
"Udah sayang jangan nonton itu terus!" sahut Brian namun tak di gubris sama sekali oleh Sheila yang malah tetap asyik nonton sambil memakan cemilannya.
"Apaan sih ih, ini lagi enak enaknya sayang." sahut Sheila saat melihat ada Kim bum di layar televisi.
"Sudah bri biarin istri kamu itu, padahal mama tadi juga sudah mewanti wanti nya namun tak juga di gubris," sahut mama Daniar datang dengan membawa potongan buah apel untuk anak dan mantunya itu.
"Lebih baik kamu makan aja ini," ucap mama Daniar.
Brian pun memilih untuk makan buah yang sudah di kupas oleh mama mertuanya karena melihat Sheila yang terlalu fokus dengan drama nya tidak akan ada habisnya karena sekarang ini sifat Sheila sangat manja dan juga sedikit galak padahal dulunya enggak, tapi kata mami Salma dan juga mama Daniar sih hormon bayi jadi Brian tidak bisa banyak protes karena sang istri sedang mengandung anaknya.
"Aww!" pekik Sheila sambil memegang perutnya membuat Brian, mama Daniar dan juga papa Bastian yang baru saja duduk pun melihat ke arah Sheila Dnegan tatapan khawatir.
"Kenapa sayang?" tanya Brian menghampiri Sheila.
"Baby El gerak sayang!" ucap Sheila membuat Brian mengerenyitkan dahinya tak mengerti.
Sheila pun menuntun tangan Brian menuju ke perutnya di man di mana anaknya sedang bergerak aktif di sana membuat Brian terkejut ada pergerakan di sana, ini seperti baby El sedang menyambut kedatangan sang Daddy.
"Wah, anak deddy sudah pinter nendang ya!" ucap Brian sambil mengelus perut Sheila yang terus di tendang oleh jagoan kecilnya, padahal usia kandungannya masih enam bulan tetapi sudah bergerak aktif meskipun tidak terlalu kuat.
"Wah cucu nenek gak sabar buat lahir ya," ucap mama Daniar.
Semua keluarga pun saling tertawa lepas karena membayangkan adanya seorang baby yang sudah di tunggu tunggu pasti bakalan sangat senang bukan main.
Sedangkan di sisi lain Liam dan Tiffany berada di bar biasanya Tiffany kunjungi, rencana dia akan mengundang Maria untuk mendiskusikan sesuatu hal karena Liam sudah di beritahu kan tentang Maria kakak Sheila yang juga ingin membalaskan dendam nya, entah mengapa balas dendam sangat mereka tunggu tunggu tanpa mempertimbangkan siapa lawan mereka kali ini.
"Mana dia?!" tanya Liam tak sabaran karena dia dari sudah menunggunya lama sekali.
Tak lama Maria pun sampai dengan santainya membuat Liam sedikit tidak senang karena waktu menurutnya adalah uang jadi juga dia ingin menyia-nyiakan waktunya jangan ajak Liam.
"Maaf aku telat karena jalanan sangat macet sekali," sahut Maria belum mengetahui keberadaan Liam karena dia sedang fokus ke Tiffany.
__ADS_1
"Perkenalkan ini Maria ini tuan Liam keponakan dari tuan Jeffry," shut Tiffany memperkenalkan Liam yang duduk tak jauh darinya.
Maria tiba-tiba melihat Liam yang menurutnya wajahnya sangat sempurna meski tak sesempurna Brian namun tetap saja masuk list pria tertampan menurutnya.
Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka dan merencanakan kapan waktu yang tepat karena setiap Sheila keluar mansion pasti selalu saja ada pengawasan yang ketat, tapi yang mereka belum tahu adalah sebenarnya Brian yang sudah tahu identitas dari Liam dan juga rencana busuk ini ternyata sudah tercium baunya oleh Brian.
Malam harinya Sheila sudah berada di kamarnya dan Brian, mereka pun tertidur di kamar dengan nyamannya. Sheila memeluk erat tubuh sang suami, saat malam hari Brian pun memilih untuk keluar sebentar karena yoga tiba-tiba meneleponnya malam malam membuat Brian harus menerimanya karena ane urutnya pasti ini sangat penting.
[Halo, ada apa?]
[Tuan, Liam keponakan dari Jeffry dia sedang bergerak menyerang mansion tuan Boni untungnya tuan Boni dan nyonya Salma sudah di evakuasi ke tempat aman dan sepertinya mereka sedang menargetkan keluarga dekat anda tuan!]
