
Sampai di bandara mereka segera menunggu di tempat biasanya orang menunggu kedatangan penumpang, tak lama kak Leon dan sang istri pun datang dengan bahagianya seperti pengantin baru, ya embah pengantin baru sih.
"Hai kak," sapa Sheila saat kak Leon dan sang istri sudah berada di depannya.
"Hai adek aku yang cantik ini, gimana sama kandungannya?" tanya kak Leon sambil mengelus perut Sheila.
"Aku baik kok uncle," ucap Sheila seperti menirukan suara anak kecil membuat semua orang yang melihatnya gemas di buatnya.
"Hai kak Sabrina," sapa Sheila saat melihat kakak iparnya.
"Hai Sheila," jawab kak Sabrina sambil memeluk Sheila dengan lembut.
"Kak kenalin ini Brian suami aku," sahut Sheila memperkenalkan Brian kepada kakak iparnya.
"Sabrina," ucap kak Sabrina mengenalkan dirinya kepada Brian.
"Brian," balas Brian.
"Selamat ya bro, akhirnya gak sendirian lagi!" ledek Brian kepada Leon sang sahabat.
"Iya dong, masa elo aja sih yang udah nikah." balas Leon.
"Ya sudah kalau gitu kita segera ke mansion yuk," ajak papa Bastian.
Mereka pun segera menuju ke mobil masih masing dan bergerak menuju ke mansion keluarga Kiel di mana Leon dan sang istri akan tinggal sementara di sana saat sedang berada di New York maklum lah mereka kan tinggal menetap di Austria jadi mereka juga tidak akan sering sering ke New York kalau tidak ada sesuatu hal yang mendesak.
Sampai di mansion keluarga Kiel mereka semuanya pun masuk dan bercengkrama dengan hangat, Sabrina yang selalu dekat dengan Sheila karena dia melihat Sheila yang hamil besar membuat dirinya juga ingin segera bisa hamil karena kesempurnaan seorang istri adalah bisa mengandung secepatnya apa lagi sekarang ini umur nya sudah sangat siap untuk mengandung.
"Sheil, gimana rasanya hamil?" tanya Sabrina kepada sang adik karena dia sangat penasaran sekali.
"Enak banget kak, suami aku jadi sangat sayang banget sama aku apa lagi saat ngidam dia selalu saja menuruti semua keinginanku!" jawab Sheila dengan senangnya.
Sabrina senang mendengar hal tersebut, dia berharap semoga saja ada janin yang di taruh tuhan di perutnya dan bisa merasa kan semua yang adik iparnya ucap kan tadi soal kenikmatan bisa mengandung.
Setelah hampir sore Sheila dan Brian pun pamit untuk pulang karena hari sudah semakin sore, sedangkan mama Daniar dan juga papa Bastian memutuskan untuk tinggal di mansion saja karena mereka kangen dengan kak Leon dan juga sang menantu baru mereka.
Sheila dan Brian pun pergi meninggalkan mansion dan segera menuju ke villa, di tengah perjalanan Sheila merasakan perutnya sangat sakit seperti kram di perutnya entah mengapa ini lebih sakit dari pada kram biasanya yang iya alami atau mungkin saja ini termasuk kontraksi palsu yang dokter Andin bicarakan tempo hari kepada Sheila waktu check up terakhir kali sebelum persalinan karena usia kandungannya yang sudah siap untuk lahiran.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Brian karena melihat sang istri seperti ada sesuatu hal yang mengganjal.
"Kayaknya aku kontraksi palsu deh," sahut Sheila membuat Brian syok dan segera mengelus perut sang istri agar baby nya di dalam tidak membuat mommy nya kesakitan.
"Sayang, jangan buat mommy kesakitan ya. Nanti kita ketemu nya saat kamu akan hadir ke dunia aja ya," sahut Brian mengajak sang baby El berbicara namun anehnya ajakan Brian malah ampuh dan membuat perut Sheila tidak sakit lagi.
