
Merasa sakit hati dan kecewa apa lagi saat Maria sang kakak menuduhnya merebut calon suaminya padahal kan dia sendiri yang kabur di hari saat ia akan menikah dan membuat orang tuanya memutuskan sepihak dan menyuruh Sheila agar bisa menggantikan sang anak namun sekarang malah dia yang di tuduh merebut calon suaminya.
"Nona, nona tenang saja tuan Brian pasti akan datang dan menyelamatkan kita!" tutur Laura menghilangkan rasa sedih yang terpancar dari wajah nona muda nya itu.
"Iya, Laura. kamu benar Brian pasti akan menyelamatkan kita bukan," ucap Sheila mencoba berfikir positif dan percaya dengan ucapan Laura meski pun Sheila tahu bahwa mungkin mustahil Brian akan tahu keberadaan di tempat terpencil seperti ini di pinggiran kota.
Sedangkan setelah mereka bertiga keluar dari ruangan pengap tersebut, Liam, Tiffany dan Maria menuju ke ruangan yang lebih luas lagi untuk membicarakan beberapa hal.
"Bagaimana tindakan kita selanjutnya tuan?!" tanya Tiffany mengenai tindakan selanjutnya setelah menculik Sheila.
"Pertama, kita hubungi Brian setelah itu kita suruh dia untuk membawa paman Jeffry jika dia ingin melihat sang istri selamat," ucap Liam.
"Apa!" pekik Tiffany dan juga Maria bersamaan saat mendengar rekan nya mengucapkan hal tersebut, dengan bersusah payah dia menculik Sheila namun Liam malah menyuruh mereka untuk melepaskan Sheila setelah tuan Jeffry selamat.
"Jadi setelah itu Sheila akan bebas?!" pekik Tiffany tak terima padahal Liam belum selesai menjelaskannya.
"Tolong jangan potong pembicaraan saya atau lidah kalian yang akan aku potong!" peringatan Liam untuk Tiffany dan juga Maria membuat mereka berdua pun terdiam karena merasa takut.
"Terus bagaimana?" tanya Maria dengan ragu dan pelan takut jika Liam malah mengamuk.
"Tidak semudah itu untuk melepaskan mereka, stelah paman Jeffry selamat dan berada di tangan ku kembali baru setelah itu Brian dan Sheila sang istri harus mengucapkan selamat tinggal ke dunia karena itu adalah hari terakhir mereka berada di sini." Liam mengucapkannya dengan penuh semangat, bahkan membayangkannya saja membuat hatinya senang bukan main bagaimana kalau rencana nya sukses pasti Liam merasa bangga karena selama ini pamannya terus mencari Brian dan anggotanya.
"Jadi maksud nya!" ucap Tiffany diam sejenak mencoba memecahkan ucapan Liam tadi.
"Jadi maksudnya setelah tuan Jeffry berada di tangan kita maka tuan akan segera membu*uh Sheila dan juga Brian?!" tanya Tiffany lagi dan di angguki oleh Liam.
"Seratus untuk kamu," sahutnya.
"Tapi bagaimana buat Brian membawa tuan Jeffry ke kita?" tanya Maria.
"Maka kita harus menghubungi nya bukan," lanjut Liam kemudian mengeluarkan telepon nya dan menelepon seseorang di sebrang sana siapa lagi kalau bukan Brian untuk membuat kesepakatan yang nantinya akan Liam ingkari sendiri, dasar nya udah licik ya tetap licik.
Sedangkan di tempat lagi, Aldo dan yoga terus saja melacak keberadaan nona mudanya yang hilang entah ke mana, semua akan buahnya sudah mencari keberadaan Sheila di semua tempat bahkan markas klan elang pun sudah namun tidak menemukan hasil karena saat mereka datang tempat tersebut sudah kosong tidak ada orang.
"Tuan, maaf kami belum bisa menemukan nona muda." ucap Aldo setelah kembali ke markas karena Brian tadi menelepon nya dan menyuruhnya untuk ke markas.
"Aaaaa! Liam tunggu saja balas dendam ku! Akan ku buat kau menerima semua akibat dari perbuatan mu!" pekik Brian sangat marah bahkan mimik wajahnya sudah memerah padam ingin menerkam semua orang yang ada di hadapannya.
