
Sosok pria muda berusia sekitar 29 tahunan dengan perawatan mempesona bisa menarik wanita mana pun yang ingin mendekatinya, dia bernama Liam anak buah dari Jeffry atau lebih tepatnya keponakan karena Jeffry tidak memiliki istri dan juga anak sehingga hanya Liam saja yang tersisa dari keluarganya.
Saat Liam mendengar bahwa pamannya tertangkap oleh klan elang dia sedang berada di Jerman mengurus perusahaannya yang berada di sana, mendengar pamannya dia tangkap Liam sangat marah hingga ia memutuskan untuk kembali ke new York dan mencari keberadaan sang paman namun nihil beberapa bulan Liam mencari namun ia tak menemukan jejak sama sekali di mana keberadaan pamannya.
Bahkan anak buah dari klan Rajawali juga menghilang misterius, markas kebesaran mereka sudah porak poranda karena ulah seseorang, namun tidak ada yang tahu ulah siapa itu, namun Liam mencurigai klan Elang karena yang terus bersitegang dengan klan Rajawali hanya lah klan elang siapa lagi kalau bukan mereka namun Liam tidak memiliki bukti sama sekali.
Hingga akhirnya Liam menemukan salah satu atau bahkan satu-satu nya anak buah dari pamannya yang selamat namun harus mengalami kelumpuhan dan harus di amputasi, dia menceritakan bagaimana tuannya di bawa ke markas klan elang dan juga bagaimana dia bisa kabur di pesta tersebut namun harus merasakan beberapa tembakan yang mengenai kaki kirinya maka dari itu dia harus di amputasi karena kaki nya sudah tidak bisa terselamatkan lagi.
"Jadi benar klan elang yang sudah membawa paman Jeffry?!" tanya Liam lagi dengan nada marahnya dan mengepalkan ke dua tangannya tak terima.
"Iya, tuan. Saya melihat sendiri karena waktu itu saja juga ke sana dengan yang lainnya namun sayangnya hanya saya saja yang selamat dan tak tertangkap sedangkan yang lainnya tertangkap semuanya," shut orang tersebut dengan memasang wajah sedihnya kalau mengingat kejadian tersebut.
"Kamu tenang saja saya akan membiayai semua pengobatan kamu," sahut Liam.
"Terima kasih, tuan."
Setelah itu Liam pun pergi meninggalkan rumah sakit dan kembali ke markas pamannya yang sudah dia bersihkan sebelumnya, rasanya Liam sangat marah sekarang bahkan dia tadi hampir saja menabrak pejalan kaki tapi untungnya tidak sampai tertabrak.
Dia ke markas untuk merencanakan balas dendam dan juga berusaha untuk mengeluarkan pamannya yang di sekap di sana, Liam tahu bagaimana sulitnya menembus pertahanan klan elang jadi Liam harus mencari cara agar klan elang tidak tahu kalau dia sedang merencanakan sesuatu.
Alhasil beberapa bulan ini Liam terus saja mengikuti Brian karena yang ia tahu Briana salah ketua klan elang saat ini, Liam harus segera mencari tahu titik lemah dari Brian agar dia bisa membalas kan dendamnya.
Tak sengaja saat sedang berhenti di lampu merah ada sebuah LED menampilkan penampakan di mana Brian sedang melakukan konferensi pers waktu itu, padahal itu sudah berita lama namun tetap menjadi highlight setiap minggunya.
Liam yang melihat itu pun segera tahu bagaimana rencana nya selanjutnya, akhirnya dia mengetahui titik lemah dari Brian, Liam sudah siap untuk membalas dendam nya.
__ADS_1
"Akhirnya gue tahu apa kelemahan elo bri," gumam Liam dalam mobilnya dan tak lama lampu lalu lintas berwarna hijau, Liam pun segera melajukan mobilnya menuju ke markas klan Rajawali dan mulai merencanakan balas dendamnya melalui orang terkasih nya terlebih dahulu siapa lagi kalau bukan Sheila sang istri, Liam ingin melihat bagaimana tanggapan Brian kalau sang istri ia gunakan untuk alat balas dendam nya.
Sedangkan di sisi lain Brian sedang berada di markas elang dan berada di ruangan Jeffry, melihat Jeffry yang berpenampilan seperti mayat hidup membuat Brian serasa puas dengan perlakuannya.
"Untuk apa kau ke sini?!" teriak Jeffry saat tahu Brian di ruangannya.
"Wohh, santai dong saya hanya ingin melihat bagaimana kondisi musuh bebuyutan saja!" ucap Brian.
