
Setelah menebus obat mami Salma dan Sheila pun segera ke mobil dan kembali ke mansionnya.
Mami Salma sangat tidak sabar untuk memberitahukan kepada sang suami yaitu papi Boni tentang kabar bahagia ini, sedangkan Sheila malah sedikit deg degan untuk memberitahukan kabar kehamilannya kepada Brian, dia takut apakah Brian mau menerima anak ini atau tidak. (Sheila emang ya, bisa gak sih gak usah negatif thinking terus!).
"Sayang, kamu kenapa?" tanya mami salam kepada Sheila saat mereka masih di perjalanan pulang.
"Kamu kenapa, bilang ke mami?" sahut mami Salma.
"Mi.. Sebenarnya aku sedikit takut,"
"Takut kenapa sayang?"
"Gimana kalau Brian merasa ini terlalu tiba-tiba." sahut Sheila tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.
"Hei dengar ya sayang, kalian sudah menikah bukan?" tanya mami Salma yang di angguki oleh Sheila.
"Kalian sudah berhubungan suami istri bukan?" tanyanya lagi dan di angguki oleh Sheila lagi.
"Brian tidak pakai pengaman bukan kalau main, dan dia mengeluarkan nya di dalam kan?" tanya mami Salma terus menggempur Sheila dengan berbagai pertanyaan namun terus di angguki oleh Sheila.
"Berarti memang brian menginginkan adanya anak di sini sayang dan dia juga pasti berharap anak ini akan segera melihat indahnya dunia," sahut mami Salma sambil mengelus lembut perut rata sang menantu.
Sedangkan Sheila yang mendengarkan penjelasan sang mami pun sedikit mulai tenang karena apa yang di ucapkan oleh mami salma ada benarnya juga ya.
Sedangkan Brian setelah berbincang bincang dengan Aldo dan yoga dia pun kembali ke mansion karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan Sheila yang sangat pucat tadi pagi.
Sampai di mansion ia segera berlalu menuju ke kamarnya tanpa memperhatikan sekitarnya, dia berjalan cepat hingga sampai di kamarnya kemudian dia pun memasuki kamar tersebut, namun saat ia masuk Brian tidak menemukan sosok sayang istri yang sedang ia kahwatir kan.
"Sayang! Mami!" panggil Brian beberapa kali semoga saja istrinya ketemu namun nihil tidak ada jawaban apa pun, akhirnya Brian pun turun ke bawah dan mencari keberadaan bi Nana yang kebetulan banget baru saja masuk ke dapur dari ruangan belakang.
"Bu, Sheila sama mami kemana?" tanya Brian to the point.
"Oh, nona muda sama nyonya tadi ke rumah sakit tuan." sahut bi Nana.
"Rumah sakit, kenapa?" sambung Brian.
"Tidak tuan muda hanya saja mami Salma sedikit khawatir dengan kondisi nona muda sehingga beliau pun membawa nona muda ke rumah sakit karena muntah yang terus ada." ujar bi nanan panjang lebar.
__ADS_1
Setelah mendapat penjelaskan dari bi Nana Brian pun memilih untuk kembali ke kamarnya dan merebahkan dirinya menghirup wangi parfum sang istri yang masih menempel di seprei sehingga Brian bisa merasakan wangi tersebut dengan jelas.
Sedangkan mami Salma dan Sheila baru saja memasuki gerbang mansion, mereka melihat mobil Brian yang sudah terparkir di depan menandakan sang pemilik sudah pulang dan berada di rumah.
"Mi, Brian sudah berada di dalam!" ucap Sheila sedikit takut.
"Hei, sayang. jangan takut, Brian pasti akan senang sekali mendengar berita ini!" sahut mami Salma.
Setelah itu mobil terparkir sempurna mereka pun keluar dari mobil dengan mami Salma yang terus memegang tangan Sheila takut jika Sheila terjatuh.
Sampai di dalam pun mami Salma terus saja menggengam tangan sebelum hingga sampai di depan kamar Sheila mami Salma baru melepaskannya.