[Apa! Sekarang mami sama papi di mana?]
[Mereka sudah berada di markas karena menurut kami tempat paling aman sekarang adalah markas tuan.] ucap yoga di sebrang.
[Oke, kalau begitu pantau terus kondisinya dan suruh Aldo untuk menyelidiki nya. Saya tidak bisa ke sana karena Sheila sedang tidak dan tidak ada cukup banyak penjaga di sini!] sahut Brian.
[Tuan tenang saja, urusan markas dan mansion biar kami yang urusan!]
"Bri," panggil papa Bastian me Hay Brian menoleh ke belakang.
"Papa, kenapa papa ke sini bukannya tidur." sahut Brian.
"Papa gak bisa tidur waktu denger kabar dari Steven tadi," sahut papa Bastian.
"Papa sudah tahu?" tanya Brian dan di angguki oleh papa Bastian.
"Kalau kamu mau ke mansion gak papa bri biar papa jagain Sheila di sini kamu pasti khawatir kan sama orang tua kamu," sahut papa Bastian.
"Brian sebenarnya sangat khawatir pa sama mereka namun Sheila juga pasti butuh Brian di sampingnya, sepetinya mereka sedang mengincar orang orang terdekat Brian. ini lah mengapa Brian tidak ingin memberitahukan kepada semua orang tentang Sheila, Brian takut jika ada yang berniat jahat dengan dia pa." sahut Brian.
__ADS_1
"Papa tahu kegelisahan kamu bri, tapi lebih baik kamu ke mansion dulu atau langsung ke markas saja melihat keadaan mami dan papi kamu!" sahut papa Bastian.
Brian pun mulai menimbang nimbang apakah dia harus ke markas atau tidak karena sebenarnya dia sangat khawatir dengan keadaan orang tuanya. Saat akan beranjak tiba-tiba ponselnya berdering menunjukkan sang mami ternyata menelepon nya.
[Mami, bagaimana keadaan mami sama papi? Brian akan segera ke sana jadi mami sama papi tunggu ya!]
[Enggak usah sayang, mami sama papi gak papa kok. Lebih baik kamu jaga Sheila saja takut nanti jika dia bangun terus mencari mu pasti akan repot kamu harus bakal balik,] sahut mami salma dari sebrang kemudian menutup teleponnya.
"Bagaimana Brian?!" tanya papa Bastian sedikit penasaran.
"Mami bilang tidak usah ke sana karena mereka duanya baik baik saja dan para pekerja juga sudah di aman kan dan hanya bagian taman belakang saja dan juga sebagian kamar tamu yang berada di bawah." sahut Brian.
"Ya sudah kalau begitu lebih baik kamu ke atas saja takut nanti Sheila malah bangun dan cariin kamu," sahut papa Bastian.
setelah itu mereka berdua pun kembali ke kamar masing masing dan benar saja Sheila di sana terbangun saat Brian amsuk ke dalam membuatnya bertanya dari mana Brian malam malam begitu.
"Dari mana aja sayang?" tanya Sheila Dnegan suara parau nya.
"Tadi habis ngambil minum sayang," sahut Brian mencari alasan dari sang istri dan untuknya Sheila pun mengerti dan kembali ke tidurnya.
Pagi harinya mereka terbangun dan Sheila mendapatkan kabar kalau mansion keluarga Ardolph terbakar membuatnya sedikit terkejut dan mengkhawatirkan keadaan sang mertua karena pasti mami Salma sangat takut.
Sheila pun meminta untuk bertemu dengan mama Salma dan papi Boni namun karena mereka berdua masih berada di markas membuat Brian tidak mengizinkan Sheila bertemu dengan mereka berdua.
"Sayang, aku mau jenguk mami Salma sama papi Boni. Sekarang mereka tinggal di mana?"
"Mereka gak mau di temui dulu sayang mereka masih terlalu syok, dan kamu tenang saja mereka sudah ada tempat tinggal sementara kok sampai mansion sudah selesai di renovasi seperti semula.
Sheila pun mulai sedikit tenang ketika tahu kalau mami Salma dan papi Boni sudah memiliki hunian untuk tempat tinggal sementaranya meski pun Sheila tak tahu itu di mana, padahal jika Sheila tahu bahwa mereka tinggal di rumah mewah samping markas pasti Sheila akan sangat syok dengan semuanya.
.
__ADS_1
.
Bersambung..........