
Dengan sigap dan bersiap siap Laura menunggu aba aba, dia percaya tuannya sudah merencanakan hal ini karena tidak mungkin tuannya akan masuk begitu saja tanpa persiapan di kandang lawan seberapa genting pun itu.
Saat Brian sudah mulai menghitung mundur semua bidikan sudah siap untuk menembak hingga Brian mengedipkan matanya dengan percaya diri dan mulai menganggukkan kepalanya menyuruh untuk Laura segera menarik Sheila.
"3!" teriak Brian membuat Laura langsung menarik Sheila menjauh dari sana dengan berada di pojokan yang lumayan Strategis untuk bersembunyi.
Sedangkan Brian langsung merebut pistol yang di bawa oleh Liam dengan cepat, karena kurang persiapan pistol tersebut jatuh ke tangan Brian dengan cepat bahkan Liam refleks saja melepaskan nya, sedangkan Tiffany dan Maria yang kehilangan Sheila segera mengejar Sheila namun di hentikan oleh Brian dengan tembakan di kaki mereka berdua segara bergantinya hingga empat peluru menancap indah di kaki masing masing orang membuat mereka teriak kesakitan dengan mendaratnya timah panas di kaki mereka berdua.
Setelah itu Brian segera mengalihkan pandangannya ke arah Liam yang terjatuh tadi dan menodongkan pistolnya ke arah Liam, sedangkan Jeffry sudah di tembak di bagian kaki kirinya oleh Aldo yang berjaga di luar dan membuat suara pecahan kaca tadi terdengar nyaring.
Untuk anak buah Liam jangan perlu di tanya lagi mereka sudah di lenyap kan klan Elang, Brian memerintahkan untuk tidak meninggalkan satu orang pun di sana tadi, agak seram memang kalau mafia sudah di ganggu maka tunggu saja ajak menjemput.
Sedangkan Sheila yang melihat Brian menambak kakaknya dan Tiffany pun langsung lemas tak kuat menahan bebannya, dia merasa melihat sang suami sangat berbeda dengannya saat di rumah. Saat di rumah Brian termasuk orang yang cuek, dingin tapi sangat romantis dan penyayang namun Sheila saat melihat raut wajah Brian tadi sangat bertolak belakang dengan sikapnya selama ini, saat ini dia terlihat sangat menakutkan bahkan tatapannya saja sudah membuat Sheila bergetar hebat.
Sheila kemudian merasakan perutnya sangat kram namun dia ahrus menahan nya karena dalam kondisi seperti ini tidak akan baik, dia harus bisa mengontrol kembali pikirannya agar tidak stress.
"Nona kenapa?" raya Laura melihat raut wajah Sheila sedikit aneh.
"Perut aku kram Laura," rintihan nona mudanya membuat Laura cemas.
Saat sedang marah Brian tak menghiraukan hal lainnya yang terpenting sekarang misi melenyapkan lain dan juga Jeffry adalah tugasnya, papi Boni, papa Bastian dan para uncle uncle sudah berada di ruangan tersebut mengepung Liam dan juga Jeffry dan jangan lupa ada Maria dan juga Tiffany di sana Dnegan berlumuran darah di kedua kakinya.
"Aku sudah bilang jangan pernah menganggu serigala tidur jika tidak ingin hancur!" pekik Brian sudah sangat di ambang batas, namun Liam malah tertawa mengejek Brian membuat Brian sudah sangat marah hingga ia melepaskan satu tembakan ke bagian kaki kanannya membuat Liam kesakitan.
"Aaaaa!" pekik Sheila melihat sang suami malah menembak Liam dengan santainya sedangkan Sheila sudah sangat ketakutan dan perutnya tambah kram hebat bahkan dia sekarang sangat kesakitan.
Mendengar sang istri berteriak Brian segera meninggalkan Liam dan menuju ke arah Sheila untuk memeriksa keadaan sang istri, namun yang tak Brian tahu bahwa dia tadi tanpa sadar meninggalkan pistol tersebut begitu saja sehingga membuat Liam memiliki peluang untuk mengambilnya dan sialnya semua orang di sana tidak ada yang sadar karena memang jarak pistol dan Liam sangatlah dekat, Liam sudah tidak menghiraukan akibatnya karena bagaimana pun dia pasti akan mati di tangan Brian juga jadi lebih baik menuntaskan kemarahannya kepada musuh bebuyutannya saja bukan.
