
Di sisi lain saat berita Sheila dan Brian meluas ada seseorang yang marah akan hal tersebut siapa lagi kalau bukan Maria, yang sekarang dia sedang menonton televisi di rumahnya dengan Aris dan juga Ketty, di mana semua berita sedang menayangkan perihal pernikahan Brian dan juga Sheila.
"Aaaaaaaaa!!" pekik Maria sambil membanting gelas yang dia pegang.
"Sabar sayang," sahut Ketty mencoba menenangkan sang anak tercinta nya itu.
"Aku gak terima ma, kenapa bisa Sheila menikah sama Brian!" pekik Maria lagi seperti orang kesetanan.
"Mama juga gak terima sayang, terus sekarang kita harus bagaimana?!" sahut Ketty yang juga tidak terima dengan berita yang baru saja ia dengar, bagaimana bisa Sheila bisa menikah dengan seorang Brian Presdir Ard Company.
"Pa, lakuin sesuatu dong jangan diem aja!" bentak Ketty karena melihat sang suami malah diam saja tak menanggapi berita yang baru saja keluar.
"Terus papa harus bagaimana ma?" tanya Aris yang sebenarnya juga sama perasaannya dengan istri dan anaknya, kesal, marah, semuanya bercampur jadi satu.
"Coba tanyain saja tuan Steven, bukan kah Sheila seharusnya menikah dengan beliau." ucap Ketty memberikan saran.
"Iya, benar apa kata mama. Kalau begitu papa coba telepon tuan Steven dulu," sahut Aris kemudian menelepon Brandon untuk di sambungkan kepada tuan Steven.
[Halo, ada apa?] tanya Brandon di sebrang sana.
[Brandon, saya ingin bicara sebentar dengan tuan Steven apa kah bisa?]
[Sebentar saya tanyakan terlebih dahulu,] sahut Brandon.
Kebetulan mereka sedang dalam perjalanan menuju ke villa keluarga Ardolph di mana sekarang uncle Steven satu mobil dengan keluarganya dan juga dengan Brandon pastinya yang selalu saja ada di mana mana saat di situ ada uncle Steven.
"Tuan, Aris menelepon dan ingin berbicara dengan tuan." ucap Brandon melihat ke arah belakang di mana uncle Steven duduk.
"Sudah ku duga mereka cepat atau lambat pasti akan menelepon ku," ucap uncle Steven kemudian mengambil telepon dari tangan Brandon.
__ADS_1
"Sebentar ya sayang papi mau angkat telepon dulu," izin uncle Steven kepada Clara sang anak yang memang sangat manja padanya.
"Iya, Pi." Balas Clara, kemudian uncle Steven pun mengangkat telepon tersebut dengan malas sebenarnya karena beliau tahu kalau Aris menelepon nya pasti berhubungan dengan keluarnya konferensi pers tadi.
[Halo, ada apa?] tanya uncle Steven to the point.
[Halo, tuan. Mohon maaf kalau saya mengganggu..]
[Ya, kau memang sangat mengganggu. Apakah kau akan melintasi hutang mu itu?] potong uncle Steven saat Aris belum selesai bicara.
[Bukan begitu tuan, untuk hutang pasti akan segera saya lunasi. Saya hanya ingin bertanya soal Sheila,] ucap Aris dengan nada takutnya.
[Ada apa kau tiba-tiba bertanya soal Sheila?] Benar sekali dugaan dari uncle Steven bahwa Aris menelepon nya pasti ingin menanyakan tentang konferensi pers tersebut.
[Saya ingin bertanya apa kah benar berita di luaran sana kalau Sheila itu adalah istri dari Brian Presdir Ard Company?]
[Ya.] jawab uncle Steven singkat padat dan jelas.
[Kenapa tidak bisa?!]
[Karena setahu kami yang menikah dengan Sheila bukannya tuan Steven!] ucap Aris dengan hati-hati.
Sedangkan uncle Steven yang mendengar ucapan dari Aris pun tidak kuat untuk menahan tawanya sehingga dia pun tidak bisa menahannya lagi.