"Udah enggak sayang," sahut Sheila membuat Brian pun tersenyum karena baby nya menurut dengan ucapannya barusan.
"Pintar deh," ujar Brian kemudian duduk seperti biasanya.
Setelah itu beberapa saat pun mereka sampai di villa di mana di sana sudah ada mami Salma, papi Boni dan juga keluarga uncle Steven dan uncle Eric mereka memang sengaja datang ke villa karena mereka mendengar kalau Sheila dalam beberapa hari ini atau minggu ini akan segera melahirkan, mereka tidak sabar karena ini adalah keturunan pertama dari keluarga Ardolph di mana baby El juga yang akan menjadi pewaris kerajaan Ardolph ke depannya dan membawa emban yang sangat besar nantinya.
"Sayang, kamu baru pulang?" sahut mami Salma berjalan ke arah Sheila dan Brian.
"Iya, mi." jawab Sheila.
Mereka pun segera masuk ke dalam villa dan melihat semua keluarga sudah berkumpul dan menyambut Sheila dengan banyak balon di sana membuat Sheila terkejut sekaligus senang karena dia mendapat kan kejutan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
"Wahhh!" sahut Sheila dengan senangnya.
Mami Salma dan yang lainnya mengadakan baby shower untuk kehamilan Sheila yang sekarang ini karena mereka tak sempat untuk melakukan nya di usia kandungan Sheila menginjak usia tujuh bulan yang lalu jadi mereka mengadakannya hari ini.
"Selamat ya sayang," sahut mami Salma dengan membawakan buket bunga nan cantik untuk sang menantu.
Sheila melihat ke arah Brian yang terlihat santai dan biasa saja, ternyata Brian sudah tahu akan kejutan yang di berikan oleh keluarganya kepada Sheila karena mami Salma memang memberitahukan kepada Brian namun tidak untuk Sheila yang tidak tahu sama sekali akan kejutan tersebut.
Mami Salma pun memberikan selempang dan juga mahkota untuk Sheila kemudian membawa Sheila ke arah taman belakang yang juga sudah di desain dengan indahnya membuat taman tersebut lebih hidup lagi, Sheila rasanya terharu dan meneteskan air matanya ia sangat senang karena sejak ia menikah dia banyak mendapatkan kasih sayang baik dari mertuanya dan juga keluarga besar sang suami dan juga dia bisa menemukan orang tua aslinya membuat Sheila bersyukur banyak banyak meski pun dia juga mendapat kabar mengejutkan tentang identitas sang suami.
__ADS_1
Mereka mengadakan baby shower untuk Sheila dengan meriah meski pun hanya di hadiri oleh keluarga inti saja namun tidak menghilangkan keseruan dari baby shower tersebut membuat Sheila sangat senang bahkan dia melupakan perutnya yang kadang kram atau pun kontraksi palsu karena terlalu menikmati kebersamaan tersebut, bahkan Brian di sana lebih banyak tertawa dan tersenyum membuat Sheila merasa senang karena suaminya yang ia tahu sangat dingin dan juga cuek sekali.
"Sayang, kamu senang?" tanya Brian duduk di samping sang istri.
Sheila langsung menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan sang suami, baginya hari ini adalah salah satu hari yang sangat tidak akan pernah Sheila pernah lupakan karena hari ini dia sangat senang sekali semenjak ia mendapat kabar tentang kehamilannya.
Tak lama mami Salma mendekati Sheila dengan membawa kue cantik dengan ada manekin baby yang sangat menggemaskan membuat Sheila terkejut karena banyaknya kejutan yang di berikan oleh keluarganya.
"Makasih, mi." ucap Sheila dengan meneteskan air matanya terharu dengan kejutan yang di berikan kepadanya berturut turut.
"Iya, sayang. Apa pun akan kami lakukan untuk kamu sayang," sahut mami Salma ikut menangis terharu melihat sang menantu menangis juga.
