Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
BAB 46_Penasaran


__ADS_3

Sedangkan di mobil satunya Clara dan Maya sedang asyik mengobrol, karena memang sifat Maya yang mudah berbaur sehingga dia bisa cepat akrab dengan Clara.


"Kak Maya udah lama temenan sama kak Sheila?" tanya Clara yang ingin tahu juga bagaimana sih kehidupan kakaknya dulu sebelum menikah.


"Iya, udah lama. dari SMA mungkin karena memang Sheila termasuk orang cantik tapi tidak bisa berbaur sedangkan aku orang biasa-biasa aja tapi gampang banget berbaur mungkin itu salah satu penyebab temenan kita lama," sahut Maya.


"Wah lama juga ya, terus tadi siapa sih yang sok kenal tadi sama kak Sheila?" tanya Clara karena jujur dia masih saja kesal jika ingat kejadian tadi, bisa-bisanya kak Sheila di panggil ibunya dan Clara sebagai anaknya meskipun ia tahu mengapa kak Clara seperti itu dan tak menanggapinya.


Karena musuh klan Elang banyak apa lagi seorang Brian Albern Ardolph sehingga mau tidak mau Brian harus menyembunyikan sosok Sheila sang istri, jika waktunya tepat Brian pasti akan mengungkapkan pada dunia siapa Sheila sebenarnya, hanya saja Brian lebih baik menunda dulu agar nantinya keselamatan Sheila aman.


"Oh, cewek jelek tadi?" sahut Maya dan mendapat anggukan dari Clara.


"Dia itu kakaknya Sheila, dan laki laki tadi sama perempuan tadi yang juga ngatain Sheila itu papa mamanya Sheila," ujar Maya membuat Clara mengerutkan dahinya.


"Lah kok gitu, orang tuanya kok malah kayak ngehina anaknya sih," ucap Clara.


"Wah tadi itu belum parah Clara, dulu ya waktu SMA Sheila telat pulang jadi tidak ada yang masak buat makan malam padahal di sana ada asisten rumah tangga tapi soal kebersihan, makanan dan semuanya tentang rumah Sheila yang ngerjain, saat dia pulang dia malah di siram sama air panas sehingga tangannya melepuh bahkan saat berangkat sekolah pun tangannya masih melepuh dan tidak di obati sama sekali, karena kasihan akhirnya aku bawa ke rumah sakit deh untung saja gak telat kalau telat mungkin bekas luka itu sampai sekarang akan terlihat." ujar Maya panjang lebar.


"Jahat banget sih," sahut Clara tak tega mendengar cerita dari Maya.


"Makanya itu aku juga gak tega sebenarnya, aku sudah menawarkan Sheila untuk pindah dan masalah uang biar patungan sama aku bahkan mamaku juga berkata seperti itu tetapi Sheila kekeh mau tetap tinggal di sana, alasannya karena kasihan nanti gak ada yang masak buat mereka! lihat baik banget kan Sheila," ucap Maya dengan menahan genangan air mata di pelupuk mata nya agar tidak turun.


"Iya, kak Sheila emang baik banget." balas Clara setuju dengan ucapan Maya.


Sebenarnya Maya sangat penasaran dengan Clara, apa kah dia benar anak sambung dari Sheila tapi masa iya Clara anak sambungnya karena dari yang Maya lihat Clara malah memanggil Sheila dengan sebutan kakak bukan mama atau tante gitu.


"Clara, kakak boleh tanya gak?" sahut Maya memberanikan diri untuk bertanya karena rasa penasarannya.


"Tanya apa kak?" sahut Clara sambil menoleh ke arah Maya.


"Emm, apa bener kalau Sheila itu mama tiri kamu?" tanya Maya cukup berhati-hati takut jika dia menyakiti perasaan Clara.


"Maksud kakak?" tanya Clara yang cukup bingung dengan pertanyaan tersebut.

__ADS_1


"Tadi kan di kampus ada gosip beredar soal Sheila yang menikah tuan Steven papa kamu, berarti kamu itu anak sambung dari Sheila kan?" sahut Maya membenarkan lagi ucapannya.


Mendengar hal itu sontak membuat Clara terpingkal-pingkal pasalnya wajah Maya yang sangat polos saat bertanya, ternyata kak Sheila belum memberitahukan kepada kak Maya soal papi.