Tingkah Brian ini tak luput dari penglihatan papi Boni dan yang lainnya yang juga merasa seperti Brian ingin segera menghabisi Liam keponakan dari musuhnya itu, gak Jeffry gak keponakannya sama-sama gi*a nya.
"Kamu yang sabar bri, Sheila pasti akan selamat dan kenapa kenapa." sahut uncle Steven mencoba menenangkan keponakan nya itu yang terlihat frustasi.
"Bagaimana Brian bisa tenang uncle, sekarang ini Sheila sedang mengandung uncle. Bagaimana jika terjadi yang tidak tidak dengannya dan juga kandungannya uncle," sahut Brian yang tidak bisa tenang dan terus memikirkan sang istri.
Tak lama telepon nya berdering menunjukkan ada sebuah telepon masuk namun aneh nya Brian tak tahu nomor siapa yang meneleponnya karena Brian tidak menyimpan nomor tersebut dan juga Brian sangat asing dengan nomor tersebut.
Dengan penasaran Brian pun mengangkat telepon tersebut siapa tahu sangat penting hingga menelepon nya karena biasanya kalau tentang bisnis akan di wakilkan dengan yoga sedangkan untuk transaksi senjata dan yang lainnya akan di tangani oleh Aldo.
[Halo.]
__ADS_1
[Oh, halo Mr. Brian.] sapa pria di sebrang sana siapa lagi kalau bukan Liam, namun Brian masih belum sadar bahwa yang meneleponnya adalah orang yang ingin ia bu*uh sekarang juga.
[Ini siapa?] tanya Brian to the point dengan anda suara sudah sedikit kesal.
[Wohh, santai Mr. Brian istri anda baik baik saja kok dengan saya,] sahut Liam mencoba memancing emosi Brian.
[Istri? Siapa kamu?!] tanya Brian Dnegan pekikan marah membuat semua orang di ruangan tersebut terfokuskan dengan Brian tak hal nya dengan yoga dan Aldo yang juga masih berada di sana.
[Sepertinya Mr. Brian belum mengenali suara saya ya, kalau begitu perkenalkan saya Liam keponakan nya dari tuan Jeffry yang sedang anda tahan itu,] jawab Liam membuat Brian sudah di ambang kemarahan besar.
[Dengarkan baik-baik jangan pernah sentuh Sheila sedikit pun atau paman mu akan ku bunuh sekarang!] bentak Brian.
[Santai Mr. Brian, kalau kau berani bunuh paman Jeffry kau juga harus siap siap merelakan Sirri mu pergi kehadapan tuhan bukan!] ancam Liam balik membuat Brian tidak bisa memutuskan kehendaknya untuk membunuh Jeffry.
[Apa yang kau inginkan?] tanya Brian saat dirinya sudah rileks dan jangan lupa Brian juga menghidupkan pengeras suara di hp nya agar semua orang bisa mendengarkan.
[Gampang, aku hanya ingin melakukan barter saja.]
[Barter?!]
[Iya, kau kembalikan paman Jeffry maka akan aku kembalikan istri mu itu!] ucap Liam.
[Aku tunggu nanti malam jam 9 di tempat yang akan aku kirim kan dan jangan pernah berfikir untuk membawa pasukan atau tamar riwayat istrimu!] lanjut Liam kemudian menutup teleponnya tanpa menunggu Brian berbicara.
"Astaga, dasar anak itu!" ucap uncle Steven yang sangat tidak suka dengan Liam.
"Bagaimana bri dengan keputusan mu? Kami sebagai orang tua mu hanya mengikuti saja cara mu karena ini menyangkut Sheila istri mu dan juga anak kami," ujar papi Boni.
Tak lama Liam mengirimkan alamat tersebut kepada Brian, sedangkan Brian sama sekali tidak tahu akan tempat tersebut. Dia pun memerintahkan Aldo untuk mencari tempat tersebut secara diam diam bahkan kalau perlu menyewa beberapa orang profesional untuk melakukan penyadapan atau yang lainnya yang terpenting tidak sampai ketahuan karena Brian akan mengikuti rencana dari Liam dengan melakukan barter tersebut demi keselamatan sang istri nantinya.