"Asal kamu tahu bri, di luar sana anak buah saya tidak akan tinggal diam saat melihat tuannya terkurung seperti ini!" pekik Jeffry Dnegan semangatnya dan percaya dirinya.
"Percaya diri sekali anda tuan!" ejek Brian.
"Asal kamu tahu sekarang ini tidak ada lagi yang namanya anak buah klan Rajawali karena semuanya sudah saya bantai agar tidak meresahkan banyak orang!" sahut Brian dengan penuh penekanan, setelah itu dia pun pergi dari sana karena tidak ingin melihat terlalu wajah Jeffry karena jika terlalu lama membuat Brian ingin segera membu*uhnya saja.
"Aaaaaa!" teriak Jeffry yang sepertinya sudah sangat frustasi, berbulan bulan dia sudah berada di ruangan tersebut tanpa bisa melihat apapun dengan kondisi yang juga sudah memprihatinkan sepeti tak tertentu apapun, jenggot dan kumis yang sudah tumbuh lebat dan juga baju yang lusuh dan rambut panjang membuat kesan kotor sangat terlihat dan juga muka yang sudah banyak kebab dan darah yang bercucuran menambah kesan tersebut.
"Bagaimana bri?" tanya uncle Steven yang kebetulan berada di markas dan melihat sang ponakan berada di sana juga.
"Sepetinya kita harus segera menghabisi nyawa Jeffry uncle karena sepertinya ada anak buah dari Jeffry yang sudah memata-matai klan elang, Brian sudah pernah bicara soal orang yang mengikuti Brian bukan dan tebakan Brian seperti nya itu adalah anak buah dari Jeffry, tapi Brian belum yakin soal hal itu." sahut Brian panjang lebar.
"Oke, uncle hanya bisa ikuti rencana mu saja nak. Kalau kau butuh bantuan langsung hubungi uncle saja," sahut uncle Steven dan di angguki oleh Brian.
"Akan ku pastikan hidup mu akan sengsara Jeffry, di dunia kau telah melakukan kejahatan dan akhirat nanti kau akan mendapatkan balasan yang setimpal. Hukuman ku di dunia hanya sampai sini saja dan selanjutnya hanya tuhan yang tahu." ujar Brian.
Setelah itu Brian pun memilih untuk kembali ke mansion di mana saat sampai mansion Brian melihat sang istri sedang menyiram tanaman di bantu oleh mami Salma di sampingnya dan papi Boni yang mengawasi mereka berdua dari jauh sambil membaca koran, Brian pun akhirnya duduk di sebelah papi Boni membuat papi Boni pun mengalihkan pandangannya ke arah Brian.
__ADS_1
"Baru pulang?" tanya papi Boni.
"Iya, Pi." jawab Brian sambil menganggukkan kepalanya.
Tak lama bi Nana datang dengan membawa kopi permintaan Brian tadi sebelum ke taman belakang.
"Tuan, ini kopinya." ucap bi Nana sambil menaruh kopi tersebut.
"Terima kasih, bi." ucap Brian dan di angguki oleh BI Nana.
Setelah itu bi Nana pun pergi meninggalkan anak dan bapak tersebut, dan membiarkan Brian dan papi Boni membicarakan suatu hal.
"Lihat tuh, istri kamu sama mami kamu kayak anak kecil dari tadi ketawa ketawa terus saat mereka siram tanaman kayak gitu." tutur papi Boni sambil tersenyum senyum membuat Brian juga ikut melihat ke arah istri dan maminya tersebut.
"Biarin aja lah Pi, mungkin mereka berdua sedang bosan makanya kayak gitu!" sahut Brian dan di angguki oleh papi Boni.
"Iya, kamu bener banget bri. Kasihan juga pasti Sheila sedang bosan karena harus berada di mansion terus," ujar papi Boni.
"Iya, papi benar. Tapi Brian juga khawatir kalau Sheila harus ke luar dari mansion karena Brian merasa kalau suasana luar sangat tidak berbahaya bagi Sheila, apa lagi sekarang papa Bastian dan mama Daniar sedang balik ke Austria karena ada urusan jadi saat Sheila keluar Brian rasa dia kurang aman karena Brian tidak bisa selalu berada di sampingnya!" ujar Brian panjang lebar dan papi Boni juga mengerti ketakutan sang anak karena papi Boni juga tahu tentang orang yang sedang mengawasi mereka karena Brian yang memberitahukan kepada papi Boni akan masalah tersebut sehingga sekarang penjagaan baik di mansion, markas bahkan di perusahaan juga di jaga ketat sehingga tidak memungkinkan untuk siapa pun bisa masuk tanpa pemeriksaan.
.
.
Bersambung..........
__ADS_1