
"Hai anak papi," panggil Brian dengan mengelus perut sang istri dengan lembut dan sesekali ia menciumi perut tersebut.
"Hai, papi." ucap Sheila menirukan suara anak kecil.
"Sehat sehat ya di sana, sebentar lagi kita akan segera bertemu sayang, papi sama mami gak sabar ingin sekali bertemu!" ucap Brian kemudian mengecup perut sang istri.
"Terima kasih, sayang." ucap Brian kemudian mengecup singkat kening Sheila, setelah itu mereka pun tidur dan mengistirahatkan badan yang sudah capek dari pagi karena harus bekerja.
Pagi harinya Sheila bangun terlebih dahulu dan bersiap-siap setelah itu membangunkan Brian yang tidak kunjung bangun.
"Sayang, bangun!" ucapnya dan Brian pun bangun dari tidurnya.
"Morning, sayang." sapanya kemudian menuju ke arah kamar mandi, sedangkan Sheila memilih untuk turun ke bawah membantu mami Salma, bi Nana dan juga bi Natali dan untuk tian sendiri sekarang karena pak Bram istri bi Natali sudah kembali setelah berada di markas elang, dia sekarang bagian dari klan elang dan dia juga tinggal di paviliun di mana semua karyawan tinggal di sana.
"Pagi semuanya," sapa Sheila.
"Pagi, sayang." sahut mami Salma kemudian mendekati Sheila dan mengelus perut nya, itu adalah kebiasaan baru dari mami Salma setiap pagi dia ahrus mengelus perut sang menantu untuk menyapa calon cucunya.
"Ini di minum ya susu nya, dan kamu duduk saja gak usah bantuin!" perintah mami salma sehingga mau tidak mau Sheila pun hanya bisa mengikutinya saja tanpa berani membantah.
Brian setelah mandi dan bersiap-siap juga mengikuti Sheila turun ke bawah dan menuju ke meja makan di mana di sana sudah ada papi Boni juga dan mami salam yang sudah selesai memasak.
"Pagi semuanya," sapa Brian.
"Pagi sayang," jawab mami Salma dan papi Boni.
Akhirnya mereka pun memulai sarapan pagi nya dengan tenang dan sesekali berbincang-bincang atau lebih sering menanyakan tentang kandungan Sheila, semua keluarga tidak sabar akan kedatangan sang jabang bayi lahir ke dunia karena itu adalah keinginan yang di nanti nanti.
__ADS_1
Setelah sarapan Brian dan Sheila pun segera berangkat bekerja dengan yoga yang menyetir dan Laura yang berada di samping kemudi sedangkan Brian dan Sheila berada di belakang dengan Brian yang terus saja mengelus perut Sheila, bahkan yoga dan Laura yang sesekali melirik pun hanya bisa saling berpandangan karena tak percaya dengan apa yang telah mereka lihat yaitu seorang Brian Albern Ardolph seorang mafia terkenal di dunia hitam akan sangat lembut sekali dengan sang istri, dengan orang yang sangat ia sayangi, kalau musuh mereka tahu maka itu adalah kabar baik karena mereka dapat menghancurkan Brian melalui pernah yang paling ia cintai terlebih dahulu.
Sampai di kantor Brian segera membawa Sheila ke ruangannya, untung saja mereka berada di parkiran khusus sehingga tidak ada yang bisa melihat mereka saling mesra mesra an seperti itu.
"Udah sana masuk!" ucap Sheila menyuruh Brian masuk ke ruangannya saat mereka sudah berada di depan pintu ruangan Brian, setelah itu Brian pun dengan berat hati masuk ke dalam.
Sedangkan Sheila menuju ke mejanya dengan yoga ternyata yang sudah duduk di mejanya juga jangan lupa kalau Laura juga sudah berada di lantai tersebut karena Sheila yang memintanya untuk menemaninya karena di rasa dia akan sangat bosan dengan yoga yang sangat formal sekali dengannya, dia butuh setidaknya satu cewek untuk di ajak mengobrol dengannya sehingga Sheila tidak terlalu bosan.
Selama di kantor pun semuanya berjalan lancar dengan Sheila yang sesekali harus menghadapi ke posesif an sang suami dengan tidak boleh ini lah itu lah namun Sheila harus tetap sabar karena dia tahu kalau Brian pasti khawatir dengannya bukan apa lagi sekarang dia sedang hamil.
Sore hari tiba Sheila dan Brian pun kembali ke mansion besarnya dengan tentengan makanan laut yang di beli oleh Brian tadi sebelum pulang karena dia ingin sekali makan seafood.
"Apa itu bri?" tanya mami Salma saat melihat Brian dengan tentengan bungkusan di tangannya.
