakannya udah hampir selesai," ucap mami Salma, sehingga mau tidak mau Sheila pun menurut saja.


"Sayang, bangun!" ucap Sheila mencoba membangunkan Brian dengan menggoyang-goyangkan tubuh sang suami.


"Ihh, kamu mah emang gitu. Aku tinggal nih," sewot Sheila karena Brian tak juga bangun. Baru ajak beranjak dari duduknya di tepi ranjang, Brian sudah menarik tangan Sheila karena Sheila tidak ada keseimbangan terlebih dahulu sehingga membuat tubuh Sheila tidak siap dan akhirnya jatuh di atas tubuh sang suami. Brian membuka matanya dan melihat Sheila yang sudah cantik dengan olesan make up tipis dan juga baju kantor yang sangat simpel tersebut.


"Ih, kok di tarik sih. kan jadi jatuh aku nya," ucap Sheila yang akan beranjak dari atas tubuh Brian, namun sayang Brian malah menahannya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya juga menyentuk wajah cantik Sheila.


"Kamu mau ngapain?" tanya Sheila merasa bahaya akan tindakan sang suami.


"Cari semangat di pagi hari," ucap Brian dengan tangannya yang mulai nakal menggerayangi dan menyentuh setiap inci tubuh Sheila.


Karena tidak bisa menolak akhirnya mereka pun melakukan kegiatan panas mereka di pagi hari seperti ini padahal Sheila sudah rapi akhirnya harus kembali bersih-bersih lagi, sialnya Brian mengajak Sheila untuk mandi bersama sehingga kegiatan mereka menjadi lebih lama lagi, untungnya saja waktu sarapan pagi masih sedikit lagi sehingga mereka tidak ketahuan habis melakukan adegan panas tersebut meskipun beberapa bagian tubuh Sheila sedikit nyeri akibat perbuatan sang suami di pagi hari seperti ini.

__ADS_1


Setelah selesai bersiap-siap mereka berdua pun turun ke bawah dengan santai dan melihat mami Salma dan papi Boni yang sudah menunggunya.


"Akhirnya nih pasangan dua dateng juga," goda mami Salma. Mami Salma memang sangat suka menggoda pasangan anak dan menantunya tersebut.


"Hehe, maaf ya mi tadi Sheila gak bisa bantuin." ucap Sheila sedikit merasa bersalah.


"Iya, sayang. gak papa kok," jawab mami dengan santai.


Setelah itu mereka pun sarapan bersama dengan mami Salma yang sedikit kepo dengan pekerjaan baru Sheila.


"Sayang, gimana kerjanya?" tanya mami Salma.


"Lumayan enak mi, Sheila juga sudah mendapat rekan kerja baru di sana," jawab Sheila dengan antusias.


"Syukur kalau begitu, mami udah ketar ketir dari kemarin," jawab mami dan mendapat senyuman manis dari bibir Sheila.


"Kalau kamu ada apa-apa langsung bilang ke Brian atau langsung ke papi aja gak papa sayang ya," ucap papi Boni kepada Sheila dan mendapat anggukan.


"Iya, Pi." jawab Sheila. Dia sangat senang karen dia sangat di perhatikan di dalam keluarga ini padahal dia Barus aja menjadi bagian dalam keluarga ini, meski pun ia belum sepenuhnya mengerti atau pun tahu latar belakang keluarga Ardolph tetapi Sheila merasa keluarga ini mempunyai pengaruh besar di negara ini selain di bidang bisnis, tetapi entah apa Sheila sendiri juga tidak tahu.


Setelah selesai makan mereka pun berangkat, untuk kali ini Sheila ingin berangkat sendiri, di menyuruh Thomas agar mengganti mobilnya dengan mobil yang lebih sederhana agar tidak menimbulkan kecurigaan oleh para karyawan lainnya karena Sheila merasa mobil yang ia tumpangi kemarin sangat lah mewah. Brian hanya bisa menurutinya saja padahal dia sangat ingin Sheila agar satu mobil dengannya.


Sheila berangkat terlebih dahulu dengan Laura di kursi depan samping kemudi yaitu pak Thomas dan Sheila berada di belakang seperti biasanya. Sedangkan Brian pergi terakhir dengan mengendarai mobilnya sendiri karena biasnaya memang Briand emang berkendara sendiri dari pada harus merepotkan yoga meskipun terkadang dia memang sering menyuruh yoga sih untuk menyupirinya.


Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2