
Sedangkan di sisi lain Sheila sudah berada di kantor dengan banyak tugas di depannya, namun ia tetap harus profesional bukan.
"Sheila," panggil Monica di sela sela jam makan siang mereka.
"Ada apa?"
"Minggu depan kan ada liburan bersama di kantor, elo ikut kan?" tanya Monica lagi.
"Apaan itu?" tanya Sheila yang memang tidak tahu akan hal seperti itu.
"Astaga Sheila elo gak tahu itu apa!" balas Monica dan hanya di angguki oleh Sheila.
"Jov, jelasin." sahut Monica malah menyuruh jovanka untuk menjelaskan.
"Dasar elo," protes jovanka karena dalam menjelaskan sesuatu pasti larinya ke dirinya.
"Jadi liburan bersama itu moment di mana semua karyawan kantor akan berlibur bersama di suatu tempat tanpa harus memikirkan pekerjaannya dan momen seperti itu hanya dalam satu tahun sekali." jelas jovanka panjang lebar dan membuat Sheila mengerti.
"Wah, enak dong." sahutnya dan di angguki oleh Monica dan jovanka.
"Jadi elo harus ikut ya!" ajak Monica.
"Gue usahain ya," balas Sheila karena dia harus tetap meminta izin kepada Brian untuk acara seperti itu, apa lagi harus menginap beberapa hari.
Mereka pun kembali melanjutkan makan siangnya, setelah itu bekerja seperti biasanya. Brian tadi siang juga sudah berada di kantor tetapi dia memilih untuk makan siang di ruangannya saja karena masih banyak berkas yang harus ia urus karena satu Minggu lagi karyawan akan liburan bersama sehingga banyak juga berkas yang harus di kerjakan agar nantinya tidak mengganggu liburan mereka, namun Brian tetap memantau cctv di mana Sheila sedang berada di kantin tersebut.
Hingga jam pulang kerja Sheila tak nampak Brian sama sekali tetapi Sheila malah merasa senang karena ia tak perlu canggung lagi bukan kalau tidak bertemu.
"Sheila, kita duluan ya." pamit Monica dan jovanka bersamaan kemudian menjauhi Sheila dan menuju ke halte busway.
"Iya, hati-hati!" pekik Sheila agar mereka berdua bisa mendengarkannya. Setelah di rasa mereka sudah tidak terlihat Sheila pun menuju ke ujung jalan di mana mobilnya sudah terparkir di sana dengan Laura dan pak Thomas di sampingnya.
"Sore semuanya," ucap Sheila dan tak mendapat respon apa pun dari keduanya membuat Sheila pun merasa kesal dengan sikap karyawan di mansion tersebut karena sangat kaku sehingga banyak membuat orang takut melihat mereka.
Pak Thomas pun melajukan mobilnya sedang karena macetnya jalanan ibu kota saat jam pulang kerja membuat waktu sampai di rumah masing masing pun menjadi semakin lama.
Saat dalam perjalan pulang tersebut juga mobil yang di kendarai Sheila mogok di jalan membuat pak Thomas, Laura pun keluar dari mobil untuk mengeceknya.
__ADS_1
"Maaf, nona. sepertinya mobilnya mogok!" sahut Thomas keluar dari mobil di ikuti oleh Laura.
"Ada apa pak?" tanya Sheila beberapa saat setelah pak Thomas dan Laura keluar.
"Maaf, nona. mobilnya mogok, sekarang pak Thomas sedang menelepon pihak bengkel untuk ke sini nona," sahut Laura dengan raut sedikit takut, entah ketakutan apa yang ia rasakan Sheila tidak mengerti. Laura pun kembali ke depan untuk mengecek mobil di samping pak Thomas.
"Pak, apakah kita harus telepon tuan muda, saya takut nanti kalau tuan muda nyariin nona muda tetapi gak ada di mansion." sahut Laura dengan sedikit takut.
"Iya, kamu kabarin aja deh. bapak juga takut kau," sahut Thomas berbicara sambil menunggu pihak bengkel sampai.
[Halo, ada apa?] tanya Brian di sebrang sana.
[Sebelumnya saya dan pak Thomas minta maaf pak, waktu di perjalanan pulang mobil nona muda tak sengaja mogok di jalan tuan dan sekarang kita masih mogok tuan, pak Thomas sudah memanggil pihak bengkel dan masih dalam perjalanan,] sahut Laura panjang lebar.
[Sekarang Sheila di mana!!?] tanya Brian dengan diselimuti rasa khawatir.
