
Pagi harinya kantor kembali heboh karena kejadian kemarin, banyak yang menunggu kedatangan Sheila ingin meminta penjelasan atau pun ingin mengetahui bagaimana rasanya dia gendong oleh pak Brian, namun saat mendengarkan bahwa Sheila tidak masuk karena masih sakit membuat karyawan lainnya sedikit sedih. Untuk soal Laura untung saja Monica dan juga jovanka tahu siapa Laura sehingga masalah Monica bisa di handle oleh mereka berdua, padahal aslinya Laura itu adalah bodyguard Sheila.
Beda dengan Tiffany yang sangat merasa sangat marah, kesal hingga dia ingin berteriak kencang, bagaimana bisa Sheila kemarin malah di tolong oleh Presdir mereka dan di gendong seperti itu. Dia semalaman merasakan kesal hingga ia melampiaskan kemarahannya kepada semua pria dengan menjajahnya tubuhnya, sungguh wanita gila memang kalau sedang marah maka pelampiasannya adalah tubuhnya.
Saat mereka sedang bekerja tiba-tiba pak Edwin menghampiri Tiffany dengan wajah serius dan juga terlihat ada kemarahan, namun Tiffany tidak mengerti mengapa pak Edwin seperti itu.
"Tiffany!" bentak pak Edwin ke arah Tiffany membuat semua karyawan yang sedang bekerja pun menghentikan pekerjaannya dan ingin tahu mengapa pak Edwin sampai membentak Tiffany seperti itu.
"Ada apa sih pak?" tanyanya karena kaget dengan bentakan dari pak Edwin tadi.
"Kamu sekarang di suruh ke ruangan Bu Ella," sahutnya kemudian pergi meninggalkan Tiffany dan berjalan ke ruangannya. Sedangkan Tiffany yang mendapat perintah tersebut pun sedikit kaku karena jarang sekali Bu Ella memanggil karyawan kalau bukan hal mendesak, karyawan lainnya juga ikut bertanya-tanya mengapa Tiffany di suruh untuk keruangan tersebut, bagi karyawan ruangan Bu Ella adalah salah satu tempat paling menakutkan seperti neraka meski pun tak semenyeramkan seperti ruangan pak Brian tetapi tetap saja menyeramkan, padahal tidak banyak yang pernah datang ke ruangan Presdirnya itu.
Dengan santai namun sedikit tegang Tiffany pun berjalan menuju ke ruangan Bu Ella, saat sampai segera ia mengetuk pintu hingga di persilahkan masuk.
TOK TOK TOK
"Masuk!" ucapnya tegas, Tiffany pun masuk ke dalam dengan hati was-was.
"Bu Ella panggil saya?" tanya Tiffany yang langsung duduk.
"Saya belum nyuruh kamu duduk loh," sahut Bu Ella membuat Tiffany pun akan berdiri namun di urungkan oleh Bu Ella.
"Dudukan aja." sahutnya kemudian duduk di sofa singel yang kosong.
__ADS_1
"Ada apa ya Bu?' tanya Tiffany.
"Apakah kamu sudah hilang ingatan dengan perbuatan mu?"
"Maksud ibu?" tanya Tiffany.
"Lihat ini!" ucap Bu Ella memperlihatkan cctv di mana Tiffany berbicara dengan staf kantin dan juga ada interogasi dengan staf tersebut langsung. Melihat hal itu Tiffany pun kelimpungan tak percaya bahwa dia akan ketahuan, bagaimana nasib dia sekarang Tiffany sendiri tidak tahu.
"Kamu sudah lihat bukan, maka dari itu perusahaan otomatis memberikan keputusan dengan mengeluarkan kamu dari sini dengan tidak hormat dan ingat kamu keluar dengan tidak hormat maka kamu siap-siap saja apakan sebentar lagi kamu akan mendapatkan kerja atau tidak!" sahut Bu Ella dengan tegas, dia tidak suka saat ada orang semena-mena dengan orang lain sehingga menurutnya keputusan yang di ambil oleh perusahaan memang sangat tepat sehingga pantas memang buat Tiffany untuk di hukum.
"Tapi, Bu!" ucapnya ingin membela namun di urungkan karena melihat tatapan menakutkan dari Bu Ella.