[Hahahahahaha.....!] suara gelak tawa uncle Steven terdengar hingga ke telinga Aris dan juga Ketty dan Maria membuat mereka saling bertatapan mata.
[Kau ini Aris bagiamana bisa kau memikirkan hal bodoh seperti itu? Asal kau umur ku sudah tua untuk menikah lagi, apa lagi kau juga tahu aku sudah punya istri dan anak, bisa terjadi pernah dunia ke tiga kalau ku sampai menikah lagi!] ucap uncle Steven di sebrang membaut ketiganya yang mendengar hal tersebut kun mematung diam.
[Jadi tuan Steven waktu itu mencari wanita untuk menikah itu menikahkan dengan tuan Brian?] tanya Aris lagi.
__ADS_1
[Iya, dan kebetulan juga kau punya anak gadis bukan. Awalnya aku kira kau akan memberikan anak mu itu yang bernama siapa aku lupa karena yang aku tahu hanya dia, tapi ternyata kau punya anak lagi dan lebih cantik dari anak kandung ku itu, jadi harus berterima kasih pada mu karena sudah memberikan menantu yang cantik, baik dan sopan ini!] ucap uncle Steven meninggikan istri ponakannya itu kemudian menutup telepon tersebut.
Sedangkan mereka bertiga tetap mematung di tempat tidak bisa berbicara sama sekali ternyata selama ini mereka salah orang, mereka mengira kalau suami Sheila adalah tuan Steven yang usianya sudah jauh berbeda dengan Sheila ternyata suami Sheila yang sebenarnya adalah Brian, kalau saja mereka tahu dari awal pasti Maria yang akan mereka jodohkan.
"Aaaaaaa!" pekik Maria lagi.
"Bagaimana kalian bisa salah orang seperti ini? Kalau saja mama sama papa lebih jeli dan mendalami lagi hal ini pasti sekarang aku yang sedang berada di sisi Brian bukan tuh anak satu!" pekik Maria menyalahkan Aris dan Ketty.
"Maria, apa yang kamu bilang? Papa dan mama sudah menawariku bukan waktu itu tapi apa kamu malah kabur bukan dan membuat kita malu! untung saja waktu itu Sheila mau kalau tidak mungkin sekarang kita semuanya sudah melarat atau bahkan sudah bertemu dengan kakak nenek mu di atas sana!" pekik Aris tak terima saat ia di salahkan karena kesalahan anaknya itu sendiri yang menolak untuk di jodohkan dan bahkan kabur.
"Oh, jadi papa nyalahin aku!"
"Apakah papa salah, yang kabur duluan siapa dan kenapa kamu malah nyalahin mama sama papa!" pekik Aris lagi.
"Sudahhhh! Sekarang bukan lah waktunya untuk bertengkar karena yang harus kita urus adalah bagaimana rencana kita selanjutnya bukan malah berantem kayak gini," ucap Ketty menengahi antara anak dan bapak ini.
Mereka pun langsung diam memikirkan hal apa yang akan mereka lakukan dengan Sheila, karena gara-gara Sheila semuanya jadi kacau dan seumpama Sheila tidak menerima pernikahan itu maka Maria lah yang akan menjadi istri dari Brian dan mendapat kan kekayaan yang melimpah bukan nya Sheila.
"Kita harus bisa buat Sheila menderita karena dia berani-beraninya menjadi istri Brian," ucap Maria penuh dengan penekanan apa lagi dia juga melihat ke arah televisi yang terus saja menayangkan konferensi pers keduanya.
Ucapan tersebut pun membuat Aris dan Ketty melihat ke arah anaknya dengan intens karena tidak mengerti dengan ucapan dari sang anak.
"Dengan cara?" tanya Ketty penuh kebingungan.
"Kita rencanakan nanti saja dengan matang karena aku juga ingin mengundang teman ku yang juga ingin membalaskan dendam nya kepada Sheila," ucap Maria dan di angguki oleh Aris dan Ketty.
Entah bagaimana dengan rencana mereka, semoga saja Brian mengetahui hal tersebut agar tidak terjadi hal hal yang berbahaya dengan Sheila, apa lagi sekarang dia sedang mengandung.
.
__ADS_1
Bersambung..........