Malam hari ini pun menjadi sebuah kenangan yang tidak akan pernah Sheila lupakan di mana semua orang yang menyayanginya memberikan banyak kejutan untuknya, bahkan uncle Steven dan uncle Eric dan juga keluarga mereka masing masing pun memberikan banyak kado mahal kepada Sheila mulai dari pakaian bayi dengan merek mahal dan juga banyak kado lainnya membuat Sheila tak habis fikir jika di jual maka bisa untuk membeli apartemen baru di tengah kota saking mahalnya kado yang mereka berikan kepadanya.
Acara baby shower berlanjut hingga pukul sepuluh malam dan setelah nya Merkea kembali ke rumah dekat markas karena hari sudah malam, Sheila juga kembali ke kamar dengan Brian yang menuntun sang istri, sekarang ini Brian memindahkan kamar mereka di kamar bawah karena mengingat usia kandungan Sheila yang sudah besar dan juga susahnya Sheila untuk berjalan naik membuat Brian takut jika terjadi apa-apa kalau dia tetap berada di kamar atas.
Semua kado sudah berada di kamarnya setelah di bantu oleh pak Chris untuk memudahkannya dan bisa di bilang kado tersebut sangat banyak padahal yang memberikan nya hanya lah keluarga inti saja namun bisa membuat kamar Sheila dan Brian penuh di dalam sana.
"Sayang," panggil Brian saat Sheila baru saja berganti pakaian dan menuju ke arah ranjang di mana Brian sudah bersandar di sandaran ranjang sambil melihat sang istri yang berjalan ke arahnya.
"Iya, ada apa?" tanya Sheila duduk di samping sang suami sambil bersandar di dada kokoh sang suami, rasanya selalu saja nyaman berada di dekat sang suami.
"Apakah kamu takut menjelang kelahiran baby El ini?" tanya Brian jujur sangat takut jika sang istri akan takut akan melahirkan karena ini adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua menghadapi situasi seperti ini.
"Aku sebenarnya ada rasa takut sedikit tetapi mama bilang mau normal atau pun cesar nanti tetap aku akan menjadi seorang ibu jadi aku bersedia untuk mengikuti saran dari dokter Andin saja," sahut Sheila menenangkan sang suami yang sepertinya khawatir tentang proses lahiran nya nanti.
"Jadi kamu gak perlu khawatir lagi ya," sahut Sheila lagi.
"Beneran?" sahut Brian dan mendapat anggukan dari Sheila.
"Iya," jawab Sheila.
Brian pun lebih tenang setelah ucapan dari sang istri tadi, Brian pun memeluk erat sang istri yang berada di dadanya rasanya senang sekali bisa menikah dengan seseorang seperti bidadari yang sangat menyayangi nya bahkan dia akan memberikan sesosok malaikat kecil di tengah kebahagian pernikahannya menambah kebahagian lagi.
"Terima kasih sayang, i love you!" bisik Brian yang dapat di dengar oleh Sheila membuat Sheila senang karena sang suami mengatakan hal manis untuknya.
Sheila pun berjalan ke arah balkon dengan sekuat tenaganya agar sang suami tidak bangun dari tidurnya, setelah sampai sana Sheila pun mengelus pelan perutnya sambil bergumam sendiri memohon kepada sang baby agar tidak terus menendang perutnya karena sakit jika terus menendang seperti ini.
"Sayang, jangan tendang terus ya mommy kesakitan ini sayang," sahut Sheila memohon kepada baby El.
Namun sayangnya baby El tidak menghiraukan ucapan Sheila dan terus menendang membuat Sheila harus bertahan dalam tendangan sang baby.
Sedangkan Brian tak sengaja bangun dalam tidurnya dan melihat tempat tidur di sampingnya yang kosong tidak ada orang di sana membuat Brian mencari keberadaan sang istri yang tidak ada di sana, Brian pun bangun dan mencari Sheila saat dia melihat ke arah balkon ternyata sang istri berada di sana sambil mengelus perut nya membuat Brian menghampiri sang istri yang sedang mengelus perutnya.