"Ya udah, kamu segera masuk ya. Dan jangan lupa kamu kasih kabar gembira ini kepada Brian ya," ucap mami Salma dan di angguki oleh Sheila.
Setelah itu Sheila pun masuk dan mami Salma turun ke bawah ke kamarnya juga yang ternyata sudah ada papi Boni yang juga baru saja tiba dan segera mengabarkan kabar gembira tersebut.
"Pi!" pekik mami Salma saat papi Boni baru saja masuk ke dalam kamar.
"Ada apa sih mi?" tanya papi Boni.
"Mami punya kabar gembira!" pekiknya lagi membuat papi Boni bingung.
"Sheila sekarang hamil Pi," ucap mami Salma dengan senang nya.
"Apa! beneran kan ini mi?"
"Iya, Pi. sebentar lagi kita akan jadi Oma sama opa Pi," sahut mami Salma sedikit terharu dan papi Boni pun memeluk sang istri menenangkan nya.
Sedangkan Sheila masuk ke dalam kamarnya dan melihat sang suami ternyata yang sudah pulang, dia sangat ragu untuk mengatakan kabar tentang kehamilannya kepada sang suami.
Baru saja Sheila masuk dan berjalan menuju ke arah sofa, Brian yang merasakan ada yang masuk segera membuka matanya dan benar saja melihat sang istri yang baru masuk sedikit kaget dengan Brian yang ternyata sudah bangun.
"Sayang, kamu bagiamana apakah ada yang sakit?" tanya Brian menghampiri Sheila di sofa.
"Aku enggak papa kok, tapi...." sahut Sheila terpotong.
"Tapi kenapa sayang?"
__ADS_1
"Ini," ucap Sheila sambil memberikan foto USG pertamanya kepada Brian, sedangkan Brian yang menerima foto tersebut pun sedikit linglung Karena dia tidak tahu untuk apa foto ini.
"Ini apa?" tanya Brian dengan sedikit bingung. (Dasar mafia, lucu banget sih gak tahu foto USG).
"Ini hasil foto USG,"
"USG?" tanya Brian kepada Sheila yang sedang menganggukkan kepalanya.
"Kata dokter aku sekarang sedang hamil," gumam Sheila dengan pelan tapi masih bisa di dengar oleh Brian yang sudah sangat terkejut bukan main.
"APA! Kamu hamil?" tanya Brian dan di angguki oleh Sheila.
"Iya, tadi dokter bilang kalau aku hamil dan sudah memasuki usia empat Minggu," sahut Sheila.
Namun tiba-tiba Brian pun memeluknya dengan erat membaut Sheila sedikit terkejut dengan perilaku sang suami.
"Terima kasih, sayang." sahut Brian di sela sela pelukan mereka.
"Kamu senang sayang?" tanya Sheila.
"Pertanyaan bodoh macam apa itu, jelas lah aku sangat senang sekali." sahut Brian.
Mendoakan gak itu Sheila merasa sedikit lega, ternyata sang suami menginginkan anak ini hadir di tengah-tengah keluarga kecil mereka.
"Halo, sayang ini papa sayang." ucap Brian setelah melepaskan pelukannya dengan Sheila dan berganti ke perut rata sang istri.
"Jangan nakal ya di dalam, jangan buat mama sakit ya." sahut Brian lagi terus berbicara dengan perut rata Sheila dan mengecupnya di akhir katanya, setelah itu ia pun berakhir mengecup kening sang istri cukup lama.
"Terima kasih sayang," sahut Brian dan di angguki oleh Sheila.
"Iya, sayang."
"Ya sudah kalau begitu sekarang minum obat dari dokter ya," sahut Brian dan di angguki oleh Sheila.
Setelah minum obat Brian pun menyuruh Sheila untuk berbaring di kasur untuk menyegarkan badan nya karena wajah Sheila yang memang sedikit pucat.
"Tidur ya sayang," sahut Brian dan di angguki oleh Sheila.
__ADS_1
Setelah itu Sheila pun mencoba untuk tidur karena memang badannya sedikit lemas mungkin karena dari tadi dia terus merasa mual hingga ia tidak ada tenaga untuk bergerak.
Bersambung..........