"Emm, kalau itu lebih baik kak Maya tanya langsung aja sama kak Sheila biar lebih jelas lagi," sahut Clara.


"Udah sih."


"Terus di jawab gimana?" kepo Clara.


"Katanya tunggu waktunya aja, nanti aku juga tahu sendiri." jawab Maya memang benar bukan.


"Oh, kalau gitu tunggu aja kak, itu bukan kapasitas ku untuk menjawab." jawab Clara yang entah sangat bijak sekali hari ini.


Akhirnya mau tidak mau Maya pun mencoba menahan rasa penasaran yang teramat dalam, padahal Sheila sering sekali memendam lukanya sendiri namun Maya selalu tahu tapi kali ini Maya sama sekali tidak tahu siapa lelaki tersebut, apa kah benar itu adalah tuan Steven, Jangan jangan Sheila sudah enggak perawan lagi. (Yah biarin kenapa sih Maya, gak perawan ya kan udah punya suami.)


Clara mengantarkan maya sampai di rumahnya kebetulan di sana memang sepi karena orang tuanya sedang berada di rumah sakit menemani neneknya yang sedang sakit.


"Bye, kak." pamit Clara.


Setelah itu Clara pun menghilang dengan mobilnya di ujung perempatan tersebut, Maya pun masuk ke dalam dan membersihkan tubuhnya karena memang sudah sangat lengket dan juga make up yang tebal ini membuat Maya pengap.


Sedangkan Brian dan Sheila sudah sampai juga di mansion besarnya dengan Sheila yang terus memegang tangan Brian karena memang permintaan dari Brian sendiri ya bukan karena Sheila kepingin.


"Wahhh selamat ya sayangku!" ucap mami sambil berjalan menghampiri mereka atau lebih tepatnya Sheila dan mencium pipi kanan dan kirinya.


"Makasih, mi." balas Sheila.


"Akhirnya sarjana juga ya cantik banget deh," sahut mami Salma tak henti hentinya menyanjung Sheila.


"Udah mi, jangan di gituin Sheila. tuh nanti malah risih, biar dia bersih bersih dulu," ucap papi Boni menyelamatkan Sheila yang memang sudah sangat ingin berganti pakaian.


"Iya, udah sana ganti baju dulu sayang, baru ke sini ya." sahut mami Salma lembut.

__ADS_1


"Iya, mi. kalau begitu Sheila ke atas dulu ya," pamit Sheila kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga.


Sedangkan Brian memilih untuk duduk santai di sofa ruang keluarga sambil menunggu Sheila datang.


"Kamu gak ke markas bri?" tanya papi Boni kepada Brian pasalnya Brian tak kunjung beranjak dari duduknya.


"Nanti aja deh Pi, masih betah di rumah." sahut Brian dengan santainya.


"Tumben, biasanya langsung cabut dan jarang di rumah tapi sekarang sekarang ini malah sering banget di rumah deh!" goda papi Boni.


"Ih, papi. biarin kenapa sih, siapa tahu sebentar lagi mami bakalan dapet cucu ya kan." sahut mami Salma antusias dan Brian hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Tak lama Sheila datang dengan memakai baju rumahan sehingga terlihat lebih santai dan segar dengan make up yang sudah hilang dan menampakkan wajah polos nan cantiknya, Sheila memakai apapun tetap cantik namun meski polos tanpa make up Sheila malah terlihat lebih cantik dan anggun.


"Mami lagi ngapain?" tanya Sheila saat melihat maminya sedang berkutat di dapur dengan bi Nana.


"Mami mau bikin kue, kamu mau ikutan bikin?" tanya mami Salma.


"Wah boleh mi, kebetulan Sheila juga ingin makan kue, apa lagi kue kesukaan dari Brian." balas Sheila.


Mereka pun segera membuat kue, kali ini mami Salma memilih membuat kue bolu kesukaan sang suami dan sang anak.


Sheila yang jarang sekali bikin kue karena tidak tahu caranya pun merasa senang karena mami mertuanya mengajarinya cara membuat kue dengan telaten.


Hingga kue jadi pun membuat senyum mengembang di wajah keduanya karena kreasi masakan mereka berhasil di buat.


"Yeyyy jadi mi," seru Sheila senang.


"Iya, sayang." balas mami Salma.


Setelah itu tahan terakhir finishing setelah itu akan mereka bawa ke depan untuk di makan oleh para pria di sana yang sudah menunggu.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2