Setelah itu Brian pun menuju ke ruangan bawah tanah di mana Jeffry di kurung dengan salah satu anak buahnya untuk membawa Jeffry bersiap namun dengan pengawasan ketat.
"Ada apa kau ke sini?!" tanya Jeffry saat melihat wajah Brian.
"Santai saja, aku hanya angin membebaskan mu saja jadi jangan salah paham." sahut Brian membuat Jeffry terkejut namun seketika dia mengerti pasti Brian sekarang sedang terpojok sehingga dia mau membebaskannya.
"Apa kah Liam sudah beraksi?!" tanya Jeffry dengan nada mengejek nya, namun Brian tak menggubrisnya sama sekali membuat Jeffry mencoba memancing kembali emosi Brian.
"Bagus juga kerja keponakan ku sayang itu, akhirnya aku bisa keluar dari ruangan kotor dan pengap ini!" ucap Jeffry dengan senangnya.
"Diam!" bentak Brian merasa kesal dan marah kepada Jeffry dan Liam yang sudah membawa sang istri.
Setelah itu Brian pun keluar dari ruangan tersebut menuju ke ruangannya, sedangkan para orang tua sudah kembali ke rumah di sebelah markas karena sang istri terus bertanya tentang keadaan Sheila sekarang bagaimana mana, mereka menjelaskan semuanya dan menyuruh untuk tenang agar Brian bisa mengatasi hal tersebut dengan baik dan lancar tidak ada halangan apa pun.
Tak lama telepon Brian berdering dan menunjukkan Aldo yang sedang berusaha menelepon, segera Brian segera mengangkat telepon tesebut.
[Bagaimana?] tanya langsung Brian.
[Kami sudah menemukan tempat tersebut tuan, tempat tersebut terletak di pinggiran kota yang cukup sunyi dan juga seperti bangunan tua dan terbengkalai namun di dalam nya tidak terlalu parah, sekarang ini nona muda di perkirakan di kurung di salah satu ruangan di lantai 3 karena di sana ada lampu menyala dan juga sudah di pastikan oleh tim yang melakukan pengintaian dan melihat nona muda sedang di ikat tenaganya ke belakang dan juga sedang menangis tuan!" ucap Aldo membuat Brian seketika membeku.
__ADS_1
"Terus awasi Sheila dan juga awasi tempat tersebut, aku akan datang nanti untuk mengantar Jeffry tapi ingat dengan rencana kita tadi, persiapkan semuanya!" perintah Brian dan mendapat anggukan dari Aldo meski pun Brian tidak tahu itu.
"Baik, tuan."
Setelah itu Brian pun menutup teleponnya dan bersiap siap untuk menuju ke tempat tersebut Dnegan Jeffry yang tetap dalam pengawasan bahkan saat dalam mobil pun semua anak buah di kerahkan oleh Brian untuk membawa Jeffry dengan tangannya yang di ikat ke belakang membuat pergerakannya terbatas dan juga mata yang di tutup oleh kain membuat dia tidak bisa melihat apa pun.
Brian juga meminta uncle Steven untuk membawa Aris dan juga Ketty ke markas dan menjebloskan mereka ke sana karena bagaimana pun mereka juga berperan dalam hal ini meski pun tak ikut bertindak ternyata ide sebelumnya adalah ide dari Ketty dan menyuruh Maria untuk melakukannya. Uncle Steven pun mengikuti perintah dari Brian dan segera menyuruh Brandon dan beberapa anak buahnya untuk mengeksekusi Aris dan Ketty, dan ternyata mereka sama sekali belum melunasi hutang nya padahal mereka berjanji akan melunasinya.
Sedangkan Aldo tetap mengawasi tempat tersebut dan sudah menempatkan beberapa bodyguard untuk mengelilingi lingkungan tersebut untuk membatu tuanya jika ada penyerangan, karena sudah terbiasa dengan hal seperti ini mereka sudah tahu harus bagaimana karena menurut mereka seorang mafia sudah pasti mengalami hal seperti ini bukan karena pekerjaan nya sangat beresiko.