"Sayang kamu kenapa?!" tanya brian mendekati Sheila namun dengan sekuat tenaga yang tersisa Sheila malah menolak saat Brian memegang tangannya.
"Sayang!" sahut Brian sangat merasa cemas apa lagi sekarang kesadaran Sheil bisa di katakan sangat lemah dengan perlahan Sheila pun tak sadarkan diri ketika ia mendengar suara tembakan di lepaskan.
Hingga sebuah tembakan berbunyi membuat semua orang terkejut dan melihat asal tembakan tersebut, ternyata itu adalah Liam yang menembak Brian dengan sengaja dan mengenai punggung kirinya hingga mengeluarkan banyak darah, namun Brian bersyukur untungnya sang istri tak melihatnya saat tembakan tersebut bersarang di punggung nya karena Brian takut jika sang istri melihatnya maka dia akan takut, Brian juga bisa menebak kalau sang istri juga sudah sangat takut sekarang ini namun untuk mengeluarkannya Brian harus bertindak seperti ini.
DOR
"Aaaaakkk!" pekik Brian saat timah panas mengenai tubuhnya.
Bagi Brian sudah biasa ia tertembak seperti ini karena memang pekerjaan yang memang sangat rawan akan banyak musuh namun Brian merasa bahwa tembakan ini lebih dalam dari pada tembakan biasanya yang ia dapatkan sehingga sedikit sakit.
Awalnya Liam ingin menembak Brian dan juga Sheila agar mereka berdua bisa mengikuti Liam ke surga namun langkahnya itu langsung di tepis oleh anak buah Brian dan juga orang tuanya.
Sedangkan melihat hal itu papa Bastian, papa Boni dan para uncle uncle pun langsung menghujani Liam dengan tembakan beruntun membuat Liam langsung terkapar di sana, Brian juga mendekati Liam dan mengarahkan pistolnya ke arah tepat di kepala musuhnya itu dan langsung melayangkan tembakan.
DOR
suara tembakan terakhir dan bisa di pastikan bahwa Liam sudah tidak ada di dunia ini alias mati karena bisa di lihat dari darah yang terus mengalir dan juga tembakan yang berulangkali di tubuhnya mustahil bahwa dia masih hidup dan setelah di periksa memang sudah meninggal dan Jeffry juga sudah menuju ke ajal nya dengan papa Bastian dan papi Boni yang mengeksekusi nya dengan ada sentuhan tipis dari tangan Brian untuk memberikan rasa sakit teramat di tubuhnya yaitu dengan melumuri pistol tersebut dengan racun agar nantinya saat peluru sudah menancap maka bisa dipastikan racun sudah menyebar luas di tubuhnya.
Brian dengan seringai tajamnya pun menyuruh anak buahnya untuk membereskan mereka berdua siapa lagi kalau bukan Liam dan Jeffry dan juga ada buahnya yang sudah mati di depan sana.
__ADS_1
"Urus mereka, dan pastikan mereka sudah mati!" perintah brain kepada Aldo.
Aldo pun segera menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian dia menyuruh anak buahnya yang lain untuk menyeret dua mayat yang berlumur darah itu pergi, sedangkan Maria dan Tiffany sudah terduduk lemas dengan kaki yang sakit itu mereka sangat takut jika nasib mereka akan berakhir sama seperti Liam dan juga tuan Jeffry.
"Aldo!" panggi Brian saat Aldo baru saja masuk setelah memastikan Liam dan juga Jeffry meninggal dunia.
"Iya, tuan." jawab Aldo menghampiri tuannya.
"Bawa mereka ke markas dan masukkan mereka ke tahanan aku tidak ingin mereka bisa bernafas lega di dunia ini, mereka harus menerima akibatnya untuk setiap hal jahat yang mereka perbuat dan pastikan Aris dan Ketty juga ikut masuk ke sana!" perintah Brian dengan tegas dan di angguki lagi oleh Aldo.
