
"Mi, Sheila udah pulang?" tanya Brian sedikit penasaran.
"Udah kok, sana ke atas." usir mami Salma, namun dengan senang hati Brian pun naik ke tas untuk menemui sang istri yang sudah membuat nya kangen saja karena dari pagi tidak terlihat sama sekali.
š„š„š„
Saat dia masuk ke dalam dia tidak melihat adanya sang istri di dalam, namun saat dia mendengar suara air gemericik di dalam kamar mandi, Brian pun yakin kalau sang istri sedang mandi sehingga Brian memutuskan untuk menunggu Sheila keluar dari dalam dengan mengecek beberapa dokumen penting dari yoga.
Saat Sheila sudah selesai mandi dia pun keluar dan menemukan sang suami yang sedang fokus dengan iPad namun tetap terlihat tampan atau bahkan lebih tampan dengan memasang wajah seriusnya.
Terkadang Sheila sedikit bingung dengan pekerjaan sang suami, meski pun ia tahu kalau Brian adalah pewaris dari Ard Company perusahaan terkenal di negara ini namun Sheila merasa Brian memiliki sesuatu rahasia yang belum Sheila ketahui entah apa, tapi Sheila sesekali mendengarkan saat Brian telepon dengan entah siapa di ruang kerjanya dan itu sepertinya sesuatu yang sangat berbahaya, entah lah Sheila sendiri juga tidak terlalu yakin karena dia hanya mendengarnya samar-samar.
"Udah pulang sayang," sahut Sheila dengan duduk di samping Brian.
"Iya," jawab Brian sambil mematikan iPad nya dan berganti melihat ke arah Sheila sang istri.
"Ada apa?" tanya Sheila yang melihat Brian terus saja melihat nya.
"Sayang, aku boleh minta satu permohonan gak sama kamu?" tanya Brian memohon kepada Sheila.
"Ada apa?" tanya Sheila yang juga penasaran dengan permohonan sang suami.
"Enggak, aku cuma merasa kalau kamu tambah hari tambah cantik aja." ucap Brian membuat pipi sang istri merah merona karena gombalan dadakan yang di terimanya.
"Udah ih jangan gombal melulu, udah sana buruan mandi setelah itu turun, kamu pasti belum makan malam bukan." tebak Sheila.
__ADS_1
"Iya, sayang." jawab brian sambil mendekat ke arah Sheila kemudian mengecup singkat bibir tipis Sheila sekali kemudian untuk yang kedua kalinya ia cukup menahan lama tengkuk Sheila agar memperdalam ciuman mereka.
Namun saat sedang asyik dengan kegiatannya panas mereka tiba-tiba pintu kamar mereka ada seseorang yang mengetuk nya.
"Ih kamu sih di suruh mandi malah ngambil kesempatan aja," kesal Sheila yang padahal dia juga menikmati hal tersebut.
TOK TOK TOK
"Siapa?" pekik Brian merasa kesal karena kegiatan mesra mesraannya dengan sang istri di ganggu padahal niat hati ingin segera menghadirkan Brian junior agar terlaksana.
"Permisi tuan muda, nona muda. nyonya besar memanggil untuk segera turun ke bawah untuk makan malam," ternyata bi Nana yang mengetuk pintu tersebut.
"Iya, bi. sebentar lagi kita ke sana!" tutur Sheila sambil beranjak dari tempat duduknya dan membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan akibat ulah sang suami yang tak terkontrol tadi.
Sheila pun segera keluar kamar dan meninggalkan Brian sendirian di kamar dengan sebal Brian pun ke kamar mandi untuk bersih-bersih diri kemudian menyusul sang istri nantinya.
"Mi," sahut Sheila sambil berjalan menuju ke arah mami Salma.
"Sayang, sini duduk," ucap mami Salma memberikan tempat duduk di sampingnya untuk sang menantu kesayangan. Sheila pun segera duduk di tempat yang tersedia.
"Sayang, Natali akan menjadi karyawan di sini dan ini adalah Tian cucu dari Bu Natali." ucap mami Salma menjelaskan ke Sheila padahal dia tadi sudah melihat adanya cucu dari bu Natali.
Memang Bu Natali ingin di anggap bekerja saja di sini karena dia tidak ingin berpangku tangan saja tanpa bekerja toh keahliannya selama ini adalah sebagai asisten rumah tangga jadi beliau berfikir kalau pekerjaan tersebut tidak akan susah bukan.
Akhirnya mami Salma pun mengiyakan keinginan dari Natali sebagai asisten rumah tangga saja tanpa ada embel-embel sebagai salah satu anak dari anak buah klan elang dulunya.
__ADS_1
"Selamat datang, Bu Natali." sapa Sheila dengan sopan nya.
"Terima kasih, nona muda." ucap Bu Natali, tak lupa dia juga menyapa Tian dengan muka ceria nya.
"Halo, sayang. selamat datang!" sapa Sheila dan Tian juga membalas dengan tawaran yang sumringah dia juga berjalan dengan tertatih-tatih ke arah Sheila dengan semangatnya, Sheila yang melihat itu pun di buat gemas dengan ulang bocah kecil yang bahkan untuk berjalan saja masih kesusahan.
"Ante, ante!" ucap Tian dengan gemasnya saat dia sudah berada di depan Sheila, tanpa membuang-buang waktu pun Sheila segera membawa Tian di pangkuannya dengan senang hati dan juga ikut bermain dengan Tian.
"Aduh sayang, kayaknya Tian suka sama kamu deh." ucap mami salma dengan melihat interaksi antara Tian dan juga Sheila.
Sheila hanya tersenyum saja menanggapi ucapan maminya, andai saja Tian adalah anak Sheila mungkin Sheila sudah sangat sayang sekali dengannya melebihi apapun.
Tak lama kemudian ternyata Tian sudah tidur dalam pelukan Sheila dengan wajah yang tertidur sejajar dengan dada Sheila sambil kepala yang di miringkan untuk mendapatkan oksigen saat tidur.
"Wah udah tidur aja, mending tian nya di bawa ke kamarnya aja Natali," ucap mami Salma.
Bu Natali pun menganggukinya dan akan menggendong Tian namun belum juga Tian berganti tangan dia sudah terusik sang sedikit bergerak tak nyaman dengan wajah yang seperti akan menangis.
Jadi mau tidak mau Sheila lah yang membawa Tian pergi menuju ke kamar Bu Natali atau yang lebih tepatnya kamar para asisten rumah tangga nya dan membaringkan Tian di sana.
Untungnya saja semua orang menyambut kedatangan Bu Natali dan juga Tian dengan baik karena mereka tahu soal permasalahan yang terjadi namun semuanya di suruh untuk tutup mulut agar Sheila tidak tahu karena hanya Sheila saja yang tidak mengerti semuanya yang terjadi.
.
.
__ADS_1
TBC