"Ini tadi Brian mampir di restoran seafood mi," sahut Brian kemudian menaruh makanan tersebut di meja makan.
"Bi Nana nanti makan malamnya siapin ini saja ya," sahut Brian kemudian pergi meninggalkan area tersebut dan memilih untuk menuju ke kamarnya untuk bersih bersih di ikuti oleh Sheila di belakangnya.
Sedangkan Brian setelah selesai mandi dia pun menuju ke arah walk in closet dan mencari baju santai di lemarinya, namun saat sudah selesai memakai makannya tak sengaja Brian melihat laci aksesoris sang istri terbuka mungkin karena Sheila tadi membukanya untuk memilih anting sehingga ia lupa untuk menutupnya.
Namun saat Brian menutup laci tersebut tak sengaja matanya menatap sebuah aksesoris yang mencuri perhatian nya, sebuah kalung yang Brian rasa sangat tidak asing dengan kalung tersebut tapi entah di mana, dia tidak pernah melihat sang istri memakai kalung tersebut dan Brian juga tidak pernah membelikan Sheila kalung sepeti ini tapi rasanya Brian pernah melihat kalung tersebut.
(Ini ya yang penasaran akan bentuk kalungnya, dan ada juga gelangnya yang bentuk kupu-kupu nya tak jauh berbeda dengan ini ya).
Karena Brian sama sekali tidak ingin dengan kalung tersebut dia pun memilih untuk mengembalikan lagi kalung tersebut dan memutuskan untuk menuju ke bawah meski pun dia sesekali memikirkan kalung tersebut, ia merasa punya sesuatu hal dengan kalung tersebut.
__ADS_1
Saat di bawah dia sudah melihat Sheila yang sedang menatap meja untuk makan malam mereka dengan menu utama yaitu berbagai jenis seafood yang di belikan oleh Brian tadi.
Makan malam berjalan dengan khidmat, nanti di kamar Brian berencana menanyakan kalung tersebut karena Brian terus saja merasa ada yang janggal dengan kalung tersebut tapi entah apa Brian sama sekali tidak menemukan petunjuk.
Sampai di kamarnya Brian segera menuntun Sheila untuk ke walk in closet dan memberikan sebuah kalung yang ia lihat tadi.
"Ada paa sih sayang?!" tanya Sheila karena Brian malah menuntunnya ke arah walk in closet.
"Ini punya kamu?" tanya Brian sambil memberikan kalung tersebut.
Sheila yang melihat Brian memberikan kalungnya pun mengerutkan keningnya, kenapa sang suami bertanya soal kalung tersebut, apakah Brian sangat penasaran dengan kalungnya itu.
"Iya, ini kalung aku. Ada apa emangnya sih?" tanya Sheila sedikit bingung.
"Aku sepertinya pernah melihat kalung tersebut tapi tidak tahu di mana," sahut Brian terus aja mengingat di mana gerangan dia melihat kalung tersebut.
"Mungkin kamu hanya pernah sekilas saja melihatnya sayang," sahut Sheila.
"Mungkin sih!" jawabnya percaya dengan ucapan Sheila.
Tanpa Brian tahu kalau itu sebenarnya adalah kalung yang selama ini ia cari hingga berbulan bulan lamanya namun tak menemukan hasil nya juga, coba saja kalau Brian tahu pasti akan sangat senang sekali dia.
Bersambung..........
HAI READERS SEMUANYA ššš
GIMANA NIH ENAKKAN ADA GAMBARNYA ATAU ENGGAK YA?? AUTHOR CUMA COBA COBA KALAU ADA BANYAK YANG SUKA SAMA GAMBAR SEPERTI DI ATAS AKAN AUTHOR USAHAKAN ADA BEBERAPA GAMBAR LAGI NANTINYA, UNTUK VISUALNYA SENDIRI AKAN AUTHOR KASIH KOK TAPI SETELAH CERITA INI TAMAT YA KARENA AUTHOR TIDAK INGIN MENGHANCURKAN IMAGE YANG SUDAH TERGAMBAR DI PIKIRAN READERS SEMUANYA TAKUTNYA JIKA TIDAK SESUAI MAKA AKAN MEMPENGARUHI MOOD READERS SEMUANYA, HARAP DI MAKLUMI YA šššššš
__ADS_1
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL FAVORIT, LIKE, VOTE, KOMEN DAN JANGAN LUPA BERIKAN HADIAH KEPADA AUTHOR BIAR AUTHOR LEBIH GIAT LAGI YA MENULISNYA, TERUS DUKUNG AUTHOR YA READERS SEKALIAN.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR šššššš„°š„°