Menikahi Mafia

Menikahi Mafia
RSJ


__ADS_3

Pagi harinya Sheila masih tertidur pulas sedangkan Brian sudah siap untuk pergi menemui pelaku yang menculik anak dari uncle Bastian, padahal brian sangat berat untuk meninggalkan sang istri apa lagi dalam kondisi seperti ini tetapi dia juga harus segera menuju ke tempat yang sudah Aldo kirimkan kepadanya.


Brian pun memutuskan untuk segera keluar dari kamarnya dan langsung di sambut oleh yoga yang juga sudah menunggunya di depan. segera mereka menuju ke tempat yang telah di kirim oleh Aldo.


Sampai di alamat tersebut Brian pun mengernyitkan dahinya melihat tempat tersebut, bagiamana tidak Brian malah di arahkan ke rumah sakit jiwa.


"Yoga, apakah benar sini?" tanya Brian memastikan.


"Iya, bos." ucap yoga. Kemudian tka lama Aldo keluar dari dalam dengan anak buahnya juga menyambut kedatangan Brian.


"Bos," sapa Aldo dan yang lainnya.


"Hm." balasnya singkat dasar manusia es.


"Apakah benar di sini?" tanya Brian kepada Aldo.


"Iya, bos. setalah kami telusuri dan pastikan memang benar di sini bos." balas Aldo dan di angguki singkat oleh Brian.


"Kalau begitu sekarang juga kita masuk," tita Brian dengan tegas, kemudian Aldo pun mengarahkan jalan untuk Brian agar bisa bertemu dengan pelaku tersebut.


Hingga sampai di sebuah ruangan atau kamar lebih tepatnya dengan hawa yang sedikit lembab, di sana ada seorang pria tidak terlalu tua di lihat dari wajahnya yang sedang di rantai kaki dan tangannya.


"Apakah dia?" tanya Brian karena Aldo memberhentikan di salah satu kamar pasien.


"Iya, bos." jawabnya.


"Ternyata Jeffry memasukkannya di sini selama ini," ucap Brian dengan sedikit sinis nya.


"Buka!" perintah Brian kepada Aldo, Aldo segera menyuruh dokter yang juga ikut berjaga di sampingnya untuk membuka pintu tersebut.

__ADS_1


Saat pintu di buka, orang tersebut segera melihat ke arah pintu tersebut di buka dan menampakkan wajah Brian yang seperti sedang menahan amarah di depan orang tersebut.


Melihat orang tersebut Brian seperti melihat kenangan buruk dari uncle Bastian dan juga tante Daniar, mereka harus berpisah lama dengan anak perempuannya karena permusuhan antar klan mafia, dunia yang sangat gelap hingga siapa pun bisa jadi korbannya sama seperti anak dari uncle Bastian.


"Siapa kamu?" tanya orang tersebut yang sebenarnya tidak gila tetapi memang Jeffry yang menaruhnya di sana, karena di kenal sebagai rumah sakit jiwa paling aman karena penjagaannya yang ketat, tapi tenang kan ada Aldo dan jangan lupa ada sosok Brian juga sehingga mereka di persilahkan untuk masuk ke dalam.


Sedangkan Sheila merasa tubuhnya sangat remuk sekali, ia mencoba menetralkan matanya untuk menerima cahaya masuk. Saat di rasa sudah sedikit mulai sadar Sheila pun mencoba mengecek hp nya dan melihat jam berapa sekarang.


"APA! Jam segini kok aku gak di bangunin sih " pekiknya lagi kemudian buru buru ia masuk ke dalam kamar mandi dan bersiap mandi kemudian mengganti pakaiannya.


Setalah siap semuanya Sheila pun keluar dari kamar nya, dia masih belum sadar akan ucapannya kemarin malam mungkin karena memang di pengaruhi alkohol sehingga Sheila tidak ingat sama sekali.


"Laura, kenapa gak bangunin aku sih!" sahut Sheila sedikit agak kesal tetapi mencoba ia tahan saja.


"Maaf, nona. Tadi saya ingin membangunkan nona tetapi tuan muda bilang nona jangan di ganggu dulu biarkan nona istirahat sebentar kemudian saya di suruh tetap tunggu di sini." ucap Laura panjang lebar.


"Ya udah deh, buruan nanti ketinggalan. yang lainnya." ajak Sheila lagi kepada Laura.