Aldo pun menyeret dua wanita iblis itu dengan kasar meninggalkan tempat tersebut dan menunju ke markas, sedangkan Brian langsung berlari ke arah sang istri yang sudah tak sadarkan diri di sana.
"Sayang!" panggil Brian namun tak ada jawaban sama sekali.
Dengan sudah payah Brian menggendong tubuh sang istri, awalnya papa Bastian menawarkan untuk menggendong sang anak karena tak tega melihat Brian yang terluka di punggungnya namun Brian tidak mau dan memilih untuk tetap menggendong anak istri dengan tangannya.
"Sayang, biar papa aja ya yang gendong Sheila. Kamu habis tertembak gitu." ucap papa Bastian namun dengan cepat Brian menolaknya.
"Enggak kok pa, Brian bisa sendiri." ucap Brian kemudian menggendong Sheila menuju ke mobil nya dan segera melaju ke rumah sakit dengan yoga yang mengendarai mobil tersebut dan Laura di samping kemudi.
Hanya ada kekhawatiran dari raut wajah Brian, selama ini Brian yang di kenal cuek dingin dan juga kejam akan sangat khawatir dengan sesuatu yang menimpah istrinya seperti saat ini.
Papi Boni dan lainnya juga ikut ke rumah sakit, mami Salma dan yang lainnya juga sedang menuju ke rumah sakit saat mendengar bahwa Sheila di larikan ke sana dan juga mendapatkan kabar bahwa Brian juga terluka dalam kejadian tersebut.
Sampai di rumah sakit Brian segera membawa sang istri masuk ke dalam, Sheila segera di periksa oleh dokter Haikal dan juga Brian ingin dokter kandungan sang istri yaitu dokter Andin juga ikut memeriksa kondisi Sheila karena takut jika ada sesuatu hal dengan kandungan Sheila.
"Bri, lebih baik kamu obati duku saja luka mu!" ucap papi Boni mengingatkan sang anak bahwa sekarang dia juga terluka.
"Iya, Pi. nanti saja Brian mau tahu kondisi Sheila dulu," ucap brian.
Tak lama mami Salma dan yang lainnya datang, mereka mengkhawatirkan kondisi anak anaknya bahkan mami Salma dan mama Daniar sudah menangis sesenggukan karena mendengar kabar tersebut.
"Sayang, kamu gak papa?!" tanya mami Salma sambil mengecek tubuh sang anak.
"Aww!" pekik Brian saat maminya itu tak sengaja memegang punggungnya.
"Kenapa sayang?" tanya mami Salma dengan khawatir.
"Brian tadi tertembak mi," jawab papi Boni membuat mami Salma membulatkan matanya.
"Astaga, sayang lebih baik kamu segera di obati kalau enggak nanti kamu bisa infeksi loh!" tutur mami Salma panjang lebar.
"Iya, mi. antrian akan obati luka Brian kalau Brian sudah tahu kondisi Sheila." sahut Brian dengan mimik wajah yang sudah pucat karena kehabisan darah.
Tak lama dokter Haikal pun keluar dengan dokter Andin juga dan akan mengabarkan kondisi Sheila selengkapnya.
"Bagaimana dok dengan kondisi istri saya?!" tanya Brian bahwa dokter Haikal dan dokter Andin saya baru saja keluar.
"Kondisi nona Sheila sudah stabil, beliau hanya terkejut saja sehingga membuat nya pingsan dan juga ngedrop tetapi sekarang ini semua kondisi nya aman dan mungkin nanti besok pagi sudah siuman karena tadi kita kasih obat tidur agar kondisi nona Sheila saat bangun nanti lebih fresh," ucap dokter Haikal.
__ADS_1
"Syukur kalau begitu, untuk kandungan nya bagaimana dok?!" tanya Brian beralih ke dokter Andin.
"Untuk kandungannya sendiri, nona Sheila tidak ada masalah tapi sepertinya tadi beliau sempat mengalami kram perut karena saat di periksa tadi perutnya sangat tegang sekali tapi untuknya setelah beberapa saat semua nya sudah di cek dan normal, itu hanya lah respon sang janin jika ibunya sedang takut dan mengakibatkan kandungan di perutnya itu takut dan tegang." ucap dokter Andin menjelaskan semuanya.