[Nona muda kami suruh untuk menunggu di dalam mobil saja tuan dan agar tidak keluar,] ucap Laura menjawab semua pertanyaan dari tuan mudanya.
"Oke, suruh jangan Sheila kemana-mana, sebentar lagi saya ke sana!" perintah Brian kemudian menutup teleponnya.
Yoga juga ikut namun dengan mengemudi kendaraanya sendiri karena Brian sudah berjalan duluan tanpa menunggu yoga, untung saja bos kalau tidak pasti yoga akan memahami dan menyumpahi nya.
Sedangkan Sheila tidak betah lama-lama berada di mobil pun keluar dari mobil dan menuju ke pak Thomas dan juga Laura.
"Bagaimana?" tanya Sheila saat sudah berada di dekat mereka berdua.
"Nona muda, kenapa nona muda keluar?" tanya Laura sedikit takut karena pasti tuan muda Brian akan segera sampai.
"Aku bosan jika berada di dalam terus!" sahutnya.
"Tapi nona, bagaimana kalau tuan muda melihatnya," sahut Laura.
"Brian akan ke sini?" tanya Sheila.
"Iya, nona. tadi saya sudah menghubungi tuan!" sahut Laura, dan Sheila pun akhirnya diam
Tak lama kemudian sampai lah Brian di lokasi tersebut, Brian segera keluar dari mobil dan menuju ke mobil Sheila di mana Sheila sudah berada di luar mobil dan melihat kedatangan sang suami.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana sama keadaan kamu?" tanya Brian saat sudah berada di depan Sheila sambil mengecek keadaan sang istri.
"Aku gak papa, ini lagi nunggu orang bengkel." sahut Sheila.
"Kalau gitu kamu ikut sama mobil aku saja," ajak Brian menarik tangan Sheila.
"Loh, aku sam apak Thomas dan Laura aja." balas Sheila menarik kembali tangannya.
"Kenapa?!" tanya Brian bingung mengapa istrinya tidak mau bersamanya.
"aku kan pulang dari kantor dengan mereka, maka sampai mansion pun harus sama mereka," sahut Sheila.
"Biarkan mereka di sini dan kamu sama aku!" tita Brian kemudian menggendong sang istri seperti karung beras membuat Sheila menjerit terkejut dan memukul-mukul punggung kokoh sang suami.
Sampai di dalam mobil pun Brian menurunkan Sheila dengan lembut di kursi samping kemudi, Meidian Brian berjalan memutari mobil menuju ke stir kemudi. Sheila hanya diam saja merasa sangat kesal dengan perbuatan sang suami yang seenaknya itu.
"Sayang," panggil Brian saat mereka sedang dalam perjalanan menuju ke mansion.
"Ada apa?" jawabnya dengan cuek.
"Jangan marah dong," minta Brian namun tak di gubris oleh Sheila.
"Sayang," sahut Brian lagi kemudian mengecup singkat bibir Sheila yang menurutnya sangat seksi apa lagi saat marah seperti ini.
CUP
"Ih, apaan sih cium cium!" pekiknya tambah kesal.
"Salah sendiri diem kan jadi tambah membuat aku ingin menciumnya," ujar Brian dengan santainya, sedangkan Sheila sudah di atas langit menerima perlakuan yang sangat manis dari sang suami, bagaimana dia akan mendiamkan Brian terlalu lama jika Brian malah membuatnya di mabuk kepayang.
Bersambung..........
HAI READERS SEMUANYA πππ
MUNGKIN BEBERAPA HARI KEMARIN AUTHOR SEDIKIT UPDATE KARENA MERASAKAN BADAN SEDIKIT CAPEK DAN SAKIT JADI AUTHOR TIDAK BISA MAKSIMAL DALAM MENULISNYA, PADAHAL AUTHOR SANGAT INGIN BANYAK MENULIS AGAR CERITANYA TAMBAH SERU LAGI. MOHON MAAF SEKALI YA READERSππ
TOLONG CINTAI TERUS CERITA SHEILA DAN BRIAN AGAR AUTHOR BISA LAGI KEMBALI FIT DAN BISA MELANJUTKAN CERITA TERSEBUT SEPERTI SEBELUMNYA, JANGAN LUPA TERUS DUKUNG DENGAN MEMBERIKAN HADIAH UNTUK AUTHOR AGAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT LAGI YA READERS πππ₯°π₯°β₯οΈβ₯οΈ
__ADS_1