Sheila dan Laura pun beranjak menuju ke lantai satu di mana semua orang sudah akan bersiap dan menuju ke bis yang sudah di sewa sebelumnya. Mereka memang akan menuju ke gunung Fuji untuk menikmati nuansa pegunungan dan akan mendaki sebentar di sana tanpa sampai puncak. Dan ada beberapa karyawan lainnya yang memilih untuk ke tempat lagi sehingga sudah berangkat terlebih dahulu tadi dengan bis yang lainnya.


"Sheila, elo Kok lama banget sih!" pekik Monica sat melihat akhirnya Sheila dateng juga.


"Hehe, maaf ya." jawab Sheila dengan sedikit tidak enak hati.


Yang buat jovanka aneh adalah, entah kebetulan atau bagiamana seharusnya bis sudah berangkat dari tadi sebelum Sheila dateng tetapi Bu Ella terus saja menunda waktunya karena berbagai hal membuat semua karyawan sedikit kesal, banyaknya karyawan hampir beberapa bis tersebut membuat suasana sedikit kacau tadi untung saja bisa di atasi.


Bis yang di tumpangi Sheila pun akhirnya berangkat juga menuju ke tempat tujuan, Sheila sangat antusias karena ini adalah kali pertamanya melihat gunung Fuji dari dekat bukan dari layar televisi seperti biasanya.


Sampai di tempat segera Sheila keluar dan mengekspor banyak sekali tempat indah di sana, sedangkan Laura sibuk memotret nona mudanya itu karena Sheila ingin sekali di foto.

__ADS_1


Hampir semua memori mungkin bisa saja berkurang karena banyaknya foto tersebut, Sheila juga tambah melupakan semua kejadian kemarin.


Saat semoga asyik berjalan jalan santai dengan Monica, jovanka dan juga Laura tiba-tiba perut Sheila sedikit sakit, dia berfikir mungkin saja karena kemarin ia habis minum minum meski pun ia sendiri seberapa banyak ia minum kemarin.


Sedangkan di sisi lain Brian bersama pelaku penculikan tersebut, dia mendekat dan berjongkok mendekati pria tersebut yang terlihat sangat mengenaskan dengan beberapa luka benturan di wajahnya dan juga tinjuan di berbagai tempat.


"Hei, Martin aku tahu kamu tidak sebegitu gilanya bukan. Aku Brian Albern Ardolph keluarga besar Ardolph dan juga sekarang ketua dari klan elang," ucap Brian membuat Martin nama lelaki tersebut terkejut pasalnya dia sangat menghindari bekerja sama dengan klan elang karena kekuatan mereka yang sangat di takuti dan di segani banyak orang.


"Mau apa kau ke sini?" tanya pria tersebut dengan sedikit ketakutan.


"Apa kah kau tau dengan foto bayi ini?" tanya Brian to the point menunjukkan foto wanita dengan sedang menggendong bayi di foto tersebut. Namun pria tersebut hanya diam saja tanpa berbicara apa pun karena dia sangat takut.


"Ada apa emangnya?" tanyanya dengan sedikit ketar ketir.


"Jawab saja kenal atau tidak!' bentak Brian udah tidak bisa menahan emosinya.


"Apakah kamu menculik anak kecil ini?" tanya Brian membaut pria tersebut diam tak bergerak.


"Buruan bilang atau keluarga elo yang akan menjadi target gue selanjutnya," sahut Brian dengan kejamnya.


"Aku tidak tahu, aku tidak tahu!" pekiknya dengan histeris karena adanya rasa ketakutan yang berarti.


"Apa kah Jeffry yang menyuruh mu?" tanya Brian dengan anda sedikit lebih rendah dari biasanya membuat aura pembu*uhnya semakin terasa saja.


Mendengar nama Jeffry sebut, emosi Martin semakin menjadi jadi, dia sama sekati tidak suka dengan nama tersebut karena karenanya Martin harus merasakan rasanya sakit dan juga di anggap gila padahal dia sangat waras hingga sekarang.


"Iya, dia yang menyuruh aku untuk membuang bayi tersebut." ucapnya menjawab untuk pertama kalinya pertanyaan Brian.


"Terus kemana sekarang bayi tersebut?" tanya Brian.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, karena setelah dia suruh buang, setelah itu aku tidak tahu lagi bagaimana keadaanya karena aku sendiri langsung berada di sini hampir bertahun tahun dan harus mendengarkan berita bahwa anak dan istri ku meninggal karena serangan dari Jeffry!" sahut Martin dengan nada marahnya dan sedihnya saat mengingat anak dan istri nya harus mati karena perbuatannya.


Bersambung..........


__ADS_2