Brian sudah merasa lebih baik lagi dengan kondisi sang istri, dokter Haikal yang melihat tuan nya itu sepertinya terluka pun mengajak Brian untuk ke ruangannya untuk di obati.
"Tuan, seperti nya tuan terluka. Bagaimana jika kita ke ruangan saja tuan," ajak dokter Haikal.
Brian pun mengikuti saja, dokter Brian menyarankan untuk Brian agar melakukan perawatan lebih intensif lagi karena peluru yang tertancap di punggung nya lumayan dalam sehingga perlu diadakannya operasi, namun Brian menolak dan meminta agar peluru nya di ambil dan di obati biasa saja karena bagi Brian sekarang ini adalah menunggu sang istri siuman adalah yang paling penting.
Setelah beberapa saat pengobatannya Brian segera kembali ke ruangan sang istri di mana di sana sudah ada mami Salma, papi Boni, papa Bastian dan juga mama Daniar sedangkan anggota keluarga yang lainnya sudah kembali pulang dan akan kembali lagi besok karena hari sudah malam.
Sheila di tempatkan di ruangan VVIP sehingga penjagaan sangat ketat dan hanya beberapa orang saja yang bisa menyewa kabar tersebut karena mahal nya biaya kamar.
Brian masuk dan melihat sang istri yang masih belum membuka matanya di sofa sudah ada anggota keluarga yang lainnya melihat Brian yang aduhai masuk.
"Sayang, bagaimana luka kamu?" tanya mami salam khawatir dengan luka sang anak.
"Brian gak papa kok mi, yang penting sekarang menunggu Sheila siuman." tutur Brian.
"Bri, Jeffry dan keponakannya itu sudah di makamkan tadi sama Aldo dan juga tadi uncle mu menelepon bahwa untuk Maria, Tiffany, Aris dan Ketty juga sudah berada di markas. Untuk mereka biar papi saja dulu yang menanganinya karena sekarang lebih baik kamu fokus dengan kondisi kamu dan juga istri kamu," ucap papi Boni.
"Iya, Pi. Makasih ya," sahut Brian mengucapkan terima kasih.
"Lebih baik kamu istirahat saya yang di sana," tutur mami Salma menyuruh Brian untuk istirahat di ranjang di mana di sana ada ruangan tunggu untuk keluarga pasien yang juga di siapkan ranjang di sana.
Brian pun mengangguk kan kepalanya dan berjalan untuk beristirahat sedangkan anggota keluarga lainnya memutuskan untuk kembali ke mansion mereka masing masing dan kembali lagi besok pagi karena Brian dan Sheila pasti butuh istirahat untuk mengencangkan tubuh mereka setelah kejadian yang sangat menegangkan tadi.
Brian harus bersiap-siap besok karena Basti sang istri langsung menanyakan kebenaran karena saat mencoba menyelamatkan sang istri tadi, Sheila melihat Brian menembakkan pistol ke arah Liam.
Brian tidak tahu bagiamana nantinya reaksi Sheila namun dia harus mencari cara untuk menjelaskan semuanya kepada sang istri akan kejadian yang membuat Sheila terkejut tadi.
.
.
Bersambung..........
HAI READERS SEMUANYA πππ
GIMANA NIH CERITA SHEILA DAN BRIAN SEMAKIN SERU GAK YA,,,
AUTHOR CUMA MAU BILANG TERIMA KASIH KARENA SUDAH MENDUKUNG CERITA NGAWUR AUTHOR INI DAN JUGA MINTA MAAF KARENA AUTHOR AKHIR AKHIR INI JARANG SEKALI UPDATE BANYAK BABπ
TAPI KALAU KONDISI AUTHOR SUDAH KEMBALI FIT AUTHOR AKAN UPDATE BANYAK BAB YAπ
TERIMA KASIH YANG SUDAH MENDUKUNG AUTHOR SAMPAI DI TITIK INI DAN AUTHOR BERHARAP SEMOGA DI TAHUN INI SEMUA YANG KITA INGINKAN TERCAPAI DAN DI LANCARKAN SEMUANYA, AMINNNNNππ
SALAM HANGAT DARI AUTHOR UNTUK READERS SEMUANYA πππππ₯°π₯°β₯οΈβ₯οΈ
__ADS_1