"Asal kamu tahu saja, kelakuan kamu kali ini memang sangat keterlaluan Tiffany, bagiamana bis alami meracuni karyawan baru yang baru saja bekerja dan juga jangan kita perusahan tidak tahu soal kamu pernah membunuh salah satu rekan kerja mu sendiri dan juga hubungan mu dengan beberapa pria Tiffany!" sahut Bu Ella dengan sedikit menaikkan intonasinya.
"Sekarang juga lebih baik kamu keluar dan saya ingin hari ini dan detik ini juga kamu segera kemas barang-barang kamu," ucap bu Ella. Tiffany pun pergi dari ruangan dengan kesal dan marah, dia rasanya malu sekali jika diketahui oleh karyawan lainnya, namun sayang saat Tiffany masuk ke ruangan di sana semua karyawan melihatnya dengan tatapan jijik dan juga tidak suka.
Saat Tiffany sedang ke ruangan Bu Ella, pak Edwin memberitahukan kalau Tiffany yang menyebabkan masalah kemarin dan membuat karyawan lainnya jatuh sakit dan betapa terkejutnya saat pak Edwin memberitahukan kalau Tiffany ternyata pernah membunuh salah satu karyawan, tapi pak Edwin tidak memberitahukan soal hubungan nya dengan banyak lelaki takut jika akan menyakiti perasaan wanita tersebut bukan.
"Ternyata yang mencelakai Sheila itu Tiffany," sahut Monica dengan wajah tidak senang.
"Gila tuh akan emang ya," balas jovanka yang juga kesal.
Saat Tiffany datang pun wajah semua orang berubah dan seperti ingin menerkam seseorang saja.
__ADS_1
"Ada apa sih?" tanyanya.
"Eh, tif. elo gila emang ya, demi sesuatu elo bahkan berusaha mencelakai temen elo sendiri," sahut Monica sudah tidak bisa menahannya.
"Eh, asal elo tau ya. dia itu bukan temen gue dan gue gak pernah anggap dia temen gue, paham!" sahutnya tak terima jika Sheila di anggap berteman.
"Terserah elo, mending buruan pergi deh mata gue sakit ngelihat elo tahu." balas jovanka.
Dengan kesal Tiffany pun membereskan barangnya dengan sedikit kasar, setelah itu pergi dari ruangan tersebut atau lebih tepatnya pergi dari perusahaan tersebut, bahkan dia tidak di antar atau pun bagaimana malah barangnya di lempar keluar oleh salah satu penjaga di sana karena memang bodyguard tersebut bersikap kasar karena wanita tersebut telah melukai nona mudanya, tidak ada ampun untuk orang yang telah menyakiti istri bosnya itu.
"Santai aja bis agak sih, gak usah di dorong!" pekik Tiffany saat ia keluar dengan di dorong oleh penjaga.
"Segera pergi!" pekik bodyguard tersebut kemudian meninggalkan Tiffany sendirian.
Dengan susah payah Tiffany pun berdiri lagi dan mengemasi barang yang berjatuhan tadi, dengan wajah merah dan juga marah dia sangat sangat sangattttt membenci Sheila dari ubun-ubun nya.
"Awas aja elo Sheila, gue akan balas dendam lihat aja nanti." sahutnya kemudian pergi meninggalkan kantor tersebut, Tiffany sudah pasrah dengan pekerjaannya karena memang sudah tidak ada jalan lagi untuk nya kembali maka dari itu lebih baik ia teruskan saja balas dendam ini, memang siapa Sheila sampai harus di selamatkan emangnya dia pacar atau pun istri dari Brian Presdir nya kan bukan, maka dari itu Tiffany pun bertekad untuk membalas dendam. (Coba aja Tiffany tahu maka sudah habis hidupmu Tiffany, padahal Brian mencoba bersikap baik dan tidak sampai membunuhmu.)
Bersambung..........
HAI READERS ππ
BAGAIMANA NIH KABARNYA, MAAF YA MUNGKIN MASIH BANYAK TYPO ATAU PUN YANG LAINNYA AUTHOR AKAN USAHAKAN UNTUK MEMPERBAIKINYA JADI TOLONG TERUS DUKUNG AUTHOR YA AGAR BISA MELANJUTKAN CERITA INI SAMPAI TAMAT,, JANGAN LUPA SUPPORT NYA YANG BANYAK YA AGAR AUTHOR BISA SEMANGAT LAGIIππππππ₯°π₯°π₯°π₯°
__ADS_1