Sheila sedangkan sudah lebih tenang dia harus yakin bahwa Brian pasti akan datang menyelamatkan nya karena bagaimana pun Brian pasti akan berusaha sekuat tenaganya selagi Sheila juga bertahan di sini dan juga bertahan demi sang janin yang sedang ia kandung.
"Nona muda, apakah nona tidak apa apa?" raya Laura yang terus bertanya tentang keadaan sang nona muda.
"Iya, aku gak papa kok." ucap Sheila.
"Tapi nona dari tadi siang belum makan siang sampai malam begini!" tutur Laura khawatir dengan kondisi nona mudanya.
"Aku gak papa kok, Tapi aku ngerasa perut ku sedikit kram Laura tapi aku bisa menahannya dan menunggu Brian datang," sahut Sheila dengan senyum nya membayangkan Brian datang menjemputnya.
"Astaga nona, bagaimana ini pasti nona sudah sangat lapar!" Laura sudah sangat panik sekali membuat Sheila malah tertawa melihat tingkah bodyguard sekaligus teman yang selalu menemaninya itu, Sheila sudah menganggap Laura sebagai teman dan juga sekaligus sahabat nya karena Laura sangat dekat dengannya dan juga meski pun umurnya berjarak lebih tua dari pada Sheila tapi Laura bisa bergaul dengannya dengan santai bahkan Sheila sering menyuruh untuk Laura agar tidak sungkan kepadanya dan berkata terlalu formal tapi Laura merasa tidak pantas akhirnya Sheila pun mengikuti nya saja.
Di sisi lain Liam, Maria dan Tiffany sangat senang karena akhirnya rencana mereka berhasil dan Liam tadi juga mendengar suara Brian yang seperti nya sedang kalut merasa puas akhirnya balas dendam nya terselesaikan juga dan tinggal menunggu pamannya kembali ke tangannya.
"Kalau gitu aku mau ke mereka dulu," ucap Tiffany.
Dia pun masuk ke ruangan tersebut dan melihat Sheila yang sedang bersandar di dinding dengan laura yang terus berada di dekatnya seperti tak mengizinkan nona mudanya kenapa kenapa sedangkan nona mudanya tadi mengeluh kram pada perut nya apa lagi nona mudanya juga belum makan siang dari tadi padahal ini sudah malam hari.
"Eh bangun jangan loyo gitu dong!" bentak Tiffany mendekat ke arah Sheila dan menendang kaki Sheila dengan kencang membuat Sheila merintih kesakitan dan Laura yang langsung bereaksi dengan menghalangi Tiffany untuk mendekati nona mudanya dengan menghadap nona mudanya itu.
"Elo bisa lebih halus gak sih jadi orang!" pekik Laura tak terima jika nona muda nya di sakiti.
"Apa urusan elo, mau juga heh!" pekik Tiffany tak kalah sengit dari Laura.
Kemudian dia pun menendang punggung Laura yang berusaha menyelamatkan Sheila itu dengan keras, bahkan Sheila menjadi khawatir dengan keadaan Laura yang menurutnya tendangan dari Tiffany itu lebih keras darinya tadi.
"Laura, kamu gak papa?!" tanya Sheila dengan khawatir.
"Saya gak papa kok nona." jawab Laura.
"Heh, nona nona segala dasarannya wanita murahan ya gitu. Emang berapa yang Brian bayar buat nyewa rahim elo ini heh!" bentak Tiffany dengan menekan kaki Sheila yang ia tendang tadi, sedangkan laura sudah di depak jauh dari Sheila sehingga dia juga sedikit kesakitan saat menuju ke nona mudanya yang kesakitan itu.
"Nona muda!" sahut Laura berjalan tertatih ke arah Sheila.
"Aaaaa! Sakit!" hanya itu ucapan Sheila karena Tiffany menekan kakinya yang ia tentang tadi, setelah itu Tiffany pergi dan Laura sampai di dengan nona mudanya itu dengan takut karena nona mudanya itu bergetar hebat di daerah kakinya.
.
.
__ADS_1
Bersambung..........