"Sayang," panggil Brian membuat Sheila menoleh.
"Sayang, aku sudah bangunin kamu ya?" sahut Sheila merasa bersalah karena telah membangunkan sang suami.
"Enggak kok, kenapa kamu di sini sayang?" tanya Brian kepada Sheila.
"Aku gak bisa tidur," sahut Sheila membuat Brian duduk di samping sang istri.
"Gak bisa tidur kenapa, apakah baby El nakal?" tanya Brian sambil mengelus perut sang istri.
"Gak nakal sih cuma seperti nya dia sudah enggak sabar buat melihat dunia ini deh dan dia gak sabar buat ketemu sama deddy nya yang tampan ini," sahut Sheila sambil menggoda sang suami.
"Bisa aja sih Sitti cantik ku ini," balas Brian sambil mencubit hidung sang istri merasa gemas dengan ucapannya tadi.
"Ya sudah kalau gitu aku temani ya," sahur Brian, dia pun menemani Sheila hingga Sheila tertidur di bahunya baru lah Brian mengendong sang istri ke ranjang dan mereka pun tertidur bersama di sana.
Pagi harinya seperti biasanya Sheila bangun terlebih dahulu dan melihat dirinya ternyata sudah berada di ranjang pasti Brian yang sudah memindahkannya begitulah pikiran Sheila kemudian Sheila pun mandi dan bersiap untuk turun dan menyapa yang lainnya.
Saat baru saja turun papi Boni dan mami Salma sudah menyapanya saja dan mengajak Sheila berbincang bincang tentang hari kelahiran sang baby, Sheila pun menjawab setahunya saja dia juga sudah bilang mungkin akan mempertimbangkan untuk cesar karena kata dokter Andin kondisi baby nya mungkin agak susah dan bisa membahayakan ibu dan baby nya sehingga membuat Sheila mungkin memilih cesar saja lah.
Sedangkan Brian yang berada di kamar tiba-tiba menerima telepon di pagi hari membuat Brian pun bangun dan bersiap untuk ke markas karena dia mendapatkan kabar bahwa Aris papa Sheila yang dulu mengakhiri hidupnya di dalam tahanan membuat Brian segera menuju ke markas.
__ADS_1
Saat melewati Sheila Brian pun pamit untuk pergi ke luar membuat Sheila mengerenyitkan dahinya pasalnya ini masih pagi sekali kenapa sang suami sudah akan pergi saja.
"Sayang kamu mau kenapa?" tanya Sheila membuat Brian menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah Sheila, dia bimbang apa kah dia harus memberitahukan kepada Sheila bahwa Aris papa nya yang dulu telah tiada atau tidak.
"Sayang, aku harus ke markas karena ada sesuatu hal yang mendesak," ucap Brian.
"Mendesak kenapa?" tanya Sheila namun Brian bingung harus memberitahukan nya bagaimana karena ini adalah hal yang sangat sulit untuk Brian.
"Sayang, aku akan beritahu kamu, tapi kamu harus tenang ya!" sahut Brian dan mendapat anggukan dari Sheila.
"Sebenarnya papa kamu Aris hari ini di temukan meninggal dunia di tahanan bunuh diri, sekarang ini aku akan ke markas untuk melihatnya," sahut Brian membuat Sheila syok dengan kabar tersebut karena setahunya papanya tidak kenapa kenapa waktu dia ke markas yang terakhir kali.
"Apa! Sayang aku mau ikut," sahut Sheila ingin ikut dan melihat sendiri bagaimana kondisi terkini dari sang papa angkatnya dulu.
"Kamu yakin gak apa-apa?" tanya Brian takut sesuatu hal yang tidak tidak terjadi kepada sang istri.
"Iya, aku gak papa kok."
"Biar mami temani," shut mami Salma dan di angguki oleh Brian.
Mereka pun segera pergi menuju ke markas di mana di sana ada Aldo yang sudah menunggu kedatangan tuan nya dan juga anak buah yang lainnya.
"Bagaimana bisa?" tanya Brian to the point saat baru saja sampai menanyakan tentang kejadian yang sebenarnya.
"Kami sendiri juga kurang tahu tuan, tapi dari yang kami lihat di cctv seperti dia meminum cairan pel yang tak sengaja dia temukan di sana," sahut Aldo.
Brian pun mengerti dan segera menuju ke ruangan bawah tanah dengan Sheila yang berada di belakangnya dan juga mami Salma yang juga ikut dan jangan lupa akan Laura yang senantiasa ada di saat nona mudanya keluar villa.
"Papa!" samar samar terdengar suara jeritan tangisan di dalam ruangan tersebut yang bisa Sheila tebak itu adalah Maria dan juga sang mama Ketty.
Benar saja baru saja Sheila masuk di sana sudah ada mayat papa angkatnya Aris yang sudah membiru dan dingin di sana membuat hati Sheila tak tega melihatnya seketika ia pun luruh di dalam dekapan sang mami Salma.
"Sayang, kamu yang kuat ya." sahut mami Salma memberikan semangat kepada sang anak karena dia tahu bagaimana pun Sheila pasti sangat terpukul dengan kepergian sang papa angkatnya dulu.
"Mi, papa gak ada mi!" sahut Sheila.
"Sudah sayang, kamu yang kuat ya." shut mami Salma memberikan ketegaran untuk sang menantu.
Brian terus berjalan ke arah mayat yang sudah membiru itu dan mengeluarkan busa di mulutnya karena telah meminum cairan yang seharusnya tidak ia minum.
"Bawa ke luar sana dan segera kubur!" perintah Brian dan langsung di angguki oleh anak buahnya patuh.
Mereka pun segera membawa jenazah Aris ke luar, sedangkan Ketty dan Maria terus meronta ronta ingin ikut dengan Aris namun sayang tak di gubris sama sekali dengan brian.
"Papa!!!" pekik Maria.
Sheila pun berjalan kearah Maria dan juga sang mama Ketty ingin memberikan sebuah semangat agar tetap tabah karena Sheila sendiri juga sangat terpukul dengan kematian sang papa yang sangat mendadak ini.
"Mama, kakak. Kalian yang sabar ya, aku Thai bahwa ini tidak mudah tapi aku yakin kalau kalian bisa tabah dan ikhlas karena aku sendiri juga terkejut mendengar hal tersebut.
"Eh, asal elo tahu ya ini semua gara-gara elo! Kalau saja elo gak ada di dunia ini dan mati waktu itu papa pasti gak akan kayak gini!" pekik Maria sudah sangat marah melihat wajah Sheila.
"Kak Maria, aku sendiri juga tidak tahu kalau akan terjadi hal seperti ini. Ini semua adalah sudah takdir dan tidak ada yang bisa memprediksi nya!" sahut Sheila membela dirinya.
"Udah gue males lihat muka elo, lebih baik elo pergi!" bentaknya membuat Sheila mengeluarkan air matanya dan jatuh begitu saja.
Brian yang melihat hal tersebut pun langsung menghampiri sang istri dan menyodorkan pistol ke arah Maria dan hang lainnya membuat semua orang terdiam tak berani beraksi, namun tindakan Brian itu langsung di halangi oleh Sheila karena ia merasa bahwa ucapan sang kakak ada benarnya juga.
"Udah bri, lebih baik kita ke luar aja." ajak Sheila.
Brian dan Sheila pun segera ke luar dari sana dan menyiapkan proses pemakaman untuk Aris, Sheila ingin agar dia bisa melihat untuk menggantikan sang mama dan kakaknya yang tidak bisa hadir melihat proses pemakaman tersebut.
.
.
__ADS_1
Bersambung..........